Catatan Ringan setelah Dieng Culture Festival ke V

Pagelaran akbar Dieng Culture Festival ke V tahun 2014 ini sudah selesai diselenggarakan. Ada banayk cerita dibalik gegap gempitanya Festival tahunan di negeri atas awan itu. Cerita asik, cerita gembira, cerita hebat, cerita kagum, cerita sedih, cerita duka bahkan caci dan maki melengkapi pemberitaan yang muncul dimana-mana.

Yup. Festival di atas awan. mungkin benar sekali apa yang dusebutkan dalam kalimat itu. Dengan ketinggian mencapai 2000 mdpl, kabut yang pekat bisa sewaktu waktu turun dan menyelimuti seluruh permukaan tanah hingga kita akan serasa berada di negeri antah berantah.

suasana pemotongan rambut gembel - #DCF2014
Pada pagelaran Dieng Culture Festival ke V (DCF V) tanggal 30 - 31 Agustus 2014 kemarin, jumlah pengunjung festival pada hari pertama mencapai 20.000 orang dan bertambah hampir separuhnya pada hari kedua. Hal inilah yang kemudian memunculkan sebuah masalah yang bahkan tidak pernah dialami atau bahkan terpikir sekalipun oleh warga setempat. MACET.

Arfi dan Arie, Lulusan SMK yang Ahli Design Engineering Internasional

Ini lho yang namanya jos gandhos.....sudah jamannya kita sebagai yang muda-muda bekerja kreatif, inovatif dan imajinatif. Tapi hasilnya sangat signifikan. Bagaimana ceritanya ? simak artikel yang saya sadur copas dari JPNN berikut ini ......

SUASANA ruang tamu di rumah Arfi’an Fuadi, 28, di Jalan Canden, Salatiga, Jawa Tengah, masih dipenuhi nuansa Idul Fitri. Jajanan Lebaran seperti kacang, nastar, dan kue kering memenuhi meja untuk menjamu tamu yang berkunjung.


Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan yang lebih kecil. Di dalamnya ada tiga unit komputer. Rupanya, di ruangan kecil itulah Arfi –panggilan Arfi’an Fuadi– bersama sang adik M. Arie Kurniawan dan dua karyawannya mengeksekusi order design engineering dari berbagai negara.

Kiprah dua bersaudara itu di dunia rancang teknik internasional tak perlu diragukan lagi. Tahun lalu Arie memenangi kompetisi tiga dimensi (3D) design engineering untuk jet engine bracket (penggantung mesin jet pesawat) yang diselenggarakan General Electric (GE) Amerika Serikat. Arie mengalahkan sekitar 700 peserta dari 56 negara.

”Lomba ini membuat alat penggantung mesin jet seringan mungkin dengan tetap mempertahankan kekuatan angkut mesin jet seberat 9.500 pon. Saya berhasil mengurangi berat dari 2 kilogram lebih menjadi 327 gram saja. Berkurang 84 persen bobotnya,” ungkap Arie ketika ditemui di rumah kakaknya, Senin (4/8).

Yang membanggakan, Arie mengalahkan para pakar design engineering yang tingkat pendidikannya jauh di atas dirinya.

Misalnya, juara kedua diraih seorang PhD dari Swedia yang bekerja di Swedish Air Force. Sedangkan yang nomor tiga lulusan Oxford University yang kini bekerja di Airbus. ”Padahal, saya hanya lulusan SMK Teknik Mekanik Otomotif,” jelas Arie.

Sekilas memang tak masuk akal. Bagaimana bisa seorang lulusan SMK yang belum pernah mendapatkan materi pendidikan CAD (computer aided design) mampu mengalahkan doktor dan mahasiswa S-3 yang bekerja di perusahaan pembuat pesawat? CAD adalah program komputer untuk menggambar suatu produk atau bagian dari suatu produk.

Rupanya, ilmu utak-atik desain teknik itu diperoleh dan didalami Arie dan kakaknya, Arfi, secara otodidak. Hampir setiap hari keduanya melakukan berbagai percobaan menggunakan program di komputernya. Mereka juga belajar dari referensi-referensi yang berserak di berbagai situs tentang design engineering.

”Terus terang dulu komputer saja kami tidak punya. Kami harus belajar komputer di rumah saudara. Lama-lama kami jadi menguasai. Bahkan, para tetangga yang mau beli komputer, sampai kami yang disuruh ke toko untuk memilihkan,” kenang Arfi.

Sebelum menjadi profesional di bidang desain teknik, dua putra keluarga A. Sya’roni itu ternyata harus banting tulang bekerja serabutan membantu ekonomi keluarga. Arfi yang lulusan SMK Negeri 7 Semarang pada 2005 pernah bekerja sebagai tukang cetak foto, di bengkel sepeda motor, sampai jualan susu keliling kampung.

Sang adik juga tak jauh berbeda, jadi tukang menurunkan pasir dari truk sampai tukang cuci motor. ”Kami menyadari, penghasilan orang tua kami pas-pasan. Mau tidak mau kami harus bekerja apa saja asal halal,” tutur Arfi.

Baru pada 2009 Arfi bisa menyalurkan bakat dan minatnya di bidang program komputer. Pada 9 Desember tahun itu dia memberanikan diri mendirikan perusahaan di bidang design engineering. Namanya D-Tech Engineering Salatiga. Saksi bisu pendirian perusahaan tersebut adalah komputer AMD 3000+. Komputer itu dibeli dari uang urunan keluarga dan gaji Arfi saat masih bekerja di PT Pos Indonesia.

”Gaji saya waktu itu sekitar Rp 700 ribu sebagai penjaga malam kantor pos. Lalu ada sisa uang beasiswa adik dan dibantu bapak, jadilah saya bisa membeli komputer ini,” kenangnya.

Setelah berdiskusi dengan sang adik, Arfi pun menetapkan bidang 3D design engineering sebagai fokus garapan mereka. Sebab, dia yakin bidang itu booming dalam beberapa tahun ke depan. ”Kami pun langsung belajar secara otodidak aplikasi CAD, perhitungan material dengan FEA (finite element analysis), dan lain-lain,” jelasnya.

Tak lama kemudian, D-Tech menerima order pertama. Setelah mencari di situs freelance, mereka mendapat pesanan desain jarum untuk alat ukur dari pengusaha Jerman. Si pengusaha bersedia membayar USD 10 per set. Sedangkan Arfi hanya mampu mengerjakan desain tiga set jarum selama dua minggu.

”Kalau sekarang mungkin bisa sepuluh menit jadi. Dulu memang lama karena kalau mau download atau kirim e-mail harus ke warnet dulu. Modem kami dulu hanya punya kecepatan 2 kbps. Hanya bisa untuk lihat e-mail.”

Di luar dugaan, garapan D-Tech menuai apresiasi dari si pemesan. Sampai-sampai si pemesan bersedia menambah USD 5 dari kesepakatan harga awal. ”Kami sangat senang mendapat apresiasi seperti itu. Dan itulah yang memotivasi kami untuk terus maju dan berkembang,” tegas Arfi.

Sejak itu order terus mengalir tak pernah sepi. Model desain yang dipesan pun makin beragam. Mulai kandang sapi yang dirakit tanpa paku yang dipesan orang Selandia Baru sampai desain pesawat penyebar pupuk yang dipesan perusahaan Amerika Serikat.

”Pernah ada yang minta desain mobil lama GT40 dengan handling yang sama. Untuk proyek itu, si pemilik sampai harus membongkar komponen mobilnya dan difoto satu-satu untuk kami teliti. Jadi, kami yang menentukan mesin yang harus dibeli, sasisnya model bagaimana dan seterusnya. Hasilnya, kata si pemesan, 95 persen mirip,” jelasnya.

Selama lima tahun ini, D-Tech telah mengerjakan sedikitnya 150 proyek desain. Tentu saja hasil finansial yang diperoleh pun signifikan. Mereka bisa membangun rumah orang tuanya serta membeli mobil. Tapi, di sisi lain, capaian yang cukup mencolok itu sempat mengundang cibiran dan tanda tanya para tetangga.

”Kami dicurigai memelihara tuyul. Soalnya, pekerjaannya tidak jelas, hanya di rumah, tapi kok bisa menghasilkan uang banyak. Mereka tidak tahu pekerjaan dan prestasi yang kami peroleh,” cerita Arfi seraya tertawa.

Sayangnya, dari 150 proyek itu, hanya satu yang dipesan klien dalam negeri. ”Satu-satunya klien Indonesia adalah dari sebuah perusahaan cat. Mereka beberapa kali memesan desain mesin pencampur cat,” lanjutnya.

Meski punya segudang pengalaman dan diakui berbagai perusahaan internasional, Arfi dan Arie masih belum bisa berkiprah di desain teknik Indonesia. Penyebabnya, mereka hanya berijazah SMK.

”Kalau ditanya apakah tidak ingin membantu perusahaan nasional, kami tentu mau. Tapi, apakah mereka mau? Di Indonesia kan yang ditanya pertama kali lulusan apa dan dari universitas mana,” ujarnya.

Stigma ”hanya berijazah SMK” ditambah sistem pendidikan Indonesia yang dinilai kurang adil itulah yang ikut mengandaskan keinginan Arie melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 di Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Arie tidak bisa masuk jurusan itu karena hanya lulusan SMK mekanik otomotif.

”Saya ingin kuliah di jurusan itu karena ingin memperdalam ilmu elektro. Kalau mesin saya bisa belajar sendiri. Tapi, saya ditolak karena kata pihak Undip jurusannya tidak sesuai dengan ijazah saya. Padahal, lulusan SMA yang sebenarnya juga tidak sesuai diterima. Ini kan tidak adil namanya,” cetus Arie.

Meski ditolak, Arie tidak kecewa. Bersama sang kakak, dia tetap ingin menunjukkan prestasi yang mengharumkan nama bangsa. Dan itu telah dibuktikan dengan menjuarai kompetisi design engineering di Amerika yang diikuti para ahli dari berbagai negara. Selain itu, mereka tak segan-segan menularkan ilmunya kepada anak-anak muda agar melek teknologi 3D design engineering.

”Ada beberapa anak SMK yang datang ke kami untuk belajar. Sekarang ada yang sudah kerja di bidang itu. Ada juga yang bakal ikut kompetisi Asian Skills Competition sebagai peserta termuda,” jelasnya.

Mereka juga punya keinginan mengembangkan teknologi energi terbarukan. Salah satunya dengan mengembangkan desain pembangkit listrik tenaga angin.

”Kami bekerja sama dengan anak-anak SMK untuk mengembangkan biodiesel dari minyak jelantah. Lalu, Mas Ricky Elson (pembuat mobil listrik yang dibawa Dahlan Iskan dari Jepang, Red) pernah menghubungi lewat Facebook, ingin menjalin kerja sama dengan kami. Tentu saja kami terima,” ungkapnya.

Dengan semua upaya itu, mereka punya satu impian, yakni mengembangkan sumber daya lokal Salatiga untuk menjadikan kota kecil itu pusat pengembangan manufaktur teknologi kelas dunia. Layaknya Silicon Valley di San Francisco, Amerika Serikat.

”Kami ingin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi pusat industri manufaktur dunia. Terlebih lagi, teknologi 3D printing bakal menjadi tulang punggung industri masa depan. Itulah kenapa 3D design engineering sangat penting,” tandasnya.


Bagaimana ? sangat menginspirasi kan ?
so, jangan takut untuk dicap nggak punya status sosial karena ga keliatan selalu bekerja dan berseragam, karena sesungguhnya rejeki sudah diatur oleh Nya asalkan kita mau berusaha mencari jalannya.....ya to ?



Sumber : JPNN
8.09.2014
Posted by ngatmow

Suporter Cantik Piala Dunia 2014 : Eropa vs Latin

Laga sengit pada putaran piala dunia 2014 di Brazil yang lalu sangat ampuh menyedot perhatian pemirsa dari belahan penjuru dunia. Jutaan pasang mata memandang laga yang menelurkan Jerman sebagai juara pada Piala Dunia 2014 baik melalui layar kaca maupun secara langsung bahkan sampai tak berkedip dibuatnya.

Namun satu hal yang yang tidak boleh dikesampingkan yakni peran fans dalam memberi dukungan bagi tim kesayangan yang bertanding di lapangan. kalau kita nonton jalannya pertandingan melalui layar kaca, maka akan sering kita jumpai kameramen yang iseng mengarahkan kameranya ke barisan penonton di stadion (terutama penonton cewek). Sering dan menjadi seperti sebuah tradisi yang justru dinanti (bagi saya sih heheh....).
7.31.2014
Posted by ngatmow

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H


للّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ اَللّهُ اَكْبَرُ، اَللّهُ اَكْبَرُ، وَلِلّهِ الْحَمْدِ
Tak Terasa Ramadhan Akan Segera Pergi..
Hati Rasa Sedih Semoga Bisa Berjumpa Kembali..
Seiring Kepergiannya..
Izinkan Hati dan Jiwa Yang Hina Untuk Seraya Berucap Maaf :
- Atas Kata Salah Yang Terucap
- Atas Perbuatan Salah Yang Terbentuk
- Atas Niat Jahat Yang Tak Pernah Terungkap
- Atas Jiwa - Jiwa Yang Pernah Tersakiti
- Atas Tulisan Hina Yang Ternoda
- Atas WA Yang Sering Mengganggu

"Selamat Tinggal Ramadhan, Smoga Dapat Berjumpa Denganmu Kembali Nanti.. Selamat Datang Bulan Syawal.."
"Happy Ied Mubarak"
"Taqobbalallahu Minna Waminkum. Minal Aidzin Walfaidzin - Mohon Maaf Lahir dan Batin"



7.29.2014
Posted by ngatmow
Tag :

Nasib Lidah Dalam Negeri

Jajangmyeon (atau jjajangmyeon) adalah jenis Masakan Tionghoa yaitu mi saus pasta kacang kedelai hitam. Jajangmyeon dipengaruhi kuliner Tionghoa, dan orang Tiongkok biasa menyebutnya Zhajiangmian (炸醬麵)

Jajangmyeon menggunakan mie tebal yang terbuat dari tepung gandum. sedangkan sausnya dibuat dari pasta kacang kedelai hitam yang disebut chunjang (hangul: 춘장; hanja: 春醬) yang ditambahkan dengan bawang merah cincang, zucchini dan daging merah atau makanan laut. Ketika memasak saus biasanya ditambahkan cornstarch (sejenis pati yang terbuat dari tepung jagung) agar saus jadi kental. Pasta kacang kedelai (chunjang) dibuat dari kedelai yang dipanggang (dibakar).

Lhah terus kenapa tumben tumbennya saya kali ini menulis soal makanan Korea ?
Karena saya sangat tidak doyan sodara.......hehehe

Lebih baik makan mi instan goreng buatan sendiri dari pada harus makan makanan itu lagi. Bahkan kalo dibayar sekalipun. Suwer.

Ceritanya begini, kemarin saya, istri (plus zizi tentunya) beserta beberapa orang kawan berbuka puasa di Pujasera sebuah mall di Purwokerto. Nah karena banyaknya pilihan yang sempat membuat bingung dan putus asa memilih, akhirnya saya dan istri dengan pede nya memilih "warung" yang menawarkan masakan-masakan dari negerinya SNSD itu....

Hasilnya ?
Ambyar dengan sukses sodara-sodara...... dari tiga jenis masakan, hanya Ramyeon pesanan istri yang paling bisa ditolelir di lidah saya. lainnya ? NEHI......alias tidak sama sekali.

Apa sih Ramyeon itu ? Ramyeon (라면) adalah mie ramen khas Korea, namun agak berbeda dengan ramen dari Jepang. Ramyeon Korea dapat pula berarti mie instan yang dijual kemasan. Ramyeon dimasak dengan kuah yang sangat pedas dan biasanya ditambah sayuran, daging atau kimchi (ingat.....tanpa huruf L !!). (wikipedia)
Jadi rasanya seperti mie instan rasa ayam biasa yang dimasak dengan ditambahin bumbu pedas yang lumayan banyak...... begitu kira-kira.

Sedangkan masakan lain yang "gagal" di lidah saya adalah Jajangmyeon yang rasanya seperti mengaduk aduk isi perut alias eneg tadi dan juga Yangnyeom tongdak yang berupa daging ayam yang dimasak ala Korea.

Weleh Daging ayam sampai tidak doyan ?
Jawabannya Bwetul sodara-sodara.....

Perlu diketahui bahwa Yangnyeom tongdak adalah ayam goreng dengan balutan tepung tipis yang super renyah jika digigit dengan lumuran bumbu merah membara yang menggoda. Bumbu merah itu sendiri berasal dari Saus Gochujang. Apa lagi itu ? Gochujang terbuat dari cabai merah bubuk, sirup beras, tepung barley, tepung beras, garam dan kacang kedelai fermentasi, campuran semua bahan ini dimasak hingga kental dan pekat untuk kemudian di fermentasikan selama 2 -3 bulan. Selain pasta cabai, bahan lainnya yang penting untuk dimasukkan ke dalam saus adalah sirup beras (rice syrup).

Sirup besar  ini membuat saus terasa manis dengan kekentalan yang membuat ayam tetap crispy. Walau pun demikian saya masih menambahkan sedikit gula pasir untuk menyeimbangkan rasa pasta cabai (gochujang) yang asin.

Kebayang rasanya ?
Gurihnya ayam lenyap dengan sukses karena tertutup rasa asin dan kecut yang begitu dominan. Hanya rasa pedas yang mampu mengimbangi dua rasa itu. Begitu digigit, daging bukannya beraroma daging, tapi saos !! bah......

Dan akhirnya karena tidak sukses dengan pesanan awal tadi, kami pun kembali ke hidangan awal resep tradisional negeri sendiri.....Nasi Bakar Rica-rica super pedas.......tentunya setelah piring pesanan awal tadi bersih tak tersisa hehe.......


Di sepanjang perjalanan pulang, kami jadi sadar bahwa otak kami mungkin sudah go internasional, tapi untuk urusan lidah, kami masih sangat tradisional..... namun itulah yang membuat kami bangga. Kami masih cinta negeri sendiri, setidaknya masakan asli ibu pertiwi.......

7.23.2014
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow