Posted by : ngatmow prawierow 8.17.2018

"Tujuh belas Agustus tahun empat lima
itulah hari kemerdekaan kita
hari merdeka nusa dan bangsa
hari lahirnya bangsa Indonesia
merdeka......
sekali merdeka tetap merdeka
selama hayat masih dikandung badan
kita tetap setia tetap sedia
mempertahankan Indonesia
kita tetap setia tetap sedia
membela negara kita......."

Nggak sengaja air mata ini menetes di pipi. Bukan perkara saya cengeng atau apa tapi karena pas nyanyi lagu itu seekor semut nyasar ke mata sebelah kanan dan nggigit pula gaess ....... suwer..........hahahaha........

Tapi emang sih, nggak tahu kenapa hati ini sangat sangat dan sangat trenyuh waktu mendengar (dan menyanyikan) lagu itu. Dan nggak seperti tahun tahun sebelumnya yang kayaknya datar datar aja, tahun ini terasa beda.lebih jleb di dalam jiwa..... halah.......


Kalo dipikir sih mungkin semua itu akibat dari semakin rutinnya saya nonton tivi dan berita dalam negeri. Dimana masyarakat bangsa ini dikabarkan semakin tercerai beraikan oleh sesuatu hal yang bernama politik. Halal jadi Haram, benar jadi salah, kawan jadi lawan, dan semua hal yang berseberangan dan berkebalikan akan nampak seolah olah terbolak balik nggak karuan. Hasut menghasut serta memutar balikkan fakta seolah sudah menjadi "makanan ringan alias cemilan" bagi orang orang yang saya sendiri bingung mau menunjuk yang mana.....

Ah sudahlah.......
Bagi saya semua yang muncul di layar televisi kini hanyalah sinetron saja. Semua hal yang diberitakan hanyalah demi sebuah tujuan kekuasaan saja, terlepas bahwa di berita juga ada kabar menyesakkan dada bahwa habis terjadi gempa bumi di Nusa Tenggara Barat yang menelan banyak jiwa......

Ada satu pertanyaan mendasar dan mungkin perlu sebuah jawaban dari hati sanubari kita masing masing (hanya bagi yang masih waras saja ya, belum tercemar dengan faham politikisasi hihihi.........) Benarkah kita sudah merdeka dan menjalani kemerdekaan itu sesuai dengan yang kita bayangkan, pahami, dan yakini?

Alright, banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu gaess......Kita pun mafhum, dalam hidup global seperti sekarang ini, ternyata semua jawaban akan menjadi benar. Hanya dengan satu alasan, apa yang membuat jawaban benar saya tidak lebih benar daripada kebenaran menurut anda? Maka semua pun benar karena kebenaran bukan lagi satu pohon atau tiang yang kuat dan kukuh melawan waktu, pilahan demografis, atau geografis.

Berterimakasihlah pada temuan-temuan baru kehidupan modern, seperti kebebasan individu (untuk berpendapat, berkarya, berkumpul, dll), HAM, demokrasi, hingga laizzez faire yang menjadi fondasi kita bernafkah untuk melanggengkan hidup. Kebenaran pun, atas nama itu semua, menjadi bersifat preferensial, sesuai dengan kepentingan, latar belakang, dan tujuan seseorang. Personal.

Situasi yang kemudian ideologis itu kita nikmati dan jalankan sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Begitu pun ketika modernitas memproduksi karya budayanya yang paling hebat (terima kasih berkali-kali) yakni teknologi, baik komputasi, informasi, maupun komunikasi. Dalam dunia virtual yang diciptakannya, kita menikmati kemerdekaan yang sebenar-benarnya, lebih dari kemerdekaan mana pun yang diraih bangsa apa pun sejak awal abad 20.

Kini kita dapatkan kemerdekaan (yang dipelintir jadi kebebasan), hampir tanpa batasan negara, kebangsaan, adat, budaya, bahkan perangkat-perangkat keras dan lunak dunia modern seperti sistem politik, hukum atau ekonomi, yang dengan mudahnya diterabas, ditipu, atau dimanipulasi para manusia merdeka ini. Media sosial yang bukan hanya memeluk, melainkan juga menelan (terutama generasi muda) kita, adalah ruang entah-berentah di mana kita merdeka--maksud saya bebas--bahkan untuk tidak merdeka.

Bingung kisanak ?
Damn...... Sama !!!!

Mungkin yang bisa kita lakukan saat ini adalah menumbuhkan semangat cinta tanah air dan bangsa dengan segenap jiwa dan tulus ikhlas lahir bathin tanpa secuilpun pamrih....... Mungkin kita harus sadarkan diri kita masing masing bahwa rasa malu itu harus dipelihara sebagai kontrol pribadi..... malu pada sesama malu pada sanak saudara dan malu pada apa yang sudah dilakukan orang lain untuk negeri ini sementara kita belum terpikir untuk melakukannya.

Mungkin kita harus malu juga pada seorang Yohanes Andigala pelajar kelas 7 SMPN Silawan saat upacara peringatan HUT RI ke-73 di pantai Mota’ain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto, Kabupaten Belu, NTT yang berani memanjat tiang bendera setinggi 20 meter demi menarik kembali ujung tali pada tiang bendera ketika upacara HUT RI di daerahnya.....lha kita? sudah bisa apa? wong berangkat upacara saja telat..... dilapangan mengeluh kepanasan dan segera mencari tempat berteduh, kemudian buru buru kabur ke warung gara gara ga kuat nahan lapar.......

By the way, di hari kemerdekaan yang ke 73 ini mari kita murnikan hati kembali. Dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa mari kita tata kembali negeri ini dengan melupakan sejenak semua egoisme dan kepentingan politik, pribadi maupuun golongan. Mari kita kembalikan Indonesia kita yang Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo ........

DIRGAHAYU INDONESIA


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Google+

Arsip

Copyright 2008 BROCKBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow