Anies Baswedan, Guru Anak-anak Muda Indonesia
Ditengah carut marutnya dunia politik di negeri ini, lambat laun kita sebagai masyarakat kecil akhirnya bisa melihat mana petinggi-petinggi bangsa yang hanya "omong tok" dan mana yang benar benar mau bekerja demi bangsa ini.
Nama Anies Baswedan tidak asing lagi di telinga para generasi muda. Ide dan pemikirannya yang cerda membawa angin segar bagi perubahan bangsa.
Pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969 ini menorehkan tinta emas sebagai intelektual muda nasional namun berprestasi global. Hal ini dimulai sejak Anies menjadi peserta AFS, Intercultural Programs yakni program pertukaran pelajar siswa Indonesia-Amerika, tahun 1987. Ia kemudian menjadi salah satu tokoh intelektual muda Indonesia.
Anies berhasil masuk dalam daftar 100 intelektual Publik Dunia oleh Majalah Foreign Policy. Anies tercantum di majalah terbitan Amerika ini pada edisi April 2008. Dia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang tercantum namanya pada majalah tersebut.
Pria yang dikenal ramah dan murah senyum ini berhasil mensejajarkan namanya bersama para intelektual muda kelas dunia di antaranya Al Gore (aktivis lingkungan/mantan Wakil Presiden AS), Francis Fukuyama (ilmuwan AS), Lee KuanYew (menteri mentor Singapura) hingga pemenang Nobel perdamaian asal Bangladesh Muhammad Yunus. Hanya ini saja? Tentu tidak.
Selain itu, pada April 2010 pria bernama lengkap Anies Rasyid Baswedan ini juga terpilih sebagai salah satu dari 20 tokoh yang akan membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang versi majalah Foresight. Majalah terbitan Jepang ini menampilkan 20 tokoh yang diperkirakan akan menjadi perhatian dunia, salah satunya adalah nama Anies yang disematkan berdampingan dengan 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen serta Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi.
Siapa sesungguhnya sosok cerdas yang sudah mendunia ini? Anies Baswedan berasal dari keluarga sederhana, masa kecil Anies dihabiskan di Kota Pelajar, Yogyakarta. Lahir dari pasangan Rasyid Baswedan dan Aliyah Rasyid keduanya merupakan dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Yogyakarta. Sebagai informasi, Anies muda bukanlah seorang bintang di kelasnya. Sejak kecil Anies malah tidak pernah juara kelas, tetapi bakat kepemimpinannya sudah terlihat, saat kecil dia selalu proaktif terhadap berbagai hal dibanding teman-teman seusianya.
Anies juga membentuk perkumpulan anak-anak muda di kampungnya yang diberi nama ‘Kelabang’ (Klub Anak Berkembang) pada usia yang relatif masih sangat muda yakni umur 7 tahun. Bayangkan saja, di usia yang pada umumnya anak sedang asyiknya bermain kelereng dia justru sudah memikirkan sesuatu pemikiran yang besar.
Anies boleh saja menjadi sosok intelektual di masa kini, namun tahukah Anda, selain menjadi anak yang aktif, Anies ternyata gemar adu jotos dengan teman-teman sebayanya.
Namun demikian, siapa sangka, kegemarannya bertinju itu kelak mengantarnya gemar membaca buku, dan mengenal tokoh-tokoh nasional dan dunia, serta belakangan membuatnya akrab dengan istilah dan makna inspirasi.
Beranjak remaja, Anies tumbuh menjadi seorang yang hebat dan berprestasi. Saat SMP, dia dipercaya menjadi Ketua Seksi Pengabdian Masyarakat di sekolahnya SMP Negeri 5 Yogya. Anies selalu dipercaya oleh guru-gurunya untuk tampil mewakili sekolahnya kala itu. Hal yang lebih menakjubkan lagi ketika Anies duduk di bangku SMA Negeri 2 Yogya, Anies yang baru duduk di kelas satu sudah dipercaya menjadi ketua OSIS SMA se-Indonesia, hal yang sangat jarang terjadi di setiap sekolah di seluruh penjuru negeri ini.
Anies mengikuti program pertukaran pelajar AFS Intercultural Programs di Indonesia yang diselenggarakan oleh Bina Antarbudaya, selama satu tahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat (1987-1988). Anies terpaksa menjalani masa SMA selama 4 tahun pada (1985-1989).
Jiwa aktivis mengalir begitu deras dalam sekujur tubuh Anies. Dia tumbuh menjadi pemuda aktif. Lulus dari SMA dia lalu melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Ekonomi UGM di tahun 1989, Anies aktif di gerakan mahasiswa dan menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa UGM.
Setelah meraih gelar sarjananya tahun 1995, Anies mendapatkan beasiswa Fulbright untuk pendidikan Master Bidang International Security and Economic Policy di Universitas Maryland, College Park. Berkat prestasi-prestasinya yang sangat gemilang, sewaktu kuliah, dia dianugerahi William P. Cole III Fellow di Maryland School of Public Policy, ICF Scholarship, dan ASEAN Student Award.
Tak hanya sampai di situ, 10 tahun kemudian Anies kembali melanjutkan pendidikan doktoralnya menggunakan jalur beasiswa di Universitas Northern Illinois, Amerika Serikat dan dapat menyelesaikan disertasinya dengan sangat baik.
Setelah menyelesaikan studinya, ia pun langsung pulang ke Indonesia, kiprahnya di Jakarta begitu hebat. Selain berprofesi sebagai intelektual, Anies selalu mengisi kegiatan-kegiatan seminar pendidikan, keagamaan dan kebangsaan.
Tak ayal melihat kiprahnya yang demikian hebat, dua tahun kepulangannya Anies langsung terpilih sebagai rektor Universitas Paramadina, sebuah universitas yang dibangun dengan modal warisan intelektual dan nama besar almarhum Nurcholis Madjid yang mendunia. Saat itu usianya baru menginjak 38 tahun, ia pun dianugerahkan sebagai Rektor Termuda di Indonesia.
Doktor ilmu politik dari Northern Illinois University, AS, ini lahir dari keluarga pendidik yang menyimpan tekad untuk turut membangun bangsa melalui jalur pendidikan.
“Kami tidak berencana menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia, tapi kami berencana mengajak semua pihak turun tangan menyelesaikan masalah pendidikan Indonesia. Problem yang ada di bangsa ini luar biasa banyak. Tidak bisa kita berharap satu orang menyesaikan every single detail,” ujar Anies.
Tergugah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, Anies pun mendirikan gerakan pendidikan baru yaitu Indonesia Mengajar. Sebuah program yang merekrut anak-anak muda terbaik lulusan perguruan tinggi di Indonesia untuk mengabdi sebagai guru di sekolah-sekolah dasar yang berada di pelosok Indonesia.
Lewat program Indonesia Mengajar, Anies mengajak para pemimpin muda Indonesia yang telah selesai berkiprah di dunia kampus, untuk terjun ke desa-desa di pelosok negeri yang tanpa listrik, tanpa sinyal telepon. Menyebarkan harapan, memberikan inspirasi, dan menggantungkan mimpi bagi anak-anak negeri lewat kehadiran para lulusan terbaik universitas ternama.
Ini pembuktian bahwa Anies ingin membangun Indonesia dengan langkah sederhana yang konkrit namun memberi terang setelah kegelapan. Tak salah jika ia dijuluki sebagai sang guru bangsa. Bangga? Tentu saja!
Sumber : Sooperboy.com
Nama Anies Baswedan tidak asing lagi di telinga para generasi muda. Ide dan pemikirannya yang cerda membawa angin segar bagi perubahan bangsa.
Pria kelahiran Kuningan, Jawa Barat, 7 Mei 1969 ini menorehkan tinta emas sebagai intelektual muda nasional namun berprestasi global. Hal ini dimulai sejak Anies menjadi peserta AFS, Intercultural Programs yakni program pertukaran pelajar siswa Indonesia-Amerika, tahun 1987. Ia kemudian menjadi salah satu tokoh intelektual muda Indonesia.
Anies berhasil masuk dalam daftar 100 intelektual Publik Dunia oleh Majalah Foreign Policy. Anies tercantum di majalah terbitan Amerika ini pada edisi April 2008. Dia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang tercantum namanya pada majalah tersebut.
Pria yang dikenal ramah dan murah senyum ini berhasil mensejajarkan namanya bersama para intelektual muda kelas dunia di antaranya Al Gore (aktivis lingkungan/mantan Wakil Presiden AS), Francis Fukuyama (ilmuwan AS), Lee KuanYew (menteri mentor Singapura) hingga pemenang Nobel perdamaian asal Bangladesh Muhammad Yunus. Hanya ini saja? Tentu tidak.
Selain itu, pada April 2010 pria bernama lengkap Anies Rasyid Baswedan ini juga terpilih sebagai salah satu dari 20 tokoh yang akan membawa perubahan dunia untuk 20 tahun mendatang versi majalah Foresight. Majalah terbitan Jepang ini menampilkan 20 tokoh yang diperkirakan akan menjadi perhatian dunia, salah satunya adalah nama Anies yang disematkan berdampingan dengan 19 tokoh dunia lain seperti Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Venezuela Hugo Chavez, Menlu Inggris David Miliband, anggota Parlemen serta Sekjen Indian National Congress India Rahul Gandhi.
Siapa sesungguhnya sosok cerdas yang sudah mendunia ini? Anies Baswedan berasal dari keluarga sederhana, masa kecil Anies dihabiskan di Kota Pelajar, Yogyakarta. Lahir dari pasangan Rasyid Baswedan dan Aliyah Rasyid keduanya merupakan dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Yogyakarta. Sebagai informasi, Anies muda bukanlah seorang bintang di kelasnya. Sejak kecil Anies malah tidak pernah juara kelas, tetapi bakat kepemimpinannya sudah terlihat, saat kecil dia selalu proaktif terhadap berbagai hal dibanding teman-teman seusianya.
Anies juga membentuk perkumpulan anak-anak muda di kampungnya yang diberi nama ‘Kelabang’ (Klub Anak Berkembang) pada usia yang relatif masih sangat muda yakni umur 7 tahun. Bayangkan saja, di usia yang pada umumnya anak sedang asyiknya bermain kelereng dia justru sudah memikirkan sesuatu pemikiran yang besar.
Anies boleh saja menjadi sosok intelektual di masa kini, namun tahukah Anda, selain menjadi anak yang aktif, Anies ternyata gemar adu jotos dengan teman-teman sebayanya.
"Semua orang saya anggap sak tinju. Ditonjokin (dipukul) semua..." ucap suami dari Fery Farhati Ganis, S.Psi. M.Sc, mengenang masa kecilnya. "Saya merasa terinspirasi Muhammad Ali," ungkap Anies, menyebut idolanya petinju legendaris berkulit hitam asal Amerika Serikat itu.
Lantaran gemar meninju teman-teman sebayanya, baik di sekolah atau di lingkungan rumahnya di Yogyakarta, berulangkali ia pun dipanggil kepala sekolah. “Saat kelas 1 dan 2 sekolah dasar, saya memang agak punya masalah," ucap ayah dari empat orang anak ini.
Namun demikian, siapa sangka, kegemarannya bertinju itu kelak mengantarnya gemar membaca buku, dan mengenal tokoh-tokoh nasional dan dunia, serta belakangan membuatnya akrab dengan istilah dan makna inspirasi.
Beranjak remaja, Anies tumbuh menjadi seorang yang hebat dan berprestasi. Saat SMP, dia dipercaya menjadi Ketua Seksi Pengabdian Masyarakat di sekolahnya SMP Negeri 5 Yogya. Anies selalu dipercaya oleh guru-gurunya untuk tampil mewakili sekolahnya kala itu. Hal yang lebih menakjubkan lagi ketika Anies duduk di bangku SMA Negeri 2 Yogya, Anies yang baru duduk di kelas satu sudah dipercaya menjadi ketua OSIS SMA se-Indonesia, hal yang sangat jarang terjadi di setiap sekolah di seluruh penjuru negeri ini.
Anies mengikuti program pertukaran pelajar AFS Intercultural Programs di Indonesia yang diselenggarakan oleh Bina Antarbudaya, selama satu tahun di Milwaukee, Wisconsin, Amerika Serikat (1987-1988). Anies terpaksa menjalani masa SMA selama 4 tahun pada (1985-1989).
Jiwa aktivis mengalir begitu deras dalam sekujur tubuh Anies. Dia tumbuh menjadi pemuda aktif. Lulus dari SMA dia lalu melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Ekonomi UGM di tahun 1989, Anies aktif di gerakan mahasiswa dan menjadi Ketua Umum Senat Mahasiswa UGM.
Setelah meraih gelar sarjananya tahun 1995, Anies mendapatkan beasiswa Fulbright untuk pendidikan Master Bidang International Security and Economic Policy di Universitas Maryland, College Park. Berkat prestasi-prestasinya yang sangat gemilang, sewaktu kuliah, dia dianugerahi William P. Cole III Fellow di Maryland School of Public Policy, ICF Scholarship, dan ASEAN Student Award.
Tak hanya sampai di situ, 10 tahun kemudian Anies kembali melanjutkan pendidikan doktoralnya menggunakan jalur beasiswa di Universitas Northern Illinois, Amerika Serikat dan dapat menyelesaikan disertasinya dengan sangat baik.
Setelah menyelesaikan studinya, ia pun langsung pulang ke Indonesia, kiprahnya di Jakarta begitu hebat. Selain berprofesi sebagai intelektual, Anies selalu mengisi kegiatan-kegiatan seminar pendidikan, keagamaan dan kebangsaan.
Tak ayal melihat kiprahnya yang demikian hebat, dua tahun kepulangannya Anies langsung terpilih sebagai rektor Universitas Paramadina, sebuah universitas yang dibangun dengan modal warisan intelektual dan nama besar almarhum Nurcholis Madjid yang mendunia. Saat itu usianya baru menginjak 38 tahun, ia pun dianugerahkan sebagai Rektor Termuda di Indonesia.
Doktor ilmu politik dari Northern Illinois University, AS, ini lahir dari keluarga pendidik yang menyimpan tekad untuk turut membangun bangsa melalui jalur pendidikan.
“Kami tidak berencana menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia, tapi kami berencana mengajak semua pihak turun tangan menyelesaikan masalah pendidikan Indonesia. Problem yang ada di bangsa ini luar biasa banyak. Tidak bisa kita berharap satu orang menyesaikan every single detail,” ujar Anies.
Tergugah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, Anies pun mendirikan gerakan pendidikan baru yaitu Indonesia Mengajar. Sebuah program yang merekrut anak-anak muda terbaik lulusan perguruan tinggi di Indonesia untuk mengabdi sebagai guru di sekolah-sekolah dasar yang berada di pelosok Indonesia.
Lewat program Indonesia Mengajar, Anies mengajak para pemimpin muda Indonesia yang telah selesai berkiprah di dunia kampus, untuk terjun ke desa-desa di pelosok negeri yang tanpa listrik, tanpa sinyal telepon. Menyebarkan harapan, memberikan inspirasi, dan menggantungkan mimpi bagi anak-anak negeri lewat kehadiran para lulusan terbaik universitas ternama.
Ini pembuktian bahwa Anies ingin membangun Indonesia dengan langkah sederhana yang konkrit namun memberi terang setelah kegelapan. Tak salah jika ia dijuluki sebagai sang guru bangsa. Bangga? Tentu saja!
Sumber : Sooperboy.com
Festival Sungai Merawu : Simple, unik, asik dan mBanjar banget
Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 8 November 2014, Masyarakat Desa Rakitan Kecamatan Banjarmangu, Banjarnegara menggelar sebuah acara budaya yaitu Festival Sungai Merawu untuk yang pertama kalinya. Aneh juga saat pertama kali mendengar kabar akan adanya acara ini. Sebab yang saya dengar, acara ini digalang oleh pemuda setempat dan murni hasil kerja keras mereka dalam mempersiapkannya selama beberapa hari saja. Luar biasa........
Desa Rakitan adalah sebuah desa yang masuk wilayah Kecamatan Madukara (meskipun pada dasarnya lebih dekat ke Kecamatan Banjarmangu daripada ke Kecamatan madukara itu sendiri), berjarak sekitar 6 km dari pusat kota Banjarnegara ke arah Selatan. Akses untuk menuju ke sana pun sangat mudah, karena dilalui jalan utama menuju wilayah Selatan dan wilayah Atas kabupaten Banjarnegara.
Menurut ketua Panitia, Setyo Bangun Suharto, festival ini bertujuan untuk mengingatkan masyarakat melestarikan salak jantan. Sebab keberadaan salak jantan ini semakin hari semakin menurun. Padahal tanpa penyerbukan dengan serbuk sari salak jantan, salak pondoh tidak bisa berbuah.Dia meminta para petani salak, khususnya di Desa Rakitan, jangan hanya menanam salak betina yang bisa berbuah, namun juga menanam salak jantan di terasiring. Pada saat langka, serbuk sari dijual dengan harga mahal, sehingga menanam salak jantan juga memiliki manfaat ekonomis.
Desa Rakitan adalah sebuah desa yang masuk wilayah Kecamatan Madukara (meskipun pada dasarnya lebih dekat ke Kecamatan Banjarmangu daripada ke Kecamatan madukara itu sendiri), berjarak sekitar 6 km dari pusat kota Banjarnegara ke arah Selatan. Akses untuk menuju ke sana pun sangat mudah, karena dilalui jalan utama menuju wilayah Selatan dan wilayah Atas kabupaten Banjarnegara.
Menurut ketua Panitia, Setyo Bangun Suharto, festival ini bertujuan untuk mengingatkan masyarakat melestarikan salak jantan. Sebab keberadaan salak jantan ini semakin hari semakin menurun. Padahal tanpa penyerbukan dengan serbuk sari salak jantan, salak pondoh tidak bisa berbuah.Dia meminta para petani salak, khususnya di Desa Rakitan, jangan hanya menanam salak betina yang bisa berbuah, namun juga menanam salak jantan di terasiring. Pada saat langka, serbuk sari dijual dengan harga mahal, sehingga menanam salak jantan juga memiliki manfaat ekonomis.
CPMI 2014 Yogyakarta : Saya Tidak Berangkat
Tanggal 19 Oktober 2014 kemaren, ada satu hal yang sangat sangat dan sangat terasa hilang dalam pikiran saya. Meskipun sudah berusaha untuk mengalihkan perhatian dengan melakukan beragam aktivitas yang asik dan menyenangkan dengan keluarga, namun ternyata perasaan itu terlanjur sangat dalam membekas di ujung relung hati.....halah
Ya. Pada tanggal itu saya seharusnya saya berada di antara 1800-an penggemar fotografi yang mengenakan atribut lengkap CPMI 2014 di Pelataran pusat perbelanjaan terbaru di Yogyakarta, Jogja City Mall.
CPMI ?
Canon PhotoMarathon Indonesia, sodara sodara. Sebuah event foto terbesar yang sangat saya idam idamkan bahkan sejak beberapa bulan sebelumnya, yang pada akhirnya saya hanya bisa nyawang saja foto teman teman yang berangkat ke sana.....
Sekedar info (bagi yang belum tahu saja....yang sudah tahu mau dibaca monggo, mau nggak ya nggak papa......)
CPM adalah singkatan dari Canon Photo Marathon, yaitu sebuah ajang perlombaan fotografi yang diadakan setahun sekali oleh Canon di (Singapore, Thailand, Vietnam, India, Indonesia, Malaysia, Kamboja) dalam hal ini di Indonesia di selenggarakan oleh PT. Datascrip (selaku distributor tunggal produk fotografi di Indonesia).
Canon PhotoMarathon Indonesia tahun ini merupakan gelaran yang keenam (CPM Indonesia pertama diadakan di tahun 2009) dengan hanya berlokasi di Jakarta. Kemudian Mulai tahun 2011 – 2013 (dan semoga seterusnya) diadakan di 3 Kota: Jakarta, Surabaya dan Jogjakarta. Terakhir tahun ini, 2014 diadakan di 3 Kota : Jakarta, Medan dan Jogjakarta (Canon PhotoMarathon akan diadakan di tiga kota tersebut dalam waktu berbeda, yakni pada 11 Oktober 2014 di Lapangan Merdeka Medan, 19 Oktober 2014 di Jogja City Mall Yogyakarta, dan puncaknya 25 Oktober 2014 di Gelora Bung Karno Jakarta.)
Bayangkan saja, dengan sebegitu banyak peserta, berapa besar kemungkinan untuk menang ? 1 : sekian itu kan ? Nah dari situlah pada awalnya saya berharap bisa bertemu dengan master master jepret dari daerah lain yang kemudian bisa diajak kenalan, ngobrol, ngopi dan tentu saja diserap ilmunya......dan tentu saja pasti akan menjadi sebuah pengalaman besar yang tidak akan terlupakan sampai akhir nanti.
..........ah sudahlah.........
Nah, pagi tadi, saya fb-an gasik di kantor pengen melihat hasil CPMI kemaren itu. Berdasarkan apa yang saya baca, Canon PhotoMarathon Indonesia 2014 di Yogyakarta lalu terbagi dalam tiga tema dimulai dengan tema pertama, yaitu “Menyambut Pagi” di lanjutkan ke tema kedua (setelah batas waktu kurang lebih 60 menit untuk berburu foto tema pertama berakhir), yaitu “Indahnya Persahabatan”. Tema terakhir atau tema ketiga yang mengakhiri tantangan kecepatan dan kreativitas para peserta di ajang ini adalah “Waktunya Belanja”.
Hasil foto seluruh para peserta kemudian diseleksi oleh Dewan Juri yang terdiri dari Ray Bachtiar (Fotografer Profesional), Misbachul Munir (Fotografer Profesional), Rarindra Prakarsa (Fotografer Profesional), Wahyu Wijoseno Aji (Fotografer Profesional), Denny Feblu (Fotografer ; Pengamat Fotografi) dan Heru Chandra (Manajer Divisi PT. Datascrip).
Sambil menunggu penilaian oleh Dewan Juri dan pengumuman finalis serta pemenang, para peserta disuguhi seminar fotografi mengenai corporate photography yang dibawakan oleh fotografer profesional dan mentor ternama, Edward Tigor Siahaan. Para peserta pun terlihat serius mengikuti seminar tersebut.
Hasilnya ?
Dahsyat bin sangar bin mengagumkan .........
Juara Umum dimenangkan oleh master Agus Supriyanto (fotografer panutan saya dari HPPW Wonosobo hehehe.....) . Untuk itu, ia berhak membawa pulang kamera DSLR Canon EOS 60D serta mengikuti Trip Photo Clinic ke Jepang bersama para Juara Umum dari Canon PhotoMarathon Indonesia 2014 di Medan dan Jakarta serta pemenang utama dari negara penyelenggara Canon PhotoMarathon Asia lainnya.
Kemudian Juara 1 Tema pertama diraih oleh kakangmas Budi Prasetyo (balakurawa dan mentor foto saya di KPFB - Komunitas Penggemar dan Penghobi Fotografi Banjarnegara) dan Juara 1 Tema kedua diraih oleh Gunung Pamungkas. Juara pertama dari masing-masing tema yang di gelar dalam kompetisi berhak membawa pulang kamera DSLR Canon EOS 60D Body serta Trip Photo Clinic ke Lombok....... (ini yang bikin saya ngiler berat sodara hehehe....)
Oya ada lagi, beberapa orang kawan dari HPPW ternyata berhasil juga menjadi Jawara di ajang ini. Mas Juragan OASE studio, Sulthon Arif Rahmatullah, yang menjadi Juara 2 kategori Umum dan mas bro Em Faies yang menjadi Finalis tema ke 2 ......
Bangga juga saya pada mereka, ikut merasa bahagia namun jauh dalam hati semakin menjerit (halah....) karena keinginan untuk bisa ada di sana tidak terlaksana ......
mungkin tahun depan.....
mungkin tahun depannya lagi ......
mungkin tahun depannya depannya lagi ......
entah......
Ya. Pada tanggal itu saya seharusnya saya berada di antara 1800-an penggemar fotografi yang mengenakan atribut lengkap CPMI 2014 di Pelataran pusat perbelanjaan terbaru di Yogyakarta, Jogja City Mall.
CPMI ?
Canon PhotoMarathon Indonesia, sodara sodara. Sebuah event foto terbesar yang sangat saya idam idamkan bahkan sejak beberapa bulan sebelumnya, yang pada akhirnya saya hanya bisa nyawang saja foto teman teman yang berangkat ke sana.....
Sekedar info (bagi yang belum tahu saja....yang sudah tahu mau dibaca monggo, mau nggak ya nggak papa......)
CPM adalah singkatan dari Canon Photo Marathon, yaitu sebuah ajang perlombaan fotografi yang diadakan setahun sekali oleh Canon di (Singapore, Thailand, Vietnam, India, Indonesia, Malaysia, Kamboja) dalam hal ini di Indonesia di selenggarakan oleh PT. Datascrip (selaku distributor tunggal produk fotografi di Indonesia).
Canon PhotoMarathon Indonesia tahun ini merupakan gelaran yang keenam (CPM Indonesia pertama diadakan di tahun 2009) dengan hanya berlokasi di Jakarta. Kemudian Mulai tahun 2011 – 2013 (dan semoga seterusnya) diadakan di 3 Kota: Jakarta, Surabaya dan Jogjakarta. Terakhir tahun ini, 2014 diadakan di 3 Kota : Jakarta, Medan dan Jogjakarta (Canon PhotoMarathon akan diadakan di tiga kota tersebut dalam waktu berbeda, yakni pada 11 Oktober 2014 di Lapangan Merdeka Medan, 19 Oktober 2014 di Jogja City Mall Yogyakarta, dan puncaknya 25 Oktober 2014 di Gelora Bung Karno Jakarta.)
![]() |
| Original pic by Sulthon Arif Rahmatullah |
..........ah sudahlah.........
Nah, pagi tadi, saya fb-an gasik di kantor pengen melihat hasil CPMI kemaren itu. Berdasarkan apa yang saya baca, Canon PhotoMarathon Indonesia 2014 di Yogyakarta lalu terbagi dalam tiga tema dimulai dengan tema pertama, yaitu “Menyambut Pagi” di lanjutkan ke tema kedua (setelah batas waktu kurang lebih 60 menit untuk berburu foto tema pertama berakhir), yaitu “Indahnya Persahabatan”. Tema terakhir atau tema ketiga yang mengakhiri tantangan kecepatan dan kreativitas para peserta di ajang ini adalah “Waktunya Belanja”.
Hasil foto seluruh para peserta kemudian diseleksi oleh Dewan Juri yang terdiri dari Ray Bachtiar (Fotografer Profesional), Misbachul Munir (Fotografer Profesional), Rarindra Prakarsa (Fotografer Profesional), Wahyu Wijoseno Aji (Fotografer Profesional), Denny Feblu (Fotografer ; Pengamat Fotografi) dan Heru Chandra (Manajer Divisi PT. Datascrip).
Sambil menunggu penilaian oleh Dewan Juri dan pengumuman finalis serta pemenang, para peserta disuguhi seminar fotografi mengenai corporate photography yang dibawakan oleh fotografer profesional dan mentor ternama, Edward Tigor Siahaan. Para peserta pun terlihat serius mengikuti seminar tersebut.
Hasilnya ?
Dahsyat bin sangar bin mengagumkan .........
Juara Umum dimenangkan oleh master Agus Supriyanto (fotografer panutan saya dari HPPW Wonosobo hehehe.....) . Untuk itu, ia berhak membawa pulang kamera DSLR Canon EOS 60D serta mengikuti Trip Photo Clinic ke Jepang bersama para Juara Umum dari Canon PhotoMarathon Indonesia 2014 di Medan dan Jakarta serta pemenang utama dari negara penyelenggara Canon PhotoMarathon Asia lainnya.Kemudian Juara 1 Tema pertama diraih oleh kakangmas Budi Prasetyo (balakurawa dan mentor foto saya di KPFB - Komunitas Penggemar dan Penghobi Fotografi Banjarnegara) dan Juara 1 Tema kedua diraih oleh Gunung Pamungkas. Juara pertama dari masing-masing tema yang di gelar dalam kompetisi berhak membawa pulang kamera DSLR Canon EOS 60D Body serta Trip Photo Clinic ke Lombok....... (ini yang bikin saya ngiler berat sodara hehehe....)
![]() |
| Original pic by Sabar Widadi |
Bangga juga saya pada mereka, ikut merasa bahagia namun jauh dalam hati semakin menjerit (halah....) karena keinginan untuk bisa ada di sana tidak terlaksana ......
mungkin tahun depan.....
mungkin tahun depannya lagi ......
mungkin tahun depannya depannya lagi ......
entah......
Catatan Ringan setelah Dieng Culture Festival ke V
Pagelaran akbar Dieng Culture Festival ke V tahun 2014 ini sudah selesai diselenggarakan. Ada banayk cerita dibalik gegap gempitanya Festival tahunan di negeri atas awan itu. Cerita asik, cerita gembira, cerita hebat, cerita kagum, cerita sedih, cerita duka bahkan caci dan maki melengkapi pemberitaan yang muncul dimana-mana.
Yup. Festival di atas awan. mungkin benar sekali apa yang dusebutkan dalam kalimat itu. Dengan ketinggian mencapai 2000 mdpl, kabut yang pekat bisa sewaktu waktu turun dan menyelimuti seluruh permukaan tanah hingga kita akan serasa berada di negeri antah berantah.
Pada pagelaran Dieng Culture Festival ke V (DCF V) tanggal 30 - 31 Agustus 2014 kemarin, jumlah pengunjung festival pada hari pertama mencapai 20.000 orang dan bertambah hampir separuhnya pada hari kedua. Hal inilah yang kemudian memunculkan sebuah masalah yang bahkan tidak pernah dialami atau bahkan terpikir sekalipun oleh warga setempat. MACET.
Yup. Festival di atas awan. mungkin benar sekali apa yang dusebutkan dalam kalimat itu. Dengan ketinggian mencapai 2000 mdpl, kabut yang pekat bisa sewaktu waktu turun dan menyelimuti seluruh permukaan tanah hingga kita akan serasa berada di negeri antah berantah.
![]() |
| suasana pemotongan rambut gembel - #DCF2014 |
Arfi dan Arie, Lulusan SMK yang Ahli Design Engineering Internasional
Ini lho yang namanya jos gandhos.....sudah jamannya kita sebagai yang muda-muda bekerja kreatif, inovatif dan imajinatif. Tapi hasilnya sangat signifikan. Bagaimana ceritanya ? simak artikel yang saya sadur copas dari JPNN berikut ini ......
SUASANA ruang tamu di rumah Arfi’an Fuadi, 28, di Jalan Canden, Salatiga, Jawa Tengah, masih dipenuhi nuansa Idul Fitri. Jajanan Lebaran seperti kacang, nastar, dan kue kering memenuhi meja untuk menjamu tamu yang berkunjung.
Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya ada tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.
Kiprah dua bersaudara itu di dunia rancang teknik internasional tak perlu diragukan lagi. Tahun lalu Arie memenangi kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat. Arie mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara.
”Lomba ini membuat alat penggantung mesin jet seringan mungkin dengan tetap mempertahankan kekuatan angkut mesin jet seberat 9.500 pon. Saya berhasil mengurangi berat dari 2 kilogram lebih menjadi 327 gram saja. Berkurang 84 persen bobotnya,” ungkap Arie ketika ditemui di rumah kakaknya, Senin (4/8).
Yang membanggakan, Arie mengalahkan para pakar design engineering yang tingkat pendidikannya jauh di atas dirinya.
Misalnya, juara kedua diraih seorang PhD dari Swedia yang bekerja di Swedish Air Force. Sedangkan yang nomor tiga lulusan Oxford University yang kini bekerja di Airbus. ”Padahal, saya hanya lulusan SMK Teknik Mekanik Otomotif,” jelas Arie.
Sekilas memang tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang lulusan SMK yang belum pernah mendapatkan materi pendidikan CAD (computer aided design) mampu mengalahkan doktor dan mahasiswa S-3 yang bekerja di perusahaan pembuat pesawat? CAD adalah program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk.
Rupanya, ilmu utak-atik desain teknik itu diperoleh dan didalami Arie dan kakaknya, Arfi, secara otodidak. Hampir setiap hari keduanya melakukan berbagai percobaan menggunakan program di komputernya. Mereka juga belajar dari referensi-referensi yang berserak di berbagai situs tentang design engineering.
”Terus terang dulu komputer saja kami tidak punya. Kami harus belajar komputer di rumah saudara. Lama-lama kami jadi menguasai. Bahkan, para tetangga yang mau beli komputer, sampai kami yang disuruh ke toko untuk memilihkan,” kenang Arfi.
Sebelum menjadi profesional di bidang desain teknik, dua putra keluarga A. Sya’roni itu ternyata harus banting tulang bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga. Arfi yang lulusan SMK Negeri 7 Semarang pada 2005 pernah bekerja sebagai tukang cetak foto, di bengkel sepeda motor, sampai jualan susu keliling kampung.
Sang adik juga tak jauh berbeda, jadi tukang menurunkan pasir dari truk sampai tukang cuci motor. ”Kami menyadari, penghasilan orang tua kami pas-pasan. Mau tidak mau kami harus bekerja apa saja asal halal,” tutur Arfi.
Baru pada 2009 Arfi bisa menyalurkan bakat dan minatnya di bidang program komputer. Pada 9 Desember tahun itu dia memberanikan diri mendirikan perusahaan di bidang design engineering. Namanya D-Tech Engineering Salatiga. Saksi bisu pendirian perusahaan tersebut adalah komputer AMD 3000+. Komputer itu dibeli dari uang urunan keluarga dan gaji Arfi saat masih bekerja di PT Pos Indonesia.
”Gaji saya waktu itu sekitar Rp 700 ribu sebagai penjaga malam kantor pos. Lalu ada sisa uang beasiswa adik dan dibantu bapak, jadilah saya bisa membeli komputer ini,” kenangnya.
Setelah berdiskusi dengan sang adik, Arfi pun menetapkan bidang 3D design engineering sebagai fokus garapan mereka. Sebab, dia yakin bidang itu booming dalam beberapa tahun ke depan. ”Kami pun langsung belajar secara otodidak aplikasi CAD, perhitungan material dengan FEA (finite element analysis), dan lain-lain,” jelasnya.
Tak lama kemudian, D-Tech menerima order pertama. Setelah mencari di situs freelance, mereka mendapat pesanan desain jarum untuk alat ukur dari pengusaha Jerman. Si pengusaha bersedia membayar USD 10 per set. Sedangkan Arfi hanya mampu mengerjakan desain tiga set jarum selama dua minggu.
”Kalau sekarang mungkin bisa sepuluh menit jadi. Dulu memang lama karena kalau mau download atau kirim e-mail harus ke warnet dulu. Modem kami dulu hanya punya kecepatan 2 kbps. Hanya bisa untuk lihat e-mail.”
Di luar dugaan, garapan D-Tech menuai apresiasi dari si pemesan. Sampai-sampai si pemesan bersedia menambah USD 5 dari kesepakatan harga awal. ”Kami sangat senang mendapat apresiasi seperti itu. Dan itulah yang memotivasi kami untuk terus maju dan berkembang,” tegas Arfi.
Sejak itu order terus mengalir tak pernah sepi. Model desain yang dipesan pun makin beragam. Mulai kandang sapi yang dirakit tanpa paku yang dipesan orang Selandia Baru sampai desain pesawat penyebar pupuk yang dipesan perusahaan Amerika Serikat.
”Pernah ada yang minta desain mobil lama GT40 dengan handling yang sama. Untuk proyek itu, si pemilik sampai harus membongkar komponen mobilnya dan difoto satu-satu untuk kami teliti. Jadi, kami yang menentukan mesin yang harus dibeli, sasisnya model bagaimana dan seterusnya. Hasilnya, kata si pemesan, 95 persen mirip,” jelasnya.
Selama lima tahun ini, D-Tech telah mengerjakan sedikitnya 150 proyek desain. Tentu saja hasil finansial yang diperoleh pun signifikan. Mereka bisa membangun rumah orang tuanya serta membeli mobil. Tapi, di sisi lain, capaian yang cukup mencolok itu sempat mengundang cibiran dan tanda tanya para tetangga.
”Kami dicurigai memelihara tuyul. Soalnya, pekerjaannya tidak jelas, hanya di rumah, tapi kok bisa menghasilkan uang banyak. Mereka tidak tahu pekerjaan dan prestasi yang kami peroleh,” cerita Arfi seraya tertawa.
Sayangnya, dari 150 proyek itu, hanya satu yang dipesan klien dalam negeri. ”Satu-satunya klien Indonesia adalah dari sebuah perusahaan cat. Mereka beberapa kali memesan desain mesin pencampur cat,” lanjutnya.
Meski punya segudang pengalaman dan diakui berbagai perusahaan internasional, Arfi dan Arie masih belum bisa berkiprah di desain teknik Indonesia. Penyebabnya, mereka hanya berijazah SMK.
”Kalau ditanya apakah tidak ingin membantu perusahaan nasional, kami tentu mau. Tapi, apakah mereka mau? Di Indonesia kan yang ditanya pertama kali lulusan apa dan dari universitas mana,” ujarnya.
Stigma ”hanya berijazah SMK” ditambah sistem pendidikan Indonesia yang dinilai kurang adil itulah yang ikut mengandaskan keinginan Arie melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Arie tidak bisa masuk jurusan itu karena hanya lulusan SMK mekanik otomotif.
”Saya ingin kuliah di jurusan itu karena ingin memperdalam ilmu elektro. Kalau mesin saya bisa belajar sendiri. Tapi, saya ditolak karena kata pihak Undip jurusannya tidak sesuai dengan ijazah saya. Padahal, lulusan SMA yang sebenarnya juga tidak sesuai diterima. Ini kan tidak adil namanya,” cetus Arie.
Meski ditolak, Arie tidak kecewa. Bersama sang kakak, dia tetap ingin menunjukkan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Dan itu telah dibuktikan dengan menjuarai kompetisi design engineering di Amerika yang diikuti para ahli dari berbagai negara. Selain itu, mereka tak segan-segan menularkan ilmunya kepada anak-anak muda agar melek teknologi 3D design engineering.
”Ada beberapa anak SMK yang datang ke kami untuk belajar. Sekarang ada yang sudah kerja di bidang itu. Ada juga yang bakal ikut kompetisi Asian Skills Competition sebagai peserta termuda,” jelasnya.
Mereka juga punya keinginan mengembangkan teknologi energi terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan desain pembangkit listrik tenaga angin.
”Kami bekerja sama dengan anak-anak SMK untuk mengembangkan biodiesel dari minyak jelantah. Lalu, Mas Ricky Elson (pembuat mobil listrik yang dibawa Dahlan Iskan dari Jepang, Red) pernah menghubungi lewat Facebook, ingin menjalin kerja sama dengan kami. Tentu saja kami terima,” ungkapnya.
Dengan semua upaya itu, mereka punya satu impian, yakni mengembangkan sumber daya lokal Salatiga untuk menjadikan kota kecil itu pusat pengembangan manufaktur teknologi kelas dunia. Layaknya Silicon Valley di San Francisco, Amerika Serikat.
”Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi pusat industri manufaktur dunia. Terlebih lagi, teknologi 3D printing bakal menjadi tulang punggung industri masa depan. Itulah kenapa 3D design engineering sangat penting,” tandasnya.
Bagaimana ? sangat menginspirasi kan ?
so, jangan takut untuk dicap nggak punya status sosial karena ga keliatan selalu bekerja dan berseragam, karena sesungguhnya rejeki sudah diatur oleh Nya asalkan kita mau berusaha mencari jalannya.....ya to ?
Sumber : JPNN
SUASANA ruang tamu di rumah Arfi’an Fuadi, 28, di Jalan Canden, Salatiga, Jawa Tengah, masih dipenuhi nuansa Idul Fitri. Jajanan Lebaran seperti kacang, nastar, dan kue kering memenuhi meja untuk menjamu tamu yang berkunjung.
Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya ada tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.
Kiprah dua bersaudara itu di dunia rancang teknik internasional tak perlu diragukan lagi. Tahun lalu Arie memenangi kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat. Arie mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara.
”Lomba ini membuat alat penggantung mesin jet seringan mungkin dengan tetap mempertahankan kekuatan angkut mesin jet seberat 9.500 pon. Saya berhasil mengurangi berat dari 2 kilogram lebih menjadi 327 gram saja. Berkurang 84 persen bobotnya,” ungkap Arie ketika ditemui di rumah kakaknya, Senin (4/8).
Yang membanggakan, Arie mengalahkan para pakar design engineering yang tingkat pendidikannya jauh di atas dirinya.
Misalnya, juara kedua diraih seorang PhD dari Swedia yang bekerja di Swedish Air Force. Sedangkan yang nomor tiga lulusan Oxford University yang kini bekerja di Airbus. ”Padahal, saya hanya lulusan SMK Teknik Mekanik Otomotif,” jelas Arie.
Sekilas memang tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang lulusan SMK yang belum pernah mendapatkan materi pendidikan CAD (computer aided design) mampu mengalahkan doktor dan mahasiswa S-3 yang bekerja di perusahaan pembuat pesawat? CAD adalah program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk.
Rupanya, ilmu utak-atik desain teknik itu diperoleh dan didalami Arie dan kakaknya, Arfi, secara otodidak. Hampir setiap hari keduanya melakukan berbagai percobaan menggunakan program di komputernya. Mereka juga belajar dari referensi-referensi yang berserak di berbagai situs tentang design engineering.
”Terus terang dulu komputer saja kami tidak punya. Kami harus belajar komputer di rumah saudara. Lama-lama kami jadi menguasai. Bahkan, para tetangga yang mau beli komputer, sampai kami yang disuruh ke toko untuk memilihkan,” kenang Arfi.
Sebelum menjadi profesional di bidang desain teknik, dua putra keluarga A. Sya’roni itu ternyata harus banting tulang bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga. Arfi yang lulusan SMK Negeri 7 Semarang pada 2005 pernah bekerja sebagai tukang cetak foto, di bengkel sepeda motor, sampai jualan susu keliling kampung.
Sang adik juga tak jauh berbeda, jadi tukang menurunkan pasir dari truk sampai tukang cuci motor. ”Kami menyadari, penghasilan orang tua kami pas-pasan. Mau tidak mau kami harus bekerja apa saja asal halal,” tutur Arfi.
Baru pada 2009 Arfi bisa menyalurkan bakat dan minatnya di bidang program komputer. Pada 9 Desember tahun itu dia memberanikan diri mendirikan perusahaan di bidang design engineering. Namanya D-Tech Engineering Salatiga. Saksi bisu pendirian perusahaan tersebut adalah komputer AMD 3000+. Komputer itu dibeli dari uang urunan keluarga dan gaji Arfi saat masih bekerja di PT Pos Indonesia.
”Gaji saya waktu itu sekitar Rp 700 ribu sebagai penjaga malam kantor pos. Lalu ada sisa uang beasiswa adik dan dibantu bapak, jadilah saya bisa membeli komputer ini,” kenangnya.
Setelah berdiskusi dengan sang adik, Arfi pun menetapkan bidang 3D design engineering sebagai fokus garapan mereka. Sebab, dia yakin bidang itu booming dalam beberapa tahun ke depan. ”Kami pun langsung belajar secara otodidak aplikasi CAD, perhitungan material dengan FEA (finite element analysis), dan lain-lain,” jelasnya.
Tak lama kemudian, D-Tech menerima order pertama. Setelah mencari di situs freelance, mereka mendapat pesanan desain jarum untuk alat ukur dari pengusaha Jerman. Si pengusaha bersedia membayar USD 10 per set. Sedangkan Arfi hanya mampu mengerjakan desain tiga set jarum selama dua minggu.
”Kalau sekarang mungkin bisa sepuluh menit jadi. Dulu memang lama karena kalau mau download atau kirim e-mail harus ke warnet dulu. Modem kami dulu hanya punya kecepatan 2 kbps. Hanya bisa untuk lihat e-mail.”
Di luar dugaan, garapan D-Tech menuai apresiasi dari si pemesan. Sampai-sampai si pemesan bersedia menambah USD 5 dari kesepakatan harga awal. ”Kami sangat senang mendapat apresiasi seperti itu. Dan itulah yang memotivasi kami untuk terus maju dan berkembang,” tegas Arfi.
Sejak itu order terus mengalir tak pernah sepi. Model desain yang dipesan pun makin beragam. Mulai kandang sapi yang dirakit tanpa paku yang dipesan orang Selandia Baru sampai desain pesawat penyebar pupuk yang dipesan perusahaan Amerika Serikat.
”Pernah ada yang minta desain mobil lama GT40 dengan handling yang sama. Untuk proyek itu, si pemilik sampai harus membongkar komponen mobilnya dan difoto satu-satu untuk kami teliti. Jadi, kami yang menentukan mesin yang harus dibeli, sasisnya model bagaimana dan seterusnya. Hasilnya, kata si pemesan, 95 persen mirip,” jelasnya.
Selama lima tahun ini, D-Tech telah mengerjakan sedikitnya 150 proyek desain. Tentu saja hasil finansial yang diperoleh pun signifikan. Mereka bisa membangun rumah orang tuanya serta membeli mobil. Tapi, di sisi lain, capaian yang cukup mencolok itu sempat mengundang cibiran dan tanda tanya para tetangga.
”Kami dicurigai memelihara tuyul. Soalnya, pekerjaannya tidak jelas, hanya di rumah, tapi kok bisa menghasilkan uang banyak. Mereka tidak tahu pekerjaan dan prestasi yang kami peroleh,” cerita Arfi seraya tertawa.
Sayangnya, dari 150 proyek itu, hanya satu yang dipesan klien dalam negeri. ”Satu-satunya klien Indonesia adalah dari sebuah perusahaan cat. Mereka beberapa kali memesan desain mesin pencampur cat,” lanjutnya.
Meski punya segudang pengalaman dan diakui berbagai perusahaan internasional, Arfi dan Arie masih belum bisa berkiprah di desain teknik Indonesia. Penyebabnya, mereka hanya berijazah SMK.
”Kalau ditanya apakah tidak ingin membantu perusahaan nasional, kami tentu mau. Tapi, apakah mereka mau? Di Indonesia kan yang ditanya pertama kali lulusan apa dan dari universitas mana,” ujarnya.
Stigma ”hanya berijazah SMK” ditambah sistem pendidikan Indonesia yang dinilai kurang adil itulah yang ikut mengandaskan keinginan Arie melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Arie tidak bisa masuk jurusan itu karena hanya lulusan SMK mekanik otomotif.
”Saya ingin kuliah di jurusan itu karena ingin memperdalam ilmu elektro. Kalau mesin saya bisa belajar sendiri. Tapi, saya ditolak karena kata pihak Undip jurusannya tidak sesuai dengan ijazah saya. Padahal, lulusan SMA yang sebenarnya juga tidak sesuai diterima. Ini kan tidak adil namanya,” cetus Arie.
Meski ditolak, Arie tidak kecewa. Bersama sang kakak, dia tetap ingin menunjukkan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Dan itu telah dibuktikan dengan menjuarai kompetisi design engineering di Amerika yang diikuti para ahli dari berbagai negara. Selain itu, mereka tak segan-segan menularkan ilmunya kepada anak-anak muda agar melek teknologi 3D design engineering.
”Ada beberapa anak SMK yang datang ke kami untuk belajar. Sekarang ada yang sudah kerja di bidang itu. Ada juga yang bakal ikut kompetisi Asian Skills Competition sebagai peserta termuda,” jelasnya.
Mereka juga punya keinginan mengembangkan teknologi energi terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan desain pembangkit listrik tenaga angin.
”Kami bekerja sama dengan anak-anak SMK untuk mengembangkan biodiesel dari minyak jelantah. Lalu, Mas Ricky Elson (pembuat mobil listrik yang dibawa Dahlan Iskan dari Jepang, Red) pernah menghubungi lewat Facebook, ingin menjalin kerja sama dengan kami. Tentu saja kami terima,” ungkapnya.
Dengan semua upaya itu, mereka punya satu impian, yakni mengembangkan sumber daya lokal Salatiga untuk menjadikan kota kecil itu pusat pengembangan manufaktur teknologi kelas dunia. Layaknya Silicon Valley di San Francisco, Amerika Serikat.
”Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi pusat industri manufaktur dunia. Terlebih lagi, teknologi 3D printing bakal menjadi tulang punggung industri masa depan. Itulah kenapa 3D design engineering sangat penting,” tandasnya.
so, jangan takut untuk dicap nggak punya status sosial karena ga keliatan selalu bekerja dan berseragam, karena sesungguhnya rejeki sudah diatur oleh Nya asalkan kita mau berusaha mencari jalannya.....ya to ?
Sumber : JPNN








