Dieng Culture Festival VI : sesuatu banget di 2015 ini
Dieng Culture Festival ke VI baru saja berakhir pada tanggal 2 Agustus yang lalu. Dalam pagelaran akbar tahunan warga Dieng tersebut seperti biasa dilaksanakan beberapa rangkaian acara yang terangkum dalam 3 hari 2 malam pelaksanaan Festival.
Banyak hal yang terjadi dan masih tersisa di segenap sudut otak saya soal jalannya Festival. Mulai dari sudah mulai membaiknya penataan parkir di Dieng, dinginnya suhu udara di sana waktu itu, pendatang yang kurang persiapan, sampai penataan tempat untuk pers yang menurut saya kurang memadai.
Oke satu satu................
Dulu dalam sebuah artikel saya sempat menulis bahwa penataan parkir di Dieng sangat semrawut dan tidak bersahabat bagi pengendara kendaraan roda 4. Nah pada DCF VI kali ini saya melihat perubahan yang cukup signifikan soal itu. Parkir kendaraan roda 4 sudah semakin tertata dan cukup banyak tempat tersedia. Bahkan tidak jarang tempat parkir tersebut secara sukarela disediakan oleh masyarakat setempat, tentu saja tidak gratis dan harus dengan tarif tertentu pemirsa..........Rp 2000 untuk sepeda motor dan Rp 5000 untuk kendaraan roda 4 ........(itu di parkiran yang terdekat dengan posisi saya......ga tahu kalau parkiran lainnya lho)
Selanjutnya soal pengaturan arus lalu lintas, setelah kesemrawutan yang luar biasa pada DCF V yang lalu, nampaknya pokdarwis (kelompok Sadar Wisata) setempat dan panitia lebih serius dalam mempersiapkan satu hal yang urgent ini. sebab arus lalu lintas sudah diatur menjadi satu arah di jalur museum kailasa dan komplek pintu masuk Suharto Witlem. Meski masih saja ada oknum oknum penyakitan yang nekat melawan arus namun hal tersebut tidak menjadi permasalahan yang cukup signifikan seperti tahun lalu. Dan menurut saya hal ini menjadi sebuah prestasi yang cukup bagus untuk standar pelaksanaan event budaya tahunan ini.
Dalam pelaksanaan Dieng Culture Festival VI tahun 2015 ini, ada satu hal yang sangat berkesan bagi saya pribadi. Entah kalo pengunjung yang lain (terutama yang berasal dari daerah lain), Suhu Dieng pada Sabtu 1 Agustus 2015 itu mencapai -3 sampai -5 derajat Celcius !!! banyak pendatang yang merasakan kedinginan luar biasa ketika malam sudah menjelang. Apalagi pas jam 22.00 ke atas. Hal ini menyebabkan munculnya kabut super dingin yang membawa butiran es (yang kerap disebut sebagai bun upas oleh masyarakat sekitar) pada pukul 1 dini hari. Kedinginan yang amat sangat tersebut sempat membuat saya dan kawan kawan KPFB (Komunitas Penggemar dan Penghobi Fotografi Banjarnegara) khawatir dengan sahabat-sahabat yang datang dari jauh seperti Kang Barokah, Puji, Budi, Aip, Dayu dan beberapa orang lainnya yang sejak ba'da isya sudah mengeluh mengalami kedinginan yang cukup hebat.
Ada satu hal yang cukup menarik dan perlu menjadi perhatian bagi penyelenggara DCF di tahun tahun mendatang terkait kondisi udara yang sangat dingin di Dieng ini. Saking dinginnya udara, banyak terlihat sleeping bag double yang bergerak gerak dengan teratur disertai suara suara lenguhan dan desahan halus di sudut sudut Dieng. Entah apa itu saya tidak tahu dengan pasti ............... namun yang jelas pada pagi harinya patugas kebersihan mengeluh menemukan banyak sekali "pengaman" bekas tercecer di setiap sudut Dieng ....... dan tentu saja hal ini bagi saya sungguh merusak kesakralan dan kemurnian cagar budaya ini.
Bagaimana dengan saya ? setelah serangkaian acara yang cukup melelahkan di sore harinya, malam itu bersama Mas Safir dan kawan kawan KPFB lumayan mendapatkan pengalaman yang menarik. Mulai dari berhasil memotret sepuasnya momen-momen pelepasan 2000 lampion, tarian api sampai tidur di tenda orang dan bak truk kebersihan dengan beralaskan matras tipis, berlarian menuju museum kailasa jam setengah empat pagi demi mengikuti pak Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno, mengantarkan tamu tamunya menuju puncak gunung Pangonan, stress karena tiba tiba ada memory card yang ngadat dan minta format ulang, dan masih banyak lagi kejadian menarik lainnya yang dibutuhkan sangat banyak kata untuk menceritakannya satu per satu hehehe..........
skip...........
Pada hari Minggu tanggal 2 Agustus 2015, pada saat puncak acara, yaitu ritual pemotongan rambut gimbal, ada satu hal yang menurut saya menarik sekaligus memprihatinkan. Apakah itu ?
Sejak dimulainya acara, pengunjung saya lihat hanya menunggu untuk memotret anak bajang yang waktu itu berjumlah 10 orang. Setelah Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo, memotong rambut gembel dan menunjukkannya ke pengunjung (yang tentu saja dengan semena mena memotretnya), banyak yang kemudian beranjak meninggalkan lokasi. Entah kemana. Yang jelas begitu pemotong ke 3, pengunjung yang semula duduk rapi berhamburan keluar arena.
Berdasarkan penuturan beberapa orang wisatawan yang kami temui, salah satunya adalah Rico dan Ema dari Bandung, mereka cukup bosen dengan pelaksanaan acara ritual puncak (pemotongan rambut gimbal) yang memang berjalan dengan lambat dan tanpa variasi. Juga soal panasnya matahari yang sangat terik waktu itu. Dan meskipun pada DCF VI ini Presiden Djancuker, Sujiwo Tejo, pun ikut memotong rambut gembel bocah bajang, namun hal tersebut bukan sesuatu hal yang menahan mereka beranjak dari lokasi.
Secara keseluruhan rangkaian acara, ada beberapa hal pada DCF VI yang memang lebih baik pelaksanaannya dibandingkan tahun sebelumnya. Namun saya pribadi mencatat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, dipikirkan dan disiapkan untuk pelaksanaan di masa yang akan datang.......
Pertama, menurut saya pemisahann waktu pelaksanaan antara Pagelaran Jazz Atas Awan, Pelepasan ribuan Lampion ke udara dan pesta "Kembang Api" sangat mengurangi "keajaiban malam" di Dieng. tidak seperti tahun lalu yang sangat meriah dan berkesan, DCF tahun ini menurut saya masih terasa agak kurang greget dan mempesona.
Kedua, kembang api yang diterbangkan bukan standar festival. Kurang segalanya. Kurang besar, kurang banyak, kurang bagus, dan sebagainya. Juga kurang ajar saya tidak mendapatkan foto bagus di momen ini hehehehe......... masih soal kembang api, ada satu orang fotografer yang juga mengabadikan momen ini mengatakan bahwa kembang api yang dinyalakan masih kelas "kembang api mainan" dan lelucon saja. Entah karena dia kecewa tidak mendapatkan foto bagus untuk momen ini (seperti saya) ataukah karena memang kembang api yang meletus di udara tidak sesuai dengan espektasinya akibat pengaruh iklan yang mengatakan bahwa ada pesta kembang api di Dieng (yang tentu saja akan memunculkan sebuah anggapan bahwa kembang apinya sama seperti yang di kota kota besar ketika tahun baru tiba). Entahlah..............
Ketiga, mungkin jajaran pokdarwis selaku panitia pelaksana perlu memikirkan sebuah event tambahan sebagai variasi lain rangkaian DCF mendatang seperti Sendratari akbar, pemotongan rambut secara bersamaan oleh beberapa orang sekaligus sebagai bentuk percepatan prosesi, mengundang idola publik untuk ikut dalam prosesi (seperti kota sebelah yang mendatangkan grup musik SLANK), dan bermacam macam agenda lain yang perlu dibahas lebih lanjut di kemudian hari.
Keempat, mungkin sudah saatnya kedua kota pemilik Dieng (Banjarnegara dan Wonosobo) berkolaborasi dengan melupakan ego masing-masing untuk mempersiapkan DCF berikutnya sehingga acara tersebut bisa berlangsung lebih meriah, lebih tertata dan lebih sakral lagi. Tentu saja dengan memunculkan variasi lain yang bisa menjamin bahwa acara tersebut tidak membosankan dan semrawut.
Terakhir, masih berkaitan dengan poin sebelumnya, melihat jumlah pengunjung antara tahun ini dan tahun 2014 lalu, nampaknya jumlah pengunjung yang menghadiri DCF VI ini menurun drastis. Tidak sebanyak DCF V yang lalu. Bisa dibayangkan andai saja variasi dan inovasi baru tidak muncul, akan berapa banyak jumlah pengunjung pada DCF VII tahun 2016 nanti ?
Ah sudahlah.....semoga apa yang menjadi catatan ini tahun depan sudah teratasi dengan baik. dan semoga mas mas dan mbak mbak panitia DCF semakin solid dan kompak dalam menjalankan tugasnya sehingga pagelaran akbar tahunan yang mengangkat budaya lokal seperti ini tidak semakin pudar dan ditinggalkan pengunjungnya..........................
Berikut sedikit oleh oleh dari Dieng waktu itu ........
Beauty Night at Dieng ..........................
Ketemu kawan, sahabat, guru dan bala kurawa.............itu satu point paling membahagiakan di event semacam ini ..........
Banyak hal yang terjadi dan masih tersisa di segenap sudut otak saya soal jalannya Festival. Mulai dari sudah mulai membaiknya penataan parkir di Dieng, dinginnya suhu udara di sana waktu itu, pendatang yang kurang persiapan, sampai penataan tempat untuk pers yang menurut saya kurang memadai.
Oke satu satu................
Dulu dalam sebuah artikel saya sempat menulis bahwa penataan parkir di Dieng sangat semrawut dan tidak bersahabat bagi pengendara kendaraan roda 4. Nah pada DCF VI kali ini saya melihat perubahan yang cukup signifikan soal itu. Parkir kendaraan roda 4 sudah semakin tertata dan cukup banyak tempat tersedia. Bahkan tidak jarang tempat parkir tersebut secara sukarela disediakan oleh masyarakat setempat, tentu saja tidak gratis dan harus dengan tarif tertentu pemirsa..........Rp 2000 untuk sepeda motor dan Rp 5000 untuk kendaraan roda 4 ........(itu di parkiran yang terdekat dengan posisi saya......ga tahu kalau parkiran lainnya lho)
Selanjutnya soal pengaturan arus lalu lintas, setelah kesemrawutan yang luar biasa pada DCF V yang lalu, nampaknya pokdarwis (kelompok Sadar Wisata) setempat dan panitia lebih serius dalam mempersiapkan satu hal yang urgent ini. sebab arus lalu lintas sudah diatur menjadi satu arah di jalur museum kailasa dan komplek pintu masuk Suharto Witlem. Meski masih saja ada oknum oknum penyakitan yang nekat melawan arus namun hal tersebut tidak menjadi permasalahan yang cukup signifikan seperti tahun lalu. Dan menurut saya hal ini menjadi sebuah prestasi yang cukup bagus untuk standar pelaksanaan event budaya tahunan ini.
Dalam pelaksanaan Dieng Culture Festival VI tahun 2015 ini, ada satu hal yang sangat berkesan bagi saya pribadi. Entah kalo pengunjung yang lain (terutama yang berasal dari daerah lain), Suhu Dieng pada Sabtu 1 Agustus 2015 itu mencapai -3 sampai -5 derajat Celcius !!! banyak pendatang yang merasakan kedinginan luar biasa ketika malam sudah menjelang. Apalagi pas jam 22.00 ke atas. Hal ini menyebabkan munculnya kabut super dingin yang membawa butiran es (yang kerap disebut sebagai bun upas oleh masyarakat sekitar) pada pukul 1 dini hari. Kedinginan yang amat sangat tersebut sempat membuat saya dan kawan kawan KPFB (Komunitas Penggemar dan Penghobi Fotografi Banjarnegara) khawatir dengan sahabat-sahabat yang datang dari jauh seperti Kang Barokah, Puji, Budi, Aip, Dayu dan beberapa orang lainnya yang sejak ba'da isya sudah mengeluh mengalami kedinginan yang cukup hebat.
Ada satu hal yang cukup menarik dan perlu menjadi perhatian bagi penyelenggara DCF di tahun tahun mendatang terkait kondisi udara yang sangat dingin di Dieng ini. Saking dinginnya udara, banyak terlihat sleeping bag double yang bergerak gerak dengan teratur disertai suara suara lenguhan dan desahan halus di sudut sudut Dieng. Entah apa itu saya tidak tahu dengan pasti ............... namun yang jelas pada pagi harinya patugas kebersihan mengeluh menemukan banyak sekali "pengaman" bekas tercecer di setiap sudut Dieng ....... dan tentu saja hal ini bagi saya sungguh merusak kesakralan dan kemurnian cagar budaya ini.
Bagaimana dengan saya ? setelah serangkaian acara yang cukup melelahkan di sore harinya, malam itu bersama Mas Safir dan kawan kawan KPFB lumayan mendapatkan pengalaman yang menarik. Mulai dari berhasil memotret sepuasnya momen-momen pelepasan 2000 lampion, tarian api sampai tidur di tenda orang dan bak truk kebersihan dengan beralaskan matras tipis, berlarian menuju museum kailasa jam setengah empat pagi demi mengikuti pak Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno, mengantarkan tamu tamunya menuju puncak gunung Pangonan, stress karena tiba tiba ada memory card yang ngadat dan minta format ulang, dan masih banyak lagi kejadian menarik lainnya yang dibutuhkan sangat banyak kata untuk menceritakannya satu per satu hehehe..........
skip...........
Pada hari Minggu tanggal 2 Agustus 2015, pada saat puncak acara, yaitu ritual pemotongan rambut gimbal, ada satu hal yang menurut saya menarik sekaligus memprihatinkan. Apakah itu ?
Sejak dimulainya acara, pengunjung saya lihat hanya menunggu untuk memotret anak bajang yang waktu itu berjumlah 10 orang. Setelah Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo, memotong rambut gembel dan menunjukkannya ke pengunjung (yang tentu saja dengan semena mena memotretnya), banyak yang kemudian beranjak meninggalkan lokasi. Entah kemana. Yang jelas begitu pemotong ke 3, pengunjung yang semula duduk rapi berhamburan keluar arena.
Berdasarkan penuturan beberapa orang wisatawan yang kami temui, salah satunya adalah Rico dan Ema dari Bandung, mereka cukup bosen dengan pelaksanaan acara ritual puncak (pemotongan rambut gimbal) yang memang berjalan dengan lambat dan tanpa variasi. Juga soal panasnya matahari yang sangat terik waktu itu. Dan meskipun pada DCF VI ini Presiden Djancuker, Sujiwo Tejo, pun ikut memotong rambut gembel bocah bajang, namun hal tersebut bukan sesuatu hal yang menahan mereka beranjak dari lokasi.
Secara keseluruhan rangkaian acara, ada beberapa hal pada DCF VI yang memang lebih baik pelaksanaannya dibandingkan tahun sebelumnya. Namun saya pribadi mencatat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, dipikirkan dan disiapkan untuk pelaksanaan di masa yang akan datang.......
Pertama, menurut saya pemisahann waktu pelaksanaan antara Pagelaran Jazz Atas Awan, Pelepasan ribuan Lampion ke udara dan pesta "Kembang Api" sangat mengurangi "keajaiban malam" di Dieng. tidak seperti tahun lalu yang sangat meriah dan berkesan, DCF tahun ini menurut saya masih terasa agak kurang greget dan mempesona.
Kedua, kembang api yang diterbangkan bukan standar festival. Kurang segalanya. Kurang besar, kurang banyak, kurang bagus, dan sebagainya. Juga kurang ajar saya tidak mendapatkan foto bagus di momen ini hehehehe......... masih soal kembang api, ada satu orang fotografer yang juga mengabadikan momen ini mengatakan bahwa kembang api yang dinyalakan masih kelas "kembang api mainan" dan lelucon saja. Entah karena dia kecewa tidak mendapatkan foto bagus untuk momen ini (seperti saya) ataukah karena memang kembang api yang meletus di udara tidak sesuai dengan espektasinya akibat pengaruh iklan yang mengatakan bahwa ada pesta kembang api di Dieng (yang tentu saja akan memunculkan sebuah anggapan bahwa kembang apinya sama seperti yang di kota kota besar ketika tahun baru tiba). Entahlah..............
Ketiga, mungkin jajaran pokdarwis selaku panitia pelaksana perlu memikirkan sebuah event tambahan sebagai variasi lain rangkaian DCF mendatang seperti Sendratari akbar, pemotongan rambut secara bersamaan oleh beberapa orang sekaligus sebagai bentuk percepatan prosesi, mengundang idola publik untuk ikut dalam prosesi (seperti kota sebelah yang mendatangkan grup musik SLANK), dan bermacam macam agenda lain yang perlu dibahas lebih lanjut di kemudian hari.
Keempat, mungkin sudah saatnya kedua kota pemilik Dieng (Banjarnegara dan Wonosobo) berkolaborasi dengan melupakan ego masing-masing untuk mempersiapkan DCF berikutnya sehingga acara tersebut bisa berlangsung lebih meriah, lebih tertata dan lebih sakral lagi. Tentu saja dengan memunculkan variasi lain yang bisa menjamin bahwa acara tersebut tidak membosankan dan semrawut.
Terakhir, masih berkaitan dengan poin sebelumnya, melihat jumlah pengunjung antara tahun ini dan tahun 2014 lalu, nampaknya jumlah pengunjung yang menghadiri DCF VI ini menurun drastis. Tidak sebanyak DCF V yang lalu. Bisa dibayangkan andai saja variasi dan inovasi baru tidak muncul, akan berapa banyak jumlah pengunjung pada DCF VII tahun 2016 nanti ?
Ah sudahlah.....semoga apa yang menjadi catatan ini tahun depan sudah teratasi dengan baik. dan semoga mas mas dan mbak mbak panitia DCF semakin solid dan kompak dalam menjalankan tugasnya sehingga pagelaran akbar tahunan yang mengangkat budaya lokal seperti ini tidak semakin pudar dan ditinggalkan pengunjungnya..........................
Berikut sedikit oleh oleh dari Dieng waktu itu ........
Beauty Night at Dieng ..........................
Ketemu kawan, sahabat, guru dan bala kurawa.............itu satu point paling membahagiakan di event semacam ini ..........
AJI SANTOSO : Pelatih Jenius kesayangan Para Elit PSSI
Rasanya sedih dan tragis juga melihat nasib persepakbolaan di negeri ini. Semakin kacau dan balau yang sudah tidak bisa diceritakan lagi pada anak cucu kelak. Ambyar..... Bahkan saking muaknya saya, kalau di tivi lagi ada berita soal PSSI, mending ganti channel gosip yang lucunya lagi-lagi menyinggung soal badan sepakbola yang satu ini dari sisi para artis. Jupe misalnya yang bernazar mau telanjang di GBK.......hemmmm
Eitss... sudah sudah, jangan bicarakan dia. Nanti imajinasi jadi melayang kemana mana.
Kembali ke topik utama aja, keanehan PSSI sekarang ini yang sudah dalam posisi dibekukan Menpora dan dibanned oleh FIFA (yang lucunya juga lagi kena kasus suap......nah....).
Terakhir, baru beberapa hari yang lalu kita disuguhi pertandingan yang memilukan dimana timnas U23 kita dibantai 5-0 oleh Thailand. Busyet..... sebuah skor yang menyayat hati. Bahkan untuk menontonnya di TV pun saya (dan berjuta penduduk Indonesia lainnya) sampai harus menahan nafas ketika gawang kita begitu sering terancam oleh serangan dari lawan (yang sebenernya level permainannya sama - menurut saya....)
So, apa yang salah ? Menurut saya..... ya sekali lagi menurut saya, yang salah adalah pelatihnya. Mas Aji Santoso itu. Dengan materi yang "mengandung" pemain-pemain U19 didikan Indra Syafri, yang notabene selalu bermain bola dengan otak, pelatih yang dulu bermain sebagai andalan di sektor bek/sayap kiri itu nyatanya tidak mampu meracik formula yang pas untuk anak asuhnya.
Bisa dilihat bagaimana Evan Dimas dan Paulo Sitanggang bekerja keras pontang panting di lini tengah tanpa bisa diimbangi oleh bagian penyerangan serta pertahanan kita. Dimana pemain lain yang ada dilapangan waktu itu yang notabene bukan hasil didikan pelatih Bali United saat ini, Indra Sjafri ? Sungguh sangat sangat tidak padu dan tidak mutu. Entah apa yang ada di pikiran pelatih kesayangan almarhum PSSI ini.
Eits, Kenapa disebut sebagai kesayangan ?
Oke kita ikuti track recordnya yang saya ambil dari beberapa sumber terpercaya......
Kiprah cemerlang Aji Santoso sewaktu menjadi pemain menggiur para elit PSSI untuk menggandengnya melatih pasukan merah putih. Radar mengarah kepadanya ketika ia memulai karir kepelatihan professionalnya diakhir 2000-an. Arah menjadi caretaker tim nasional Indonesia seolah menunggu waktu. Itu terbukti saat ia ditunjuk menjadi asisten pelatih timnas U23 senior tahun 2011, kemudian menjadi pelatih Timnas Senior Sementara saat menutup laga Pra Piala Dunia 2014 (laga bertandang ke Bahrain tahun 2012), dan menjadi pelatih kepala Timnas U23 sejak 2014 sampai sekarang.
Dibawah tangan dingin dan kejeniusannya meramu permainan 11 pemain dilapangan, Timnas menjadi sangat disegani dikancah Asia Tenggara bahkan Asia! Tengoklah bagaimana track recordnya memperoleh kemenangan2 mengesankan dari tim tangguh macam Timor Leste, Kamboja, dan Brunei Darussalam diajang resmi, atau menghadapi Persigar Garut dan Tim Pra PON domestik diajang persahabatan. Mencetak gol diatas 3 biji bukan hal langka. Hal ini kian mengukuhkan dirinya sebagai pelatih yang apik dalam meramu strategi tim.
Well, sekalipun masih belum mendapatkan gelar juara di segala ajang yang ia lakoni sebagai pelatih, tapi setidaknya ada beberapa pertandingan yang patut kita kenang sebagai laga apik. Laga-laga ini adalah pengukuhan superioritas Timnas saat ditanganinya. Berikut catatan Harum tersebut saat dia melatih pasukan Merah putih :
1. Bahrain 10 - 0 Indonesia (Februari 2012 = Pra Piala Dunia 2014). Hasil akhir = Juru Kunci grup. (Aji Santoso hanya melatih di 1 laga terakhir saja)
2. Thailand (U23) 6 - 0 Indonesia (U23). September 2014 = Asian Games 2014
3. Indonesia (U23) 1 - 4 Korea Utara (U23). Sept 2014 = Asian Games 2014. Hasil Tournamen = Perempat Final
4. Indonesia (U23) 0 - 3 Syria (U23). Februari 2015 = Laga persahabatan sebagai Tuan Rumah)
5. Indonesia(U23) 0 - 4 Korea Selatan (U23). Maret 2015 = Kualifikasi AFC U23. Gagal lolos ke Putaran FInal AFC U23
6. Indonesia (U23) 2 - 4 (U23) Myanmar. Juni 2015 = Pertandingan pembuka SEA GAmes 2015.
7. Indonesia U23 0 - 5 Thailand U23. 12 Juni 2015 = Babak Semifinal SEA Games 2015.
8. Vietnam U23 5 - 0 Indonesia U23. 15 Juni 2015 = Perebutan Juara III SEA Games 2015.
Track Record diatas adalah bukti kesaktian Aji. Yang paling fenomenal adalah saat laga menghadapi Bahrain (Febr 2012) skor Bahrain 10 - 0 Indonesia. Ini adalah laga "Legend" dimana rekor baru tercipta sebagai torehan prestasi emas bangsa ini. Dunia Internasional berdecak kagum sembari angkat topi terhadap hasil ini. Permainan ngotot dengan aliran-aliran bola jelas antar pemain merupakan terapan strateginya. Dan ini sangat menghibur.
Masih mengenai catatan harum diatas, lihatlah bagaimana Indonesia begitu trengginas, banjir gol kegawang lawan dan begitu sukar kebobolan saat menghadapi tim elit dunia (macam Bahrain, Myanmar, dan Thailand) adalah bukti nyata kejeniusan Aji Santoso. Sepanjang 2 dekade terakhir, rentetan hasil ini sangat memuaskan bangsa. Sungguh Aji melesatkan harapan besar tentang kejayaan Sepakbola Indonesia untuk berjaya di kancah Internasional. Bila pelatih seperti dia terus dipelihara memegang tampuk kepelatihan utama, niscaya Gelar Piala Dunia 2022 bisa disandingkan dengan Gelar Piala Asia 2023. Atau jika ada sedikit keajaiban, TImnas Indonesia bisa menginvasi African Cup, EURO, dan American Cup. O betapa bahagianya kami se-Indonesia.
Bagaimana dengan insting dan pengetahuan umumnya tentang sepakbola? Jangan ditanya. Sempat dikaitkan dengan isu pemanggilan Lorenzo Pace, pemuda 19 tahun keturunan Indonesia-Italia, Aji ogah memanggilnya karena sepengetahuan Aji ; Pace hanyalah pemain cadangan di Primavera Lazio. Pace jarang menembus skuad utama ungkapnya. Aji begitu kukuh dengan pernyataannya sekalipun statistik Pace di transfermarkt.com dan soccerway berkata lain (di kedua situs kredibel ini : Pace adalah penghuni regular squad Lazio Primavera). Berbekal wawasan luas, tak heran ia sanggup menjayakan sepakbola Indonesia di 2 tahun belakangan.
Btw, Jupe bayar hutangnya beneran lho ,.......hahahahaha.............
#AjiSantosomundur #saveIndonesianFootball #callIndraSjafri #KillPSSI #goTimnas #goEvanDimas
Special Thanks to sancimelekete on Kaskus
Eitss... sudah sudah, jangan bicarakan dia. Nanti imajinasi jadi melayang kemana mana.
Kembali ke topik utama aja, keanehan PSSI sekarang ini yang sudah dalam posisi dibekukan Menpora dan dibanned oleh FIFA (yang lucunya juga lagi kena kasus suap......nah....).
Terakhir, baru beberapa hari yang lalu kita disuguhi pertandingan yang memilukan dimana timnas U23 kita dibantai 5-0 oleh Thailand. Busyet..... sebuah skor yang menyayat hati. Bahkan untuk menontonnya di TV pun saya (dan berjuta penduduk Indonesia lainnya) sampai harus menahan nafas ketika gawang kita begitu sering terancam oleh serangan dari lawan (yang sebenernya level permainannya sama - menurut saya....)
So, apa yang salah ? Menurut saya..... ya sekali lagi menurut saya, yang salah adalah pelatihnya. Mas Aji Santoso itu. Dengan materi yang "mengandung" pemain-pemain U19 didikan Indra Syafri, yang notabene selalu bermain bola dengan otak, pelatih yang dulu bermain sebagai andalan di sektor bek/sayap kiri itu nyatanya tidak mampu meracik formula yang pas untuk anak asuhnya.
Bisa dilihat bagaimana Evan Dimas dan Paulo Sitanggang bekerja keras pontang panting di lini tengah tanpa bisa diimbangi oleh bagian penyerangan serta pertahanan kita. Dimana pemain lain yang ada dilapangan waktu itu yang notabene bukan hasil didikan pelatih Bali United saat ini, Indra Sjafri ? Sungguh sangat sangat tidak padu dan tidak mutu. Entah apa yang ada di pikiran pelatih kesayangan almarhum PSSI ini.
Eits, Kenapa disebut sebagai kesayangan ?
Oke kita ikuti track recordnya yang saya ambil dari beberapa sumber terpercaya......
Kiprah cemerlang Aji Santoso sewaktu menjadi pemain menggiur para elit PSSI untuk menggandengnya melatih pasukan merah putih. Radar mengarah kepadanya ketika ia memulai karir kepelatihan professionalnya diakhir 2000-an. Arah menjadi caretaker tim nasional Indonesia seolah menunggu waktu. Itu terbukti saat ia ditunjuk menjadi asisten pelatih timnas U23 senior tahun 2011, kemudian menjadi pelatih Timnas Senior Sementara saat menutup laga Pra Piala Dunia 2014 (laga bertandang ke Bahrain tahun 2012), dan menjadi pelatih kepala Timnas U23 sejak 2014 sampai sekarang.
Dibawah tangan dingin dan kejeniusannya meramu permainan 11 pemain dilapangan, Timnas menjadi sangat disegani dikancah Asia Tenggara bahkan Asia! Tengoklah bagaimana track recordnya memperoleh kemenangan2 mengesankan dari tim tangguh macam Timor Leste, Kamboja, dan Brunei Darussalam diajang resmi, atau menghadapi Persigar Garut dan Tim Pra PON domestik diajang persahabatan. Mencetak gol diatas 3 biji bukan hal langka. Hal ini kian mengukuhkan dirinya sebagai pelatih yang apik dalam meramu strategi tim.
Well, sekalipun masih belum mendapatkan gelar juara di segala ajang yang ia lakoni sebagai pelatih, tapi setidaknya ada beberapa pertandingan yang patut kita kenang sebagai laga apik. Laga-laga ini adalah pengukuhan superioritas Timnas saat ditanganinya. Berikut catatan Harum tersebut saat dia melatih pasukan Merah putih :
1. Bahrain 10 - 0 Indonesia (Februari 2012 = Pra Piala Dunia 2014). Hasil akhir = Juru Kunci grup. (Aji Santoso hanya melatih di 1 laga terakhir saja)
2. Thailand (U23) 6 - 0 Indonesia (U23). September 2014 = Asian Games 2014
3. Indonesia (U23) 1 - 4 Korea Utara (U23). Sept 2014 = Asian Games 2014. Hasil Tournamen = Perempat Final
4. Indonesia (U23) 0 - 3 Syria (U23). Februari 2015 = Laga persahabatan sebagai Tuan Rumah)
5. Indonesia(U23) 0 - 4 Korea Selatan (U23). Maret 2015 = Kualifikasi AFC U23. Gagal lolos ke Putaran FInal AFC U23
6. Indonesia (U23) 2 - 4 (U23) Myanmar. Juni 2015 = Pertandingan pembuka SEA GAmes 2015.
7. Indonesia U23 0 - 5 Thailand U23. 12 Juni 2015 = Babak Semifinal SEA Games 2015.
8. Vietnam U23 5 - 0 Indonesia U23. 15 Juni 2015 = Perebutan Juara III SEA Games 2015.
Track Record diatas adalah bukti kesaktian Aji. Yang paling fenomenal adalah saat laga menghadapi Bahrain (Febr 2012) skor Bahrain 10 - 0 Indonesia. Ini adalah laga "Legend" dimana rekor baru tercipta sebagai torehan prestasi emas bangsa ini. Dunia Internasional berdecak kagum sembari angkat topi terhadap hasil ini. Permainan ngotot dengan aliran-aliran bola jelas antar pemain merupakan terapan strateginya. Dan ini sangat menghibur.
Masih mengenai catatan harum diatas, lihatlah bagaimana Indonesia begitu trengginas, banjir gol kegawang lawan dan begitu sukar kebobolan saat menghadapi tim elit dunia (macam Bahrain, Myanmar, dan Thailand) adalah bukti nyata kejeniusan Aji Santoso. Sepanjang 2 dekade terakhir, rentetan hasil ini sangat memuaskan bangsa. Sungguh Aji melesatkan harapan besar tentang kejayaan Sepakbola Indonesia untuk berjaya di kancah Internasional. Bila pelatih seperti dia terus dipelihara memegang tampuk kepelatihan utama, niscaya Gelar Piala Dunia 2022 bisa disandingkan dengan Gelar Piala Asia 2023. Atau jika ada sedikit keajaiban, TImnas Indonesia bisa menginvasi African Cup, EURO, dan American Cup. O betapa bahagianya kami se-Indonesia.
Bagaimana dengan insting dan pengetahuan umumnya tentang sepakbola? Jangan ditanya. Sempat dikaitkan dengan isu pemanggilan Lorenzo Pace, pemuda 19 tahun keturunan Indonesia-Italia, Aji ogah memanggilnya karena sepengetahuan Aji ; Pace hanyalah pemain cadangan di Primavera Lazio. Pace jarang menembus skuad utama ungkapnya. Aji begitu kukuh dengan pernyataannya sekalipun statistik Pace di transfermarkt.com dan soccerway berkata lain (di kedua situs kredibel ini : Pace adalah penghuni regular squad Lazio Primavera). Berbekal wawasan luas, tak heran ia sanggup menjayakan sepakbola Indonesia di 2 tahun belakangan.
Btw, Jupe bayar hutangnya beneran lho ,.......hahahahaha.............
#AjiSantosomundur #saveIndonesianFootball #callIndraSjafri #KillPSSI #goTimnas #goEvanDimas
Special Thanks to sancimelekete on Kaskus
Santrendelik, pesantren pop kontemporer yang anak muda banget
Pesantren. Adalah sebuah kata yang cukup serem bagi saya dalam beberapa tahun terakhir. Kenapa ? sebab saya pernah mengalami kisah yang cukup tragis soal ini beberapa tahun yang lalu waktu masih sekolah di sebuah perguruan tinggi negeri di Semarang. Sepele sih, tapi itu kemudian menjadi salah satu "catatan buruk" yang insyaalloh takkan terlupakan di sela sela otak dan relung hati .....halah
Sedikit cerita aja, dulu saya sempat ditolak masuk ke sebuah ruangan tempat dilaksanakannya pesantren mahasiswa hanya gara gara beberapa hari sebelumnya ribut dengan salah seorang anggotanya waktu itu, seorang bocah berpakaian ala santri lengkap dengan jenggot kambingnya dan titik hitam di jidat yang lebarnya kaya habis kena bola golf yang dilempar pake alat pelontar bola tenis.........gara-garanya ? cuman masalah kaos bertuliskan tahanan Polsek dan celana jeans bolong bolong......... ah sudahlah........
Bagaimana bisa ? yup bukan Santrendelik namanya kalau pengajiannya dilakukan dengan kaku, bahkan mencekam. Yang terjadi di pesantren ini adalah kebalikan dari semua asumsi, anggapan dan apa yang ada di angan angan anak muda seperti saya (meskipun saya juga sudah tidak bisa dibilang muda banget lagi hehehe....). ya itu tadi yang sudag saya sebutkan di awal..... hangat, akrab, tidak nampak adanya gap antara tua dan muda, tidak nampak adanya gap antara yang sudah berilmu agama tinggi dan masih "cethek" alias dangkal sedangkal dangkalnya, tidak ada proses doktrinisasi yang kerap muncul di pengajian pengajian bergaya tua.........#eh
Jangan bayangkan jika datang kesana akan bertemu dengan santriwan santriwati yang berpakaian surban, jubah dan jilbab serba putih dengan membawa kitab yang tebal tebal.... yang akan dijumpai disana adalah pemuda pemudi dengan pakaian khas anak muda, yang tidak jarang masih menyertakan pula segala aksesoris mereka seperti kalung, tindik, tato, bahkan rambut mohawk dan gimbal. Pengguna celana jeans belel dengan lubang disana sini dan bahkan celana kolor pendek yang dipakai sore hari untuk bermain bola pun ada...... Asap rokok dan aroma kopi, wedang jahe dan teh juga bercampur dengan riuhnya kehangatan suasana yang hangat dan nyaman bahkan ketika tausiah berlangsung (yang bergaya khas anak muda masa kini, Stand Up Comedy) dan acara berakhir dengan doa bersama.
Menurut salah satu pendiri yang sekarang juga menjabat sebagai ketua yayasan Santrendelik, Mas Ihwan (yang dulunya saya kenal sebagai Kang Penyut yang penuh ide gila hahahaha.......), Pesantren ini berawal dari tobatnya dia yang juga senior saya di Imbara (Ikatan Mahasiswa Banjarnegara - UNNES) dan seorang rekan pengusaha muda lainnya, Mas Agung, setelah usaha mereka mengalami kebangkrutan.
" Idenya adalah Kami memadukan antara diskusi, seni dan budaya sebagai unsur pendukung dakwah sesuai dengan trend kekinian.... dan insyaallah dalam 15 tahun, dengan perencanaan matang Santrendelik akan menjadi jaringan pesantren kontemporer terbesar di Indonesia. " Kata Pemuda asli Banjarnegara yang bernama lengkap Ikhwan Saifullah itu.
Sedikit cerita aja, dulu saya sempat ditolak masuk ke sebuah ruangan tempat dilaksanakannya pesantren mahasiswa hanya gara gara beberapa hari sebelumnya ribut dengan salah seorang anggotanya waktu itu, seorang bocah berpakaian ala santri lengkap dengan jenggot kambingnya dan titik hitam di jidat yang lebarnya kaya habis kena bola golf yang dilempar pake alat pelontar bola tenis.........gara-garanya ? cuman masalah kaos bertuliskan tahanan Polsek dan celana jeans bolong bolong......... ah sudahlah........
Tapi trauma itu mendadak hilang setelah saya memenuhi undangan nongkrong seorang sahabat, Andri.
Nongkrong ?
Nongkrong ?
Yes sodara-sodara. Nongkrong, ngopi, ngebul dan ngobrol sana sini penuh canda, ngobrol asik, konser akustik dari grup musik biasa saja, tapi kemudian ada tausiah dari seorang ustadz......tausiah nan ringan namun menusuk hati nurani oleh Ustadz Riyadh Ahmad Al Hafidz yang pada waktu itu pakai setelan kemeja putih, jeans putih, sepatu kets putih dan tanpa embel embel ke kiaian seperti surban, jubah dan sebagainya yang bikin serem saya (apalagi setan) yang melihatnya ...... Cocok banget sama kepinginan hati yang kadang pengen ngaji tapi sudah terlanjur dipandang miring sama jamaah lain selama ini hahahaha........
![]() |
| Ust. Riyadh Ahmad Al Hafidz memberikan tausiah Foto oleh Andy Kusworo |
![]() |
| Foto by Nokia N8 |
![]() |
| Suasana pengajian dari panggungFoto oleh Andy Kusworo |
Singkat cerita, setelah mereka bertemu dengan seorang ustadz muda berkharisma, Ust. Riyadh Ahmad Al Hafidz, muncullah ide membentuk sebuah kajian agama sambil nongkrong di cafe yang lambat laun berubah menjadi pesantren Santrendelik, Kampung Tobat itu.
" Idenya adalah Kami memadukan antara diskusi, seni dan budaya sebagai unsur pendukung dakwah sesuai dengan trend kekinian.... dan insyaallah dalam 15 tahun, dengan perencanaan matang Santrendelik akan menjadi jaringan pesantren kontemporer terbesar di Indonesia. " Kata Pemuda asli Banjarnegara yang bernama lengkap Ikhwan Saifullah itu.
Dengan berjalannya waktu, Kampung Tobat yang bergenre pop kontemporer, berkonsep "anak muda banget" dan "anti diskriminasi" ini kemudian bisa berkembang dengan baik. Bahkan sampai mempunyai bidang usaha mandiri yang dinamakan Bank Kambing Santrendelik (BKS) (diresmikan oleh Dahlan Iskan tanggal 2 November 2014) dan sedang membangun sebuah masjid yang akan dinamakan Masjid 1000 pintu tobat dan rencananya bisa menampung 400 tobaters (sebutan untuk santri di pesantren ini).
Sebagai informasi, tobaters mempunyai beberapa kegiatan rutin di pesantren yang letaknya cukup tersebunyi di sudut kota Semarang namun bisa ditempuh selama 10 menit dari Simpang Lima ini. Diantaranya adalah kajian rutin setiap minggu , kitab hikam, fi bayti rosul, Pengajian Ngapak (ini terjadi karena banyak santrinya berasal dari daerah Banyumas dan sekitarnya yang notabene berbahasa ngapak), pesugihan syariah Santrendelikpreneurship, Klub Malam Santrendelik (yang merupakan kegiatan tahajud bersama setiap malam) dan yang terakhir adalah Bank Kambing Santrendelik (BKS) .
Selidik punya selidik, ternyata Ide bank kambing berasal dari Dahlan Iskan yang ingin memasyarakatkan bank ternak. Konsep itu diaplikasikan pada kambing karena harganya stabil dan tidak kenal inflasi serta merupakan hewan gembalaan semua Nabi.
“Sistem bank kambing sudah kami buat sesederhana mungkin sehingga bisa diduplikasi di semua tempat. Maka Santrendelik bisa jadi pesantren franchise yang bisa dibuka di mana saja,” kata Ustad Riyadh.
Dahlan Iskan memberi penghargaan tinggi pada berdirinya Santrendelik yang disebutnya pesantren go public karena sahamnya milik masyarakat. Untuk memperbesar penghasilan pesantren, ia mengusulkan agar di bawah Jati ditanami Porang. Bahan baku tepung ini bernilai ekonomi sangat tinggi.
“Kalau tanaman lain paling banter menghasilkan dua juta rupiah pertahun, tapi Porang bisa lima puluh juta rupiah setahun,” katanya waktu berkunjung ke Santrendelik beberapa waktu yang lalu.
Dan pada akhirnya, enggan rasanya bagi saya untuk meninggalkan lokasi pesantren ini. Walaupun sebentar dan baru pertama kali datang, banyak hal yang seolah baru saya temukan setelah sekian lama saya cari, sebuah pesantren yang meluruskan orang-orang seperti kami, kaum terpinggirkan oleh mereka yang mengaku ahli agama..............
Good job, good idea, good action and congratulation........ Santrendelik, Kampung Tobat
Penasaran ?
Silahkan cek aja www.santrendelik.org atau via Facebook, Twitter, Instagram , You Tube dan Google +
Spesial thanks to Fotografer, Andy Kusworo, for some great picture to create this article
Sebagai informasi, tobaters mempunyai beberapa kegiatan rutin di pesantren yang letaknya cukup tersebunyi di sudut kota Semarang namun bisa ditempuh selama 10 menit dari Simpang Lima ini. Diantaranya adalah kajian rutin setiap minggu , kitab hikam, fi bayti rosul, Pengajian Ngapak (ini terjadi karena banyak santrinya berasal dari daerah Banyumas dan sekitarnya yang notabene berbahasa ngapak), pesugihan syariah Santrendelikpreneurship, Klub Malam Santrendelik (yang merupakan kegiatan tahajud bersama setiap malam) dan yang terakhir adalah Bank Kambing Santrendelik (BKS) .
Selidik punya selidik, ternyata Ide bank kambing berasal dari Dahlan Iskan yang ingin memasyarakatkan bank ternak. Konsep itu diaplikasikan pada kambing karena harganya stabil dan tidak kenal inflasi serta merupakan hewan gembalaan semua Nabi.
“Sistem bank kambing sudah kami buat sesederhana mungkin sehingga bisa diduplikasi di semua tempat. Maka Santrendelik bisa jadi pesantren franchise yang bisa dibuka di mana saja,” kata Ustad Riyadh.
![]() |
| Ust. Riyadh Ahmad Al Hafidz Foto oleh Andy Kusworo |
“Kalau tanaman lain paling banter menghasilkan dua juta rupiah pertahun, tapi Porang bisa lima puluh juta rupiah setahun,” katanya waktu berkunjung ke Santrendelik beberapa waktu yang lalu.
![]() |
Suasana dari belakang santri
Foto oleh Andy Kusworo
|
Good job, good idea, good action and congratulation........ Santrendelik, Kampung Tobat
![]() |
| Ki - Ka : Andre, Nanang, Ust. Riyadh, saya, Kang Nur, Kang Ihwan |
Penasaran ?
Silahkan cek aja www.santrendelik.org atau via Facebook, Twitter, Instagram , You Tube dan Google +
Spesial thanks to Fotografer, Andy Kusworo, for some great picture to create this article
Tasyakuran KPFB
Komunitas Penggemar dan Penghobi Fotografi Banjarnegara (KPFB) akhirnya menggelar syukuran bersamaan dengan digelarnya Launching Lomba Foto Nasional Kongres Sungai Indonesia 2015 dengan bertempat di Serayu Adventure, Singomerto, Banjarnegara tanggal 26 Mei 2015 yang lalu.
Dalam kesempatan kali ini selain dibacakan struktur organisasi dan sesi foto, juga dilakukan pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno, untuk kemudian diserahkan kepada Ketua KPFB, Arif Widodo Al Azis, sebagai simbol bahwa beliau menyerahkan tanggungjawab pendokumentasian dan perkembangan fotografi di Banjarnegara kepada seluruh anggota KPFB.
Dalam kesempatan yang sama Wakil Bupati Banjarnegara yang juga didapuk sebagai pelindung komunitas yang baru berdiri pada 27 September 2014 yang lalu ini berkenan melakukan pemotretan dan sedikit bernostalgia dengan masa-masa ketika beliau masih menjadi wartawan sebuah surat kabar harian di Semarang dulu.
Tiga orang model dari Inggil Production Banjarnegarapun ikut meramaikan acara yang berlangsung cukup meriah ini. Apalagi dengan hadirnya perwakilan dari Himpunan Penggemar Photo Wonosobo (HPPW) yang bahkan kemudian berbagi ilmu memotret dengan semua yang hadir.
Berikut beberapa hasil jepretan bapak Wakil Bupati Banjarnegara
Berikut beberapa dokumentasi keramaian yang terjadi di sana pada waktu itu :
Puas sampai lemas .............
Dalam kesempatan kali ini selain dibacakan struktur organisasi dan sesi foto, juga dilakukan pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno, untuk kemudian diserahkan kepada Ketua KPFB, Arif Widodo Al Azis, sebagai simbol bahwa beliau menyerahkan tanggungjawab pendokumentasian dan perkembangan fotografi di Banjarnegara kepada seluruh anggota KPFB.
Dalam kesempatan yang sama Wakil Bupati Banjarnegara yang juga didapuk sebagai pelindung komunitas yang baru berdiri pada 27 September 2014 yang lalu ini berkenan melakukan pemotretan dan sedikit bernostalgia dengan masa-masa ketika beliau masih menjadi wartawan sebuah surat kabar harian di Semarang dulu.
Tiga orang model dari Inggil Production Banjarnegarapun ikut meramaikan acara yang berlangsung cukup meriah ini. Apalagi dengan hadirnya perwakilan dari Himpunan Penggemar Photo Wonosobo (HPPW) yang bahkan kemudian berbagi ilmu memotret dengan semua yang hadir.
Berikut beberapa hasil jepretan bapak Wakil Bupati Banjarnegara
Berikut beberapa dokumentasi keramaian yang terjadi di sana pada waktu itu :
![]() |
| Photo by Pak Dhe Safir |
![]() |
| Photo By Anto Wijaya |
![]() |
| Photo by Lik Man Aditya |
Krakal Beach Nice Trip
Waktu menunjukkan jam 17.15 sore ketika gas kendaraan diinjak semakin dalam di jalan sempit dengan banyak belokan yang cukup tajam itu. Sementara dari arah barat nampak semburat kemerahan semakin memudar berganti mendung dan awan berarak yang berwarna gelap.
Sedikit informasi nih sodara-sodara, Pantai Krakal terletak di Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Koordinat GPS - lokasi: S8°8'43" E110°35'59" Jarak lokasi dari kota Jogja kurang lebih 65 Km, sekitar 2 Km sebelah Timur Pantai Drini dan Pantai Sarangan dengan pasir putih yang membentang berkilauan di sepanjang pantai. Sangat cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati udara laut sambil jogging, mandi/berenang di pantai, dan menikmati keindahan maupun mencari aneka biota laut dengan jaring kecil yang banyak dijual.
Pantai Krakal merupakan salah satu pantai terindah di Pulau Jawa, dan menjadi salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Gunungkidul. Memiliki pantai yang luas dan terpanjang diantara 7 pantai lainnya yang berada dalam satu kawasan nan eksotis (yaitu Pantai Baron, Pantai Sundak, Pantai Kukup, Pantai Drini, dan Pantai Sepanjang). Bagi yang gemar melakukan perjalanan panjang alias touring, maka pantai ini sangat layak dan sangat direkomendasikan untuk dituju. Sebab perjalanan menuju ke pantai ini sangat menantang, berkelok kelok, naik turun perbukitan, dan melewati bukit-bukit kecil dengan batu-batu besarnya, karakter yang khas untuk wilayah karts. Berdasarkan beberapa penelitian geologi, ribuan tahun yang lalu, daerah Krakal adalah ruang bawah tanah laut. Melalui proses alami, ruang bawah tanah itu semakin tinggi dan muncul sebagai dataran tinggi.
Untuk yang ingin menginap dan menikmati malam di Area ini, jangan khawatir. Pengembangan pantai Krakal sebagai tempat wisata sudah lumayan baik kok. Di sekitar pantai sudah terdapat gazebo-gazebo yang bisa digunakan untuk leyeh-leyeh sambil bercengkrama bersama teman-teman atau keluarga. Di salah satu sudut pantai juga sudah berdiri cottage cottage dan homestay yang cukup nyaman walau sedikit ada kekurang nyamanan di waktu malam karena kurangnya pilihan warung makan.
Untung bagi saya karena pada pagi harinya tidak bangun kesiangan dan sempat menikmati indahnya matahari terbit di ujung timur pantai. Seketika perasaan kecewa sebelumnya musnah, ingatan tentang rute yang berkelok tajam dan perjalanan 6 jam dari Banjarnegara sirna dengan hangatnya sapaan sinar matahari pagi.
Dan pagi itu nampaknya bukan saya saja yang merasakan kenikmatan berada di pantai ini, sebab di tengah ombak nampak beberapa orang bule asik surfing menantang ombak bertipe reef break yang cukup menantang.
Yeah, nice trip and great beach that day.......
Some day, i must be back again there.
Dan inilah secuil keindahan karya Sang Maha Pencipta yang sempat terekam di kamera
Dan akhirnya...... Terlambat !!
Saya tidak sempat mengabadikan momen indahnya matahari terbenam di Pantai Krakal sodara-sodara. Kecewa sekali tentunya. Tapi mau bagaimana lagi....
Ya. Pantai Krakal yang berjarak kurang lebih 2 jam perjalanan dari Yogya ini memang sudah lama kondang sebagai salah satu pantai yang memiliki keindahan luar biasa. Garis pantainya landai dan ditaburi pasir putih dengan hempasan ombak yang jernih. Batu karang menghiasi sebagian besar bibir pantai, menjadi rumah bagi ikan-ikan karang berwarna-warni. Ikan damselfish kuning dengan aksen biru di punggungnya, ikan kepe-kepe (butterflyfish) bergaris-garis biru tua dan biru muda, serta sekelompok ikan kecil berwarna biru terang berenang di antara bebatuan. Kaki-kaki bintang laut hitam menjulur keluar dari balik batu tempat persembunyian mereka. Juga eksotisnya ruput laut yang menghiasi karang karang di sepanjang bibir pantai.... Yeahh.....
Sedikit informasi nih sodara-sodara, Pantai Krakal terletak di Desa Ngestirejo, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Koordinat GPS - lokasi: S8°8'43" E110°35'59" Jarak lokasi dari kota Jogja kurang lebih 65 Km, sekitar 2 Km sebelah Timur Pantai Drini dan Pantai Sarangan dengan pasir putih yang membentang berkilauan di sepanjang pantai. Sangat cocok bagi wisatawan yang ingin menikmati udara laut sambil jogging, mandi/berenang di pantai, dan menikmati keindahan maupun mencari aneka biota laut dengan jaring kecil yang banyak dijual.
Pantai Krakal merupakan salah satu pantai terindah di Pulau Jawa, dan menjadi salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Gunungkidul. Memiliki pantai yang luas dan terpanjang diantara 7 pantai lainnya yang berada dalam satu kawasan nan eksotis (yaitu Pantai Baron, Pantai Sundak, Pantai Kukup, Pantai Drini, dan Pantai Sepanjang). Bagi yang gemar melakukan perjalanan panjang alias touring, maka pantai ini sangat layak dan sangat direkomendasikan untuk dituju. Sebab perjalanan menuju ke pantai ini sangat menantang, berkelok kelok, naik turun perbukitan, dan melewati bukit-bukit kecil dengan batu-batu besarnya, karakter yang khas untuk wilayah karts. Berdasarkan beberapa penelitian geologi, ribuan tahun yang lalu, daerah Krakal adalah ruang bawah tanah laut. Melalui proses alami, ruang bawah tanah itu semakin tinggi dan muncul sebagai dataran tinggi.
Untuk yang ingin menginap dan menikmati malam di Area ini, jangan khawatir. Pengembangan pantai Krakal sebagai tempat wisata sudah lumayan baik kok. Di sekitar pantai sudah terdapat gazebo-gazebo yang bisa digunakan untuk leyeh-leyeh sambil bercengkrama bersama teman-teman atau keluarga. Di salah satu sudut pantai juga sudah berdiri cottage cottage dan homestay yang cukup nyaman walau sedikit ada kekurang nyamanan di waktu malam karena kurangnya pilihan warung makan.
Untung bagi saya karena pada pagi harinya tidak bangun kesiangan dan sempat menikmati indahnya matahari terbit di ujung timur pantai. Seketika perasaan kecewa sebelumnya musnah, ingatan tentang rute yang berkelok tajam dan perjalanan 6 jam dari Banjarnegara sirna dengan hangatnya sapaan sinar matahari pagi.
Dan pagi itu nampaknya bukan saya saja yang merasakan kenikmatan berada di pantai ini, sebab di tengah ombak nampak beberapa orang bule asik surfing menantang ombak bertipe reef break yang cukup menantang.
Yeah, nice trip and great beach that day.......
Some day, i must be back again there.
Dan inilah secuil keindahan karya Sang Maha Pencipta yang sempat terekam di kamera


























