Rokok naik 50 ribu ? hemmm ......

Sudah seminggu ini saya menunggu dan wira wiri ke toko toko kembar macam Indongapret sama Alamat. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan hanya untuk "bola bali " mlirik harga rokok yang katanya mau naik sampai ke angka 50.00 rupiah per bungkusnya.

Weh ?
Yup. sudah sejak awal bulan lalu pemerintah mengeluarkan wacana bahwa harga rokok akan naik berkali kali lipat dan para perokok di negeri ini mau tidak mau harus segera melupakan harga per bungkus rokok di angka 13.000 - 15.000an. Sebetulnya sih tidak ada yang aneh di balik isu harga rokok yang melejit menjadi 50.000 rupiah perbungkus itu. paling hanya taktik pertempuran marketing yang biasa saja man...

Kalau menurut bang Puthut EA dalam tulisannya di mojok.co, kira kira alurnya begini:

Kaum antirokok membuat studi, di harga berapakah para perokok akan berhenti merokok? Didapatlah harga 50.000 perbungkus. Kemudian penelitian ini didesiminasikan ke beberapa situsweb abal-abal. Diperbesar dengan tim buzzer di dunia maya, plus segala gimmick nan kreatif.
Ketika mulai ramai, maka langkah selanjutnya, mereka melakukan placement di media-media besar yang seakan-akan berita. Taktik yang dipakai berupa tanggapan tokoh lewat teknik doorstop. Para tokoh diwawancara dengan pertanyaan:
‘Apa tanggapan Bapak/Ibu dengan usulan masyarakat bahwa harga rokok sebaiknya dinaikkan menjadi 50.000 perbungkus?’

Dasar elit politik di negeri pencitraan, bukannya bertanya balik untuk mengkritisi, kebanyakan dari mereka berkomentar mendukung naiknya harga rokok. Politikus-politikus macam begitulah yang banyak menjadi korban para pakar hoax dunia maya. Malu bertanya, ancur muka kemudian. Jawaban-jawaban itu kemudian dipelintir, ditambah dengan penguatan dari para opinion leaders yang sudah digalang sebelumnya. Jadi itu barang. Isunya terbungkus rapi. Siap dihadiahkan ke ‘leading sectors’ untuk diberi tanggapan. Para jubir di leading sectors ini bukan politikus. Mereka menjawab normatif. Jadilah isu yang semula berasal dari ‘kajian’, berubah menjadi ‘usulan’, bergeser menjadi ‘seakan-akan mau terjadi’, lalu matang dalam isu: ‘sudah pasti terjadi’.
Masuk itu barang.
Ngeri-ngeri sedap.
Elok tenan!

Isu makin legit karena para politikus prorokok juga ikut latah menanggapi. Menari di atas gendang yang dipukul lawan. Plus, perang netizen di dunia maya yang terus berkobar. Sepintas semua berjalan dengan sempurna. Isu yang ‘sudah pasti terjadi’ ini tinggal digiling di ‘mesin akhir tim’ yang sudah siap di Pemerintah.
Para kaum antirokok pasti tahu yang saya maksud…

Tapi ternyata isu dunia maya berikut pelintirannya berbalik cepat seketika. Pasalnya ada dua.
Pertama, bagi para intelektual tertentu, tahu persis bahwa harga rokok naik menjadi 50.000 perbungkus itu tidak akan bisa terjadi. Karena komponen cukai, yang menyebabkan harga rokok selalu naik, punya hukum, aturan, dan perhitungan tersendiri. Ketika para pakar ini mulai berkomentar, arus mulai berbalik.
Kedua, di dunia nyata, para pakar pemasaran dan ahli-ahli strategi pasar setiap pabrik dan toko-toko ritel justru senang dengan isu tersebut.
Fakta di lapangan, dalam kurang-lebih seminggu isu ini bergulir, toko-toko mulai merasakan dampaknya. Para pembeli rokok yang rata-rata membeli sebungkus, kini berubah menjadi dua bungkus. Permintaan pasar naik menjadi dua kali lipat.

Datanglah ke gerai-gerai minimarket, dan tanyalah ke para penjaga maka muka mereka penuh senyum.
“Tidak sekalian beli tiga, Pak. Mumpung harga rokok belum naik jadi 50.000 perbungkus, lho…” ucap mereka dengan muka manis sembari menyimpan sejenis senyum tipis, dan membatin,
“Bego banget orang ini, ganteng-ganteng mudah kena hoax…”
Mbak-mbak SPG yang semula lebih banyak tersenyum daripada menjelaskan soal rokok jualan mereka, mulai minggu kemarin mulai menutup penjelasan dengan kalimat,
“Mumpung harga rokok belum naik jadi 50.000 lho, Pak…” ujar mereka sambil tersenyum penuh kegelian kalau kemudian menyaksikan ada orang yang merasa panik dengan kalimat ancaman itu.

Afiliasi antara para jagoan marketing rokok di lapangan dengan para manajer toko inilah yang membuat rokok laku makin menggila. Isu di dunia maya yang seakan para antirokok menang, justru dipelintir orang-orang marketing pabrik rokok yang memang teruji matang di lapangan.
Arus berbalik dua kali lipat. Di kepala mereka, seolah ada doa:
“Semoga isu ini bertahan lama… Laris. Laris. Laris, beib!”
Jauh hari sebelum para pakar hoax menjadi profesi, orang-orang marketing pabrik rokok ini sudah diuji dengan perang dagang sesungguhnya, menguasai toko demi toko, kampung demi kampung. Ukuran karier mereka jelas. Tidak ada istilah suka atau tidak suka. Tidak ada tempat bagi orang yang lebih suka bicara dibanding bekerja.

Semua berhenti di satu kata: Omzet.

Mereka sejak dulu sudah terlatih menangani isu-isu. “Rokok Marlboro itu bukan dari tembakau, tapi dari kertas. Kalau tidak percaya, rendamlah sebatang rokok Marlboro di dalam gelas. Nanti dia akan berubah menjadi kertas.”
Bagi orang yang mendalami dunia rokok, ini sangat menggelikan. Rokok putih memakai jenis tembakau virginia. Karakter tembakau virginia memang mirip kertas. Apalagi kalau basah. Sudah pasti mirip kertas.
Mereka, para jagoan marketing pabrik rokok, sudah biasa anjlok bersama isu. Djarum pernah diterpa isu: ‘Demi Jesus Aku Rela Untuk Mati’. Omzet langsung jatuh. Tapi kemudian mereka bisa bangkit lagi.

Contoh lain. Salah satu produk Gudang Garam yang semula tumbuh, tiba-tiba ambruk. Gudang Garam tahu persis kalau salah satu kelemahan rokok saat itu adalah mudah patah. Mereka kemudian menciptakan produk yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak bisa patah. Produk premium itu langsung laris di pasar.
Tapi terhenti tiba-tiba hanya karena satu isu: “Tidak bisa patah karena ada plastiknya.” Begitu isu itu beredar, produk itu langsung wasalam.
Bayangkan, orang-orang macam ini, yang sudah biasa tiap tahun kena isu ‘rokok mengandung babi’, bertarung siang malam dengan para kompetitor, mendapati hoax ‘harga rokok naik menjadi 50.000 perbungkus’, hati mereka bukannya sedih malah merasa riang gembira.
Isu itu diambil alih oleh mereka. Isu yang mestinya bakal bikin orang tidak lagi merokok malah membuat perokok mengonsumsi rokok dua kali lipat. Bajilak, bukan?

Hal seperti inilah yang membuat para aktivis antirokok selalu kemut-kemut. Pusing.
Sebagian dari mereka memang lulusan dari ilmu komunikasi, tapi mereka gagap berkomunikasi dengan masyarakat, dan gagal memahami logika masyarakat. Sebagian dari mereka lagi adalah para wartawan yang gagal membangun karier kewartawanan mereka. Kalau membangun karier saja gagal, apalagi membangun rumahtangga? Eh, membangun isu, maksud saya.
Sebagian dari mereka yang lain adalah para dokter, tapi sudah lama mereka tidak praktek. Soalnya lebih enak makan uang perdiem daripada uang layanan kesehatan dari pasien. Sudah lupa caranya menyuntik, karena lebih mudah disuntik program dari funding.


*Sumber tulisan asli bang Puthut EA dalam tulisannya di mojok.co

Dieng Culture Festival VII : Sekelumit cerita behind the scene

Tanggal 5,6 dan 7 Agustus kemaren Dieng dipadati oleh ribuan manusia yang datang entah dari mana asalnya. Tujuannya sama. Ingin merasakan euforia Dieng Culture Festival ke 7 yang sudah digaungkan oleh media media massa nasional berbulan bulan sebelumnya.

Yes, Dieng Culture Festival atau yang biasa disingkat sebagai DCF ini memang sebuah agenda rutin prosesi ruwatan (penyucian) rambut gembel yang digelar oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat setiap tahun. Tentu saja dengan beragam modifikasi acara (seperti Pesta lampion, Jazz atas awan, sunrise di Sikunir dan Pangonan, dan sebagainya), mendatangkan bintang tamu dari ibu kota dan berbagai hal menarik lainnya yang bagi sebagian orang sangat sayang untuk dilewatkan.

Seperti juga tahun ini, pihak penyelenggara memberikan banyak sentuhan seni modern (dengan bekerjasama bersama mahasiswa ISI) dan mengundang tokoh populer seperti Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Cak Nun dan penyanyi kondang, Anji. Dan pastinya hal itu menjadi satu daya tarik yang luar biasa bagi pengunjung untuk rela merogoh koceknya lumayan dalam demi mendapatkan selembar tiket masuk ke arena konser jazz, lampion dan ritual potong rambut gembel.

Meskipun saya hanya pada hari terakhir alias hanya pada hari Minggu tanggal 7 Agustus 2016 saja berada di Dieng, namun ada beberapa hal yang sangat membuat saya merasa bahwa ada yang berbeda pada pelaksanaan DCF tahun ini dengan tahun tahun lainnya. Beberapa hal yang berbeda adalah jumlah pengunjung yang lebih padat antara tahun ini dengan tahun sebelumnya, kemacetan yang semakin parah, penataan lokasi tiap bagian event yang tertata rapi, lokasi Camping Ground yang semakin banyak, juga tarif parkir yang mencapai angka Rp. 10.000 ,-

What the hell that !!!!

Sepuluh ribu cuman buat bayar parkir ? F*#k that........
Itu perbuatan yang sangat tidak terpuji kisanak..... memanfaatkan momen seperti ini hanya untuk mencari keuntungan sementara. Bayangkan saja apabila tahun depan pengunjung datang ke Dieng dengan berjalan kaki...... mau cari uang dari mana kalian ? parkir kaki ???

Oke, lupakan sejenak soal itu...... kembali ke jalannya DCF, setelah saya masuk lokasi dan bertemu dengan beberapa orang kawan, ternyata apa yang alami soal parkir kendaraan itu belum apa apa. Banyak terjadi hal lain yang lebih parah dan tentu aja memalukan. Misalnya ada petugas penarik bea kebersihan untuk tiap tenda di Camping Ground pada jam 2 malam...... Jam 2 malam men......... Gila apa......... besarannya 25.000 per tenda, tapi paginya bahkan sampai siang harinya lokasi itu ga ada bersih bersihnya sama sekali. Dan itu belum termasuk dari biaya sebesar Rp. 175.000,- untuk setiap kaplingan dum alias tenda yang sudah harus dipesan jauh jauh hari sebelumnya. Kan Fak namanya.......

Tapi ada yang menarik pada perhelatan DCF  yang ke 7 ini, pada setiap pintu masuk event ada penjaga gawang eh palang yang cukup tegas. Para penjaga ini terdiri dari gabungan petugas keamanan dari pihak panitia bekerjasama dengan Satuan Polisi pamong Praja Kabupaten Banjarnegara. Saking tegasnya, mereka sampai menolak, bahkan berani beradu mulut  dengan beberapa orang yang mengaku sebagai korps baju coklat (you know who lah ) yang hanya membawa satu kartu tiket masuk. Salut..........

By the way, ada satu moment yang tidak terduga dan tidak akan terlupakan bagi saya pribadi pada DCF kali ini yaitu secara tidak sengaja bertemu dengan tokoh tokoh fotografi yang selama ini saya kagumi meskipun hanya lewat internet, media sosial dan hasil browsing di internat saja, sebuah kehormatan dan kebanggaan besar bagi saya bisa berbagi waktu untuk mengobrol sambil menunggu ritual larung rambut gembel di telaga warna bersama seorang koordinator juri Salon foto 2016 kategori cetak warna Om Rasmono Sudarjo, om tukang dolan Tan Kiki, om makrodin Ronny Santoso , bang juwara Fadkus, Om eh bli Nyoman Butur Suantara, dan guru motret saya pak Agus Nonot. Hanya 3 jam namun cerita tentang pengalaman mereka membuat saya dan Bhakti seperti merasa bahwa waktu sesebentar itu seolah sudah memberi kami sebuah pengalaman fotografi yang luar biasa. Kurang dan tidak cukup tentu saja........


Diluar itu semua, ada sedikit unek unek yang pingin saya tulis disini dan semoga ada panitia tahunan DCF yang sempat untuk membacanya. Ada sedikit usul dari saya pribadi utnuk menambah panggung tempat memotret untuk wartawan di acara jamasan dan potong rambut. Sebab dua panggung dengan luas yang hanya beberapa meter seperti kemarin masih sangat kurang. banyak rekan wartawan yang tidak kebagian tempat di atas (panggung) karena di tempat yang seharusnya untuk mereka sudah ditempati orang lain. Dan untuk mengatasinya mungkin perlu ditempatkan personel keamanan khusus yang bertugas mengecek kartu identitas setiap orang yang hendak naik kesana.

Selain itu perlu diterapkan aturan bahwa tongsis dan tripot SANGAT DIHARAMKAN berada di barisan depan pengunjung. Sebab hanya alayers dan mereka yang tidak peduli lingkunganlah yang akan menggunakannya di depan barisan tanpa memperhatikan belakangnya yang tentu saja mengambil foto juga. Kalau perlu tindak tegas dan usir dari barisan. Biar tahu rasa......

Kenapa kedua hal itu menurut saya penting? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena bagaimanapun "besarnya" DCF adalah karena pemberitaan media dan foto foto di media sosial masyarakat. apabila foto yang dihasilkan bagus dan menarik juga tanpa cacat, maka hal tersebut akan menjadi viral dan masyarakat umum akan menjadi penasaran. Imbasnya adalah meningkatnya jumlah pengunjung pada pelaksanaan DCF di tahun tahun berikutnya.
Selain itu hal tersebut juga akan sangat membantu tugas teman teman wartawan sehingga mereka tidak lagi menggerutu (meminjam kalimat mas Anis Efizudin)
" nek ngene iki aku yo ra biso kerjoooo....... "

" Welcome to the Republic of Tongsis " by 

Adi Nur Cahyono, dari MathCity Map (MCM) sampai Pokemon GO

Akhir akhir ini dunia sedang heboh dengan fenomena Pokemon GO. Hampir setiap menit kita disuguhi berita-berita yang berkaitan dengannya. Mulai dari aspek positif, negatif, review, sampai pada cara meng-hack dan trik-trik dalam mengakali permainan ini. dan memang Pokemon GO ini merupakan terobosan baru dalam cara bermain game. Jika selama ini games diasosiasikan sebagai permainan indoor, maka Pokemon GO melabrak stereotipe itu. Para player atau disebut Pokemon Trainer harus keluar ruangan untuk berburu Pokemon. Adanya feature ini ternyata disambut baik. Lalu bagaimana dengan Indonesia, apakah kita hanya menjadi pasar saja? Mampukah kita mengembangkan game-game seru (dan juga mendidik) yang bisa menyamai dan melebihi Pokemon GO?

Ternyata ada game menarik yang sedang dikembangkan, bahkan lebih bernuansa pendidikan. Game ini dikenal dengan MathCity Map (MCM). Cara memainkannya kurang lebih sama. Player dengan menggunakan smartphone dan terkoneksi dengan GPS dapat menginstal aplikasi MCM (dapat diunduh di sini , di sini dan Google Play). Selanjutnya, player akan diminta untuk menelusuri jalan-jalan sesuai peta untuk menemukan suatu post. Kemudian di post tersebut, player akan mendapat task untuk memecahkan problem matematika yang berhubungan dengan tempat, bangunan atau benda disekitarnya. Misalnya, di lokasi post ada sebuah kolam besar, maka player diminta untuk menghitung berapa botol air (volume 1500mL) yang diperlukan untuk mengisi kolam. Jika belum mampu menjawab, maka player dapat membuka fitur bantuan (hint) untuk memperoleh informasi tambahan.



Pertanyaannya pun dirancang agar player dapat memecahkan task dengan strateginya sendiri. Misalnya untuk mengukur volume kolam maka perlu mengukur diameter kolam. Bagaimana mengukur diameter kolam besar yang berisi air hanya dengan penggaris?

Games ini dirancang agar player dapat merasakan pengalaman memecahkan matematika di tempat dan situsi yang riil. Jadi, matematika tidak bersifat abstract dan persoalan matematika dapat ditemui di tempat-tempat umum entah sekolah, pasar, taman atau tempat lainnya. Pelajar pun antusias karena belajar matematika tidak hanya di kelas. MCM ini merupakan proyek riset dari Goethe-Universität Frankfurt a.M., dimana salah satu pengembangnya adalah Adi Nur Cahyono, seorang dosen muda di Universitas Negeri Semarang.

Siapakah Adi Nur Cahyono ini ? Dia adalah seorang pemuda kelahiran sebuah kota kecil di Jawa Tengah, Banjarnegara, 34 Tahun Silam. Kecintaannya kepada Matematika dan dunia pendidikan membawanya berkelana untuk mengajar baik di kota kelahiran maupun di perantauan. SMA Kartini Semarang (2005-2007), SMA N 1 Banjarnegara RSBI dan UPBJJ Universitas Terbuka (2007-2008), IKIP PGRI Semarang (2008) dan Universitas Negeri Semarang (2009 - sekarang) sempat menjadi pelabuhannya dalam ber-Matematika.

foto by Adi Nur Cahyono
Seingat saya, dulu pada tahun 2014, bapak satu anak ini pernah memposting sebuah foto di akun Facebook dan instagramnya dimana dia sedang mempresentasikan dua buah peta yang terpampang pada dua buah smartphone. Ketika itu saya berkomentar dengan sedikit olokan bahwa dia sedang mempresentasikan hasil jalan jalan dan kegiatan memotretnya di Jerman (dan pada waktu itu saya sama sekali belum ngeh apalagi terpikirkan bahwa itu adalah sebuah aplikasi untuk smartphone yang sekarang ternyata sangat wow sekali).

Dan sebagai seorang pemuda yang kekinian, dalam kegiatan kesehariannya bapak yang sayang anak ini juga ternyata sudah memiliki aplikasi Pokemon GO juga di dalam smartphonenya. Sehingga kegiatan melipirnya ketika sedang mengantar sang buah hati ke Kindergarten alias TK di Frankfurt sana juga diselingi mencari Pokemon kamana mana.

 foto by Adi Nur Cahyono
Sekedar info, saat ini peta untuk aplikasi  MathCity Map (MCM) sudah tersedia untuk seluruh dunia, tapi tasks baru tersedia untuk kota Frankfurt dan Semarang. Sementara untuk kota-kota lain masih menunggu kolaborasi dari kota/ negara lain utk bekerjasama. Apakah ada yang tertarik untuk mengisi task di kota Anda? halo para pengembang aplikasi ?

Saya pun membayangkan kalau game ini tidak hanya untuk matematika, tapi bisa terintegrasi untuk bidang lain, entah sejarah, budaya, ekonomi, fisika, kimia, dan bidang lainnya.  Tapi namanya akan berubah jadi seperti apa ya ? ada ide ?


*Disadur dari sumber tulisan asli : http://www.kompasiana.com/yousufkurniawan dengan sedikit penambahan
7.20.2016
Posted by ngatmow

Bukit Asmara Situk, surga baru yang syahdu

Banjarnegara memang sebuah kota kecil yang jarang tereksplor setiap sudutnya. Sisi pariwisata yang bagi kota lain merupakan sebuah lahan pendapatan yang cukup baguspun seolah tidak dihiraukan oleh pemerintah setempat ataupun oleh pihak yang "berwajib". Bahkan, ketika ada seorang warga yang melaporkan bahwa salah satu destinasi wisata yang jelas jelas masuk wilayah Banjarnegara, dimasukkan dalam peta wisata dan bahkan menjadi ikon wisata kota tetangga pun seolah  tidak ada greget untuk menindaklanjutinya. Hanya sebuah kalimat singkat yang jadi jawabnya.....
" Biarkan saja mereka yang promosi tempat itu, yang penting kita yang dapat retribusi masuknya ....... "
Buset....... jawaban macam apa itu ???

Ah sudahlah, tidak usah dipikirkan..... sekarang mari kita jalan jalan saja keliling kota kecil yang (sesungguhnya) sangat indah ini......

Kali ini, tujuan saya adalah Desa Kalilunjar, Kecamatan Banjarmangu yang terletak kurang lebih 30 menit dari pusat kota menuju ke arah timur atau searah dengan perjalanan menuju Dieng via Banjarnegara. Di desa ini, ada satu destinasi wisata baru yang cukup menarik perhatian masyarakat Banjarnegara pada umumnya yaitu Bukit Asmara Situk. Bukit Asmara Situk (BAS) merupakan objek wisata alam yang menawarkan pemandangan dari ketinggian yang bisa dinikmati sambil bersantai di rumah-rumah pohon yang telah disediakan. Selain itu ada beberapa petilasan dan gua jepang yang sangat menarik untuk dijelajahi.


Oke, sesampainya di Desa Kalilunjar, tempat yang langsung saya tuju adalah balai desa. Kenapa? sebab Balai desa dan lapangan voli di dekat SD Kalilunjar atau di seberang jalan balai desa untuk sementara ini difungsikan sebagai tempat parkir pengunjung sampai tempat parkir sebenarnya selesai dibangun. Untuk memasuki area BAS, kita akan dikenakan biaya retribusi sebesar Rp 5000,- dan setelahnya cukup mengikuti baliho yang menunjukkan arah menuju puncak bukit.

Bagi jenis manusia yang kurang olah raga seperti saya, perjalanan untuk naik ke puncak Situk yang bertinggi 683 mdpl adalah sebuah perjuangan yang sangat melelahkan (padahal trek naik hanya 20 - 30 menit saja, itupun versi saya), namun tidak begitu bagi mereka yang gemar mendaki gunung ataupun olahragawan yang berbodi atletis waktu tempuh yang dibutuhkan jelas lebih cepat, hanya 10 - 15 menit saja. Nah lho.....
Yang jelas, semua rasa lelah akan hilang ketika kita sudah berada di puncaknya. Beragam rumah pohon dengan bentuk yang unik dan menarik dengan background alam menghijau yang luas membentang akan "memaksa" kita untuk berselfie ria dan mengabadikan keindahannya.


Setelah cukup lama berada di puncak, perjalanan kembali ke tempat parkir kendaraan bisa dilakukan melalui 2 jalur. Pertama, dengan meneruskan perjalanan melewati Bukit bambu Situk, dimana trek berubah menurun dengan cukup terjal namun cukup aman karena sudah disediakan pegangan dari bambu di sisi kanan dan kiri jalan setapak yang juga berfungsi sebagai batas lintas. Dan ternyata view yang disuguhkan disini semakin mantab sodara sodara..... pemandangan lembah dan ngarai Situk semakin jelas keistimewaannya. Dengan sungai Mrawu mengalir berkelak kelok di bawahnya, pepohonan hijau yang membentang hampir di seluruh permukaan tanah di sepanjang penglihatan berpadu asik dengan selingan warna warni atap rumah warga. Subhanallah ..........

Setelah berjalan 10 menit, kita akan berada di persimpangan dimana salah satunya akan membawa kita kembali ke Balai desa Kalilunjar, dan satunya lagi menuju ke gua jepang. Nah untuk trek yang kedua ini, jalan setapak yang akan kita lewati memiliki kemiringan yang cukup ekstrim sehingga perlu kehati hatian ekstra untuk melewatinya. namun adanya pengaman di kiri dan kanan jalan ini sangat membantu pengunjung yang kurang berpengalaman di trek semacam ini.
Sebagai informasi, Gua Jepang di Bukit Asmara Situk (BAS) sesungguhnya adalah lubang berjumlah 6 buah yang dibuat di dinding dua bukit dengan berposisi saling berhadapan dengan dipisahkan oleh jalur air Sungai Mrawu di bawahnya dan sejatinya akan difungsikan sebagai semacam "cakar ayam" untuk bendungan yang proyek pengerjaannya berhenti dan entah kapan akan dimulai lagi.
namun begitu, dengan kreatifitas Pak Lurah Slamet dan Karang Taruna Desa Kalilunjar, gua gua terbengkelai ini disulap menjadi satu destinasi wisata menarik dengan lampu yang berpendar warna warni didalamnya sehingga memberikan kesan pengalaman yang berbeda bagi pengunjungnya. It's so Amazing......



Oya ada satu hal yang terlintas dalam pikiran saya sodara sodara, dengan kondisi alam yang full tebing dan jurang yang curam macam ini, akan sangat mudah bagi mereka mereka yang sedang berotak kacau dan berpikiran berat serta membawa beban hidup yang membuatnya putus asa, untuk melakukan hal hal yang tidak diinginkan disini. So, bagi pengunjung dan calon pengunjung yang akan ke BAS, mohon jangan bawa teman, saudara, atau bahkan pacar anda ke sini apabila sedang putus asa, kacau dan butuh tempat untuk pelarian ........... Pliss deh.....

foto by Daffa Abiyu Zada
After All (halah) ..... Bukit Asmara Situk (BAS) di desa Kalilunjar ini adalah satu destinasi wisata yang sangat menarik dan wajib dikunjungi bagi masyarakat lokal maupun pendatang di Banjarnegara. Selain sebagai sarana olahraga, juga sarana untuk merefresh pikiran...... percayalah percayalah ......


Jangan lupa bahagia sodara sodara ...............


4.05.2016
Posted by ngatmow

Selamat Menikah ya Adik

Tanggal 27 Maret 2016 yang lalu, adik cowok resmi menyandang status baru. Jadi anak mantu alias menantunya seseorang yang kemudian dia panggil sebagai bapak dan ibu (baru). Kenapa ? sebab pada tanggal itu dia telah resmi menjabat tangan bapak mertuanya di depan penghulu di sebuah masjid di sebuah desa di sebuah kecamatan di sebuah kabupaten yang bernama Wonosobo.


Hehehe,
Begitulah sodara sodara, meskipun suhu udara saat itu cukup gerah namun acara tersebut bisa berlangsung khidmat dan mengharukan.
Selamat datang dik Guti Susanti di keluarga besar kami, jangan kaget kalau di kemudian hari menemukan sesuatu hal yang aneh dan ganjil dan kadang tidak ketemu nalar di sini, jangan kaget kalau di kemudian hari menemukan sebuah ruangan semacam kapal pecah di rumah kami, juga jangan kaget kalau pada musim liburan bertemu kakak ipar yang sudah tidak mandi sampai tiga atau empat hari......tergantung situasi........ atau hal hal lain yang terkadang membingungkan dan tidak perlu dipikirkan.

Dan sebagai seorang kakak yang baik, saya cuman bisa mengiringi langkah barunya menuju lembaran baru hidup yang bahkan tidak akan pernah dibayangkannya sebulum menikah.


Selamat menempuh hidup baru Anis Fauzi Nugroho dan Guti Susanti,

Semoga dengan menikah semakin dibukakan pintu rejekinya brader, 
semoga dengan menikah hidupmu akan semakin aman nyaman tenteran damai dan tertata rapi, semoga dengan menikah hidupmu semakin indah, 
semoga dengan menikah beban dalam pikiranmu semakin dipermudah, dan 
semoga dengan menikah segera diberikan sebuah kehidupan idaman yang sakinah mawaddah warahmah ........Aminnn.........

be a good man, good husband, good brother, good son, and good father........

tapi inget, kalau lagi dirumah, jangan berisik kalau lagi asik..............!!!!



3.31.2016
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow