Kolopaking, sepenggal sejarah Banjarnegara

Nama Kolopaking ini otomatis mengingatkan beberapa kawan kepada artis yang dulu pernah terkenal, Novia Kolopaking. Apakah ada hubungannya? Sebagai trah, Kolopaking sering disangka sebuah marga yang berasal dari wilayah Indonesia Timur, padahal nama ini bila dirunut ceritanya, akan muncul pada cerita sejarah Kebumen di Jawa tengah.

Pada masa Amangkurat I memerintah di Mataram, seorang bangsawan dari Madura, Trunojoyo, melakukan pemberontakan (1677) dan berhasil membuat Amangkurat I menyingkir ke Cirebon. Dalam perjalanan ini, Amangkurat I dibawa oleh penguasa setempat yang bernama Ngabehi Kertowongso untuk singgah di Panjer (sekarang Kebumen). Rupanya Kertowongso masih mengakui Amangkurat I sebagai raja Mataram yang sah, bahkan ketika melihat sang raja yang tampak kelelahan dan menderita sakit karena keracunan, Kertowongso mencarikan air kelapa untuk penawar racun. Sayang buah kelapa yang dapat ditemukan saat itu hanya yang kulitnya sudah kering (kelapa aking) saja. Air kelapa diminumkan dan tak berapa lama berhasil membuat kondisi tubuh Amangkurat I membaik. Kertowongso kemudian digelari Tumenggung Kolopaking I dan menjadi awal trah Kolopaking.
Raden Toemenggoeng Soemitro Kolopaking Poerbonegoro van Bandjarnegara met Raden Ajoe 1930 KITLV

Walaupun awalnya trah Kolopaking berkuasa di wilayah Kebumen (sebelumnya disebut Panjer), namun pada masa Perang Diponegoro, terjadi perseteruan dengan Adipati Arungbinang yang didukung oleh VOC. Dukungan Kolopaking terhadap Diponegoro harus ditebusnya dengan menyingkir ke wilayah Banjarnegara.

Di Banjarnegara, dinasti Kolopaking tetap berperan terutama melalui salah satu keturunannya, yaitu Raden Adipati Arya Poerbonegoro Soemitro Kolopaking, yang menjadi bupati dari tahun 1927-1945. Nama Soemitro Kolopaking saat ini diabadikan sebagai nama stadion di Parakancanggah, Banjarnegara. Soemitro Kolopaking memiliki istri bernama Anna Lasmanah.

Semasa suaminya menjabat sebagai bupati di Banjarnegara, Lasmanah berkeinginan kuat membangun sarana pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Upayanya diwujudkan tahun 1940 dengan mendirikan rumah sakit bersalin yang diberi nama Boedi Rahajoe pada tanggal 31 Agustus 1940.

Dana untuk pembangunan rumah sakit ini didapatkan dengan cara patungan yang disebut Gerakan Satoe Sen, setiap keluarga menyumbang masing-masing 1 sen. Kekurangannya sekitar 40.000 Gulden didapatkan dari sumbangan Bupati Banjarnegara. Lahan untuk pembangunan adalah pekarangan rumah milik H. Noor di Desa Kutabanjarnegara. Hasil rintisannya ini kelak menjadi RSUD Banjarnegara dan setahun lalu diubah namanya menjadi RSUD Hj. Anna Lasmanah Soemitro Kolopaking (2013).

Ibu Hj. Lasmanah Kolopaking (1902-1965) yang dipajang di sebuah restoran di Jl. Taman Cibeunying Selatan Foto: Ariyono Wahyu


Soemitro Kolopaking

Soemitro dilahirkan di Papringan, Banyumas pada 14 Juni 1887. Buku Harry Poeze, “Di Negeri Penjajah”, menyebutkan bahwa Soemitro menentang kehendak ayahnya dengan bersekolah di HBS Batavia. Lalu pada usia 19 tahun (1906) pergi ke melanjutkan belajar ke Eropa menggunakan kapal sebagai penumpang kelas 4 dengan uang hanya f.15. Di Eropa, Soemitro banyak bepergian demi mencari tambahan biaya sekolah. Untuk hidup sehari-hari ia bekerja sebagai perawat domba di Leiden. Ia juga pernah pergi ke Jerman (1908) untuk bekerja menjadi buruh tambang batubara.

Kembali ke Hindia Belanda, Soemitro bekerja di pabrik teh dan kina Pandjang Estate di Pangrango, kemudian mengikuti pendidikan komisaris polisi di Batavia. Setelah pendidikan inilah Soemitro mendapatkan tugas sebagai Gewestelijk Leider der Veldpolitie untuk Keresidenan Priangan yang berkedudukan di Bandung (1922). Inilah pertama kalinya orang pribumi mendapatkan pangkat dan jabatan setinggi itu dalam dinas kepolisian Hindia Belanda.

Parta Kutang

Pada masa jabatannya ini terjadi peristiwa yang cukup legendaris di Bandung. Pada tahun 1920-an, Oranjeplein (Taman Pramuka) adalah batas timur Kota Bandung. Kawasan ini dirancang oleh Ir. D.H. Ton sebagai kawasan elite dengan rumah-rumah besar berpekarangan luas untuk taman. Kawasan permukiman ini dinamai Kapitein Hill. Letaknya yang di pinggir kota membuat kawasan ini bersuasana tenang dan nyaman ditinggali.

Tetapi itu tidak berarti tidak ada gangguan sama sekali. Suatu hari di bulan Desember 1922, diberitakan seekor macan tutul dari Gunung Manglayang berkeliaran di sebuah rumah di sebelah timur Jl. Supratman sekarang. Macan tutul sepanjang dua meter itu akhirnya mati ditembak, lalu bangkainya dipamerkan kepada masyarakat.

Bukan itu saja peristiwa yang terjadi di sekitar Kapitein Hill. Pada tahun 1922 itu juga ada kejadian yang cukup bikin heboh warga Bandung, sebuah rumah milik seorang Preangerplanter ditemukan terbuka lebar semua pintu dan jendelanya , sepertinya baru kemasukan maling. Anehnya, tak ada barang yang hilang. Juga tak ditemukan jejak-jejak pembongkaran paksa. Sama tidak tidak ada jejak kecuali sebuah pahat besi yang tergeletak di atas meja tulis pemilik rumah.

Satu minggu kemudian, peristiwa yang sama terjadi lagi. Kali ini di sebuah bank di Alun-alun Bandung. Seluruh pintu dan dan jendela ditemukan dalam keadaan terbuka lebar, begitu juga dengan lemari besi. Anehnya, lagi-lagi tak ada barang yang hilang. Namun sebilah pahat besi tampak tergeletak di dalam lemari besi. Pembobol rumah yang misterius ini lantas dijuluki polisi sebagai De Beitelaar (Si Pahat).

Saat Soemitro melakukan pemeriksaan, disadarinya bahwa ada latar ilmu gaib dalam peristiwa ini. Soemitro pun menggunakan panduan Primbon Maling untuk menangkap pembobol misterius ini. Dengan mempelajari hari, pasaran, dan waktu kejadian, dapat diduga arah kedatangan sang maling. Rencana disusun. Sejumlah anak buahnya ditugaskan berjaga di wilayah timur kota pada hari yang diperkirakan akan jadi hari kedatangan kembali De Beitelaar. Benar saja, sang maling dengan mudah dapat ditangkap.

Akhirnya diketahui, De Beitelaar ini bernama Parta, tinggal di lereng gunung sekitar 20 kilometer sebelah timur Kota Bandung. Ternyata Parta adalah seorang petani kaya yang memiliki sawah, kebun, kolam ikan, ternak, dan sejumlah pembantu rumah tangga. Lantas untuk apa ia membobol rumah orang?

Benar dugaan Komisaris I Soemitro Kolopaking, ada ilmu gaib di balik kasus ini. Rupanya Parta memiliki ilmu turun temurun dalam hal bobol-membobol. Dengan ilmunya ini tak ada gembok yang tak dapat dibukanya, tak ada pintu besi yang dapat menghalanginya. Ternyata Parta hanya ingin menguji ilmunya bila didengarnya ada sesuatu yang tak dapat dibongkar. Sistem pengamanan baru akan selalu menimbulkan keinginan kuat baginya untuk mencoba ilmunya.

Kalaupun ada kasus Parta benar-benar maling, maka hasil curiannya tak pernah diambilnya barang sedikit pun. Semua selalu dibagikannya kepada warga desa yang miskin. Setiap kali melakukan aksinya, Parta selalu hanya memakai singlet dari kain belacu, sehingga orang kampungnya memberikan julukan “Parta Kutang”.

Parta Kutang lalu diadili di Landraad dan mendapatkan hukuman dua tahun penjara serta kewajiban perawatan dokter secara rutin karena dianggap memiliki kelainan jiwa. Selama dalam penjara, Parta Kutang selalu mendapatkan kunjungan dari Komisaris I Soemitro Kolopaking. Bahkan Komisaris ini juga datang berkunjung ke keluarga Parta di lereng gunung.

Sebebas dari penjara, Parta Kutang menyerahkan anaknya kepada Soemitro Kolopaking untuk dididik menjadi orang baik. Soemitro menyekolahkan anak Parta ke sekolah pelayaran di Zeevaartschool Makassar hingga berhasil lulus. Kejadian naas kemudian menimpa keluarga Parta Kutang. Pasangan suami istri Parta Kutang tewas tertimpa pohon saat angin puyuh melanda desa mereka. Sedangkan anaknya yang sudah menjadi mualim di kapal pemburu torpedo Belanda (Torpedo jager) tewas saat kapalnya dibom Jepang di Laut Banda pada tahun 1942.

Free Mason

Di Bandung Soemitro juga berkenalan dengan teosofi dan Freemasonry. Pada tahun 1927 menjabat sebagai Bupati Banjarnegara hingga tahun 1945, kemudia menjadi Residen Pekalongan. Masih di tahun 1945, Soemitro terpilih menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Pada tahun 1951 Soemitro Kolopaking ditunjuk untuk menjadi Menteri Pertahanan RI namun menolaknya dan digantikan oleh Sewaka.

Kemudian Soemitro lebih aktif bergiat dalam komunitas Free Mason. Sebelumnya Soemitro pernah mendirikan dan memimpin loji Serajoedal di Purwokerto yang beroperasi sampai 1942. Pada tahun 1955 Soemitro mendirikan loji Purwo-Daksina di Jakarta, loji Pamitraan di Surabaya, loji Bhakti di Semarang, loji Dharma di Bandung, dan puncaknya masih pada tahun yang sama, ia mendirikan Tarekat Mason Indonesia serta diangkat menjadi Suhu Agung pertamanya.

sumber : https://mooibandoeng.wordpress.com/…/dari-lasmanah-di-tama…/
11.13.2016
Posted by ngatmow

CPMI VIII 2016 Yogyakarta, catatan manis meski menangis

Canon Photo Marathon Indonesia (CPMI) kembali digelar tahun ini (2016). Dari 3 kota penyelenggara, Surabaya, Yogyakarta dan Jakarta, hanya di kota ke dua saya berani berangkat. Kenapa ? sebab hanya Yogyakarta lah yang paling istimewa......halah........
Bukan ding, karena kota ini yang paling dekat jaraknya dengan tanah dimana saya berpijak saat ini. Banjarnegara.........

Sebanyak 1800 lebih kepala bertopi merah khas Canon hari itu tanggal 30 Oktober 2016 memenuhi hall Hartono Mall untuk sekedar piknik sambil ikut meramaikan pagelaran yang bisa dikatakan Lebarannya fotografer lomba. Kenapa ? sebab para penggila lomba kumpul semua di sini. Dari yang langganan juara tingkat nasional sampai para juara lomba foto tingkat rt ada semua (kecuali yang absen tentunya).....

Rame.......
Minder.......??
Pasti, apalagi yang pemalu seperti saya, begitu ketemu sama senior senior seketika itu juga bawaannya jadi gemeteran, perut mual, lemes dan lapar dahaga.....hehehe.......

Back to CPMI VIII 2016 Yogyakarta,
pada kesempatan yang berbahagia itu ada 3 tema yang ditentukan oleh panitia. Bhineka Tunggal Ika, Generasi Penerus dan Senja di Yogyakarta. Mendengar tema tema semacam itu saja banyak peserta yang langsung mengeluh dan mengeluarkan kebun binatang dari mulutnya. Untung saja saya pinter, jadi begitu mendengar tema disebutkan pikiran saya langsung melayang menembus awan. Gelap......
Maklum, saya pinternya hanya mencari alasan saja. Bukan yang lain hehehe......

Tema I : Bhineka Tunggal Ika

Buset........ mau motret apa coba kira kira kalau temanya seperti itu ? Dan dengan sejam perenungan sambil jalan kesana kemari bareng adek lanang, saya motret 2 objek.



Dari kedua foto itu, foto pertama yang saya submitkan ke mbak mbak cantik penunggu laptop submiter, hasilnya ? foto kedua (tapi milik orang lain yang sangat mirip) lah yang masuk sebagai finalis..................

Tema II : Penerasi Penerus

Untuk tema ini sebenarnya saya banyak ide "gila" didalam kepala. namun karena geblegnya saya, begitu ponsel berdering dan ada suara diseberang sana yang menanyakan kabar............ide itu ambyarrrrrr................... ilang semua.
Hasilnya, dengan kepanikan tingkat tinggi, dan dengan diiringi lagunya Marsmello yang Alone, saya sukses motret sekenanya.



Ada 2 foto yang jadi pilihan saya, tapi yang akhirnya di masukkan ke mbak mbak submiter #ehhhh ..... foto yang kedua. Hasilnya ? zonk lagi....... dan ada foto mirip foto pertama yang lagi lagi jadi finalis. Damn............

Tema III : Senja di Yogyakarta

Nah ini....... tema ini sebenernya sudah saya perkirakan sebelumnya (bisa dibuktikan dengan request saya kepada adek lanang - Ajru untuk bawa kendaraan roda 2 ke lokasi). Tapi yang kemudian bikin kaget adalah waktu yang diberikan hanya 45 menit. Sedangkan menurut perkiraan saya, untuk mencapai spot tertentu dari lokasi membutuhkan waktu kurang lebih sejam........shit !!!

But the show must go on, Adek lanang mengendarai motor menuju Tugu Jogja sudah luar biasa cepet dan nekat (menurit saya), tapi di tengah perjalanan kami dilewati dua sepeda motor dengan pengendara yang juga memakai atribut CPMI ke arah yang sama, sambil cekikikan. Cewek pula ....... !!! kan sakit tuh.....

Akhirnya, karena merasa ragu dengan tujuan awal, maka kami ganti tujuan dan mengambil foto ini


Dan ketika pengumuman juara untuk tema terakhir ini tidak lain dan tidak bukan adalah foto TUGU JOGJA !!!! Bisa dibayangkan betapa sikaknya ?
Ekstremly Damned pokoknya .................

Bay the way, meskipun masih belum berhasil menjadi juara pada gelaran tahun ini, ada banyak hal yang kemudian menjadi pelajaran buat saya pribadi sebagai penggemar lomba semacam CPMI ini....
  1. Berdoa dulu, cuci tangan dan kaki, gosok gigi........
  2. Dalam lomba jangan mudah panik, tetap fokus......
  3. Jangan lupa makan dulu biar tidak panik dan bingungan.
  4. Gunakan pikiran liar ketika mencari objek tema. Kenapa ? sebab bagi yang sudah terlalu banyak referensi gambar di otak secara otomatis akan terpaku pada "contoh" yang sudah ada, dan bahkan sering takut alias tidak berani berimprovisasi.
  5. Pede yang tidak kepedean....... pastinya
  6. Jangan menyinggung,  memotret, menyentuh, memegang apalagi meraba hal hal yang tidak semestinya. seperti contoh foto saya untuk tema 3, saya ga habis pikir kenapa waktu itu saya motret itu ? kan itu instansi diluar penyelenggaraan CPMI dan bukan tugu jogja.....bukan pula angkringan dan foto Hartono Mall ....... 

Memang sih ga ada gunanya memalukan diri sendiri karena nggak bissa lolos ke Jepang sebagai hadiah juara umum CPMI VIII itu. Temennya banyak banget kok.......1800 orang lebih lho, kurang satu......pak insinyur yang akhirnya jadi jawara.......
Yang jelas, saya jadi ketemu kawan kawan lama yang sangat sangat sult ditemui

Rombongan KPFB goes to CPMI VIII

Kloter KoFiPon at CPMI VIII

Sama senior StreetPhotography, Wa Baldy Patikraja
So, semoga tahun depan pada pagelaran Canon Photo Marathon Indonesia IX yang entah dimana saya bisa berangkat dan bisa membawa pulang hadiahnya. Sukur sukur bisa membawa satu tiket perjalanan piknik ke luar negeri..... Amin.......
Sekarang, sambil diiringi In the name of love nya Martin Garrix & Bebe Rexha, mari kita ngopi sodara sodara......................

11.08.2016
Posted by ngatmow

We will always love you mom.......

Innalillahi wainna ilaihi roji'un.......

Tepat jam 01.20 WIB tanggal 5 September 2016 ibu tercinta dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Setelah perjuangan panjang selama 6 tahun melawan Diabetes, dan 6 bulan terakhir keluar masuk Rumah Sakit, akhirnya sampai ibu ditakdirkan harus berpulang pada-Nya.

Hancur hati ini rasanya mengingat bahwa sebagai seorang anak saya belum bisa membahagiakan beliau, belum bisa memenuhi apa yang pernah dicita citakan beliau, belum bisa mengantar beliau piknik ke pantai Karangbolong lagi untuk sekedar ber melodi memory mengenang masa dulu
belum bisa menghantarkan beliau menunaikan ibadah haji yang sebenarnya tinggal menunggu satu tahun lagi........

Beberapa saat yang lalu, waktu beliau masih dirawat di PKU Muhammadiyah Wonosobo, sebenarnya saya seolah olah sudah diberi isyarat bahwa akan ditinggalkan utnuk selamanya. Salah satunya adalah dengan berbisik " ibu titip bapak ya...... adikmu tolong didampingi.......kasihan" 
Ada lagi pesan tersirat beliau waktu mengatakan ingin dekat dengan bu AR, salah satu sahabat karibnya yang sudah berpulang beberapa tahun yang lalu.
Deg......

Tapi semua itu ingin rasanya saya tepis dan buang jauh jauh dari dalam isi kepala.....

Sampai akhirnya berita itu datang........




Ibu,  pecah air mata yang tidak pernah menetes selama ini ketika  harus meletakkan ibu di pembaringan terakhir itu.....
ada rasa kehilangan yang tidak tertahankan yang bergejolak dalam dada ini........ namun itu harus segera dihilangkan bukan ? saya harus ikhlas. Harus merelakan ibu berpulang ke pemilik semua kehidupan di dunia ini.......





"ALLAHUMMAGHFIR LAHU WARHAMHU WA 'AAFIHI WA'FU 'ANHU WA AKRIM NUZULAHU WA WASSI' MUDKHALAHU WAGHSILHU BILMAA`I WATS TSALJI WAL BARADI WA NAQQIHI MINAL KHATHAAYAA KAMAA NAQQAITATS TSAUBAL ABYADLA MINAD DANASI WA ABDILHU DAARAN KHAIRAN MIN DAARIHI WA AHLAN KHAIRAN MIN AHLIHI WA ZAUJAN KHAIRAN MIN ZAUJIHI WA ADKHILHUL JANNATA WA A'IDZHU MIN 'ADZAABIL QABRI AU MIN 'ADZAABIN NAAR.

Artinya : "(Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, kasihanilah ia, lindungilah ia dan maafkanlah ia, muliakanlah tempat kembalinya, lapangkan kuburnya, bersihkanlah ia dengan air, salju dan air yang sejuk. Bersihkanlah ia dari segala kesalahan, sebagana Engkau telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, dan gantilah rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta gantilah keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, dan pasangan di dunia dengan yang lebih baik. Masukkanlah ia ke dalam surga-Mu dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka)


Ibu, rasanya saya sudah tidak sanggup menulis apa apa lagi saat ini, layaknya ibu yang tetap menulis diary ketika sedang berjuang melawan sakit.......
Hanya doa yang bisa kami sebagai anakmu bisa panjatkan kepada Allah SWT, agar ibu beristirahat dengan tenang untuk menghadap-Nya, mendapat tempat yang terindah di sisi-Nya, mendapatkan penerangan di alam-Nya, serta mendapat anugerah khusnul khotimah dari-Nya.... Aminn.........

We will always love you Mom.......


Bersama ibu tahun 2013
Nikahan Anis - Santi (28/3/2016)



Mei 2016 - zizi ngumpet 

9.09.2016
Posted by ngatmow

Rokok naik 50 ribu ? hemmm ......

Sudah seminggu ini saya menunggu dan wira wiri ke toko toko kembar macam Indongapret sama Alamat. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan hanya untuk "bola bali " mlirik harga rokok yang katanya mau naik sampai ke angka 50.00 rupiah per bungkusnya.

Weh ?
Yup. sudah sejak awal bulan lalu pemerintah mengeluarkan wacana bahwa harga rokok akan naik berkali kali lipat dan para perokok di negeri ini mau tidak mau harus segera melupakan harga per bungkus rokok di angka 13.000 - 15.000an. Sebetulnya sih tidak ada yang aneh di balik isu harga rokok yang melejit menjadi 50.000 rupiah perbungkus itu. paling hanya taktik pertempuran marketing yang biasa saja man...

Kalau menurut bang Puthut EA dalam tulisannya di mojok.co, kira kira alurnya begini:

Kaum antirokok membuat studi, di harga berapakah para perokok akan berhenti merokok? Didapatlah harga 50.000 perbungkus. Kemudian penelitian ini didesiminasikan ke beberapa situsweb abal-abal. Diperbesar dengan tim buzzer di dunia maya, plus segala gimmick nan kreatif.
Ketika mulai ramai, maka langkah selanjutnya, mereka melakukan placement di media-media besar yang seakan-akan berita. Taktik yang dipakai berupa tanggapan tokoh lewat teknik doorstop. Para tokoh diwawancara dengan pertanyaan:
‘Apa tanggapan Bapak/Ibu dengan usulan masyarakat bahwa harga rokok sebaiknya dinaikkan menjadi 50.000 perbungkus?’

Dasar elit politik di negeri pencitraan, bukannya bertanya balik untuk mengkritisi, kebanyakan dari mereka berkomentar mendukung naiknya harga rokok. Politikus-politikus macam begitulah yang banyak menjadi korban para pakar hoax dunia maya. Malu bertanya, ancur muka kemudian. Jawaban-jawaban itu kemudian dipelintir, ditambah dengan penguatan dari para opinion leaders yang sudah digalang sebelumnya. Jadi itu barang. Isunya terbungkus rapi. Siap dihadiahkan ke ‘leading sectors’ untuk diberi tanggapan. Para jubir di leading sectors ini bukan politikus. Mereka menjawab normatif. Jadilah isu yang semula berasal dari ‘kajian’, berubah menjadi ‘usulan’, bergeser menjadi ‘seakan-akan mau terjadi’, lalu matang dalam isu: ‘sudah pasti terjadi’.
Masuk itu barang.
Ngeri-ngeri sedap.
Elok tenan!

Isu makin legit karena para politikus prorokok juga ikut latah menanggapi. Menari di atas gendang yang dipukul lawan. Plus, perang netizen di dunia maya yang terus berkobar. Sepintas semua berjalan dengan sempurna. Isu yang ‘sudah pasti terjadi’ ini tinggal digiling di ‘mesin akhir tim’ yang sudah siap di Pemerintah.
Para kaum antirokok pasti tahu yang saya maksud…

Tapi ternyata isu dunia maya berikut pelintirannya berbalik cepat seketika. Pasalnya ada dua.
Pertama, bagi para intelektual tertentu, tahu persis bahwa harga rokok naik menjadi 50.000 perbungkus itu tidak akan bisa terjadi. Karena komponen cukai, yang menyebabkan harga rokok selalu naik, punya hukum, aturan, dan perhitungan tersendiri. Ketika para pakar ini mulai berkomentar, arus mulai berbalik.
Kedua, di dunia nyata, para pakar pemasaran dan ahli-ahli strategi pasar setiap pabrik dan toko-toko ritel justru senang dengan isu tersebut.
Fakta di lapangan, dalam kurang-lebih seminggu isu ini bergulir, toko-toko mulai merasakan dampaknya. Para pembeli rokok yang rata-rata membeli sebungkus, kini berubah menjadi dua bungkus. Permintaan pasar naik menjadi dua kali lipat.

Datanglah ke gerai-gerai minimarket, dan tanyalah ke para penjaga maka muka mereka penuh senyum.
“Tidak sekalian beli tiga, Pak. Mumpung harga rokok belum naik jadi 50.000 perbungkus, lho…” ucap mereka dengan muka manis sembari menyimpan sejenis senyum tipis, dan membatin,
“Bego banget orang ini, ganteng-ganteng mudah kena hoax…”
Mbak-mbak SPG yang semula lebih banyak tersenyum daripada menjelaskan soal rokok jualan mereka, mulai minggu kemarin mulai menutup penjelasan dengan kalimat,
“Mumpung harga rokok belum naik jadi 50.000 lho, Pak…” ujar mereka sambil tersenyum penuh kegelian kalau kemudian menyaksikan ada orang yang merasa panik dengan kalimat ancaman itu.

Afiliasi antara para jagoan marketing rokok di lapangan dengan para manajer toko inilah yang membuat rokok laku makin menggila. Isu di dunia maya yang seakan para antirokok menang, justru dipelintir orang-orang marketing pabrik rokok yang memang teruji matang di lapangan.
Arus berbalik dua kali lipat. Di kepala mereka, seolah ada doa:
“Semoga isu ini bertahan lama… Laris. Laris. Laris, beib!”
Jauh hari sebelum para pakar hoax menjadi profesi, orang-orang marketing pabrik rokok ini sudah diuji dengan perang dagang sesungguhnya, menguasai toko demi toko, kampung demi kampung. Ukuran karier mereka jelas. Tidak ada istilah suka atau tidak suka. Tidak ada tempat bagi orang yang lebih suka bicara dibanding bekerja.

Semua berhenti di satu kata: Omzet.

Mereka sejak dulu sudah terlatih menangani isu-isu. “Rokok Marlboro itu bukan dari tembakau, tapi dari kertas. Kalau tidak percaya, rendamlah sebatang rokok Marlboro di dalam gelas. Nanti dia akan berubah menjadi kertas.”
Bagi orang yang mendalami dunia rokok, ini sangat menggelikan. Rokok putih memakai jenis tembakau virginia. Karakter tembakau virginia memang mirip kertas. Apalagi kalau basah. Sudah pasti mirip kertas.
Mereka, para jagoan marketing pabrik rokok, sudah biasa anjlok bersama isu. Djarum pernah diterpa isu: ‘Demi Jesus Aku Rela Untuk Mati’. Omzet langsung jatuh. Tapi kemudian mereka bisa bangkit lagi.

Contoh lain. Salah satu produk Gudang Garam yang semula tumbuh, tiba-tiba ambruk. Gudang Garam tahu persis kalau salah satu kelemahan rokok saat itu adalah mudah patah. Mereka kemudian menciptakan produk yang dibuat sedemikian rupa sehingga tidak bisa patah. Produk premium itu langsung laris di pasar.
Tapi terhenti tiba-tiba hanya karena satu isu: “Tidak bisa patah karena ada plastiknya.” Begitu isu itu beredar, produk itu langsung wasalam.
Bayangkan, orang-orang macam ini, yang sudah biasa tiap tahun kena isu ‘rokok mengandung babi’, bertarung siang malam dengan para kompetitor, mendapati hoax ‘harga rokok naik menjadi 50.000 perbungkus’, hati mereka bukannya sedih malah merasa riang gembira.
Isu itu diambil alih oleh mereka. Isu yang mestinya bakal bikin orang tidak lagi merokok malah membuat perokok mengonsumsi rokok dua kali lipat. Bajilak, bukan?

Hal seperti inilah yang membuat para aktivis antirokok selalu kemut-kemut. Pusing.
Sebagian dari mereka memang lulusan dari ilmu komunikasi, tapi mereka gagap berkomunikasi dengan masyarakat, dan gagal memahami logika masyarakat. Sebagian dari mereka lagi adalah para wartawan yang gagal membangun karier kewartawanan mereka. Kalau membangun karier saja gagal, apalagi membangun rumahtangga? Eh, membangun isu, maksud saya.
Sebagian dari mereka yang lain adalah para dokter, tapi sudah lama mereka tidak praktek. Soalnya lebih enak makan uang perdiem daripada uang layanan kesehatan dari pasien. Sudah lupa caranya menyuntik, karena lebih mudah disuntik program dari funding.


*Sumber tulisan asli bang Puthut EA dalam tulisannya di mojok.co

Dieng Culture Festival VII : Sekelumit cerita behind the scene

Tanggal 5,6 dan 7 Agustus kemaren Dieng dipadati oleh ribuan manusia yang datang entah dari mana asalnya. Tujuannya sama. Ingin merasakan euforia Dieng Culture Festival ke 7 yang sudah digaungkan oleh media media massa nasional berbulan bulan sebelumnya.

Yes, Dieng Culture Festival atau yang biasa disingkat sebagai DCF ini memang sebuah agenda rutin prosesi ruwatan (penyucian) rambut gembel yang digelar oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat setiap tahun. Tentu saja dengan beragam modifikasi acara (seperti Pesta lampion, Jazz atas awan, sunrise di Sikunir dan Pangonan, dan sebagainya), mendatangkan bintang tamu dari ibu kota dan berbagai hal menarik lainnya yang bagi sebagian orang sangat sayang untuk dilewatkan.

Seperti juga tahun ini, pihak penyelenggara memberikan banyak sentuhan seni modern (dengan bekerjasama bersama mahasiswa ISI) dan mengundang tokoh populer seperti Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Cak Nun dan penyanyi kondang, Anji. Dan pastinya hal itu menjadi satu daya tarik yang luar biasa bagi pengunjung untuk rela merogoh koceknya lumayan dalam demi mendapatkan selembar tiket masuk ke arena konser jazz, lampion dan ritual potong rambut gembel.

Meskipun saya hanya pada hari terakhir alias hanya pada hari Minggu tanggal 7 Agustus 2016 saja berada di Dieng, namun ada beberapa hal yang sangat membuat saya merasa bahwa ada yang berbeda pada pelaksanaan DCF tahun ini dengan tahun tahun lainnya. Beberapa hal yang berbeda adalah jumlah pengunjung yang lebih padat antara tahun ini dengan tahun sebelumnya, kemacetan yang semakin parah, penataan lokasi tiap bagian event yang tertata rapi, lokasi Camping Ground yang semakin banyak, juga tarif parkir yang mencapai angka Rp. 10.000 ,-

What the hell that !!!!

Sepuluh ribu cuman buat bayar parkir ? F*#k that........
Itu perbuatan yang sangat tidak terpuji kisanak..... memanfaatkan momen seperti ini hanya untuk mencari keuntungan sementara. Bayangkan saja apabila tahun depan pengunjung datang ke Dieng dengan berjalan kaki...... mau cari uang dari mana kalian ? parkir kaki ???

Oke, lupakan sejenak soal itu...... kembali ke jalannya DCF, setelah saya masuk lokasi dan bertemu dengan beberapa orang kawan, ternyata apa yang alami soal parkir kendaraan itu belum apa apa. Banyak terjadi hal lain yang lebih parah dan tentu aja memalukan. Misalnya ada petugas penarik bea kebersihan untuk tiap tenda di Camping Ground pada jam 2 malam...... Jam 2 malam men......... Gila apa......... besarannya 25.000 per tenda, tapi paginya bahkan sampai siang harinya lokasi itu ga ada bersih bersihnya sama sekali. Dan itu belum termasuk dari biaya sebesar Rp. 175.000,- untuk setiap kaplingan dum alias tenda yang sudah harus dipesan jauh jauh hari sebelumnya. Kan Fak namanya.......

Tapi ada yang menarik pada perhelatan DCF  yang ke 7 ini, pada setiap pintu masuk event ada penjaga gawang eh palang yang cukup tegas. Para penjaga ini terdiri dari gabungan petugas keamanan dari pihak panitia bekerjasama dengan Satuan Polisi pamong Praja Kabupaten Banjarnegara. Saking tegasnya, mereka sampai menolak, bahkan berani beradu mulut  dengan beberapa orang yang mengaku sebagai korps baju coklat (you know who lah ) yang hanya membawa satu kartu tiket masuk. Salut..........

By the way, ada satu moment yang tidak terduga dan tidak akan terlupakan bagi saya pribadi pada DCF kali ini yaitu secara tidak sengaja bertemu dengan tokoh tokoh fotografi yang selama ini saya kagumi meskipun hanya lewat internet, media sosial dan hasil browsing di internat saja, sebuah kehormatan dan kebanggaan besar bagi saya bisa berbagi waktu untuk mengobrol sambil menunggu ritual larung rambut gembel di telaga warna bersama seorang koordinator juri Salon foto 2016 kategori cetak warna Om Rasmono Sudarjo, om tukang dolan Tan Kiki, om makrodin Ronny Santoso , bang juwara Fadkus, Om eh bli Nyoman Butur Suantara, dan guru motret saya pak Agus Nonot. Hanya 3 jam namun cerita tentang pengalaman mereka membuat saya dan Bhakti seperti merasa bahwa waktu sesebentar itu seolah sudah memberi kami sebuah pengalaman fotografi yang luar biasa. Kurang dan tidak cukup tentu saja........


Diluar itu semua, ada sedikit unek unek yang pingin saya tulis disini dan semoga ada panitia tahunan DCF yang sempat untuk membacanya. Ada sedikit usul dari saya pribadi utnuk menambah panggung tempat memotret untuk wartawan di acara jamasan dan potong rambut. Sebab dua panggung dengan luas yang hanya beberapa meter seperti kemarin masih sangat kurang. banyak rekan wartawan yang tidak kebagian tempat di atas (panggung) karena di tempat yang seharusnya untuk mereka sudah ditempati orang lain. Dan untuk mengatasinya mungkin perlu ditempatkan personel keamanan khusus yang bertugas mengecek kartu identitas setiap orang yang hendak naik kesana.

Selain itu perlu diterapkan aturan bahwa tongsis dan tripot SANGAT DIHARAMKAN berada di barisan depan pengunjung. Sebab hanya alayers dan mereka yang tidak peduli lingkunganlah yang akan menggunakannya di depan barisan tanpa memperhatikan belakangnya yang tentu saja mengambil foto juga. Kalau perlu tindak tegas dan usir dari barisan. Biar tahu rasa......

Kenapa kedua hal itu menurut saya penting? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena bagaimanapun "besarnya" DCF adalah karena pemberitaan media dan foto foto di media sosial masyarakat. apabila foto yang dihasilkan bagus dan menarik juga tanpa cacat, maka hal tersebut akan menjadi viral dan masyarakat umum akan menjadi penasaran. Imbasnya adalah meningkatnya jumlah pengunjung pada pelaksanaan DCF di tahun tahun berikutnya.
Selain itu hal tersebut juga akan sangat membantu tugas teman teman wartawan sehingga mereka tidak lagi menggerutu (meminjam kalimat mas Anis Efizudin)
" nek ngene iki aku yo ra biso kerjoooo....... "

" Welcome to the Republic of Tongsis " by 

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow