Menganti Ninggal Ati
Simbah setar kembali turun ke jalan raya beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 16 November 2013. Kali ini yang menjadi tujuan akhir adalah kota tetangga yang jaraknya tidak se-ekstreem biasanya, Kebumen. Rutenya hanya Banjarnegara - Kebumen - Purworejo - Kebumen (lagi)atau kurang lebih menempuh 180km saja (PP).
Dilihat dari jarak tempuh sih memang tidak terlalu jauh, tapi kondisi jalan yang beragamlah yang menjadi tantangan kali ini. Lebih dari separo jalan antara Banjarnegara sampai dengan Kebumen adalah jalan semi aspal alias pernah diaspal....hehe...sudah bolong disana sini sehingga pengendara kendaraan jenis apapun harus pandai pandai memilih jalan agar tidak "kejeglong" di lubang-lubang itu.
Bagi pengendara yang tidak biasa menempuh perjalanan dengan rute seperti ini, memang akan menjadi sebuah tantangan yang cukup menegangkan sekaligus mengasikkan. Sebab kita akan melaju melewati jalan pegunungan yang berkelak kelok dan naik turun (ada beberapa tanjakan dan turunan ekstreem juga) namun disuguhi pemandangan yang luar biasa indah dan sejuk hampir di sepanjang rute perjalanan.
Satu hal yang menarik adalah pada jalur yang dilewati Simbah Setar kemarin, terdapat Waduk Sempor yang terletak 7 km di sebelah utara Gombong, atau sekitar 14 km arah timur laut kota Kebumen. Waduk yang membentang begitu luas dan begitu indah ini menjadi salah satu alternatif wisata di kota ini yang menyimpan beragam atraksi (katanya)...
Setelah beristirahat sekejap (nggak sampai 15 menit), perjalanan berlanjut sodara-sodara. Kali ini rute yang dilewati tidak begitu sulit karena merupakan trek datar dalam kota (Gombong-Kebumen). Nah selama menempuh trek ini, ada satu hal yang cukup menjadi tanda tanya bagi saya. Kok tidak ada kendaraan lain yang melewatiku ya ? apa karena orang didaerah ini memang berkendara dengan mode siput, atau memang simbah setar yang larinya ngalahin yang masih "muda".... entahlah hehehe....
Oke, singkat cerita kami (saya dan simbah)setelah berkunjung ke rumah salah seorang teman, menuju ke tujuan terakhir. Pantai Menganti.
Asing ? memang....saya juga baru pernah dengar....
Pantai Menganti terletak di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Tidak mudah memang untuk mencapai lokasi pantai Menganti ini, jaraknya dari Kota Kebumen kurang lebih mencapai 63 Km. Tidak jarang bagi pelancong yang berasal dari luar kota seperti kami harus menggunaan GPS alias Gunakan Penduduk Setempat (banyak tanya pada penduduk maksudnya hehe...) untuk menemukan jalur yang benar - kami tersesat hingga 10 km lebih karena terlalu banyak percaya pada Go*gle Maps sodara sodara.... Dan parahnya lagi tidak ada satu pun akses transportasi umum yang mencapai lokasi ini kecuali kendaraan pribadi.
Sebenarnya sih bukan masalah kondisi fisik jalannya yang tidak memungkinkan karena jalan menuju lokasi sudah beraspal (atau lebih tepatnya agak beraspal), melainkan topografi jalan menuju lokasi Pantai Menganti berada pada kemiringan lereng yang sangat curam, sehingga perlu keberanian, keterampilan dan kehati-hatian ekstra untuk berkendara naik turun bukit memutari lereng dan punggungan bukit ini. Spesial pokoknya....
Harus menguatkan nyali terlebih dahulu bagi yang belum terbiasa berkendara dengan medan yang curam, turun naik dan kelokan tajam. Tapi bagi saya dan simbah ini akan menjadi sebuah tantangan yang sangat mengasyikkan. Karena begitu melihat pemandangan pantai dari atas bukit, semua lelah terbayar dengan pesona Pantai yang begitu eksotis. Pantai ini dibatasi perbukitan batu gamping dan batu bekas gunung api. Hamparan pasir putih hasil abrasi batu gamping dan keindahan pohon kelapa di pinggir pantai menciptakan nuansa dan pesona nan indah.
Menurut penuturan penduduk setempat, Pantai Menganti memang belum dikelola oleh Dinas Pariwisata Pemda setempat, wajar jika pengunjungnya hanya segelintir, itu pun adalah mereka-mereka yang mempunyai nyali besar hingga sampai ke tempat ini. Atau bahkan orang-orang "kesasar" yang sebenarnya bertujuan menuju pantai ayah ataupun pantai Karang bolong....
Perlu diketahui, sejauh ini pantai Menganti masih menjadi Tempat Pelelangan Ikan nelayan setempat.Dengan balutan kesantunan khas masyarakat nelayan yang membuat kita cepat menjadi akrab. Kita bisa mendapatkan ikan segar langsung di tempat itu layaknya kita baru saja menangkap sendiri.
Nampaknya memang agak susah mengemas Pantai Menganti menjadi objek wisata yang menjanjikan dan menarik minat pengunjung. Dari segi destinasi memang oke, tidak banyak pantai yang terdapat dibalik gugusan Karst, bersisian dengan tebing yang menjulang tinggi dan karang-karang yang menahan laju ombak besar, ditambah lagi pesona pasir putih keemasan yang terkena matahari. Itu memang menjadi destinasi menarik. Keunikan daerah destinasi wisata memang manjadi alasan dan motivasi kuat bagi para pengunjung, meskipun mungkin jarak yang harus ditempuh dengan jarak yang teramat jauh.
Oya, ada satu lagi hal menarik yang perlu dimasukkan ke dalam daftar target buruan apabila kita mau berkunjung ke pantai yang satu ini. Kulinernya....
Yup, salah satu masakan andalan warung-warung makan yang berjejer di pinggir pantai adalah udang masak pedas. Sesuai namanya, masakan ini didominasi oleh rasa pedas yang berpadu dengan nikmatnya rasa khas udang laut dan bumbu lainnya yang sungguh sayang jika dilewatkan.
Walaupun hanya berlauk udang pedas dengan kerupuk dan irisan timun segar saja, namun makan siang sambil memandang hamparan laut yang menghampar luas dan dibelai angin yang lembut membuat kita akan lupa betapa sulitnya perjalanan pulang yang perlu diterjang nanti. selain itu harga yang dipatok untuk menikmatinya pun serasa sebanding dengan cita rasa yang diterima lidah kita.
Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa.
Tidak terasa hari sudah beranjak siang, sudah saatnya simbah diajak berlari lagi menyusuri jalanan pulang ke rumah dengan satu kesan membekas di dalam hati. Ternyata di negeri ini masih banyak hal yang bisa dibanggakan..... dan dirindukan.....
Karena suatu saat nanti, kami pasti kan kembali ke Menganti lagi.....
Berikut beberapa sudut keindahan Pantai Menganti yang sempat saya abadikan dengan Kamera Handphone Nokia N8 dan Kamera seleler Canon EOD 1100D pada waktu itu....
Bagi pengendara yang tidak biasa menempuh perjalanan dengan rute seperti ini, memang akan menjadi sebuah tantangan yang cukup menegangkan sekaligus mengasikkan. Sebab kita akan melaju melewati jalan pegunungan yang berkelak kelok dan naik turun (ada beberapa tanjakan dan turunan ekstreem juga) namun disuguhi pemandangan yang luar biasa indah dan sejuk hampir di sepanjang rute perjalanan.
Satu hal yang menarik adalah pada jalur yang dilewati Simbah Setar kemarin, terdapat Waduk Sempor yang terletak 7 km di sebelah utara Gombong, atau sekitar 14 km arah timur laut kota Kebumen. Waduk yang membentang begitu luas dan begitu indah ini menjadi salah satu alternatif wisata di kota ini yang menyimpan beragam atraksi (katanya)...
![]() |
| Waduk Sempor sore hari |
Oke, singkat cerita kami (saya dan simbah)setelah berkunjung ke rumah salah seorang teman, menuju ke tujuan terakhir. Pantai Menganti.
Asing ? memang....saya juga baru pernah dengar....
Pantai Menganti terletak di Desa Karangduwur, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Tidak mudah memang untuk mencapai lokasi pantai Menganti ini, jaraknya dari Kota Kebumen kurang lebih mencapai 63 Km. Tidak jarang bagi pelancong yang berasal dari luar kota seperti kami harus menggunaan GPS alias Gunakan Penduduk Setempat (banyak tanya pada penduduk maksudnya hehe...) untuk menemukan jalur yang benar - kami tersesat hingga 10 km lebih karena terlalu banyak percaya pada Go*gle Maps sodara sodara.... Dan parahnya lagi tidak ada satu pun akses transportasi umum yang mencapai lokasi ini kecuali kendaraan pribadi.
Sebenarnya sih bukan masalah kondisi fisik jalannya yang tidak memungkinkan karena jalan menuju lokasi sudah beraspal (atau lebih tepatnya agak beraspal), melainkan topografi jalan menuju lokasi Pantai Menganti berada pada kemiringan lereng yang sangat curam, sehingga perlu keberanian, keterampilan dan kehati-hatian ekstra untuk berkendara naik turun bukit memutari lereng dan punggungan bukit ini. Spesial pokoknya....
Harus menguatkan nyali terlebih dahulu bagi yang belum terbiasa berkendara dengan medan yang curam, turun naik dan kelokan tajam. Tapi bagi saya dan simbah ini akan menjadi sebuah tantangan yang sangat mengasyikkan. Karena begitu melihat pemandangan pantai dari atas bukit, semua lelah terbayar dengan pesona Pantai yang begitu eksotis. Pantai ini dibatasi perbukitan batu gamping dan batu bekas gunung api. Hamparan pasir putih hasil abrasi batu gamping dan keindahan pohon kelapa di pinggir pantai menciptakan nuansa dan pesona nan indah.
![]() |
| Matahari terbit dilihat dari bukit di sebelah pantai menganti |
Perlu diketahui, sejauh ini pantai Menganti masih menjadi Tempat Pelelangan Ikan nelayan setempat.Dengan balutan kesantunan khas masyarakat nelayan yang membuat kita cepat menjadi akrab. Kita bisa mendapatkan ikan segar langsung di tempat itu layaknya kita baru saja menangkap sendiri.
Nampaknya memang agak susah mengemas Pantai Menganti menjadi objek wisata yang menjanjikan dan menarik minat pengunjung. Dari segi destinasi memang oke, tidak banyak pantai yang terdapat dibalik gugusan Karst, bersisian dengan tebing yang menjulang tinggi dan karang-karang yang menahan laju ombak besar, ditambah lagi pesona pasir putih keemasan yang terkena matahari. Itu memang menjadi destinasi menarik. Keunikan daerah destinasi wisata memang manjadi alasan dan motivasi kuat bagi para pengunjung, meskipun mungkin jarak yang harus ditempuh dengan jarak yang teramat jauh.
Oya, ada satu lagi hal menarik yang perlu dimasukkan ke dalam daftar target buruan apabila kita mau berkunjung ke pantai yang satu ini. Kulinernya....Yup, salah satu masakan andalan warung-warung makan yang berjejer di pinggir pantai adalah udang masak pedas. Sesuai namanya, masakan ini didominasi oleh rasa pedas yang berpadu dengan nikmatnya rasa khas udang laut dan bumbu lainnya yang sungguh sayang jika dilewatkan.
Walaupun hanya berlauk udang pedas dengan kerupuk dan irisan timun segar saja, namun makan siang sambil memandang hamparan laut yang menghampar luas dan dibelai angin yang lembut membuat kita akan lupa betapa sulitnya perjalanan pulang yang perlu diterjang nanti. selain itu harga yang dipatok untuk menikmatinya pun serasa sebanding dengan cita rasa yang diterima lidah kita.
Sungguh sebuah pengalaman yang luar biasa.
Tidak terasa hari sudah beranjak siang, sudah saatnya simbah diajak berlari lagi menyusuri jalanan pulang ke rumah dengan satu kesan membekas di dalam hati. Ternyata di negeri ini masih banyak hal yang bisa dibanggakan..... dan dirindukan.....
Karena suatu saat nanti, kami pasti kan kembali ke Menganti lagi.....
Berikut beberapa sudut keindahan Pantai Menganti yang sempat saya abadikan dengan Kamera Handphone Nokia N8 dan Kamera seleler Canon EOD 1100D pada waktu itu....
Hanya untuk kamu
Kamu....
ngga ada yang seberani kamu, menghardik aku
nggak ada yang seberani kamu, memaki aku
dan nggak ada yang selembut kamu, membelai aku
Saat lampu temaram menjemput pekat
dari kejauhan aku hanya bisa melihat
satu titik yang sungguh memikat
sejauh mata ini mampu menyapu langit
nanar mulut ini mengucap dua ayat doa
permintaan kepada-Nya
Tentang kamu
dan tentu saja tentang dia
putri kecil kita.....
hari ini, tambah satu angka dalam usiamu
tambah dewasa dalam menjalani harimu
semakin sejuk dalam kalbu
dan kian cantik dalam mendampingiku...
Selamat ulang tahun .....untukmu.....istriku.....
ngga ada yang seberani kamu, menghardik aku
nggak ada yang seberani kamu, memaki aku
dan nggak ada yang selembut kamu, membelai aku
Saat lampu temaram menjemput pekat
dari kejauhan aku hanya bisa melihat
satu titik yang sungguh memikat
sejauh mata ini mampu menyapu langit
nanar mulut ini mengucap dua ayat doa
permintaan kepada-Nya
Tentang kamu
dan tentu saja tentang dia
putri kecil kita.....
hari ini, tambah satu angka dalam usiamu
tambah dewasa dalam menjalani harimu
semakin sejuk dalam kalbu
dan kian cantik dalam mendampingiku...
Selamat ulang tahun .....untukmu.....istriku.....
Pensiun bagi Penjahat yang Terhormat
Malam tadi, pas lagi browsing cari undang undang dan dasar hukum pensiun dini malah saya nemu UU Nomor 27/2009 tentang MPR, DPR, DPD, DPRD memperbolehkan anggota dewan yang mengundurkan diri, apa pun alasannya, mendapatkan gaji pensiun. Berjuta pertanyaan kemudian muncul di pikiran saya yang kebetulan lagi nggak pakai otak cadangan.....
Kok bisa ya ?
Bukankah "biasanya" mereka yang mengundurkan diri adalah yang bermasalah ?
Haduh...negara macam mana ini ?
Karena penasaran saya mencoba cari hal terkait lewat Mbah Google, bener ga sih diterapkan di kalangan atas kita ?
dan ternyata betul sodara sodara..... Di salah satu artikel disebutkan "Tujuh orang anggota DPR yang terlibat kasus korupsi ternyata masih mendapatkan dana pensiun dari negara. Padahal tujuh orang tersebut saat ini tengah menjalani proses hukum yang berjalan" (okezone.com)
Pantas saja banyak orang yang ingin jadi anggota yang terhormat yah, jabatan dalam waktu tertentu saja bisa dapat uang pensiunan seumur hidup, rapat bolos gak potong gaji, dalih kunjungan keluar negeri plus jalan-jalan, enak to? dan wajar aja orang-orangnya gak takut korupsi, orang korupsi juga masih dapat pensiunan kok, wuih banget kan?
Entah berapa uang pensiunan yang diterima, yang pasti uang pensiun besarannya 60-75% dari gaji pokok, gaji pokok DPR sekitar Rp 4-8 juta perbulan. Atau bila dirupiahkan sekitar 3-6 juta.... Sekarang kita bandingkan saja dengan karyawan swasta dan pegawai negeri (yang menjadi mayoritas mata pencaharian masyarakat di negeri ini) jika mereka bermasalah. Hanya gigit jarilah yang bisa mereka lakukan. Biasanya jika mereka bermasalah (terutama berkaitan dengan pengembatan duit kantor yang dalam hal ini bisa kita samakan dengan pengembatan duit negara oleh yang terhormat), maka pemecatanlah yang diterima dan tentu saja TANPA ADANYA JAMINAN PENSIUN.....
Nah adil nggak sodara-sodara ?
Dalam pemikiran otak cadangan saya, mereka yang katanya terhormat itu bisa disamakan dengan seekor kecoa. kecoa meskipun busuk dan bisa dianggap hama oleh lingkungan di sekitarnya, penampakannya akan selalu kinclong dan tanpa kesan menjijikkan. bahkan tanpa kesan perlu untuk dimusuhi lho, padahal sesungguhnya mereka adalah HAMA yang perlu di basmi dalam tempo yang sesingkat singkatnya......hama yang sesungguh sungguhnya
Hemm......
Kalo dipikir pikir, apa yang disampaikan pak Wiranto beberapa waktu yang lalu ada benernya juga. "Sejak kecil kita selalu dibius dengan kebanggaan bahwa negara kita kaya raya, sumber daya melimpah ruah. Namun, kenyataannya hingga saat ini negara kita jauh dari negara kaya, kita masuk kategori negara gagal. Indeks kemanusiaan Indonesia juga di peringkat yang buncit,"(merdeka.com)
Indeks kemanusiaan bangsa ini sudah diperingkat yang paling buncit..... Cilaka bukan sodara-sodara....
Keadilan di negeri ini sudah semakin menuju pada taraf yang mengkhawatirkan. Coba kta tengok, banyak lho veteran nasibnya masih tidak jelas dan hidup dibawah garis batas "kenyamanan", ditambah lagi dengan dana pensiunannya yang sering tersendat ga karuan, sangat kontras dengan bekas anggota yang terhormat yang justru mendapatkan pensiunan sedemikian besar dan lancar pula bukan......
Apakah kita rela dengan semua itu ??
Jawaban saya tentu saja TIDAK !!
Entahlah, saya sendiri sudah seperti kehabisan kata kalau menulis soal mereka yang terhormat. Semuanya akan berakhir sama saja. Segala kepentingan bangsa dan negara sudah selalu berjalan dengan politik transaksional. Baik itu skala kecil maupun skala raksasa. Dan tentunya hanya akan membawa "kebahagiaan" bagi beberapa kepala tanpa muka saja....
Sekarang kita hanya bisa berdoa saja, semoga apa yang dulu pernah dicita citakan para pahlawan bangsa akan terwujud adanya, semoga saja mereka tidak menangis darah di tempat peristirahatan terakhirnya karena melihat seperti apa bangsa kita saat ini
semoga saja Yang Maha Adil segera membebaskan mereka yang terhormat dari "penderitaan harus selalu bermuka dua" di dunia dan negara yang konyol ini, segera.......Amin
Kok bisa ya ?
Bukankah "biasanya" mereka yang mengundurkan diri adalah yang bermasalah ?
Haduh...negara macam mana ini ?
Karena penasaran saya mencoba cari hal terkait lewat Mbah Google, bener ga sih diterapkan di kalangan atas kita ?
dan ternyata betul sodara sodara..... Di salah satu artikel disebutkan "Tujuh orang anggota DPR yang terlibat kasus korupsi ternyata masih mendapatkan dana pensiun dari negara. Padahal tujuh orang tersebut saat ini tengah menjalani proses hukum yang berjalan" (okezone.com)
Pantas saja banyak orang yang ingin jadi anggota yang terhormat yah, jabatan dalam waktu tertentu saja bisa dapat uang pensiunan seumur hidup, rapat bolos gak potong gaji, dalih kunjungan keluar negeri plus jalan-jalan, enak to? dan wajar aja orang-orangnya gak takut korupsi, orang korupsi juga masih dapat pensiunan kok, wuih banget kan?
Entah berapa uang pensiunan yang diterima, yang pasti uang pensiun besarannya 60-75% dari gaji pokok, gaji pokok DPR sekitar Rp 4-8 juta perbulan. Atau bila dirupiahkan sekitar 3-6 juta.... Sekarang kita bandingkan saja dengan karyawan swasta dan pegawai negeri (yang menjadi mayoritas mata pencaharian masyarakat di negeri ini) jika mereka bermasalah. Hanya gigit jarilah yang bisa mereka lakukan. Biasanya jika mereka bermasalah (terutama berkaitan dengan pengembatan duit kantor yang dalam hal ini bisa kita samakan dengan pengembatan duit negara oleh yang terhormat), maka pemecatanlah yang diterima dan tentu saja TANPA ADANYA JAMINAN PENSIUN.....
Nah adil nggak sodara-sodara ?
Dalam pemikiran otak cadangan saya, mereka yang katanya terhormat itu bisa disamakan dengan seekor kecoa. kecoa meskipun busuk dan bisa dianggap hama oleh lingkungan di sekitarnya, penampakannya akan selalu kinclong dan tanpa kesan menjijikkan. bahkan tanpa kesan perlu untuk dimusuhi lho, padahal sesungguhnya mereka adalah HAMA yang perlu di basmi dalam tempo yang sesingkat singkatnya......hama yang sesungguh sungguhnya
Hemm......
Kalo dipikir pikir, apa yang disampaikan pak Wiranto beberapa waktu yang lalu ada benernya juga. "Sejak kecil kita selalu dibius dengan kebanggaan bahwa negara kita kaya raya, sumber daya melimpah ruah. Namun, kenyataannya hingga saat ini negara kita jauh dari negara kaya, kita masuk kategori negara gagal. Indeks kemanusiaan Indonesia juga di peringkat yang buncit,"(merdeka.com)
Indeks kemanusiaan bangsa ini sudah diperingkat yang paling buncit..... Cilaka bukan sodara-sodara....
Keadilan di negeri ini sudah semakin menuju pada taraf yang mengkhawatirkan. Coba kta tengok, banyak lho veteran nasibnya masih tidak jelas dan hidup dibawah garis batas "kenyamanan", ditambah lagi dengan dana pensiunannya yang sering tersendat ga karuan, sangat kontras dengan bekas anggota yang terhormat yang justru mendapatkan pensiunan sedemikian besar dan lancar pula bukan......
Apakah kita rela dengan semua itu ??
Jawaban saya tentu saja TIDAK !!
Entahlah, saya sendiri sudah seperti kehabisan kata kalau menulis soal mereka yang terhormat. Semuanya akan berakhir sama saja. Segala kepentingan bangsa dan negara sudah selalu berjalan dengan politik transaksional. Baik itu skala kecil maupun skala raksasa. Dan tentunya hanya akan membawa "kebahagiaan" bagi beberapa kepala tanpa muka saja....
Sekarang kita hanya bisa berdoa saja, semoga apa yang dulu pernah dicita citakan para pahlawan bangsa akan terwujud adanya, semoga saja mereka tidak menangis darah di tempat peristirahatan terakhirnya karena melihat seperti apa bangsa kita saat ini
semoga saja Yang Maha Adil segera membebaskan mereka yang terhormat dari "penderitaan harus selalu bermuka dua" di dunia dan negara yang konyol ini, segera.......Amin
Inspirasi di kereta siang ini
Thomas termangu menatap pemandangan di luar jendela yang seolah sedang berlari saling mendahului. Matanya nampak sayu dan memerah. Jelas sekali guratan kelelahan yang luar biasa disana. Jaket hitam yang dipakainya dalam perjalanan panjang kali ini juga sudah kelihatan kotor. sangat tidak pantas untuk jaket kantor seperti itu.
Di dalam kereta kelas ekonomi AC itu dia duduk berdampingan dengan seorang bapak berumur setengah abad lebih. Jaket lusuh berwarna hijau army yang dikenakannya semakin menampakkan kesan "tua" pemiliknya. Keriput sudah penuh di seluruh penjuru kulitnya. Namun tatapan matanya sungguh luar biasa. Ada sebuah ketegasan, misterius dan tajam. Bukan orang sembarangan.
Thomas tersenyum dan mengangguk pada saat tatapan mereka bertemu. Sebuah kesopanan yang sudah mulai luntur pada diri anak muda belakangan ini. Sambil membenarkan letak bantal duduknya dia iseng bertanya pada bapak tersebut..
" Mau ke mana pak ? "
" Oh ke Surabaya nak, lha anak sendiri mau kemana ?" jawab bapak itu
" Saya mau pulang ke Purwokerto pak." jawab Thomas
" lha dari mana to mas ? "
" Dari Jakarta pak urusan dinas "
" weh dinas to, pemerintah mesti....wong naiknya kereta ekonomi... " celetuk bapak itu sambil tersenyum.
" nggak papa mas tenang aja mas, guyon....saya juga dulunya orang pemerintahan kok.tapi sudah pensiun 15 tahun yang lalu." lanjut bapak itu cepat setelah melihat raut muka Thomas yang berubah agak kecut.
" i..iya pak. "
" pemda mana nak "
" pemda negeri pak"
" oh, sana to.saya dulu tahun 85 pernah meninjau lokasi disana itu. di daerah Dieng kalau tidak salah.yang dinginnya luar biasa " tampak wajah bapak tua itu berbinar seolah menemukan sesuatu yang sudah lama hilang
" daerah itu memang sangat dingin pak.airnya saja sebanding dengan air es dari kulkas "
" wah bener nak, dulu saya disana seminggu saja langsung meriang hehe...oya kenalken, saya Mulyono, panggil saja pak Mul"
" Thomas pak " sahut Thomas singkat sambil menyambut jabatan tangan bapak tua itu yang ternyata bernama Mulyono.
" ngomong-ngomong pak Mul ini mau pergi ke mana pak ? sendirian saja ?"
" saya juga mau pulang kok nak Thomas, ke Surabaya. Sendirian saja wong saya ke Jakartanya juga sendiri kok. sudah biasa " jawab pak Mul.
" kalau boleh tahu, di Jakarta bapak bekerja atau kunjungan lain pak ? "
" saya itu di Jakarta ngajar kok nak. Ngajar orang-orang tua "
" heh ? orang tua ?" tanya Thomas yang kelihatan mulai penasaran dengan lelaki di sampingnya ini.
" iya nak, ngajar petugas-petugas di sekolah bea cukai negara."
" wah berarti bapak dosen dong ? "
" dosen kan sama saja dengan pengajar to nak, tugasnya ya mulang, mengajar..." jawab pak Mul tersenyum penuh misteri.
dan perbincanganpun berlanjut sampai setengah jam berikutnya hingga pak Mulyono merasa mengantuk dan berpamitan untuk memejamkan mata.
Di dalam benaknya Thomas merasa masih banyak hal yang misterius dari bapak ini, dari kecerdasannya, dari tata bahasanya, dari sorot matanya, semua nampak bahwa dia bukan hanya seorang lelaki tua seperti lainnya. Dia Berbeda.
" nggak tidur nak Thomas ?" tanya pak Mul tiba-tiba, membuyarkan lamunan Thomas
" eh, enggak pak. tidak bisa tidur saya "
" nak Thomas ini masih muda, masih banyak yang bisa dikerjakan selain melamun lho. Misalnya sambil duduk nak Thomas bisa membaca buku atau internet di handphone.sekalian belajar dan menambah wawasan kan ?"
" hehe iya pak, oya pak kalau boleh tahu sebelum pensiun bapak dinas dimana pak ?"
" wah sebenarnya saya sungkan ceritanya nak, tapi nggak papa lah. biar memotivasi nak Thomas "
Dan pak Mul pun bercerita tentang dirinya. Bahwa dia adalah pensiunan kepala bea dan cukai di sebuah provinsi di negara ini yang memilih pensiun dini karena merasa tidak sesuai lagi antara hati nuraninya dengan apa yang ada dihadapannya dan apa yang harus dilakukannya demi alasan dinas.
" saya merasa di lingkungan kerja sudah tidak ada lagi hati nurani pada saat itu. Makanya saya memilih untuk pensiun dini saja dan alih profesi menjadi pengajar "

Thomas tertegun. Dia diam tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Ada seseorang yang sangat langka di negeri ini duduk disampingnya. Ya, seseorang yang menggunakan hatinya untuk bekerja dan mengambil keputusan hidup.
" Lengsering ratu, adeging pandhito " Bagitu pak Mul bergumam.
" bagaimana pak " tanya Thomas yang semakin penasaran
" Lengsering ratu, adeging pandhito bisa diartikan sebagai meninggalkan sebuah kekuasaan dan alih wujud menjadi pandhito atau dalam bahasa sekarang ini guru. ya pengajar itu nak... kalimat itu harus diperhatikan dan diamalkan lho. andaikan semua manusia di negeri ini bisa dengan legowo menjalankannya, niscaya negara ini nggak akan begini nasibnya " jelas pak Mul sambil bersungut-sungut.
" ada beberapa kalimat yang diajarkan almarhum kakek saya dulu yang kemudian menjadi pegangan saya nak Thomas.
Kalimat kalimat yang mungkin sudah tidak lagi dikenal generasi nak Thomas dan apalagi anak sekolah jaman sekarang. sungguh membuat saya prihatin sekali "
Thomas sekali lagi tertegun dan tak bisa berkata-kata. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Pak Mulyono begitu indah namun tajam dan mengiris sanubarinya.Sebuah rentetan kalimat yang sebenarnya sangat ampuh merubah negeri ini apabila para pemimpin dan pembesarnya menerapkannya dengan sepenuh hati dan tanpa ada maksud-maksud tertentu di belakangnya. Tidak akan ada lagi wakil Tuhan di Mahkamah yang katanya Agung yang justru menggunakan jabatannya untuk mengeruk keuntungan pribadi, tidak akan ada lagi seseorang atau bahkan sekelompok tikus lapar yang berjas rapi berlabelkan wakil masyarakat yang katanya terhormat dan selalu minta dihormati.....
Tidak terasa 5 jam perjalanan kereta ekonomi itu sudah berlalu. Masinis sudah membunyikan peluit bahwa kereta sebentar lagi akan berhenti di stasiun berikutnya. Stasiun Purwokerto.
Thomas beringsut menata barang bawaannya dan kemudian berpamitan kepada pak Mulyono. Sambil berjalan berlahan masih jelas berbekas di ingatannya apa yang dikatakan lelaki tua itu di akhir pertemuan.
Di dalam kereta kelas ekonomi AC itu dia duduk berdampingan dengan seorang bapak berumur setengah abad lebih. Jaket lusuh berwarna hijau army yang dikenakannya semakin menampakkan kesan "tua" pemiliknya. Keriput sudah penuh di seluruh penjuru kulitnya. Namun tatapan matanya sungguh luar biasa. Ada sebuah ketegasan, misterius dan tajam. Bukan orang sembarangan.
Thomas tersenyum dan mengangguk pada saat tatapan mereka bertemu. Sebuah kesopanan yang sudah mulai luntur pada diri anak muda belakangan ini. Sambil membenarkan letak bantal duduknya dia iseng bertanya pada bapak tersebut..
" Mau ke mana pak ? "
" Oh ke Surabaya nak, lha anak sendiri mau kemana ?" jawab bapak itu
" Saya mau pulang ke Purwokerto pak." jawab Thomas
" lha dari mana to mas ? "
" Dari Jakarta pak urusan dinas "
" weh dinas to, pemerintah mesti....wong naiknya kereta ekonomi... " celetuk bapak itu sambil tersenyum.
" nggak papa mas tenang aja mas, guyon....saya juga dulunya orang pemerintahan kok.tapi sudah pensiun 15 tahun yang lalu." lanjut bapak itu cepat setelah melihat raut muka Thomas yang berubah agak kecut.
" i..iya pak. "
" pemda mana nak "
" pemda negeri pak"
" oh, sana to.saya dulu tahun 85 pernah meninjau lokasi disana itu. di daerah Dieng kalau tidak salah.yang dinginnya luar biasa " tampak wajah bapak tua itu berbinar seolah menemukan sesuatu yang sudah lama hilang
" daerah itu memang sangat dingin pak.airnya saja sebanding dengan air es dari kulkas "
" wah bener nak, dulu saya disana seminggu saja langsung meriang hehe...oya kenalken, saya Mulyono, panggil saja pak Mul"
" Thomas pak " sahut Thomas singkat sambil menyambut jabatan tangan bapak tua itu yang ternyata bernama Mulyono.
" ngomong-ngomong pak Mul ini mau pergi ke mana pak ? sendirian saja ?"
" saya juga mau pulang kok nak Thomas, ke Surabaya. Sendirian saja wong saya ke Jakartanya juga sendiri kok. sudah biasa " jawab pak Mul.
" kalau boleh tahu, di Jakarta bapak bekerja atau kunjungan lain pak ? "
" saya itu di Jakarta ngajar kok nak. Ngajar orang-orang tua "
" heh ? orang tua ?" tanya Thomas yang kelihatan mulai penasaran dengan lelaki di sampingnya ini.
" iya nak, ngajar petugas-petugas di sekolah bea cukai negara."
" wah berarti bapak dosen dong ? "
" dosen kan sama saja dengan pengajar to nak, tugasnya ya mulang, mengajar..." jawab pak Mul tersenyum penuh misteri.
dan perbincanganpun berlanjut sampai setengah jam berikutnya hingga pak Mulyono merasa mengantuk dan berpamitan untuk memejamkan mata.
Di dalam benaknya Thomas merasa masih banyak hal yang misterius dari bapak ini, dari kecerdasannya, dari tata bahasanya, dari sorot matanya, semua nampak bahwa dia bukan hanya seorang lelaki tua seperti lainnya. Dia Berbeda.
" nggak tidur nak Thomas ?" tanya pak Mul tiba-tiba, membuyarkan lamunan Thomas
" eh, enggak pak. tidak bisa tidur saya "
" nak Thomas ini masih muda, masih banyak yang bisa dikerjakan selain melamun lho. Misalnya sambil duduk nak Thomas bisa membaca buku atau internet di handphone.sekalian belajar dan menambah wawasan kan ?"
" hehe iya pak, oya pak kalau boleh tahu sebelum pensiun bapak dinas dimana pak ?"
" wah sebenarnya saya sungkan ceritanya nak, tapi nggak papa lah. biar memotivasi nak Thomas "
Dan pak Mul pun bercerita tentang dirinya. Bahwa dia adalah pensiunan kepala bea dan cukai di sebuah provinsi di negara ini yang memilih pensiun dini karena merasa tidak sesuai lagi antara hati nuraninya dengan apa yang ada dihadapannya dan apa yang harus dilakukannya demi alasan dinas.
" saya merasa di lingkungan kerja sudah tidak ada lagi hati nurani pada saat itu. Makanya saya memilih untuk pensiun dini saja dan alih profesi menjadi pengajar "

Thomas tertegun. Dia diam tanpa bisa berkata apa-apa lagi. Ada seseorang yang sangat langka di negeri ini duduk disampingnya. Ya, seseorang yang menggunakan hatinya untuk bekerja dan mengambil keputusan hidup.
" Lengsering ratu, adeging pandhito " Bagitu pak Mul bergumam.
" bagaimana pak " tanya Thomas yang semakin penasaran
" Lengsering ratu, adeging pandhito bisa diartikan sebagai meninggalkan sebuah kekuasaan dan alih wujud menjadi pandhito atau dalam bahasa sekarang ini guru. ya pengajar itu nak... kalimat itu harus diperhatikan dan diamalkan lho. andaikan semua manusia di negeri ini bisa dengan legowo menjalankannya, niscaya negara ini nggak akan begini nasibnya " jelas pak Mul sambil bersungut-sungut.
" ada beberapa kalimat yang diajarkan almarhum kakek saya dulu yang kemudian menjadi pegangan saya nak Thomas.
Eling kudu tansah semende marang pepesten.
Eling kudu tansah pasrah ing Allah.
Eling kudu rumangsa mung dadi titah.
Eling kudu rumangsa saderma nglakoni.
Eling kudu tansah sabar narima. Narimo ing pandum.
Eling kudu tansah lila legawa, bisa gawe seneng atine liyan.
Eling kudu mulat salira/tepa slira.
Eling kudu welas asih ing sapada - pada, nguwongke wong.
Eling kudu bisa ngregani marang liyan, sumanak lan sumadulur.
Eling kudu ngerti lan tansah nganggo tata krama, tata susila, unggah ungguh, tata basa.
Eling kudu tata, tangguh, tanggap, tanggon, alon - alon waton klakon.
Eling kudu taberi, nastiti, ngati - ati, tlaten.
Eling kudu tansah ngugemi janji, ora mencla - mencle.
Eling kudu seneng tetulung, seneng dedana marang kang merlokake.
Eling aja nganti lali marang Gusti Allahe.
Eling aja gawe seriking liyan.
Eling aja kumentus, umuk, keminter, arep menange dewe.
Eling aja dumeh, sumakeyan, adigang, adigung, adiguna.
Eling aja nguthuh, mbeguguk nguta waton, srakah, dremba, kemaruk, aluamah, ngangah angah, ngaji mumpung.
Eling aja gampangan, gumunan, bingungan, gampang gumuyu.
Eling aja ngaya, ngangsa, nggresula.
Eling aja kurang ajar, dahwen, juweh, drengki, srei, jahil metakil.
Eling aja ma lima, madat, main, madon, mangan, maling.
Eling aja nganti kliwatan seneng, kliwatan susah utawa samubarang kang kliwat wates.
Eling aja gawe kapitunaning liyan, clemer, colong jupuk, laku juti, ngapusi.
Eling aja grusa - grusu, aja briga brigi, ngawur.
Eling aja dadi tukang goroh, cidra janji, ngapusi, mlincur.
Eling sing sapa ngapusi bakal kaweleh.
Eling wong urip bakal mati.
Eling sing sapa nandur bakal ngunduh.
Eling sing sapa salah mesti bakal seleh, sing goroh growah.
Eling sing becik bakal ketitik sing ala ketara.
Eling wong urip kudu samad sinamadan.
Eling jer basuki mawa beya.
Kalimat kalimat yang mungkin sudah tidak lagi dikenal generasi nak Thomas dan apalagi anak sekolah jaman sekarang. sungguh membuat saya prihatin sekali "
Thomas sekali lagi tertegun dan tak bisa berkata-kata. Kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Pak Mulyono begitu indah namun tajam dan mengiris sanubarinya.Sebuah rentetan kalimat yang sebenarnya sangat ampuh merubah negeri ini apabila para pemimpin dan pembesarnya menerapkannya dengan sepenuh hati dan tanpa ada maksud-maksud tertentu di belakangnya. Tidak akan ada lagi wakil Tuhan di Mahkamah yang katanya Agung yang justru menggunakan jabatannya untuk mengeruk keuntungan pribadi, tidak akan ada lagi seseorang atau bahkan sekelompok tikus lapar yang berjas rapi berlabelkan wakil masyarakat yang katanya terhormat dan selalu minta dihormati.....
Tidak terasa 5 jam perjalanan kereta ekonomi itu sudah berlalu. Masinis sudah membunyikan peluit bahwa kereta sebentar lagi akan berhenti di stasiun berikutnya. Stasiun Purwokerto.
Thomas beringsut menata barang bawaannya dan kemudian berpamitan kepada pak Mulyono. Sambil berjalan berlahan masih jelas berbekas di ingatannya apa yang dikatakan lelaki tua itu di akhir pertemuan.
" ingat nak, Sabda pandhita ratu, tan keno wola wali ....ucapan nak Thomas sebagai seorang buruh negeri, seorang pemimpin, jangan pernah berubah ubah alias mencla mencle.karena itu akan merugikan nak Thomas di kemudian hari....jangan tiru mereka yang sudah berada di atas dan menjadi pesohor negeri. Karena masa depan negeri ada pada jiwa-jiwa luhur pemuda macam nak Thomas ini...."
Pameran Lukisan di Festival Serayu Banjarnegara 2013
Masih terkait dengan sisa sisa kemeriahan Festival Serayu Banjarnegara 2013 yang berlangsung beberapa waktu yang lalu, ada satu acara yang tidak begitu banyak mendapat perhatian media massa.
Pameran Lukisan.
Yup. acara yang digelar di gedung wanita kompleks Setda Banjarnegara ini menjadi salah satu acara yang sedikit "terlewatkan" dan tenggelam dari meriahnya parade budaya, festival parak iwak dan Serayu EXPO adalah pameran lukisan hasil karya seniman-seniwati asli Banjarnegara.
selain hasil karya seniman profesional asli Banjarnegara, juga ditampilkan juga hasil karya adek-adek siswa SD dan SMP yang meraih juara pada lomba menggambar yang diadakan sebelumnya.
Berikut beberapa karya dan situasi saat pameran berlangsung yang saya abadikan dengan hape Nokia N82 :
Pameran Lukisan.
Yup. acara yang digelar di gedung wanita kompleks Setda Banjarnegara ini menjadi salah satu acara yang sedikit "terlewatkan" dan tenggelam dari meriahnya parade budaya, festival parak iwak dan Serayu EXPO adalah pameran lukisan hasil karya seniman-seniwati asli Banjarnegara.selain hasil karya seniman profesional asli Banjarnegara, juga ditampilkan juga hasil karya adek-adek siswa SD dan SMP yang meraih juara pada lomba menggambar yang diadakan sebelumnya.
Berikut beberapa karya dan situasi saat pameran berlangsung yang saya abadikan dengan hape Nokia N82 :
























