Pasukan Jihad ?

Sore itu Thomas kelihatan rapi banget. Tidak seperti biasanya, wangi semerbak parfum khas cairan pelembut setrikaan pakaian yang menjadi andalannya hampir tiap hari, berganti dengan wangi parfum pria dengan merk ternama.

" Welah mau kemana ini mas ? tumben wangi ?" komentar salah seorang tetangga kosnya, Trimo, yang seorang makelar peralatan dapur spesialis dengan logat Jogjanya yang khas.

" Makan mas .... " jawab Thomas singkat.

Dan suasanapun hening.....

Segera Thomas bergerak perlahan menuju tempat makan favoritnya, warung Pak Tamyis di ujung gang sana.

Tidak butuh banyak waktu untuk sampai di tujuan, pemuda bertubuh bulat itu langsung dengan gayanya yang sok akrab dan sok iye duduk di kursi terdekat dengan meja pelayan. Maklum, disanalah Martini, anak gadis Pak Tamyis yang super manis itu, duduk manis sambil bermain handphone pintarnya.

Lha Thomas ?
dia termehek-mehek dengan sukses...dicueki, mana pesanan nggak cepet selesai..... klop


Setengah jam berlalu tanpa perubahan posisi, Thomas clingak clinguk sambil cengengesan dengerin suara jangkrik, Martini masih dengan ponsel layar dulit yang katanya pintar, Pak Tamyis yang masih saja menggoreng nasi pesenan yang sudah mulai beraroma sangat menggoda......ah sudahlah.....

Tiba-tiba masuk beberapa orang pemuda dengan pakaian yang menyerupai jubah berwarna serba putih dan mengenakan ikat kepala menyerupai surban. Mirip pasukan tempur di film film arabian.
Wajah mereka tampak tegang. Di baju Salah seorang diantara mereka terlihat noda berwarna merah yang nampak masih baru. Namun yang bersangkutan tampak tidak terluka. Darah orang lainkah ?

" Pesan apa mas-mas ?" tanya Pak Tamyis berusaha ramah
" Nasi goreng saja pak pedes semua ya..." jawab salah satu dari mereka tanpa menoleh ke asal suara.

Dari sudut pandang Thomas, mereka adalah sekumpulan pejuang jihad yang baru saja pulang dari perang Afganistan dengan membawa uang cukup banyak. Terbukti dari salah seorang dari mereka yang kemudian membagikan amplop ke masing-masing personel yang ada di situ.

" Ini untuk hari ini bro....besok seminggu lagi kita diajak sweeping lagi sama mereka. Lumayan kan.... " 
" Ternyata lumayan juga ya, kita cuman modal gertak doang dapet amplop segini " sahut yang lain.
" Yah namanya juga ormas bro, organisasi massa, ya intinya ya semakin banyak massa semakin bagus. Nggak peduli massa dari mana, orangnya kaya apa, yang penting banyak...... "
" Padahal mereka mengatas namakan agama yah.... "
" Hus, jangan disebut. Kita itu nggak usah ikut mikirin kaya gitu. Yang penting, kita dipanggil mereka ya siap berangkat...iya kan ?"
" Betul itu...... jaman sekarang ini mana ada orang yang semata mata hanya berjuang untuk agama bah, pasti ada motif lain dibelang itu. Duit... " sahut salah seorang dari mereka dengan logat khas Medan yang cukup kental.
" Sudah sudah nggak usah dibahas..... yang jelas kita sudah terima bayaran, habis ini kita pulang trus tidur. Sudah capek badanku, lagipula tanganku agak melepuh nih habis ngejitak kepala pak tua itu....." 
" Ah itu kan karena ulah kau sendiri don, kenapa kau mukul pak tua itu membabi buta. kasian juga sebenarnya "
" Kasian sih kasian, tapi kenapa kau juga ikut mukul fred ? "
" kan aku setia kawan sama kau, aku khawatir kalau bapak tua itu balas pukul jadi aku menemani kau disitu" jawab si Medan dengan muka serius tapi malah justru terlihat bodoh....
" Ah alesan..... "
" Hahahha......" Derai tawa pun pecah menghapus kesan seram dan tegang di wajah mereka berlima.

" Eh jack, kau ganti baju dulu itu, kalau keliatan orang nanti bagaimana. Merah semua baju kau itu " kata si Medan seraya menunjuk noda merah di baju temannya yang duduk di pojok.
 " Sebentar bro, aku lagi sms anak-anak, katanya mereka sudah kumpul di markas. habis ini pada mau narik keamanan di Taman Pas. jam segini lagi rame-ramenya nih disana...." jawabnya sambil mengutak atik handphone.
Sejenak kemudian pemuda berkulit putih itu berdiri. Tanpa terlihat canggung dia membuka jubah dan surbannya,kemudian menggantinya dengan t-shirt berwarna hitam dan jaket kulit warna hitam yang sudah mulai belel. Sekilas Thomas sempat melihat tato yang menghiasi dada dan punggung orang itu. Sangar.

" Pesanan sudah siap..... ini silahkan pesanannya....." Kata Pak Tamyis tiba-tiba sambil membawa pesanan orang-orang itu. " Maaf mau pesan minum apa ya ?"
" Es bir....... " jawab si Medan cepat
" Maaf mas, tidak ada es bir. Adanya teh, kopi, susu, jus buah, minuman soda..... "
" yang soda saja bang. tak pakai lama ...."
" segera......."

Thomas yang sedari tadi memasang telinga dan sesekali mencuri pandang untuk memperhatikan wajah kelima orang itu jadi semakin penasaran. Dia merasa aneh bahwa ada beberapa orang yang mengenakan jubah khas ormas yang katanya Front Pembela Agama Tertentu (FPAT) itu justru melakukan beberapa hal yang menurutnya sangat tidak pas dan tidak pantas. Namun hal yang lebih membuatnya penasaran adalah mengapa pesanannya belum juga jadi sementara pesanan orang lain sudah siap....

Dia kemudian berdiri dan beranjak mendekati Pak Tamyis yang sedang membersihkan penggorengan dengan air panas. Pandangan matanya kosong, sekosong isi perutnya yang bulat.

" Pak, pesenanku mana ? " Tanyanya memelas
" Lho apa kamu dah pesan, seingatku belum kok......" jawab pria setengah baya berkumis tipis itu cepat.
" Hah........ " dan Thomas pun pingsan........



*******

Mata Thomas terbuka saat sebuah tangan lembut mengusap pipinya, ada perasaan hangat, nyaman, tenteram dan damai menjalar ke sekujur tubuhnya. Seketika dia teringat bahwa beberapa saat yang lalu dia berada di warung Pak Tamyis. Dan kemudian dalam otaknya hanya muncul satu kata..... Martini.

Perlahan tapi pasti pemuda itu membuka matanya sembari menggerakkan tangan kanannya untuk memegang tangan lembut yang kini ada di dahinya.

" Astaghfirulloh ..... lepasin heh......ngapain kamu " bentaknya cepat sambil bergegas bangun

Apa yang didapatnya sungguh diluar dugaan. Tangan halus itu ternyata tangan Sophan. Adik angkatannya di kampus dulu yang memang tinggal tidak jauh dari komplek perumahan tempat Thomas tinggal. Asal tahu saja, Sophan adalah seorang mahasiswa "gemulai" dengan berat badan extra, berkulit putih bersih, bermata sipit, berambut lurus menjulang ke atas mirip landak dan lemah lebay tentu saja.....

" Lha mas Tom juga ngapain pingsan disini ? " balas Sophan balik bertanya
" Ya tapi bukan kamu dong yang bangunin aku..... aduh aku sudah kamu apain nih....." sahut Thomas cepat mengibaskan tangan ke pipi dan dahinya pertanda jijik.
" Aih mas Tom kok jahat gitu sama aku, aku kan jadi sedih ....."
" Tau ah gelap........ " jawab Thomas sambil berlari pergi.

Di ujung warung tampak Martini cekikikan sambil mengacungkan kedua jempolnya ke arah Sophan.

*******

Siaran film di sebuah saluran tv swasta itu tiba-tiba dipotong oleh berita sekilas. Thomas yang masih menahan lapar dan kesal hampir saja melempar remote yang ada di tangan kanannya. Tapi hal itu ia urungkan setelah melihat isi berita.

Dalam berita itu nampak beberapa orang berpakaian putih putih, bersurban, ada yang memakai topeng juga sedang mengacungkan kedua tangannya sambil meneriakkan nama Tuhan. Di kejauhan terlihat  beberapa orang dari mereka sedang melakukan aksi anarki dengan menghancurkan kaca gedung, melempar kursi meja dan apapun yang ada di hadapan mereka untuk kemudian samar-samar terlihat menyeret seseorang keluar rumah dan mereka pukuli ramai-ramai.


Thomas terhenyak. Apa yang diberitakan sungguh kejam. Hanya karena beberapa orang sedang melakukan ibadah di rumah (yang tentu saja berbeda dengan ibadah yang mereka lakukan), ada sekelompok orang yang bergerak untuk main hakim sendiri. Apakah itu benar secara agama ? Tentu saja tidak. Bahkan semua agama di dunia adalah selalu mengajarkan tentang perdamaian bukan permusuhan.

Dan alangkah terkejutnya dia ketika melihat beberapa orang yang terlihat memukuli seorang lelaki renta  tanpa ampun dan membabi buta, sangat jelas terlihat bahwa mereka tak lain dan tak bukan adalah pemuda pemuda yang dilihatnya di warung Pak Tamyis..... dan sesuai dugaanya, mereka bergabung dengan puluhan orang lainnya yang "berseragam" sama dengan tulisan FPAT di punggung dengan huruf besar dan tebal, ber"jihad" untuk menegakkan agama.

" Masyaalloh......astaghfirulloh......" gumam Thomas.

Pikirannya berkecamuk, apa yang akan terjadi pada negeri ini manakala agama dijadikan pembenaran atas segala hal. Justru karena orang orang seperti merekalah yang menjadikan nama agama menjadi rusak, menjadi dibenci dan bahkan dimusuhi. Padahal para kyai sudah berpesan berpuluh kali bahwa agama sangat menjunjung tinggi perdamaian, persahabatan dan juga peri kemanusiaan.......

Dan beberapa detik kemudian Thomas pun tumbang....... tinggal televisi flat 32 inch yang menontonnya tidur terlentang tanpa sopan.......
6.16.2014
Posted by ngatmow

Melepas Rindu Di Gunung Prau

Hihihi.....judulnya kayak judul sinetron di tivi-tivi swasta yang jam tayangnya diluar akal manusia itu ya....
Tapi bener kok, suer...... beberapa waktu yang lalu memang saya habis melepas rindu yang sekian lama terpendam sampai begitu dalam. Bukan kepada siapa siapa, melainkan kepada hobi lama saya semasa masih bocah dan belum se bulat sekarang ini. Naik Gunung.....

Kali ini saya memacu si Mbah Star tidak terlalu jauh dari kota tercinta Banjarnegara. Tapi jalur tempuhnya bisa dikatakan luar biasa. Kenapa? sebab kali ini tujuan utamanya adalah Gunung Prau,  di dataran tinggi Dieng yang tracknya naik turun dan penuh dengan tanjakan yang memaksa saya meng-gas pol kan si Mbah dengan sepol pol nya.....hehehe....

Penampakan Gunung Sindoro, Sumbing, Merapi dan Merbabu

Yup, Gunung Prau. Berada di koordinat 7°11′13″LU 109°55′22″BT gunung ini berada tepat di perbatasan Kabupaten Kendal dengan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Memang sih gunung ini tidak begitu dikenal di kalangan para pendaki dan pecinta alam seperti gunung - gunung yang ada di sekitarnya yaitu  Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Karena disamping hanya memiliki ketinggian 2.565 MDPL (sehingga bisa dikatakan sebagai gunung pendek) juga karena bentuknya yang memanjang sehingga oleh sebagian pendaki "senior" disebut kurang menantang (memang gunung ini merupakan salah satu gunung dengan puncak terluas di Indonesia)
Tapi, tunggu dulu...... dibalik semua itu, Gunung Prau memiliki pesona dan keelokan yang tidak kalah bila dibandingkan dengan yang lainnya. Keindahan alam yang ditawarkan disana sangat luar biasa. Hamparan awan membentang dengan diselingi puncak beberapa gunung besar yang ada di Jawa Tengah menyatu dengan tekstur alam yang mempesona menunjukkan betapa hebatnya karya Sang Pencipta. Jika sedang beruntung, birunya langit dan hamparan permadani nan indah bisa kita nikmati sambil minum kopi panas untuk mengusir hawa dingin yang menusuk tulang..... sungguh sesuatu yang tidak bisa terkatakan dengan kalimat seperti apapun.

Oke, perjalanan dimulai dari Alun-alun Banjarnegara. saya dan rombongan menempuh setidaknya 2,5 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor menuju desa Patakbanteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. (itu sudah termasuk istirahat ngopi, tambal ban, dan mampir SPBU untuk ke kamar mandi hehe...).  Dengan melalui banyak rintangan dan halangan, pada malam harinya kami sampai di posko pendakian yang ternyata merupakan salah satu ruangan balai desa Patakbanteng yang dikondisikan sebagai posko pendaftaran.

Rute pendakian Gn. Prau (Sumber : Mbah Google)


Ternyata menurut data petugas posko, malam itu ada 300 orang lebih yang telah tercatat melakukan pendakian hanya dari jalur itu saja (padahal ada 3 jalur pendakian ke puncak gunung prau lho). Sebuah hal yang sangat tidak terduga mengingat bahwa pada awalnya saya menganggap bahwa gunung ini kurang begitu populer dan paling hanya beberapa orang saja yang naik ke atas sana.
But it's okay.....it's not a problem.....and i think i'ts be a cool

Jam tangan menunjukkan jam 10 malam ketika kami mulai berjalan. Awalnya kami menyusuri jalan setapak sejauh kurang lebih 800 meter di tengah pemukiman penduduk hingga menuju ke areal perkebunan kentang di ujung desa.
Sampai di ujung jalan setapak ini kami bertemu dengan pos pemeriksaan terakhir sebelum memasuki "rute yang sesungguhnya". Rute ini adalah jalan setapak menyisir perkebunan kentang dan cabai setan milik warga (dikatakan demikian karena cabai jenis ini punya kepedasan yang luar biasa) dimana kemiringannya sudah mulai menyiksa kaki. Tapi itu belum seberapa, hanya beberapa menit berselang, kemiringan tanah akan semakin menjadi. Yaitu ketika jalan sudah memasuki area hutan pinus. Dari sini perjalanan sudah mulai amat sangat lambat apalagi mengingat berat badan saya yang sudah bertambah 20 kilo semenjak pendakian terakhir saya ke Gunung Ungaran hampir sepuluh tahun yang lalu.....
saya pun akhirnya ditinggalkan rombongan.....
berjalan hanya bersama seorang, Bonjes, kawan selangkah demi selangkah berusaha mengejar rombongan lain yang sudah naik duluan.

courtesy : Indro Brekele, thanks bro....
Setelah melewati barisan pepohonan pinus yang tinggi menjulang, hamparan rumput pun menjelang. Disitu kami berdua bertemu dengan beberapa orang anggota rombongan yang sengaja menunggu kami karena khawatir terjadi sesuatu. Budi, Indro, mas Syarif dan mas Roso setia menunggu kami hampir satu jam lamanya dengan perasaan cemas, padahal saya dan Bonjes sendiri berjalan dengan santai dan bahkan sempat tidur di tengah perjalanan......hehe.....
Jalan yang semakin terjal dan dengan diselingi bebatuan besar dan jalan yang semakin licin, berhasil dilewati dengan sukses. Sampai akhirnya kami disambut oleh padang rumput mendatar yang sangat luas. Dari situ terlihat hamparan permadani hitam penuh kerlap kerlip lampu berkumpul di beberapa tempat yang sangat indah. Hamparan rumput terakhir inilah yang seolah mengajak kami untuk berlari menggunakan sisa tenaga menuju ke camp area dimana sudah berdiri puluhan tenda disana.

Kami sampai di puncak.........

Dalam hitungan menit, dum pun berdiri. Beberapa orang kawan yang tiba bersama saya langsung menempatkan dirinya di posisi masing-masing. Tidur. sedangkan sisanya termasuk saya membuat perapian kecil untuk mengusir hawa dingin yang semakin lama semakin menusuk dan seperti ingin membekukan setiap ujung jari.  Bahkan saking dinginnya secangkir kopi panas yang baru saja saya seduhpun dalam hitungan menit akan hilang panasnya, berubah menjadi dingin sedingin es kopi kesukaan saya di warung deket kantor.....amazing....

Sambil duduk dan menikmati secangkir kopi dingin, pandangan saya berputar, menatap luasnya ciptaan Tuhan. Keindahan yang tidak terkatakan dan kebesaran yang tiada bandingan.
Sungguh perasaan yang luar biasa. Puas, lemas, haru, bangga dan bahagia bercampur menjadi satu.
Rasa yang sudah sangat lama tidak saya rasakan.
Saya jadi teringat sebuah pepatah lama ketika saya masih aktif di pecinta alam,

"naik gunung bukanlah perkara menaklukkan gunung yang kita daki melainkan persoalan menaklukkan diri kita sendiri ......"

Dan akhirnya surga itupun terbentang sangat jelas ketika matahari sudah menunjukkan dirinya.  hamparan padang bunga chrysant yang cantik, pemandangan bukit Teletubbies (disebut demikian karena kontur permukaannya yang berbukit persis sama dengan apa yang digambarkan di film anak-anak tersebut) yang menawan dan megahnya Sindoro dan Sumbing terpampang jelas di depan mata.

Inilah surga.....
surga yang luar biasa ini ada di dekat kita.....
dan Yang Maha Besar lah yang bisa menciptakannya....... 
dan kita wajib untuk menjaganya
sepanjang hayat ada di dalam raga.....


Camp Area di Puncak Gn. Prau, arah menghadap ke timur


Puncak teletubbies


Dataran tinggi Dieng dari Puncak Gn. Prau berlatar belakang Gn. Slamet
5.28.2014
Posted by ngatmow

in memoriam, om krus haryanto

innalillahi wa inna ilaihi roji'un....

Telah berpulang ke rahmatullah, Guru, mentor dan Sahabat, Om Krus Haryanto pada hari Minggu 18 mei 2014 jam 14.50 karena sakit di rumah sakit Dharmais, Jakarta. Jenazah dimakamkan di peristirahatan terakhirnya di pemakaman umum KaliMulya 1, Pondok Rajek Depok, Tanggal 19 Mei 2014 pukul 10:00 WIB.

Sebuah berita yang cukup menonjok dan sangat mengagetkan bagi saya. Saking tidak percayanya, sampai harus berulang kali mencari kebenarannya lewat timeline twitter dan medi sosial lainnya, hingga menemukan kepastian berita tersebut.

Dan tidak terasa air mata menetes di pipi ini dengan diiringi rasa pedih yang sangat dalam di relung hati. 
Walaupun tidak lama mengenal beliau, kurang lebih sejak pertengahan tahun 2011, banyak sekali pelajaran yang kemudian  diberikanya menjadi ilmu bagi saya. Baik ilmu tentang komposisi, fotografi, ilmu tentang hidup, ilmu tentang hubungan antar manusia, ilmu mengontrol emosi dari hati....

"ingat om ngatmow, kita ketika akan memotret jangan sampai terbawa pada nafsu, tapi gunakanlah hati untuk itu...."

Satu hal yang paling saya kagumi dari om Krus yang pernah menjabat sebagai Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) kedua (periode tahun 2001 - 2004 ini adalah beliau tidak pernah sedikitpun merasa sebagai senior dalam dunia fotografi. Dengan entengnya beliau berbagi pengalaman (karena beliau tidak pernah mau disebut sedang mengajari) berfoto kepada saya (dan juga teman-teman lainnya) bagaimana memproduksi sebuah foto yang bagus dan bercerita. Beliau juga tidak pernah segan untuk bercanda tanpa ada rasa sungkan sehingga bila sedang bersamanya suasana akan terasa hidup, dan tidak hambar.

Pernah suatu ketika di awal tahun 2012 saya mendapati sebuah pesan di account facebook dari beliau. Isinya antara lain adalah mengkritik salah satu foto saya dengan bahasa yang mudah di cerna oleh orang awam seperti saya ini.

" mas, saya kok merasa kurang sreg dengan foto mas ngatmow yang itu ya. apa mungkin karena bla bla bla......"
" sedikit saran, mungkin mas ngatmow perlu begini begini....."
" kalau masih penasaran kirim saja pertanyaan lewat pesan fb saya biar lebih enak ngobrolnya...."

Rasanya tidak percaya memang bahwa pesan itu berasal dari seorang senior seperti om krus, awalnya saya sangat canggung dan minder namun karena pembawaannya yang mudah akrab, dan humoris, tidak butuh waktu lama bagi kami untuk akrab dan pada akhirnya sering berkirim pesan dan ngobrol di dunia maya.

Pernah juga saya pertanyakan salah satu hasil karya beliau yang menampilkan kecoa dan ada sebuah kalimat di pengantarnya, ...."yang jijik kecoa bukan temanku, hehehe.... "
Tak disangka Jawaban beliau sungguh membuat saya ikut tersenyum.....
" kecoa itu makhluk Tuhan yang hebat. Kenapa harus jijik, dia tidak pernah mandi saja selalu kelihatan bersih bersinar kan ? apa yang perlu dijijikkan sih ? "
" em....bersih sih bersih, tapi kan gimana gitu om...."
" lha sekarang saya tak tanya om, mau ngga kaya kecoa ? nggak pernah mandi tapi cakep terus lho....hehehe "

Dalam dunia fotografi, beliau jugalah yang sangat berpengaruh pada alur dan garis jepretan saya. Banyak nasehat yang sampai saat ini masih saya gunakan sebagai "jalan cahaya". Dan beliau pulalah yang mengarahkan saya untuk mendalami foto buta warna alias hitam putih... 

"masa yang dijepret makanan terus mas, nanti tambah bulat lho itu badannya hehehe, sebenarnya kalau saya lihat mas Ngatmow ini bagus juga kalau memotret objek manusia kok. apalagi dibuat buta warna. Hanya saja nanti kalau ada beberapa hal yang perlu diingat, bla....bla...bla.... "
(panggilan mas ini kemudian berubah menjadi om ketika kami sudah sering chat dan semakin akrab)

Banyak juga ilmu beliau yang di-share kepada kawan-kawan dalam grup Fotografi Kamera Ponsel (KoFiPon) dalam bentuk tulisan, dokumen, diskusi dan foto-foto hasil jepretan ponsel Nokia E72 kesayangannya. Dan tanpa memandang sebelah mata, beliau jugalah yang menyemangati grup ini untuk terus berjuang untuk berkibar. Terus berkarya foto dengan peralatan yang minimal namun dengan hasil yang maksimal.

Buat saya ini fenomena baru yang harus disambut positif oleh siapapun, termasuk kalangan fotografer profesional. Bayangkan, dengan adanya smartphone, kesadaran masyarakat tentang bermedia-foto 'naik seribu persen'. Lengkap pula dengan segala penajaman aspek di dalamnya. Ada yang antusias menjadi bagian dari jurnalisme publik, ada yg suka berekspresi dengan obyek simbol2 dan fine art, atau yang sekadar suka membuat dokumentasi dan foto-foto narsistis.
Bahwa, para newbie itu belum menguasai teori, atau baru setengah matang, itu wajar saja. Namanya juga hobiis. Saya pribadi memilih bersikap wellcome, mengapresiasi karya-karya dari "orang-orang yang masih segar", dan menjadikan mereka teman-teman baru berfotografi. Menilai mereka dengan ukuran ideal rasanya kurang fair, kawan. Mereka tidak lebih sebuah fenomena positif di era digital dan sosial media. Mereka tidak menghianati idealisme kekaryaan, atau mengancam kemajuan fotografi Indonesia. Sebaliknya, mereka juga kekayaan dunia fotografi. (Btw, Ini terjadi juga di dunia musik. Bahkan, banyak orang bilang kualitas musik indie lebih bagus dari produk mainstream. Jadi, bagus juga fenomena foto hobiis ini dijadikan dorongan semangat berkarya fotografer pro)" .......#‎krusharyanto‬ dalam sebuah diskusi kecil kami dan beberapa orang lainnya di sebuah forum fotografi .


selamat jalan om @krusharyanto semoga mendapatkan tempat terindah di surga -Nya.....amin
#KoFiPonberduka

Copyright @ Hidayat Syah Alam


Copyright @ Dewi Nurcahyani

Berikut beberapa link galeri beliau di dunia maya, monggo di kunjungi :
  1. DeBete' Galeri Foto Ponsel
  2. Pixoto.com






5.21.2014
Posted by ngatmow

Zizi sudah 4 tahun

" Ayah sekarang kan zizi sudah 4 tahun, kan sudah nggak boleh ngompol lagi kan yah .... ? "

Begitu kalimat yang dilontarkan Zizi kemarin sore ketika saya pulang ke rumah.
Yup, tanggal 28 April 2014, Zizi genap berumur 4 tahun.

Banyak sekali perkembangan yang terjadi padanya. Mulai dari semakin ceriwis, semakin kritis, semakin narsis, semakin jago nangis.... hehe....untuk yang terakhir sekarang dia sudah semakin sadar bahwa kalau dia nangis maka orang-orang yang ada di dekatnya akan luluh (berlaku buat bundanya, om dan tantenya, dan terutama kakek neneknya, tapi jarang berlaku untuk ayahnya hehehe....)


Alhamdulillah, selama 4 tahun ini saya dan bundanya, sedikit banyak bisa mencukupi semua kebutuhannya. Kebutuhan sekolah, sandang, pangan, serta kebutuhan lain yang dibutuhkannya dalam masa pertumbuhan.

Namun kami juga sadar bahwa ada satu hal yang kami belum bisa mencukupinya. Waktu.

Waktu bersama Zizi kami akui masih sangat kurang sekali. Saya sebagai ayah terkadang hanya bisa bersamanya sore hari saja atau bahkan tidak bertemu sama sekali kalau pulang kantor sampai larut malam. Sedangkan bundanya karena jarak tempuh yang jauh antara rumah dengan tempat kerjanya maka mau tidak mau harus sampai di rumah lagi sore hari. Dan efektif bersama Zizi hanya beberapa saat sebelum ketiduran di depan tv karena kondisi badan yang sudah terlalu lelah.

Huft....Sudahlah, tidak usah dibahas lagi karena hanya akan membuat pening kepala ini. Yang jelas kami selalu berusaha untuk bisa mengoptimalkan setiap detik waktu kami bersama Zizi sebaik baiknya dengan apa yang kami punya, kami bisa berikan dan kami ingin ajarkan demi kebaikan keluarga kecil kami saat ini dan masa depan Zizi tentunya.

Terakhir, di ulang tahun Zizi yang ke 4 ini tidak lupa kami mohonkan kepada Allah SWT supaya Zizi selalu dalam lindungan-Nya, selalu diberikan kesehatan, kecerdasan, kesempurnaan, selalu bisa menjadi seseorang yang bermanfaat dan bisa dibanggakan keluarga, agama, bangsa dan negara, serta kelak menjadi seseorang yang bisa mengangkat harkat dan martabat trah kami, Al Azis clan.... Amin....


4.29.2014
Posted by ngatmow
Tag :

DiegoKoi : bukan fotografer, tapi pelukis ajaib

Mencengangkan.....
itulah apa yang bisa dihasilkan oleh tangan "emas" Diego Fazio. Diego Fazio adalah seniman otodidak dari Italia berusia 24 tahun yang juga seorang mantan pembuat tatto. Dalam dunianya, dia lebih dikenal sebagai DiegoKoi.

DiegoKoi menggambar dengan hasil menakjubkan hanya dengan menggunakan pensil dan kertas. Karyanya begitu detail yang sekilas hampir mustahil untuk menentukan bahwa gambar-gambarnya itu digambar hanya menggunakan tangan. Sumpah sangat istimewa.

Langsung saja simak hasil karyanya berikut ini.....ingat sekali lagi bahwa ini bukan foto tapi asli lukisan tangan.....




Lanjut ke yang lebih mengagumkan lagi ya.....




Lanjut.......







Kaya gak mungkin kan ? Okeh sekarang saya kasih buktinya....check this out ....
Prosesnya:






Prosesnya:







Bagaimana sih tampang si Koi ini ?



Pengen tau lebih lanjut tentang DiegoKoi ?
  1. Deviantart
  2. Facebook
  3. situs pribadinya


Sumber : Kaskus
4.26.2014
Posted by ngatmow
Tag :

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow