Posted by : ngatmow 8.11.2019

Pagelaran Dieng Culture Festival (DFC) memang selalu sukses menarik animo pengunjung yang besar setiap tahunnya. Tidak terkecuali pada tahun ini, DCF X 2019 alias Dieng Culture Festival ke 10 Tahun 2019, pun masih dipadati pengunjung yang berniat mendinginkan badan dan merasakan sensasi AC super besar bernama Dieng..........


Ramai dan penuh sesak ? Pasti......
Berisik dan penuh debu ? jelas .......

Mungkin ada yang berpikir ngapain sih berdesakan, kedinginan dan kena debu bertubi tubi seperti itu di Dieng ? kok ya mau ........

Hehehe...... jawabannya pasti beragam kisanak.
dan jawaban tiap orang bisa beragam pastinya ...........

Kalo bagi saya pribadi sih Dieng selalu ga ada matinya. Selalu ada hal yang berbeda di setiap gelaran Dieng Culture Festival setiap tahunnya. Rasa penasaran selalu muncul menjelang pagelan akbar itu. selalu muncul pertanyaan, seperti apa ya suasananya ? bagaimana ya acaranya ? siapa ya bintang tamu misteriusnya ? paginya muncul salju (bun upas) lagi nggak ya ? dan beragam pertanyaan lain yang seolah mewajibkan saya untuk berangkat kesana (selain karena tugas pastinya).

Ada yang menarik dan berbeda pada gelaran DCF X kali ini. Mulai dari awal pembukaan sampai dengan akhir penutupan rangkaian acara bisa kita temui pasukan kebersihan di setiap sudut Dieng. Mereka ber 750 ini menamakan diri sebagai Relawan Jaga Dieng Bersih . Relawan (yang ternyata sebenernya sudah ada sejak DCF IX tahun lalu namun dengan jumlah yang jauh lebih sedikit) ini dengan sigap memunguti setiap sampah yang mereka temui di sudut sudut area masing masing atau dalam bahasa kerennya patroli sampah dengan tidak lupa mengingatkan kepada setiap orang yang ditemui untuk tidak membuang sampah (dan bahkan puntung rokok) sembarangan.

Salut ........

Hal lain yang menarik dari DCF X adalah penjagaan area Festival yang sangat ketat dan rute area festival yang sudah diatur sedemikian rupa sehingga memberi kenyamanan tersendiri bagi pengunjung "resmi". Pengamanan super ketat ini bisa dilihat di beberapa pintu masuk yang dijaga oleh panitia berseragam dan Satpol PP sehingga pengunjung yang bisa masuk hanya yang sudah memiliki ID Card khusus. Selain itu kali ini mereka ga segan segan untuk menolak siapapun pengunjung (bahkan yang mengaku pers sekalipun) untuk melewati mereka masuk ke gerbang area festival selama 24 jam !! 
Hanya saja, patut disayangkan bahwa harga tiket untuk memperoleh status "resmi" tersebut masih sangat mahal. dan bagi saya itu masih tidak masuk akal ....... kalau saya dalam posisi sebagai pengunjung biasa seperti lainnya......hehehe.

Pelaksanaan DCF yang ke sepuluh ini secara keseluruhan acaranya masih hampir sama dengan tahun tahun sebelumnya. Luar biasa di malam hari, namun ambyar di siang harinya..... ambyar disini dalam artian acara acara yang digelar masih ga begitu menarik. paling hanya  diskusi kopi di salah satu panggung saja yang dapat animo plus dari pengunjung. Lainnya nihil sodara sodara.
Nah hal ini menyangkut juga adanya beberapa pertanyaan dari pengunjung yang rata rata sempat kebingungan terkait stage utama. Soalnya kali ini panggungnya ga hanya satu atau dua, tapi ada empat !!! 

ya .......empat panggung dengan acara yang berbeda dan sama sama menggunakan sound yang sama super kerasnya......... fak banget kan ???
krodit sangat nyata jelas terjadi pada sore hari pada hari sabtu tanggal 3 agustus 2019. Pengunjung yang mulai membludak dibuat bingung dengan 4 panggung yang menampilkan hal berbeda. ada yang band pelajar, ada yang ngobrol kopi, ada yang perhelatan kesenian khas dieng, ada juga yang kosong melompong. Dan parahnya, sejam kemudian ke empat panggung itu bergantian kosongnya..... nah lho.......

Di setiap helatan akbar DCF, Satu hal yang paling ditunggu segenap manusia yang rela berdesakan pada malam harinyaadalah pagelaran Senandung Negeri di Atas Awan yang selalu fenomenal.  Dan itu terbukti pada malam hariitu. Pergerakan wisatawan yang sangat masif disertai dengan tingginya antusiasme mereka, mengakibatkan terulang kembalinya hal hal yang rutin terjadi setiap penyelenggaraan DCF.

  1. Macet parah (di ruas jalan antara Museum Kailasa sampai dengan Pertigaan Terminal yang biasanya hanya ditempung 2 menit malam itu harus ditempuh paling tidak 30 menit untuk sepeda motor dan 1 jam kalo pake mobil)
  2. Pengunjung saling berdesakan (nah kesempatan ini digunakan sebagai alibi oleh para pengunjung mesum untuk menyenggol lawan jenis)
  3. Serta banyaknya pengunjung yang jatuh sakit dan pingsan mendadak karena kedinginan  (maklum suhu udara berkisar antara 8 - 10 derajat celcius saja) dan sulitnya bernafas. Khusus untuk kasus terakhir hal yang patut diacungi jempol adalah kinerja tim kesehatan, relawan, teman teman RAPI serta panitia yang sangat sigap.


Di malam terakhir ini, ada dua hal yang menarik bagi saya. Pertama, antusiasme pengunjung yang sangat luar biasa direspon dengan performa memikat para penampil. Djaduk Ferianto dan Kua Etnika melempar banyak hits. Beberapa lagunya, yaitu Jawa Dwipa dan Swarna Dwipa. Aksi om Djaduk Ferianto ini lalu ditutup lagu Sewu Kuto milik Didi Kempot dengan aransemen yang mengalami perubahan mengikuti gaya om Djaduk bersama Kua Etnikanya.

Performa tidak kalah memikat ditampilkan Secret Guest Star malam itu, Isyana Sarasvati.
Damn.........
Kalau saja saya tahu penampil rahasianya dia, pasti saya mendekat ke stage. dan dengan berbekal kartu sakti 1000 pintu, pasti bela belain selfi sama doi...... ga capek capek naik gunung malam itu cuman buat motret stage dari kejauhan..........
Sembilan hits dengan dibuka pake lagu ‘Kau’  disusul lagu ‘Sekali Lagi’ dan ‘Tetap Dalam Jiwa’ sayup sayup mengalun merdu sampai telinga saya di atas gunung di seberang stage. Dan yang lebih ngeselin lagi adalah ditampilkan juga lagu ‘A Whole New World’ yang notabenenya aku paling suka..........koor oleh oleh kurang lebih 100 ribu pengunjung di depan panggung pula.......... #&%@*

skip ...............dari pada sakit hati ingetnya....... hahaha..................

Hal kedua yang bagi saya yang menarik malam itu adalah naiknya ribuan lampion ke udara. Biasa sih sebenernya, namun kabar bahwa pelepasan lampion diiringi dengan menyanyikan lagu "Tanah airku" bareng bareng itu adalah yang terakhir, membuat momen kali ini berbeda. Syahdu, menakjubkan, luar biasa namun sedih juga ..... apalagi saya nontonnya dari atas bukit di seberang panggung persis.......

tak bisa diungkapkan dengan kata kata ..............



Kabar bahwa Festival Lampion pada malam hari itu sebagai festival terakhir kemudian diklarifikasi dalam  akun Twitter resmi Panitia Dieng Culture Festival, @FestivalDieng, dimana disitu diunggah sebuah video para peserta Dieng Culture Festival 2019 ketika bersama-sama melepas lampion. Bersama video tersebut, panitia juga menuliskan ucapan terima kasih atas antusias peserta Dieng Culture Festival serta keterangan bahwa festival lampion pada Dieng Culture Festival 2019 adalah yang terakhir di event tahunan itu.
"Terima kasih Indonesia. Ini adalah tahun terakhir Dieng Culture Festival dengan Lampion. Tahun depan kita tidak akan menggunakan lampion lagi. Terima kasih yang telah mendukung kami. Kalian yang terbaik dan sampai jumpa di @jazzatasawan 2020" 

Berarti tahun depan sepi dong ?
Belum tentu sih, mungkin akan ada inovasi lain lagi yang akan jadi kejutan buat wisatawan dan pengunjung DCF. Kita tunggu saja........

Hari berikutnya, rangkaian upacara puncak Dieng Culture Festival digelar tanpa ada perubahan yang berarti dari tahun tahun sebelumnya. Diawali dengan kirab bocah bajang, upacara jamasan sampai dengan pemotongan rambut di komplek candi Arjuna, masih persis sama. Hanya saja kali ini penjagaan lebih ketat dan pengunjung juga lebih tertib mengikuti jalannya proses.

Namun ada beberapa hal yang mungkin perlu dicermati, dikoreksi ataupun disikapi lebih lanjut. Ketika proses pemotongan rambut, karena jumlah anaknya yang banyak serta "hanya seperti itu saja", pengunjung yang sudah kepanasan akhirnya bubar jalan. Parahnya lagi ketika mereka adalah grup wisatawan dalam bentuk rombongan, mereka tanpa ragu dan tanpa memperdulikan sakralnya prosesi malah justru melakukan foto keluarga sambil teriak teriak gak jelas. Damn..............

Semoga mereka baca tulisan ini gaes ........

Nah selesai upacara cukuran rambut gembel, selanjutnya dilakukan larungan alias menghanyutkan potongan rambut tersebut ke sungai. Kalau biasanya di telaga warna, tahun ini dilakukan di Telaga Balekambang. Menurut Mbah Manto, pemangku adat Dieng, Telaga Balekambang sebenarnya lebih tepat dibandingkan dengan Telaga Warna sebagai tempat pelarungan. Sebab Telaga ini langsung berhubungan dengan sungai Serayu yang mengarah ke Laut Selatan.

By the way, kalo menurut saya sih sama saja. Sebab sama sama susah buat motretnya.....kalau di telaga warna terlalu jauh jaraknya, kalau di balekambang ga ada tempatnya, sebab hampir seluruh areanya diselimuti gulma dan lain lain yang tentu saja ga bisa diinjak dan digunakan sebagai tempat motret hehehe..............

After all, secara keseluruhan sih penyelenggaraan Dieng Culture Festival ke sepuluh (DCF X) kali ini menurut saya sangat baik. Banyak perubahan yang terjadi dan mengalami perbaikan dari tahun ke tahun. Juga sudah dipersiapkannya proses proses antisipatif terhadap berbagai kemungkinan yang bisa terjadi dalam pelaksanaannya.
Yang jelas, semoga di tahun depan panitia penyelenggara, pokdarwis, warga masyarakat serta pemerintah daerah Kabupaten Banjarnegara bisa bekerjasama lebih nyata dan intensif agar Dieng Culture Festival XI 2020 bisa lebih wow lagi, tanpa macet lagi, tanpa kendala .......... dan tentu saja harga tiketnya lebih murah dari yang sudah sudah hahahaha.....................










Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Instagram

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow