- Back to Home »
- Thomas Fatah »
- Cuti Sakit yang butuh Surat Sehat
Thomas sudah tiga hari tidak masuk kantor. Demam, batuk, dan tenggorokan yang terasa seperti diamplas. Dokter puskesmas sudah memberinya surat keterangan sakit. Istirahat tiga hari. Resep sudah ditebus. Antibiotik sudah diminum.
Hari keempat, ia kembali ke kantor. Wajahnya masih pucat, tapi sudah bisa berdiri tegak.
Yang pertama ia temui adalah Pak Widodo, Kepala Sub Bagian Kepegawaian, yang menyambutnya bukan dengan "sudah sehat?" melainkan dengan ekspresi seorang auditor yang menemukan selisih di neraca keuangan.
"Thomas. Tiga hari tidak masuk."
"Iya, Pak. Sakit. Ini suratnya."
Pak Widodo menerima surat itu, membacanya dengan seksama, lalu meletakkannya di atas meja seperti barang bukti.
"Surat ini dari dokter puskesmas."
"Iya, Pak."
"Tapi prosedurnya, untuk pengajuan cuti sakit lebih dari dua hari, harus disertai surat keterangan dari dokter plus surat pernyataan bahwa kamu sudah sehat untuk kembali bekerja."
Thomas mengedipkan mata.
"Surat sehat, Pak?"
"Iya."
"Dari dokter juga?"
"Iya."
"Jadi saya harus ke dokter lagi, minta surat bahwa saya sehat, supaya surat sakit saya diterima?"
Pak Widodo mengangguk dengan mantap. Tidak ada ironi di wajahnya. Tidak sedikit pun.
Thomas mengambil napas panjang. Ia sudah cukup sehat untuk melakukan itu — ini yang paling ironis. Kalau ia masih sakit, ia tidak bisa pergi ke dokter. Kalau ia sudah sehat, ia tidak butuh dokter. Tapi ia butuh surat bahwa ia sehat, dari dokter, supaya surat sakitnya valid.
Logika ini berputar di kepalanya seperti baling-baling yang macet.
Ia pergi ke puskesmas. Antre dua jam. Dokter yang sama menerimanya dengan ekspresi bingung.
"Kamu balik lagi? Masih sakit?"
"Nggak, Dok. Ini sudah sehat. Tapi butuh surat keterangan sehat."
Dokter menatapnya lama. Kemudian menatap layar komputer. Kemudian menatap Thomas lagi.
"Untuk apa?"
"Supaya surat sakit dari Dokter tempo hari bisa diproses."
Dokter menarik napas panjang. Kemudian mengetik. Kemudian mencetak. Kemudian menandatangani. Kemudian membubuhkan stempel.
"Ini ya. Semoga... tidak perlu balik lagi."
Thomas menerima surat itu dengan kedua tangan.
Sore harinya, surat sehat itu diserahkan ke Pak Widodo bersama surat sakitnya. Pak Widodo menerimanya, membolongnya dengan perforator, dan memasukkannya ke map berwarna hijau.
"Oke. Beres."
Thomas ingin bertanya kenapa tidak ada formulir pengajuan cuti sakit yang juga harus dilampirkan. Tapi ia memilih diam. Ada kalanya kebijaksanaan tertinggi seorang PNS adalah tahu kapan harus berhenti bertanya.
