Melepas Rindu Di Gunung Prau

Hihihi.....judulnya kayak judul sinetron di tivi-tivi swasta yang jam tayangnya diluar akal manusia itu ya....
Tapi bener kok, suer...... beberapa waktu yang lalu memang saya habis melepas rindu yang sekian lama terpendam sampai begitu dalam. Bukan kepada siapa siapa, melainkan kepada hobi lama saya semasa masih bocah dan belum se bulat sekarang ini. Naik Gunung.....

Kali ini saya memacu si Mbah Star tidak terlalu jauh dari kota tercinta Banjarnegara. Tapi jalur tempuhnya bisa dikatakan luar biasa. Kenapa? sebab kali ini tujuan utamanya adalah Gunung Prau,  di dataran tinggi Dieng yang tracknya naik turun dan penuh dengan tanjakan yang memaksa saya meng-gas pol kan si Mbah dengan sepol pol nya.....hehehe....

Penampakan Gunung Sindoro, Sumbing, Merapi dan Merbabu

Yup, Gunung Prau. Berada di koordinat 7°11′13″LU 109°55′22″BT gunung ini berada tepat di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Memang sih gunung ini tidak begitu dikenal di kalangan para pendaki dan pecinta alam seperti gunung - gunung yang ada di sekitarnya yaitu  Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Karena disamping hanya memiliki ketinggian 2.565 MDPL (sehingga bisa dikatakan sebagai gunung pendek) juga karena bentuknya yang memanjang sehingga oleh sebagian pendaki "senior" disebut kurang menantang (memang gunung ini merupakan salah satu gunung dengan puncak terluas di Indonesia)
Tapi, tunggu dulu...... dibalik semua itu, Gunung Prau memiliki pesona dan keelokan yang tidak kalah bila dibandingkan dengan yang lainnya. Keindahan alam yang ditawarkan disana sangat luar biasa. Hamparan awan membentang dengan diselingi puncak beberapa gunung besar yang ada di Jawa Tengah menyatu dengan tekstur alam yang mempesona menunjukkan betapa hebatnya karya Sang Pencipta. Jika sedang beruntung, birunya langit dan hamparan permadani nan indah bisa kita nikmati sambil minum kopi panas untuk mengusir hawa dingin yang menusuk tulang..... sungguh sesuatu yang tidak bisa terkatakan dengan kalimat seperti apapun.

Oke, perjalanan dimulai dari Alun-alun Banjarnegara. saya dan rombongan menempuh setidaknya 2,5 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor menuju desa Patakbanteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. (itu sudah termasuk istirahat ngopi, tambal ban, dan mampir SPBU untuk ke kamar mandi hehe...).  Dengan melalui banyak rintangan dan halangan, pada malam harinya kami sampai di posko pendakian yang ternyata merupakan salah satu ruangan balai desa Patakbanteng yang dikondisikan sebagai posko pendaftaran.

Rute pendakian Gn. Prau (Sumber : Mbah Google)


Ternyata menurut data petugas posko, malam itu ada 300 orang lebih yang telah tercatat melakukan pendakian hanya dari jalur itu saja (padahal ada 3 jalur pendakian ke puncak gunung prau lho). Sebuah hal yang sangat tidak terduga mengingat bahwa pada awalnya saya menganggap bahwa gunung ini kurang begitu populer dan paling hanya beberapa orang saja yang naik ke atas sana.
But it's okay.....it's not a problem.....and i think i'ts be a cool

Jam tangan menunjukkan jam 10 malam ketika kami mulai berjalan. Awalnya kami menyusuri jalan setapak sejauh kurang lebih 800 meter di tengah pemukiman penduduk hingga menuju ke areal perkebunan kentang di ujung desa.
Sampai di ujung jalan setapak ini kami bertemu dengan pos pemeriksaan terakhir sebelum memasuki "rute yang sesungguhnya". Rute ini adalah jalan setapak menyisir perkebunan kentang dan cabai setan milik warga (dikatakan demikian karena cabai jenis ini punya kepedasan yang luar biasa) dimana kemiringannya sudah mulai menyiksa kaki. Tapi itu belum seberapa, hanya beberapa menit berselang, kemiringan tanah akan semakin menjadi. Yaitu ketika jalan sudah memasuki area hutan pinus. Dari sini perjalanan sudah mulai amat sangat lambat apalagi mengingat berat badan saya yang sudah bertambah 20 kilo semenjak pendakian terakhir saya ke Gunung Ungaran hampir sepuluh tahun yang lalu.....
saya pun akhirnya ditinggalkan rombongan.....
berjalan hanya bersama seorang, Bonjes, kawan selangkah demi selangkah berusaha mengejar rombongan lain yang sudah naik duluan.

courtesy : Indro Brekele, thanks bro....
Setelah melewati barisan pepohonan pinus yang tinggi menjulang, hamparan rumput pun menjelang. Disitu kami berdua bertemu dengan beberapa orang anggota rombongan yang sengaja menunggu kami karena khawatir terjadi sesuatu. Budi, Indro, mas Syarif dan mas Roso setia menunggu kami hampir satu jam lamanya dengan perasaan cemas, padahal saya dan Bonjes sendiri berjalan dengan santai dan bahkan sempat tidur di tengah perjalanan......hehe.....
Jalan yang semakin terjal dan dengan diselingi bebatuan besar dan jalan yang semakin licin, berhasil dilewati dengan sukses. Sampai akhirnya kami disambut oleh padang rumput mendatar yang sangat luas. Dari situ terlihat hamparan permadani hitam penuh kerlap kerlip lampu berkumpul di beberapa tempat yang sangat indah. Hamparan rumput terakhir inilah yang seolah mengajak kami untuk berlari menggunakan sisa tenaga menuju ke camp area dimana sudah berdiri puluhan tenda disana.

Kami sampai di puncak.........

Dalam hitungan menit, dum pun berdiri. Beberapa orang kawan yang tiba bersama saya langsung menempatkan dirinya di posisi masing-masing. Tidur. sedangkan sisanya termasuk saya membuat perapian kecil untuk mengusir hawa dingin yang semakin lama semakin menusuk dan seperti ingin membekukan setiap ujung jari.  Bahkan saking dinginnya secangkir kopi panas yang baru saja saya seduhpun dalam hitungan menit akan hilang panasnya, berubah menjadi dingin sedingin es kopi kesukaan saya di warung deket kantor.....amazing....

Sambil duduk dan menikmati secangkir kopi dingin, pandangan saya berputar, menatap luasnya ciptaan Tuhan. Keindahan yang tidak terkatakan dan kebesaran yang tiada bandingan.
Sungguh perasaan yang luar biasa. Puas, lemas, haru, bangga dan bahagia bercampur menjadi satu.
Rasa yang sudah sangat lama tidak saya rasakan.
Saya jadi teringat sebuah pepatah lama ketika saya masih aktif di pecinta alam,

"naik gunung bukanlah perkara menaklukkan gunung yang kita daki melainkan persoalan menaklukkan diri kita sendiri ......"

Dan akhirnya surga itupun terbentang sangat jelas ketika matahari sudah menunjukkan dirinya.  hamparan padang bunga chrysant yang cantik, pemandangan bukit Teletubbies (disebut demikian karena kontur permukaannya yang berbukit persis sama dengan apa yang digambarkan di film anak-anak tersebut) yang menawan dan megahnya Sindoro dan Sumbing terpampang jelas di depan mata.

Inilah surga.....
surga yang luar biasa ini ada di dekat kita.....
dan Yang Maha Besar lah yang bisa menciptakannya....... 
dan kita wajib untuk menjaganya
sepanjang hayat ada di dalam raga.....


Camp Area di Puncak Gn. Prau, arah menghadap ke timur


Puncak teletubbies


Dataran tinggi Dieng dari Puncak Gn. Prau berlatar belakang Gn. Slamet
5.28.2014
Posted by ngatmow

in memoriam, om krus haryanto

innalillahi wa inna ilaihi roji'un....

Telah berpulang ke rahmatullah, Guru, mentor dan Sahabat, Om Krus Haryanto pada hari Minggu 18 mei 2014 jam 14.50 karena sakit di rumah sakit Dharmais, Jakarta. Jenazah dimakamkan di peristirahatan terakhirnya di pemakaman umum KaliMulya 1, Pondok Rajek Depok, Tanggal 19 Mei 2014 pukul 10:00 WIB.

Sebuah berita yang cukup menonjok dan sangat mengagetkan bagi saya. Saking tidak percayanya, sampai harus berulang kali mencari kebenarannya lewat timeline twitter dan medi sosial lainnya, hingga menemukan kepastian berita tersebut.

Dan tidak terasa air mata menetes di pipi ini dengan diiringi rasa pedih yang sangat dalam di relung hati. 
Walaupun tidak lama mengenal beliau, kurang lebih sejak pertengahan tahun 2011, banyak sekali pelajaran yang kemudian  diberikanya menjadi ilmu bagi saya. Baik ilmu tentang komposisi, fotografi, ilmu tentang hidup, ilmu tentang hubungan antar manusia, ilmu mengontrol emosi dari hati....

"ingat om ngatmow, kita ketika akan memotret jangan sampai terbawa pada nafsu, tapi gunakanlah hati untuk itu...."

Satu hal yang paling saya kagumi dari om Krus yang pernah menjabat sebagai Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) kedua (periode tahun 2001 - 2004 ini adalah beliau tidak pernah sedikitpun merasa sebagai senior dalam dunia fotografi. Dengan entengnya beliau berbagi pengalaman (karena beliau tidak pernah mau disebut sedang mengajari) berfoto kepada saya (dan juga teman-teman lainnya) bagaimana memproduksi sebuah foto yang bagus dan bercerita. Beliau juga tidak pernah segan untuk bercanda tanpa ada rasa sungkan sehingga bila sedang bersamanya suasana akan terasa hidup, dan tidak hambar.

Pernah suatu ketika di awal tahun 2012 saya mendapati sebuah pesan di account facebook dari beliau. Isinya antara lain adalah mengkritik salah satu foto saya dengan bahasa yang mudah di cerna oleh orang awam seperti saya ini.

" mas, saya kok merasa kurang sreg dengan foto mas ngatmow yang itu ya. apa mungkin karena bla bla bla......"
" sedikit saran, mungkin mas ngatmow perlu begini begini....."
" kalau masih penasaran kirim saja pertanyaan lewat pesan fb saya biar lebih enak ngobrolnya...."

Rasanya tidak percaya memang bahwa pesan itu berasal dari seorang senior seperti om krus, awalnya saya sangat canggung dan minder namun karena pembawaannya yang mudah akrab, dan humoris, tidak butuh waktu lama bagi kami untuk akrab dan pada akhirnya sering berkirim pesan dan ngobrol di dunia maya.

Pernah juga saya pertanyakan salah satu hasil karya beliau yang menampilkan kecoa dan ada sebuah kalimat di pengantarnya, ...."yang jijik kecoa bukan temanku, hehehe.... "
Tak disangka Jawaban beliau sungguh membuat saya ikut tersenyum.....
" kecoa itu makhluk Tuhan yang hebat. Kenapa harus jijik, dia tidak pernah mandi saja selalu kelihatan bersih bersinar kan ? apa yang perlu dijijikkan sih ? "
" em....bersih sih bersih, tapi kan gimana gitu om...."
" lha sekarang saya tak tanya om, mau ngga kaya kecoa ? nggak pernah mandi tapi cakep terus lho....hehehe "

Dalam dunia fotografi, beliau jugalah yang sangat berpengaruh pada alur dan garis jepretan saya. Banyak nasehat yang sampai saat ini masih saya gunakan sebagai "jalan cahaya". Dan beliau pulalah yang mengarahkan saya untuk mendalami foto buta warna alias hitam putih... 

"masa yang dijepret makanan terus mas, nanti tambah bulat lho itu badannya hehehe, sebenarnya kalau saya lihat mas Ngatmow ini bagus juga kalau memotret objek manusia kok. apalagi dibuat buta warna. Hanya saja nanti kalau ada beberapa hal yang perlu diingat, bla....bla...bla.... "
(panggilan mas ini kemudian berubah menjadi om ketika kami sudah sering chat dan semakin akrab)

Banyak juga ilmu beliau yang di-share kepada kawan-kawan dalam grup Fotografi Kamera Ponsel (KoFiPon) dalam bentuk tulisan, dokumen, diskusi dan foto-foto hasil jepretan ponsel Nokia E72 kesayangannya. Dan tanpa memandang sebelah mata, beliau jugalah yang menyemangati grup ini untuk terus berjuang untuk berkibar. Terus berkarya foto dengan peralatan yang minimal namun dengan hasil yang maksimal.

Buat saya ini fenomena baru yang harus disambut positif oleh siapapun, termasuk kalangan fotografer profesional. Bayangkan, dengan adanya smartphone, kesadaran masyarakat tentang bermedia-foto 'naik seribu persen'. Lengkap pula dengan segala penajaman aspek di dalamnya. Ada yang antusias menjadi bagian dari jurnalisme publik, ada yg suka berekspresi dengan obyek simbol2 dan fine art, atau yang sekadar suka membuat dokumentasi dan foto-foto narsistis.
Bahwa, para newbie itu belum menguasai teori, atau baru setengah matang, itu wajar saja. Namanya juga hobiis. Saya pribadi memilih bersikap wellcome, mengapresiasi karya-karya dari "orang-orang yang masih segar", dan menjadikan mereka teman-teman baru berfotografi. Menilai mereka dengan ukuran ideal rasanya kurang fair, kawan. Mereka tidak lebih sebuah fenomena positif di era digital dan sosial media. Mereka tidak menghianati idealisme kekaryaan, atau mengancam kemajuan fotografi Indonesia. Sebaliknya, mereka juga kekayaan dunia fotografi. (Btw, Ini terjadi juga di dunia musik. Bahkan, banyak orang bilang kualitas musik indie lebih bagus dari produk mainstream. Jadi, bagus juga fenomena foto hobiis ini dijadikan dorongan semangat berkarya fotografer pro)" .......#‎krusharyanto‬ dalam sebuah diskusi kecil kami dan beberapa orang lainnya di sebuah forum fotografi .


selamat jalan om @krusharyanto semoga mendapatkan tempat terindah di surga -Nya.....amin
#KoFiPonberduka

Copyright @ Hidayat Syah Alam


Copyright @ Dewi Nurcahyani

Berikut beberapa link galeri beliau di dunia maya, monggo di kunjungi :
  1. DeBete' Galeri Foto Ponsel
  2. Pixoto.com






5.21.2014
Posted by ngatmow

Zizi sudah 4 tahun

" Ayah sekarang kan zizi sudah 4 tahun, kan sudah nggak boleh ngompol lagi kan yah .... ? "

Begitu kalimat yang dilontarkan Zizi kemarin sore ketika saya pulang ke rumah.
Yup, tanggal 28 April 2014, Zizi genap berumur 4 tahun.

Banyak sekali perkembangan yang terjadi padanya. Mulai dari semakin ceriwis, semakin kritis, semakin narsis, semakin jago nangis.... hehe....untuk yang terakhir sekarang dia sudah semakin sadar bahwa kalau dia nangis maka orang-orang yang ada di dekatnya akan luluh (berlaku buat bundanya, om dan tantenya, dan terutama kakek neneknya, tapi jarang berlaku untuk ayahnya hehehe....)


Alhamdulillah, selama 4 tahun ini saya dan bundanya, sedikit banyak bisa mencukupi semua kebutuhannya. Kebutuhan sekolah, sandang, pangan, serta kebutuhan lain yang dibutuhkannya dalam masa pertumbuhan.

Namun kami juga sadar bahwa ada satu hal yang kami belum bisa mencukupinya. Waktu.

Waktu bersama Zizi kami akui masih sangat kurang sekali. Saya sebagai ayah terkadang hanya bisa bersamanya sore hari saja atau bahkan tidak bertemu sama sekali kalau pulang kantor sampai larut malam. Sedangkan bundanya karena jarak tempuh yang jauh antara rumah dengan tempat kerjanya maka mau tidak mau harus sampai di rumah lagi sore hari. Dan efektif bersama Zizi hanya beberapa saat sebelum ketiduran di depan tv karena kondisi badan yang sudah terlalu lelah.

Huft....Sudahlah, tidak usah dibahas lagi karena hanya akan membuat pening kepala ini. Yang jelas kami selalu berusaha untuk bisa mengoptimalkan setiap detik waktu kami bersama Zizi sebaik baiknya dengan apa yang kami punya, kami bisa berikan dan kami ingin ajarkan demi kebaikan keluarga kecil kami saat ini dan masa depan Zizi tentunya.

Terakhir, di ulang tahun Zizi yang ke 4 ini tidak lupa kami mohonkan kepada Allah SWT supaya Zizi selalu dalam lindungan-Nya, selalu diberikan kesehatan, kecerdasan, kesempurnaan, selalu bisa menjadi seseorang yang bermanfaat dan bisa dibanggakan keluarga, agama, bangsa dan negara, serta kelak menjadi seseorang yang bisa mengangkat harkat dan martabat trah kami, Al Azis clan.... Amin....


4.29.2014
Posted by ngatmow
Tag :

DiegoKoi : bukan fotografer, tapi pelukis ajaib

Mencengangkan.....
itulah apa yang bisa dihasilkan oleh tangan "emas" Diego Fazio. Diego Fazio adalah seniman otodidak dari Italia berusia 24 tahun yang juga seorang mantan pembuat tatto. Dalam dunianya, dia lebih dikenal sebagai DiegoKoi.

DiegoKoi menggambar dengan hasil menakjubkan hanya dengan menggunakan pensil dan kertas. Karyanya begitu detail yang sekilas hampir mustahil untuk menentukan bahwa gambar-gambarnya itu digambar hanya menggunakan tangan. Sumpah sangat istimewa.

Langsung saja simak hasil karyanya berikut ini.....ingat sekali lagi bahwa ini bukan foto tapi asli lukisan tangan.....




Lanjut ke yang lebih mengagumkan lagi ya.....




Lanjut.......







Kaya gak mungkin kan ? Okeh sekarang saya kasih buktinya....check this out ....
Prosesnya:






Prosesnya:







Bagaimana sih tampang si Koi ini ?



Pengen tau lebih lanjut tentang DiegoKoi ?
  1. Deviantart
  2. Facebook
  3. situs pribadinya


Sumber : Kaskus
4.26.2014
Posted by ngatmow
Tag :

Gumun sama mas pram........

Saya lagi gumun yang segumun gumunnya sama salah satu profesi yang katanya paling "menonjol" di negeri ini. Tidak usah disebutkan, tapi kita semua pasti sudah memahami profesi apa yang katanya melindungi dan melayani masyarakat....

Kenapa saya gumun ?
Begini ceritanya, beberapa minggu yang lalu adek ipar saya kecelakaan dan "kasusnya" ditangani oleh mas pram (sebut saja demikian) atau lebih lengkapnya mas pramuka hehehe........ mulai di TKP (Tempat Kejadian Pertabrakan hehehe.....) sampai pengamanan kendaraan di pos khusus kecelakaan angkutan darat.

Waktu itu, mas pramuka itu terlihat bersinar dan memancarkan aura hebat, bagaikan pahlawan yang sangat pantas dibanggakan oleh masyarakat sekitar. Dengan gagah berani dia mengatur dan mengolah lokasi tabrakan hingga ketertiban umum tetap terjaga dengan sempurna. Wajah garangnya menunjukkan sebuah ketegasan yang sangat layak diacungi banyak jempol.

Tapi itu dulu......beda hari, beda pula yang terjadi.....

Nah, baru kemarin (setelah selang 2 minggu dari kejadian) saya baru sempat mengurus perkara ini sampai pihak yang berwenang. Karena melibatkan 3 pihak, maka semuanya waktu itu sepakat untuk berembug dan menyelesaikannya secara kekeluargaan. Oleh karena itu kami sepakat untuk mengurus segala sesuatunya di pos khusus kecelakaan angkutan darat kota kami.

Pos ini sebenarnya berbentuk kantor dengan banyak ruangan dan tempat parkir yang cukup luas. Di ujung tempat parkir itu banyak tergeletak bangkai sepeda motor beraneka rupa. Hancur.....
Di setiap jendela, terpasang sticker besar dengan tulisan MAFIA HUKUM DILARANG MASUK dan di setiap pintu dipasangi tulisan besar ANTI KORUPSI.....
tapi kok perasaan saya jadi tidak enak setelah melihatnya lho. Atau mungkin karena di bagian dalam kantor yang beraura gelap itu banyak berdiri sosok-sosok menyeramkan dengan tampang sangar tapi mneyedihkan ya?
entahlah....saya sendiri tidak tahu itu......

Pada awalnya sih semua berjalan lancar. Dengan disaksikan oleh salah satu personel mas pramuka, acara kekeluargaan selesai dengan damai dan ditandai juga dengan penandatanganan surat kesepakatan bersama ketiga pihak yang berkepentingan. Perlu diketahui bahwa ketiga pihak ini terdiri dari saya, sebagai wakil keluarga dimana adik ipar merupakan korban terparah, Pak Haji (selaku wakil anaknya yaitu orang yang menyerempet adik saya) dan mas Saudi yang merupakan pengemudi sekaligus pemilik truk yang pada akhirnya bertabrakan face to face dengan adik saya.

Ada satu keanehan setelah proses penandatanganan. saya disuruh keluar oleh mas pramuka dari ruangan musyawarah tersebut setelah sebelumnya disuruh membayar sejumlah uang yang katanya sebagai biaya administrasi untuk mengeluarkan kendaraan yang masih ditahan di pos khusus kecelakaan angkutan darat.

Pada awalnya saya bingung, namun belakangan saya baru ngeh kalau itu adalah sebuah trik saja yang diterapkan mas pramuka yang bernama Anton pada waktu itu. Setelah saya keluar, dua pihak yang lain ternyata masih diajak "rembugan" secara intensif oleh yang bersangkutan. Pak Haji yang anaknya pada saat kejadian adalah "pihak paling salah" (lha wong naik sepeda motor tanpa SIM, STNK, jalannya ragu-ragu alias zigzag dan langsung kabur setelah kejadian), tentu saja panik luar biasa. Mas pramuka terus mencecar keduanya dengan berbagai pertanyaan yang menjebak dan seolah memojokkan mereka. Bahkan dengan sedikit bumbu ancaman pidana dan penjara.

Dan apa yang sudah diperkirakan sebelumnya, dengan alasan untuk menyelesaikan proses hukumnya yang sudah terlanjur masuk berkas (walau entah apapun itu maksudnya), Pak Haji dimintai uang sejumlah satu juta rupiah sedangkan mas Saudi satu setengah juta.

Busyet....
Sudah jatuh tertimpa tangga

mungkin itu yang tepat buat Pak Haji dan mas Saudi. Mereka yang sebelumnya sudah sepakat untuk membantu biaya perawatan dan pengobatan adik saya dan juga masih harus memikirkan biaya perbaikan kendaraan masing-masing, ternyata masih harus diwajibkan (kalau bisa dibilang demikian) membayar sejumlah uang hanya demi "menutup berkas kasus" oleh mas pramuka yang katanya ikhlas berbakti melindungi dan melayani masyarakat.

Negeri apa ini ?
Selapar itukah pihak yang berwenangnya ?

Sungguh tidak bisa diterima akal pikiran saya yang awam ini. Manakala terjadi kecelakaan logikanya pasti pihak yang menjadi pelaku dan korban sedang menderita kesusahan dan tidak mempunyai niatan untuk berkecelakaan seperti yang telah terjadi. Kenapa kok ya ada yang tega "meres" sedemikian rupa seperti itu tanpa adanya toleransi blas.......... kecuali "korban" ini memiliki ikatan darah dengan "mas pramuka di pos itu".

Satu hal lagi yang menjadi pertanyaan saya adalah apa bener ada peraturan hukum yang memperbolehkan mas pramuka meminta sejumlah uang (bahkan sampai dengan 10 juta ke atas apabila terjadi kecelakaan yang menimbulkan kematian) kepada "korban kecelakaan itu" tanpa adanya toleransi sedikitpun ?
Sebagai informasi, di tempat yang sama saya bertemu dengan seorang supir bis yang  sudah tiga minggu berada di sana karena bis yang dikendarainya menabrak orang bunuh diri. Sialnya, pak sopir ini disamping harus memberikan santunan kepada korban senilai belasan juta juga harus membayar biaya hukum dan mencabut berkas sebesar belasan juta juga TANPA POTONGAN alias KORTINGAN sedikitpun. Padahal dari ceritanya kepada saya dari profesinya sebagai supir bus antar propinsi dari mana dia bisa dapatkan uang sebesar itu ? dan yang lebih tragis lagi dia hanya boleh pulang ke rumah setelah biaya tersebut dilunasi. Pertanyaannya lha kapan mencari uangnya kalau diaharus selalu ada di pos mas pramuka tersebut sepanjang hari ?

Entahlah......(lagi)
saya juga bukan orang pandai untuk urusan semacam itu.....yang jelas segala macam semboyan, motto, dan sebagainya adalah sangat mubadzir alias tidak berguna.

Melindungi dan Melayani ?

No....no.....no.....it's just a big bullshit.....
People know who you are....... just a bast*rd with great position and nice uniform........

Mohon maaf kalau setelah membaca tulisan ini ada pihak-pihak yang merasa tersindir, karena memang sesungguhnya untuk sedikit mencolek hati kita semua untuk lebih peduli sesama. Bukan hanya demi mengejar setoran yang sudah ditarget saja kepada atasan ataupun orang rumah, tapi juga mari kita sedikit membukakan pintu hati untuk menumbuhkan jiwa "manusia" lagi.......









4.23.2014
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow