Tampilkan postingan dengan label aku bertanya. Tampilkan semua postingan

Rokok naik 50 ribu ? hemmm ......

Sudah seminggu ini saya menunggu dan wira wiri ke toko toko kembar macam Indongapret sama Alamat. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan hanya untuk "bola bali " mlirik harga rokok yang katanya mau naik sampai ke angka 50.00 rupiah per bungkusnya.

Weh ?
Yup. sudah sejak awal bulan lalu pemerintah mengeluarkan wacana bahwa harga rokok akan naik berkali kali lipat dan para perokok di negeri ini mau tidak mau harus segera melupakan harga per bungkus rokok di angka 13.000 - 15.000an. Sebetulnya sih tidak ada yang aneh di balik isu harga rokok yang melejit menjadi 50.000 rupiah perbungkus itu. paling hanya taktik pertempuran marketing yang biasa saja man...

Kalau menurut bang Puthut EA dalam tulisannya di mojok.co, kira kira alurnya begini:

Kaum antirokok membuat studi, di harga berapakah para perokok akan berhenti merokok? Didapatlah harga 50.000 perbungkus. Kemudian penelitian ini didesiminasikan ke beberapa situsweb abal-abal. Diperbesar dengan tim buzzer di dunia maya, plus segala gimmick nan kreatif.
Ketika mulai ramai, maka langkah selanjutnya, mereka melakukan placement di media-media besar yang seakan-akan berita. Taktik yang dipakai berupa tanggapan tokoh lewat teknik doorstop. Para tokoh diwawancara dengan pertanyaan:
‘Apa tanggapan Bapak/Ibu dengan usulan masyarakat bahwa harga rokok sebaiknya dinaikkan menjadi 50.000 perbungkus?’

Dasar elit politik di negeri pencitraan, bukannya bertanya balik untuk mengkritisi, kebanyakan dari mereka berkomentar mendukung naiknya harga rokok. Politikus-politikus macam begitulah yang banyak menjadi korban para pakar hoax dunia maya. Malu bertanya, ancur muka kemudian. Jawaban-jawaban itu kemudian dipelintir, ditambah dengan penguatan dari para opinion leaders yang sudah digalang sebelumnya. Jadi itu barang. Isunya terbungkus rapi. Siap dihadiahkan ke ‘leading sectors’ untuk diberi tanggapan. Para jubir di leading sectors ini bukan politikus. Mereka menjawab normatif. Jadilah isu yang semula berasal dari ‘kajian’, berubah menjadi ‘usulan’, bergeser menjadi ‘seakan-akan mau terjadi’, lalu matang dalam isu: ‘sudah pasti terjadi’.
Masuk itu barang.
Ngeri-ngeri sedap.
Elok tenan!

Isu makin legit karena para politikus prorokok juga ikut latah menanggapi. Menari di atas gendang yang dipukul lawan. Plus, perang netizen di dunia maya yang terus berkobar. Sepintas semua berjalan dengan sempurna. Isu yang ‘sudah pasti terjadi’ ini tinggal digiling di ‘mesin akhir tim’ yang sudah siap di Pemerintah.
Para kaum antirokok pasti tahu yang saya maksud…

Tapi ternyata isu dunia maya berikut pelintirannya berbalik cepat seketika. Pasalnya ada dua.
Pertama, bagi para intelektual tertentu, tahu persis bahwa harga rokok naik menjadi 50.000 perbungkus itu tidak akan bisa terjadi. Karena komponen cukai, yang menyebabkan harga rokok selalu naik, punya hukum, aturan, dan perhitungan tersendiri. Ketika para pakar ini mulai berkomentar, arus mulai berbalik.
Kedua, di dunia nyata, para pakar pemasaran dan ahli-ahli strategi pasar setiap pabrik dan toko-toko ritel justru senang dengan isu tersebut.
Fakta di lapangan, dalam kurang-lebih seminggu isu ini bergulir, toko-toko mulai merasakan dampaknya. Para pembeli rokok yang rata-rata membeli sebungkus, kini berubah menjadi dua bungkus. Permintaan pasar naik menjadi dua kali lipat.

Datanglah ke gerai-gerai minimarket, dan tanyalah ke para penjaga maka muka mereka penuh senyum.
“Tidak sekalian beli tiga, Pak. Mumpung harga rokok belum naik jadi 50.000 perbungkus, lho…” ucap mereka dengan muka manis sembari menyimpan sejenis senyum tipis, dan membatin,
“Bego banget orang ini, ganteng-ganteng mudah kena hoax…”
Mbak-mbak SPG yang semula lebih banyak tersenyum daripada menjelaskan soal rokok jualan mereka, mulai minggu kemarin mulai menutup penjelasan dengan kalimat,
“Mumpung harga rokok belum naik jadi 50.000 lho, Pak…” ujar mereka sambil tersenyum penuh kegelian kalau kemudian menyaksikan ada orang yang merasa panik dengan kalimat ancaman itu.

Afiliasi antara para jagoan marketing rokok di lapangan dengan para manajer toko inilah yang membuat rokok laku makin menggila. Isu di dunia maya yang seakan para antirokok menang, justru dipelintir orang-orang marketing pabrik rokok yang memang teruji matang di lapangan.
Arus berbalik dua kali lipat. Di kepala mereka, seolah ada doa:
“Semoga isu ini bertahan lama… Laris. Laris. Laris, beib!”
Jauh hari sebelum para pakar hoax menjadi profesi, orang-orang marketing pabrik rokok ini sudah diuji dengan perang dagang sesungguhnya, menguasai toko demi toko, kampung demi kampung. Ukuran karier mereka jelas. Tidak ada istilah suka atau tidak suka. Tidak ada tempat bagi orang yang lebih suka bicara dibanding bekerja.

Semua berhenti di satu kata: Omzet.

Mereka sejak dulu sudah terlatih menangani isu-isu. “Rokok Marlboro itu bukan dari tembakau, tapi dari kertas. Kalau tidak percaya, rendamlah sebatang rokok Marlboro di dalam gelas. Nanti dia akan berubah menjadi kertas.”
Bagi orang yang mendalami dunia rokok, ini sangat menggelikan. Rokok putih memakai jenis tembakau virginia. Karakter tembakau virginia memang mirip kertas. Apalagi kalau basah. Sudah pasti mirip kertas.
Mereka, para jagoan marketing pabrik rokok, sudah biasa anjlok bersama isu. Djarum pernah diterpa isu: ‘Demi Jesus Aku Rela Untuk Mati’. Omzet langsung jatuh. Tapi kemudian mereka bisa bangkit lagi.

Contoh lain. Salah satu produk Gudang Garam yang semula tumbuh, tiba-tiba ambruk. Gudang Garam tahu persis kalau salah satu kelemahan rokok saat itu adalah mudah patah. Mereka kemudian menciptakan produk yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak bisa patah. Produk premium itu langsung laris di pasar.
Tapi terhenti tiba-tiba hanya karena satu isu: “Tidak bisa patah karena ada plastiknya.” Begitu isu itu beredar, produk itu langsung wasalam.
Bayangkan, orang-orang macam ini, yang sudah biasa tiap tahun kena isu ‘rokok mengandung babi’, bertarung siang malam dengan para kompetitor, mendapati hoax ‘harga rokok naik menjadi 50.000 perbungkus’, hati mereka bukannya sedih malah merasa riang gembira.
Isu itu diambil alih oleh mereka. Isu yang mestinya bakal bikin orang tidak lagi merokok malah membuat perokok mengonsumsi rokok dua kali lipat. Bajilak, bukan?

Hal seperti inilah yang membuat para aktivis antirokok selalu kemut-kemut. Pusing.
Sebagian dari mereka memang lulusan dari ilmu komunikasi, tapi mereka gagap berkomunikasi dengan masyarakat, dan gagal memahami logika masyarakat. Sebagian dari mereka lagi adalah para wartawan yang gagal membangun karier kewartawanan mereka. Kalau membangun karier saja gagal, apalagi membangun rumahtangga? Eh, membangun isu, maksud saya.
Sebagian dari mereka yang lain adalah para dokter, tapi sudah lama mereka tidak praktek. Soalnya lebih enak makan uang perdiem daripada uang layanan kesehatan dari pasien. Sudah lupa caranya menyuntik, karena lebih mudah disuntik program dari funding.


*Sumber tulisan asli bang Puthut EA dalam tulisannya di mojok.co

Pensiun bagi Penjahat yang Terhormat

Malam tadi, pas lagi browsing cari undang undang dan dasar hukum pensiun dini malah saya nemu UU Nomor 27/2009 tentang MPR, DPR, DPD, DPRD memperbolehkan anggota dewan yang mengundurkan diri, apa pun alasannya, mendapatkan gaji pensiun. Berjuta pertanyaan kemudian muncul di pikiran saya yang kebetulan lagi nggak pakai otak cadangan.....

Kok bisa ya ?
Bukankah "biasanya" mereka yang mengundurkan diri adalah yang bermasalah ?
Haduh...negara macam mana ini ?

Karena penasaran saya mencoba cari hal terkait lewat Mbah Google, bener ga sih diterapkan di kalangan atas kita ?

dan ternyata betul sodara sodara..... Di salah satu artikel disebutkan "Tujuh orang anggota DPR yang terlibat kasus korupsi ternyata masih mendapatkan dana pensiun dari negara. Padahal tujuh orang tersebut saat ini tengah menjalani proses hukum yang berjalan" (okezone.com)

Pantas saja banyak orang yang ingin jadi anggota yang terhormat yah, jabatan dalam waktu tertentu saja bisa dapat uang pensiunan seumur hidup, rapat bolos gak potong gaji, dalih kunjungan keluar negeri plus jalan-jalan, enak to? dan wajar aja orang-orangnya gak takut korupsi, orang korupsi juga masih dapat pensiunan kok, wuih banget kan?


Entah berapa uang pensiunan yang diterima, yang pasti uang pensiun besarannya 60-75% dari gaji pokok, gaji pokok DPR sekitar Rp 4-8 juta perbulan. Atau bila dirupiahkan sekitar 3-6 juta.... Sekarang kita bandingkan saja dengan karyawan swasta dan pegawai negeri (yang menjadi mayoritas mata pencaharian masyarakat di negeri ini) jika mereka bermasalah. Hanya gigit jarilah yang bisa mereka lakukan. Biasanya jika mereka bermasalah (terutama berkaitan dengan pengembatan duit kantor yang dalam hal ini bisa kita samakan dengan pengembatan duit negara oleh yang terhormat), maka pemecatanlah yang diterima dan tentu saja TANPA ADANYA JAMINAN PENSIUN.....
Nah adil nggak sodara-sodara ?


Dalam pemikiran otak cadangan saya, mereka yang katanya terhormat itu bisa disamakan dengan seekor kecoa. kecoa meskipun busuk dan bisa dianggap hama oleh lingkungan di sekitarnya, penampakannya akan selalu kinclong dan tanpa kesan menjijikkan. bahkan tanpa kesan perlu untuk dimusuhi lho, padahal sesungguhnya mereka adalah HAMA yang perlu di basmi dalam tempo yang sesingkat singkatnya......hama yang sesungguh sungguhnya

Hemm......


Kalo dipikir pikir, apa yang disampaikan pak Wiranto beberapa waktu yang lalu ada benernya juga. "Sejak kecil kita selalu dibius dengan kebanggaan bahwa negara kita kaya raya, sumber daya melimpah ruah. Namun, kenyataannya hingga saat ini negara kita jauh dari negara kaya, kita masuk kategori negara gagal. Indeks kemanusiaan Indonesia juga di peringkat yang buncit,"(merdeka.com)

Indeks kemanusiaan bangsa ini sudah diperingkat yang paling buncit..... Cilaka bukan sodara-sodara....

Keadilan di negeri ini sudah semakin menuju pada taraf yang mengkhawatirkan. Coba kta tengok, banyak lho veteran nasibnya masih tidak jelas dan hidup dibawah garis batas "kenyamanan", ditambah lagi dengan dana pensiunannya yang sering tersendat ga karuan, sangat kontras dengan bekas anggota yang terhormat yang justru mendapatkan pensiunan sedemikian besar dan lancar pula bukan......

Apakah kita rela dengan semua itu ??
Jawaban saya tentu saja TIDAK !!

Entahlah, saya sendiri sudah seperti kehabisan kata kalau menulis soal mereka yang terhormat. Semuanya akan berakhir sama saja. Segala kepentingan bangsa dan negara sudah selalu berjalan dengan politik transaksional. Baik itu skala kecil maupun skala raksasa. Dan tentunya hanya akan membawa "kebahagiaan" bagi beberapa kepala tanpa muka saja....

Sekarang kita hanya bisa berdoa saja, semoga apa yang dulu pernah dicita citakan para pahlawan bangsa akan terwujud adanya, semoga saja mereka tidak menangis darah di tempat peristirahatan terakhirnya karena melihat seperti apa bangsa kita saat ini

semoga saja Yang Maha Adil segera membebaskan mereka yang terhormat dari "penderitaan harus selalu bermuka dua" di dunia dan negara yang konyol ini, segera.......Amin

11.08.2013
Posted by ngatmow

Negeri yang diharapkan ?

Ironi.....
Tragedi....
Penderitaan.....
Pesta pora.....

Berawal dari membaca artikel berjudul " Negeri SBY, Memalukan (marah) krisis tempe" tulisan saudara Amaludin pada Kompasiana, hampir aku seharian berada di depan layar monitor membaca berita-berita teraktual surat kabar elektronik di internet tentang negeri ini, Indonesia

Sumpah aku semakin nggak ngerti dengan negeri ini. Negeri yang sebenarnya aku cintai namun lambat laun semakin membuatku muak dan benci. Kenapa tidak ? lihat saja di setiap pelosok dan disetiap sisi hidup kita sekarang ini penuh dengan kemunafikan, kebodohan, kebohongan, kebencian dan bahkan keserakahan.

Ada beberapa hal yang mendasari aku untuk mengungkapkan perasaanku seperti diatas tadi, muak..... dan itu antara lain berada di sekitar kita setpia harinya... Apa saja ? 
  • Hampir Semua orang tentu saja setuju bahwa apa yang disebut sebagai wakil para rakyat adalah justru musuh dalam selimut terbesar rakyat kecil..... bukan dari sisi tugas dan kewajibannya sebagai mana mestinya, melainkan dari tingkah polah dan kelakuan mereka yang seperti babi (menurutku tikus jauh lebih keren dibandingkan dengan babi....)
  • Hampir Semua orang setuju bahwa di negeri ini yang menyebabkan timbulnya perpecahan dan pengkotakan masyarakat adalah justru Partai Politik yang tumbuh subur dan menjamur dengan slogan bohongnya "Selalu mengedepankan, mendorong dan memperjuangkan kepentingan rakyat....".
  • Hampir Semua orang setuju bahwa terjadi kemunduran dan stagnasi di segala bidang kehidupan di negeri ini. Dan semua itu umumnya terjadi karena adanya kemunduran rasa patriotisme terhadap negara dan majunya fanatisme lokal tanpa ada inisiatif apapun dari si pemilik negeri untuk mencarikan jalan keluarnya
  • Hampir semua orang setuju bahwa pemerintahan di jaman ini adalah pemerintahan abal-abal. Maksudnya pemerintahan yang tidak serius memenuhi kewajibannya sebagai pengayom masyarakat tetapi lebih mementingkan pencitraan dan  angka tertulis diatas kertas mengenai pembangunan dan kemajuan bangsa (padahal pada kenyataannya angka-angka tersebut sangatlah jauh berbeda dengan kondisi masyarakat di dunia nyata).

Ah.......Entahlah mau seperti apa bangsa ini kelak andai saja semua manusia yang bertugas menjaganya bertambah "pintar" saling menjatuhkan, saling menghina dan saling menyalahkan.

Ada satu kasus yang belum lama terjadi namun menjadi paling "memalukan" menurutku soal bangsa ini  adalah pada saat penentuan awal puasa Ramadhan ini....
bagaimana tidak, puasa Ramadhan sudah beberapa tahun terakhir selalu terjadi perbedaan pendapat antara pemerintah dan ormas Islam tertentu. Pada pelaksanaan sidang isbat yang seharusnya menjadi "musyawarah besar" untuk menentukan awal puasa malah terjadi perang mulut dan adu gengsi antar mereka yang mengaku sebagai ulama dan tokoh agama.
Bahkan yang lebih lucu lagi adalah ada seorang pakar ilmu falak dari salah satu ormas yang mrndukung pemerintah itu malah justru menentang hasil isbat dan mempertanyakan hasil sidang isbat tersebut. Mbah Munir (beliau biasa disapa) menyesalkan mengapa dalam pengamatan rukyat hilal ada salah satu jemaah di Cakung yang sempat melihat hilal bahkan disumpah tidak dijadikan bahan dan dasar untuk menetapkan jatuhnya 1 Ramadan 1433 H.
"Politik dan gengsi. Mengapa sudah melihat bulan saat rukyat hilal ditolak yang di Cakung? Apakah itu sudah betul? Nabi tidak begitu caranya. Nabi ada orang kafir tahu tanggal, nabi saya tahu tanggal dan melihat hilal. Nabi langsung ngomong; Wes sesuk bodho(Ya sudah besok lebaran). Saya orang NU sama dengan Muhammadiyah wes biar. Sehingga tanggalan saya dan santri saya 1 Ramadan jatuh 20 Juli dan hari ini saya sudah puasa," jelasnya.

............ Dan yang jelas aku sendiri kemudian memutuskan ikut berpuasa pada tanggal 21 Juli atau mengikuti keputusan sidang isbat itu ( apakah dosa atau tidak biarlah nanti Allah SWT yang memutuskannya). Menurutku mbok ya mereka itu jangan saling adu gengsi dan menonjolkan diri bahwa mereka paling pintar. malu sama tetangga nggak sih ???

.......Berhenti sejenak.......

Melihat berita di media massa sebenarnya sudah menjadi kewajiban bawah sadar di setiap harinya. Banyak informasi teraktual yang dapat kita terima dan menambah wawasan. Tapi apa yang kita peroleh sekarang ? semakin banyak televisi yang beritanya tidak berimbang. Banyak pemberitaan yang membela pihak tertentu dan seolah ingin membentuk opini publik pemirsanya. Lihat saja salah satu tokoh top di salah satu saluran televisi swasta nasional sekelas Bang Karni Ilyas merasakan galau dengan tempatnya bekerja sekarang, apalagi ada tawaran lebih menarik di stasiun tetangga.

Di luar internal Bang Karni dengan TV tempatnya berkarya, banyak isu yang beredar bahwa di situ Bang Karni sudah tidak lagi memiliki kebebasan dalam mengeluarkan dan menyampaikan informasi kepada masyarakat luas karena adanya intervensi dari salah satu parpol besar milik keluarga taipan di negeri ini. Entah benar atau tidak tapi jika memang hal itu benar maka kita semua sudah selayaknya untuk memakluminya. Dan kita semua sadar bahwa memang sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan apabila berkaitan dengan "mereka".
Berikut cuplikan seorang penulis pada Kompasiana.com

"Celakanya sisi berita yang dibelanya adalah sisi berita yang berlawanan dengan keadaan sebenarnya di masyarakat, melawan Legal Formal, adalah adagium utama Karni Ilyas untuk tidak dilanggar, Karni tidak pernah mau melawan keadaan yang sebenarnya, Karni justru mengedepankan kesahihan berita membuka selip2 berita yang melawan berita2 karena pencitraan "

Dan yang terbaru adalah soal hilangnya kedelai dari pasar-pasar kita. Coba bayangkan dan renungkan.... bukankah kita adalah negara dengan begitu banyak lahan pertanian dan jutaan penduduk yang bergantung kepadanya ???
Asal tahu saja, saat ini Indonesia sudah menjadi negara pengimpor kedelai terbesar di dunia. Setiap tahun, jumlah kedelai yang diekspor ke Indonesia sebanyak 1.600 ton. Dari jumlah itu, sekitar 70-80 persen digunakan sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe di Jakarta. Sebagian besar kedelai yang diimpor berasal dari Kanada, Argentina dan Brasil.
Padahal dulu Indonesia merupakan produsen kedelai ketiga terbesar dunia (pada tahun 1960an), hanya kalah oleh Amerika Serikat dan China. Kini, hanya Amerika Serikat yang bisa bertahan. Dan posisi Indonesia telah digeser oleh Argentina, Paraguay, Kanada, dan Bolivia. China kini di peringkat keempat. Indonesia dengan produksi tahunan di bawah 1 juta ton tidak berada dalam kelompok sepuluh besar. Amerika Serikat dan Brasil, semakin kuat setelah Argentina masuk menjadi produsen utama kedelai. Sementara Asia, yang ditopang oleh China dan India, hanya mampu memproduksi sepertujuh dari produksi negara-negara di Amerika.

Kini tempe dan tahu menghilang dari pasar tradisional maupun super market kelas menengah atas, Kementerian pertanian maupun Menteri Perekonomian kalang kabut bagaikan kehilangan handuk sehabis mandi, Mentan dan Menko Perekonomian menuding kekeringan yang terjadi di AS, menjadi biang kerok kelangkaan ini, padahal sejatinya Bean atau kacang kedelai adalah jenis dagangan stock future  trading (perdagangan komoditi berjangka), dalam hal ini tentu sekitar enam bulan lalu, para tengkulak sudah mengantisipasi permintaan ini, sehubungan dengan meningkatnya pasar permintaan di Indonesia, saat memasuki hari besar keagamaan.

Kesalahan Pemerintah Indonesia dalam kondisi seperti ini adalah membiarkan secara sengaja komoditas ini diombang ambingkan oleh pasar ( floading market) kondisi ini sangat kontra sekali dengan gandum (wheat), justru tidak mengalami guncangan pasar, karena penguasa dan pengusaha sangat melindungi Importir jalur import, distribusi maupun tengkulak produk ini, karena mereka ini adalah mafia resmi penyalur gandum di Indonesia, dengan demikian proses import hingga pendistribusian produk ini tidak akan pernah mengalami hambatan karena kekuatan besar non government rules selalu berperan dibelakang bisnis gandum ini, padahal kedua jenis produk pertanian ini mayoritas di Import dari Amerika Serikat.

Lalu apa jadinya negeri ini kala tempe yang katanya....sekali lagi katanya ....adalah warisan budaya bangsa kita yang kita lindungi (bahkan ketika diklaim oleh negeri Jiran menjadikan kita siap berperang terhadap mereka) hilang dari permukaan... Salahkan jika kemudian negeri sebelah mengklaimnya kembali dengan alasan yang sebenarnya "lucu" ini ?

.......entahlah........


Oya ada beberapa hal lagi yang sumpah membuatku semakin muak dengan negeri ini, nggak lain dan nggak bukan adalah kelakuan warga masyarakatnya.
Oke, mulai dari yang kecil dulu :
Kita semua setiap hari akan menemui kelakuan bocah tanggung alias ABG alias Ababil yang nggak ngerti tempat dan waktu. Bayangkan saja, jaman sekarang banyak sekali anak usia ABG yang meniru artis idolanya dari Korea tanpa memandang dan berpikir dimana dia berada... sebagai contoh misalnya saya pernah menemukan beberapa orang gadis usia SMA berjalan-jalan di objek wisata Dieng berpakaian entah apa namanya, berambut pirang  (ada yang merah juga), memakai gelang warna-warni, dan sebagainya serta mengenakan hot pants. ... Hotpant di Dieng ? apa nggak salah tuh ? disana kan daerah terdingin di Jawa Tengah sini karena lokasinya yang memang paling tinggi (bahkan awanpun seakan berada dibawah kita) .....

Di kalangan musisi :
Tidak diragukan lagi bahwa di dunia ini Indonesia punya banyak sekali plagiator...(kalo boleh dibilah demikian) yang nggak tanggung-tanggung dalam "karyanya" (silahkan baca juga "Sang Plagiator")
Contoh yang paling hot adalah Lagu Cinta Satu Malam yang di rilis tahun 2009 hampir 100% sama persis dengan sebuah lagu barat, hanya saja genre mereka yang berbeda. Lainnya ? Astagfirullohal'adzim......
Tidak percaya ?? sekarang mari kita cek disini... 

Dunia olah raga yang seharusnya menjadi tonggak berdirinya sportifitas dan kejujuran, justru menjadi sampah yang paling memuakkan dan menyesakkan dada, sekarang apakah ada bidang olah raga  dimana kita berada di puncak dunia layaknya Bulutangkis jaman Susi Susanti dan Alan Budikusuma dulu ???
Jawabannya NOL besar saudara......

Sepakbola yang seharusnya kita dengan 250 juta penduduk bisa menyusun satu tim nasional yang hebat (bahkan bisa lebih hebat dari Juara Eropa 2012 Spanyol) justru hancur karena perpecahan di tubuh PSSI sendiri. Mau apa lagi sih sekarang ?

Mungkin ada beberapa orang yang tetap berusaha untuk optimis bahwa negeri ini masih bisa diperbaiki. Tapi apakah mereka akan tetap terus bertahan andaikata semua elemen di lingkungannya dia yang seharusnya turut membantu justru sama sekali tidak mendukung dan malah berusaha menjatuhkannya demi segepok uang kertas ?
Apakah mereka bisa bertahan dengan hantaman dari kanan dan kiri yang berupa tekanan, ancaman, dan intervensi dari pihak-pihak berkuasa yang mana memiliki akses penting pada hal-hal yang akan mereka kritisi ??

BULLSHIT !!!

Semoga saja negeri ini hancur sekalian dengan menyisakan orang-orang yang berpikiran jernih dan berhati mulia........
7.26.2012
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow