Festival Serayu Banjarnegara 2015

Festival Serayu Banjarnegara kembali digelar di tahun 2015 ini. Dengan mengusung tema "Merawat Sungai Merawat Peradaban", Acara berskala nasional ini diharapkan mampu menjadi salah satu pelopor upaya penyelamatan sungai dengan memadukan tradisi dan budaya demi terciptanya kelestarian sungai.Beberapa kegiatan akan mengisi acaranya seperti Serayu Expo, Pesta Parak Iwak, dan Parade Budaya. Ada pula acara pendukung seperti Banjar Banjir Dawet, Lomba Fotografi, Banjarnegara Bershalawat, dan Kongres Sungai Indonesia(KSI).

Pada Acara yang dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Puan Maharani, serta dihadiri oleh hadir Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo, pimpinan DPRD Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Banjarnegara ini, ratusan masyarakat nampak memadati Balai Budaya Kabupaten Banjarnegara dan Stadion Kolopaking Parakancanggah Banjarnegara untuk menyaksikan dan mengikuti pembukaan Festival Serayu Banjarnegara sekaligus Kongres Sungai Indonesia ini sekaligus untuk ikut mencicipi "banjir dawet" yang memang sudah dipersiapkan oleh pemerintah daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Puan mnyampaikan bahwa sungai memiliki peranan strategis bagi kehidupan manusia. Air sungai dapat dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan hidup seperti air bersih, irigasi, transportasi, perikanan, pariwisata serta menjadi sumber pembangkit listrik. Namun kondisi itu berubah saat sungai sudah tidak diperhatikan. Perilaku manusia modern membuat sungai sudah berubah fungsi. Saat ini, sungai tidak lagi diperlakukan sebagai sentra kehidupan yang harus dirawat dan dilestarikan. Namun sungai dirusak dan dicemari dan berubah fungsi lantaran diperlakukan sebagai tempat pembuangan sampah, pelimbahan, dan dianggap sebagai salah satu sumber bencana.

‎"Menjadi keprihatinan bersama karena fenomena beberapa dekade terakhir ini, hampir semua sungai telah berubah fungsi. Perilaku manusia moderen justru bertentangan dengan misi peradaban dan keberadaan sungai. Saya mengingatkan kembali bahwa bencana paling banyak terjadi di negara kita yaitu bencana hidrometeorologis dan klimatologis sebesar 80 persen yang berupa bencana banjir, kekeringan, tanah longsor serta gelombang pasang," jelas Puan. "Diperlukan perubahan cara pandang, cara kerja, dan cara hidup kita dalam menjadikan sungai sebagai pusat peradaban, dan menjauhkan sungai dari tempat pembuangan sampah ataupun sebagai sumber bencana," tambahnya *Liputan6(26/8/2015).

Menurut Puan, perhelatan akbar Festival Serayu yang menggabungkan sektor kebudayaan dan lingkungan hidup ini sangat menarik dan mengundang minat wisatawan. Sebab makna dan nilai yang terkandung dalam kedua acara itu sangat tinggi karena menampilkan berbagai atraksi budaya yang menarik. Dan harapannya mMelalui Festival Serayu Tahun 2015 dan Kongres Sungai Indonesia, bisa dilahirkan rekomendasi perwujudan gerakan kedaulatan air, sungai dan perairan sebagai upaya kita dalam membangun sungai sebagai pusat peradaban kehidupan masyarakat Indonesia.

"Saya berharap agar melalui event ini, kita dapat meningkatkan motivasi, kegigihan dan kepedulian dalam pelestarian lingkungan dan budaya, serta mendorong generasi muda untuk bertindak dan berkarya positif dengan berakar pada kebudayaan sendiri," kata Puan.

Beberapa event yang menjadi satu rangkaian Festival Serayu Banjarnegara yaitu :

Kegiatan Festival Serayu diawali dengan diadakannya Kongres Sungai Indonesia (KSI) pada 29 Agustus 2015 dengan mengangkat tema yang sema dengan Festival tahun ini yaitu “Merawat Serayu Merawat Peradaban”. Kongres ini akan diikuti para pemangku dari sungai-sungai besar di Indonesia untuk mengisi acara berupa aksi hijau, ekspresi sungai berupa pidato, monalog, pantomim, teather, tari, dan film. Ada juga pameran dengan peserta dari BPDAS, Balai Besar Wilayah Sungai, Perguruan Tinggi, LSM, Komunitas Sungai, dan perseorangan.
Kongres Sungai Indonesia (KSI) tersebut merupakan yang pertama kali digelar di Indonesia. Tujuan penyelenggaraanya adalah ingin mengenalkan kembali bahwa sejak dahulu sungai selalu menjadi simpul peradaban dari nenek moyang. Namun demikian, saat ini banyak menemui permasalahan tentang pengelolaan sungai dan air. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan tidak adanya regulasi tentang pengelolaan air setelah Undang-Undang Sumber Daya Air dicabut.

Banjarbanjirdawet (26 Agustus 2015), berlangsung di dua tempat yaitu Balai Budaya Kabupaten Banjarnegara dan Stadion Kolopaking, Parakancanggah Banjarnegara. Dawet ayu yang telah menjadi trade mark Banjarnegara di hidangkan gratis bagi pengunjung dan wisatawan di tengah perhelatan Festival Serayu Banjarnegara. Puluhan pikulan dawet menyajikan aneka jenis dawet seperti dawet lele, dawet lidah buaya, dawet ubi ungu, dawet ganyong, dan lainnya yang murni hasil kreativitas masyarakat Banjarnegara. Dan semua keunikan itu ternyata berhasil menarik ratusan pengunjung untuk ikut menyemarakkan acara pembukaan rangkaian Festival Serayu tahun ini.

Serayu Expo (26 – 29 Agustus 2015), mengambil tempat di Stadion Kolopaking Parakancanggah Banjarnegara. Serayu Expo menghadirkan pameran produksi Usaha Mikro Kecil menengah, produk pertanian, perikanan, peternakan juga akan diramaikan dengan pentas seni yang tidak hanya menampilkan seni tradisional Banjarnegara namun juga seni tradisional dari daerah lain di Jawa Tengah lainnya.

Gelar Seni (15-21 Agustus 2015), digelar di dua tempat Banjarnegara yaitu Balai Budaya dan Stadion Kolopaking. Gelaran seni ini untuk mendukung dan memeriahkan HUT RI dan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara. Ditampilkan beragam seni unggulan daerah berupa kesenian tradisional, seni kontemporer, dan seni modern yang dikemas dalam satu paket menarik.

Lomba Fotografi (26-30 Agustus 2015), Lomba fotografi berskala nasional di gelar kembali di Banjarnegara dengan seluruh kegiatan dalam rangkaian Festival Serayu 2015 sebagai obyek lomba. Beragam event utama dan event pendukung serta sajian pentas seni tradisional, pentas musik yang akan digelar non stop selama Festival Serayu merupakan tantangan bagi penggemar fotografi untuk dapat menampilkan foto terbaiknya dan berkompetisi dalam lomba ini.

Parade Budaya (29 Agustus 2015), bertempat di Alun-Alun Banjarnegara pada malam hari dengan tatanan cahaya yang menarik. Parade yang di gelar malam hari ini menampilkan berbagai kraeativitas seni dan budaya yang diangkat dari tradisi Banjarnegara ini  menjadi satu agenda menarik dan berbeda dalam rangkaian Festival Serayu Banjarnegara. Berbagai tema yang ditampilkan antara lain seperti Batik Carnaval, Dawet Ayu, Brenong Kepang, dan lainnya

Parak Iwak (30 Agustus 2015), berlangsung Sungai Serayu, Singomerto Banjarnegara. Pesta Parak Iwak merupakan bentuk kesadaran untuk nguri-uri merawat dan melestarikan Sungai Serayu, sekaligus rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Gelaran Pesta Parak Iwak akan dikemas secara apik, kreasik, unik dan akrab. Wisatawan dapat ikut dalam kegiatan Parak Iwak (berebut menangkap ikan dengan tangan kosong), makan bersama serta menikmati hiburan Seni Budaya Banjarnegara.

Banjarnegara Bershalawat (31 Agustus 2015), berlokasi di Alun-Alun Banjarnegara berupa kegiatan ungkapan rasa syukur dan pujian untuk Sang Pencipta yang telah memberikan kemakmuram dan kesejahteraan bagi Banjarnegara dengan kegiatan bershalawat.
8.27.2015
Posted by ngatmow

Lomba Foto Tingkat Nasional Festival Serayu Tahun 2015

Dalam rangka ikut menyemarakkan terselenggaranya rangkaian pagelaran akbar tahunan Festival Serayu tahun 2015, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara menggelar lomba foto tingkat nasional bertajuk " Mayuh Motret Budaya Banjarnegara ". Lomba foto yang mengambil tema Semarak Event Festival Serayu Banjarnegara 2015 ini dimulai sejak tanggal 26 sampai dengan 30 Agustus 2015 dengan objek semua kegiatan yang masuk dalam rangkaian kegiatan festival.


Waktu Pendaftaran : 
Pendaftaran paling lambat tanggal 24 Agustus 2015. ID Card Peserta bisa diambil di sekretariat panitia pada jam kerja, atau hubungi contact person panitia.

Contact Person :
Eko Budi R : 082136218557
Muji Pras : 081327289439
M. Anhar : 085659007302
Sudin : 085727974539
Email : lombafoto.fsb2015@gmail.com

Hadiah :
Juara I : 6.000.000,- Plus Trophy & Piagam
Juara II : 5.000.000,- Plus Trophy & Piagam
Juara III : 4.000.000,- Plus Trophy & Piagam
Harapan I : 3.000.000,- Plus Trophy & Piagam
Harapan II : 2.500.000,- Plus Trophy & Piagam
Harapan III : 2.000.000,- Plus Trophy & Piagam
10 Karya Pilihan : @ 500.000,- Plus Piagam


Dewan Juri :

  1. Ir. Hery Wiyanto AFPSI (Fotografer profesional / Saloon Foto)
  2. Nofria Doni Fitri, M.Sn, AFPSI (Fotografer profesional / Dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta)
  3. Chandra AN (Pewarta foto senior Harian Kedaulatan Rakyat)


Ketentuan :

  1. Lomba terbuka untuk umum&pelajar, dan tidak dipungut biaya apapun. Untuk acara DIENG CULTURE FESTIVAL VI panitia tidak memfasilitasi / tidak menanggung tiket masuk peserta;
  2. Peserta mendaftarkan diri dan mengisi formulir online yang telah disediakan di http://banjarnegarakab.go.id, atau datang langsung ke sekretariat panitia;
  3. Peserta dapat menggunakan kamera digital atau manual. Foto harus sesuai dengan tema, tidak mengandung unsur pornografi, SARA, kekerasan dan diskriminasi sosial;
  4. Obyek foto diambil dalam lokasi (on the spot) dalam rangkaian Festival Serayu Banjarnegara 2015 : parade budaya, parak iwak, Banjarnegara Bersholawat, Banjar Banjir Dawet, Kongres Sungai Indonesia, Dieng Culture Festival VI, dll. (antara tanggal 31 Juli s.d 30 Agustus 2015)
  5. Masing-masing peserta diperkenankan mengirimkan maksimal 3 (tiga) foto dengan objek yang berbeda;
  6. Foto yang dikirim merupakan karya peserta yang belum pernah dipublikasikan dalam media apapun dan diambil dalam rentang waktu tanggal 31 Juli s.d 30 Agustus 2015 di lokasi, dan dibuktikan dengan data exif;
  7. Olah foto yang diijinkan hanya sebatas cropping, burning, saturasi dan kontras;
  8. Semua karya yang masuk menjadi milik panitia. Panitia berhak menggunakan foto tersebut sebagai bahan publikasi tanpa harus meminta izin terlebih dahulu;
  9. Keputusan juri adalah mutlak dan tidak dapat diganggu gugat;
  10. Pengumuman pemenang antara tanggal 9, 10, 11 September 2015. Foto juara dan karya terpilih akan dipamerkan.

Pengumpulan Karya Foto : 
Foto dikirimkan dalam bentuk cetak berukuran setara 10 R, disertai CD berisi File melalui pos / diantar langsung ke sekretariat panitia paling lambat tanggal 7 September 2015 pukul 14.00 WIB. Pada sudut kiri atas amplop ditulis "LOMBA FOTO FSB 2015".

Penamaan Foto : 
no. peserta_nama peserta_judul_lokasi pemotretan_No. HP.
Contoh : 001_aziz_parakiwak_sungaiserayu_081327289439.

Kirab Hari Jadi HUT Banjarnegara ke 184

Dalam rangka peringatan Hari Jadi ke 184 tahun 2015 ini, Pemerintah Daerah Kabupaten Banjarnegara menyelenggarakan kirab Panji-panji pusaka dan gunungan hasil bumi yang diarak dari Banjarkulon yang merupakan ibu kota kabupaten yang pertama sampai dengan pendopo Kabupaten saat ini yang berada di komplek Alun-alun Kota Banjarnegara.


Tidak seperti tahun tahun sebelumnya dimana gunungan hasil bumi tersebut hanya berjumlah tiga buah, gunungan hasil bumi tahun ini berjumlah tujuh buah dan masing masing setinggi 2 meter yang mana dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur dan sebuah cita cita besar bersama soal kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran warga Banjarnegara pada tahun ini dan tahun tahun yang akan datang.

"Ini juga sebagai wujud syukur karena tanaman pertanian itu merupakan produk lokal, tidak ada yang impor. Gunungan itu juga dipersembahkan untuk masyarakat, untuk diperebutkan oleh masyarakat yang hadir pada acara ini," Ujar Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo, pada akhir prosesi kirab.

Disinggung mengenai jumlah gunungan yang tidak lagi sebanyak tiga buah melainkan tujuh buah, dia mengatakan bahwa tujuh mengandung makna tujuan atau cita-cita. "Mudah-mudahan tercapai apa yang menjadi tujuan atau cita-cita kita. Tujuh saya rasa bukanlah angka keramat tapi sebagai penyemangat saja agar kita lebih semangat untuk melaksanakan pembangunan sehingga mengena pada sasaran," katanya.

Ada satu hal yang mencolok dari pelaksanaan kirab pada tahun ini, rute kirab yang berubah. Dari semula rute Banjarkulon - alun alun kota - Pendopo kabupaten, dimana gunungan yang berjumlah 3 buah digrebeg (diperebutkan masyarakat secara beramai-ramai) di tengah alun-alun, pada tahun ini rutenya berubah menjadi Banjarkulon - kantor sekretariat dewan - jalan A. Yani (sisi timur alun alun kota) - pendopo Kabupaten, sedangkan grebeg gunungan sendiri digelar di perempatan jalan Dipayuda - jalan A. Yani (depan kantor KPU lama).





Secara keseluruhan rangkaian acara, perubahan rute dan susunan acara pada tahun ini terlihat lebih baik daripada tahun tahun sebelumnya. Para pengambil foto dan awak media yang meliput jalannya prosesi mendapat ruang yang lebih banyak, penonton berada di sisi kanan dan kiri jalan raya dengan tertib dan teratur, adik adik sekolah dasar yang didapuk sebagai penari penyambut berbaris rapi di depan penonton umum dengan tertib, juga tidak lupa peran pengamanan yang dilakukan oleh Satpol PP juga lebih tegas dan ketat dibanding tahun sebelumnya. Ini dibuktikan dengan grebeg yang berhasil dilakukan di lokasi utama tanpa "diserbu" masyarakat sebelum rangkaian acara berakhir.

Dieng Culture Festival VI : sesuatu banget di 2015 ini

Dieng Culture Festival ke VI baru saja berakhir pada tanggal 2 Agustus yang lalu. Dalam pagelaran akbar tahunan  warga Dieng tersebut seperti biasa dilaksanakan beberapa rangkaian acara yang terangkum dalam 3 hari 2 malam pelaksanaan Festival.

Banyak hal yang terjadi dan masih tersisa di segenap sudut otak saya soal jalannya Festival. Mulai dari sudah mulai membaiknya penataan parkir di Dieng, dinginnya suhu udara di sana waktu itu, pendatang yang kurang persiapan, sampai penataan tempat untuk pers yang menurut saya kurang memadai.

Oke satu satu................

Dulu dalam sebuah artikel saya sempat menulis bahwa penataan parkir di Dieng sangat semrawut dan tidak bersahabat bagi pengendara kendaraan roda 4. Nah pada DCF VI kali  ini saya melihat perubahan yang cukup signifikan soal itu. Parkir kendaraan roda 4 sudah semakin tertata dan cukup banyak tempat tersedia. Bahkan tidak jarang  tempat parkir tersebut secara sukarela disediakan oleh masyarakat setempat, tentu saja tidak gratis dan harus dengan tarif tertentu pemirsa..........Rp 2000 untuk sepeda motor dan Rp 5000 untuk kendaraan roda 4 ........(itu di parkiran yang terdekat dengan posisi saya......ga tahu kalau parkiran lainnya lho)

Selanjutnya soal pengaturan arus lalu lintas, setelah kesemrawutan yang luar biasa pada DCF V  yang lalu, nampaknya pokdarwis (kelompok Sadar Wisata) setempat dan panitia lebih serius dalam mempersiapkan satu hal yang urgent ini. sebab arus lalu lintas sudah diatur menjadi satu arah di jalur museum kailasa dan komplek pintu masuk Suharto Witlem. Meski masih saja ada oknum oknum penyakitan yang nekat melawan arus namun hal tersebut tidak menjadi permasalahan yang cukup signifikan seperti tahun lalu. Dan menurut saya hal ini menjadi sebuah prestasi yang cukup bagus untuk standar pelaksanaan event budaya tahunan ini.

Dalam pelaksanaan Dieng Culture Festival VI tahun 2015 ini, ada satu hal yang sangat berkesan bagi saya pribadi. Entah kalo pengunjung yang lain (terutama yang berasal dari daerah lain), Suhu Dieng pada Sabtu 1 Agustus 2015 itu mencapai -3 sampai -5 derajat Celcius !!! banyak pendatang yang merasakan kedinginan luar biasa ketika malam sudah menjelang. Apalagi pas jam 22.00 ke atas. Hal ini menyebabkan munculnya kabut super dingin yang membawa butiran es (yang kerap disebut sebagai bun upas oleh masyarakat sekitar) pada pukul 1 dini hari. Kedinginan yang amat sangat tersebut sempat membuat saya dan kawan kawan KPFB (Komunitas Penggemar dan Penghobi Fotografi Banjarnegara) khawatir dengan sahabat-sahabat yang datang dari jauh seperti Kang Barokah, Puji, Budi, Aip, Dayu dan beberapa orang lainnya  yang sejak ba'da isya sudah mengeluh mengalami kedinginan yang cukup hebat.


Ada satu hal yang cukup menarik dan perlu menjadi perhatian bagi penyelenggara DCF di tahun tahun mendatang terkait kondisi udara yang sangat dingin di Dieng ini. Saking dinginnya udara, banyak terlihat sleeping bag double yang bergerak gerak dengan teratur disertai suara suara lenguhan dan desahan halus di sudut sudut Dieng. Entah apa itu saya tidak tahu dengan pasti ............... namun yang jelas pada pagi harinya patugas kebersihan mengeluh menemukan banyak sekali "pengaman" bekas tercecer di setiap sudut Dieng ....... dan tentu saja hal ini bagi saya sungguh merusak kesakralan dan kemurnian cagar budaya ini.

Bagaimana dengan saya ? setelah serangkaian acara yang cukup melelahkan di sore harinya, malam itu bersama Mas Safir dan kawan kawan  KPFB  lumayan mendapatkan pengalaman yang menarik. Mulai dari berhasil memotret sepuasnya momen-momen pelepasan 2000 lampion, tarian api sampai tidur di tenda orang dan bak truk kebersihan dengan beralaskan matras tipis, berlarian menuju museum kailasa jam setengah  empat pagi demi mengikuti pak Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno, mengantarkan tamu tamunya menuju puncak gunung Pangonan, stress karena tiba tiba ada memory card yang ngadat dan minta format ulang, dan masih banyak lagi kejadian menarik lainnya yang dibutuhkan sangat banyak kata untuk menceritakannya satu per satu hehehe..........

skip...........

Pada hari Minggu tanggal 2 Agustus 2015, pada saat puncak acara, yaitu ritual pemotongan rambut gimbal, ada satu hal yang menurut saya menarik sekaligus memprihatinkan. Apakah  itu ?
Sejak dimulainya acara, pengunjung saya lihat hanya menunggu untuk memotret anak bajang yang waktu itu berjumlah 10 orang. Setelah Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo, memotong rambut gembel dan menunjukkannya ke pengunjung (yang tentu saja dengan semena mena memotretnya), banyak yang kemudian beranjak meninggalkan lokasi. Entah kemana. Yang jelas begitu pemotong ke 3, pengunjung yang semula duduk rapi berhamburan keluar arena.

Berdasarkan penuturan beberapa orang wisatawan yang kami temui, salah satunya adalah Rico dan Ema dari Bandung, mereka cukup bosen dengan pelaksanaan acara ritual puncak (pemotongan rambut gimbal) yang memang berjalan dengan lambat dan tanpa variasi. Juga soal panasnya matahari yang sangat terik waktu itu. Dan meskipun pada DCF VI ini Presiden Djancuker, Sujiwo Tejo, pun ikut memotong rambut gembel bocah bajang, namun hal tersebut bukan sesuatu hal yang menahan mereka beranjak dari lokasi.

Secara keseluruhan rangkaian acara, ada beberapa hal pada DCF VI yang memang lebih baik pelaksanaannya dibandingkan tahun sebelumnya. Namun saya pribadi mencatat ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, dipikirkan dan disiapkan untuk pelaksanaan di masa yang akan datang.......

Pertama, menurut saya pemisahann waktu pelaksanaan antara Pagelaran Jazz Atas Awan, Pelepasan ribuan Lampion ke udara dan pesta "Kembang Api" sangat mengurangi "keajaiban malam" di Dieng. tidak seperti tahun lalu yang sangat meriah dan berkesan, DCF tahun ini menurut saya masih terasa agak kurang greget dan mempesona.



Kedua, kembang api yang diterbangkan bukan standar festival. Kurang segalanya. Kurang besar, kurang banyak, kurang bagus, dan sebagainya. Juga kurang ajar saya tidak mendapatkan foto bagus di momen ini hehehehe......... masih soal kembang api, ada satu orang fotografer yang juga mengabadikan momen ini mengatakan bahwa kembang api yang dinyalakan masih kelas "kembang api mainan" dan lelucon saja. Entah karena dia kecewa tidak mendapatkan foto bagus untuk momen ini (seperti saya) ataukah karena memang kembang api yang meletus di udara tidak sesuai dengan espektasinya akibat pengaruh iklan yang mengatakan bahwa ada pesta kembang api di Dieng (yang tentu saja akan memunculkan sebuah anggapan bahwa kembang apinya sama seperti yang di kota kota besar ketika tahun baru tiba). Entahlah..............

Ketiga, mungkin jajaran pokdarwis selaku panitia pelaksana perlu memikirkan sebuah event tambahan sebagai variasi lain rangkaian DCF mendatang seperti Sendratari akbar, pemotongan rambut secara bersamaan oleh beberapa orang sekaligus sebagai bentuk percepatan prosesi, mengundang idola publik  untuk ikut dalam prosesi (seperti kota sebelah yang mendatangkan grup musik SLANK), dan bermacam macam agenda lain yang perlu dibahas lebih lanjut di kemudian hari.

Keempat, mungkin sudah saatnya kedua kota pemilik Dieng (Banjarnegara dan Wonosobo) berkolaborasi dengan melupakan ego masing-masing untuk mempersiapkan DCF berikutnya sehingga acara tersebut bisa berlangsung lebih meriah, lebih tertata dan lebih sakral lagi. Tentu saja dengan memunculkan variasi lain yang bisa menjamin bahwa acara tersebut tidak membosankan dan semrawut.

Terakhir, masih berkaitan dengan poin sebelumnya, melihat jumlah pengunjung antara tahun ini dan tahun 2014 lalu, nampaknya jumlah pengunjung yang menghadiri DCF VI ini menurun drastis. Tidak sebanyak DCF V yang lalu. Bisa dibayangkan andai saja variasi dan inovasi baru tidak muncul, akan berapa banyak jumlah pengunjung pada DCF VII tahun 2016 nanti ?

Ah sudahlah.....semoga apa yang menjadi catatan ini tahun depan sudah teratasi dengan baik. dan semoga mas mas dan mbak mbak panitia DCF semakin solid dan kompak dalam menjalankan tugasnya sehingga pagelaran akbar tahunan yang mengangkat budaya lokal seperti ini tidak semakin pudar dan ditinggalkan pengunjungnya..........................

Berikut sedikit oleh oleh dari Dieng waktu itu ........





Beauty Night at Dieng ..........................










Ketemu kawan, sahabat, guru dan bala kurawa.............itu satu point paling membahagiakan di event semacam ini ..........









AJI SANTOSO : Pelatih Jenius kesayangan Para Elit PSSI

Rasanya sedih dan tragis juga melihat nasib persepakbolaan di negeri ini. Semakin kacau dan balau yang sudah tidak bisa diceritakan lagi pada anak cucu kelak. Ambyar..... Bahkan saking muaknya saya, kalau di tivi lagi ada berita soal PSSI, mending ganti channel gosip yang lucunya lagi-lagi menyinggung soal badan sepakbola yang satu ini dari sisi para artis. Jupe misalnya yang bernazar mau telanjang di GBK.......hemmmm

Eitss... sudah sudah, jangan bicarakan dia. Nanti imajinasi jadi melayang kemana mana.
Kembali ke topik utama aja, keanehan PSSI sekarang ini yang sudah dalam posisi dibekukan Menpora dan dibanned oleh FIFA (yang lucunya juga lagi kena kasus suap......nah....).

Terakhir, baru beberapa hari yang lalu kita disuguhi pertandingan yang memilukan dimana timnas U23 kita dibantai 5-0 oleh Thailand. Busyet..... sebuah skor yang menyayat hati. Bahkan untuk menontonnya di TV pun saya (dan berjuta penduduk Indonesia lainnya) sampai harus menahan nafas ketika gawang kita begitu sering terancam oleh serangan dari lawan (yang sebenernya level permainannya sama - menurut saya....)


So, apa yang salah ? Menurut saya..... ya sekali lagi menurut saya, yang salah adalah pelatihnya. Mas Aji Santoso itu. Dengan materi yang "mengandung" pemain-pemain U19 didikan Indra Syafri, yang notabene selalu bermain bola dengan otak, pelatih yang dulu bermain sebagai andalan di sektor bek/sayap kiri itu nyatanya tidak mampu meracik formula yang pas untuk anak asuhnya.

Bisa dilihat bagaimana Evan Dimas dan Paulo Sitanggang bekerja keras pontang panting di lini tengah tanpa bisa diimbangi oleh bagian penyerangan serta pertahanan kita. Dimana pemain lain yang ada dilapangan waktu itu yang notabene bukan hasil didikan pelatih Bali United saat ini, Indra Sjafri ? Sungguh sangat sangat tidak padu dan tidak mutu. Entah apa yang ada di pikiran pelatih kesayangan almarhum PSSI ini.

Eits, Kenapa disebut sebagai kesayangan ?
Oke kita ikuti track recordnya yang saya ambil dari beberapa sumber terpercaya......

Kiprah cemerlang Aji Santoso sewaktu menjadi pemain menggiur para elit PSSI untuk menggandengnya melatih pasukan merah putih. Radar mengarah kepadanya ketika ia memulai karir kepelatihan professionalnya diakhir 2000-an. Arah menjadi caretaker tim nasional Indonesia seolah menunggu waktu. Itu terbukti saat ia ditunjuk menjadi asisten pelatih timnas U23 senior tahun 2011, kemudian menjadi pelatih Timnas Senior Sementara saat menutup laga Pra Piala Dunia 2014 (laga bertandang ke Bahrain tahun 2012), dan menjadi pelatih kepala Timnas U23 sejak 2014 sampai sekarang.

Dibawah tangan dingin dan kejeniusannya meramu permainan 11 pemain dilapangan, Timnas menjadi sangat disegani dikancah Asia Tenggara bahkan Asia! Tengoklah bagaimana track recordnya memperoleh kemenangan2 mengesankan dari tim tangguh macam Timor Leste, Kamboja, dan Brunei Darussalam diajang resmi, atau menghadapi Persigar Garut dan Tim Pra PON domestik diajang persahabatan. Mencetak gol diatas 3 biji bukan hal langka. Hal ini kian mengukuhkan dirinya sebagai pelatih yang apik dalam meramu strategi tim.

Well, sekalipun masih belum mendapatkan gelar juara di segala ajang yang ia lakoni sebagai pelatih, tapi setidaknya ada beberapa pertandingan yang patut kita kenang sebagai laga apik. Laga-laga ini adalah pengukuhan superioritas Timnas saat ditanganinya. Berikut catatan Harum tersebut saat dia melatih pasukan Merah putih :

1. Bahrain 10 - 0 Indonesia (Februari 2012 = Pra Piala Dunia 2014). Hasil akhir = Juru Kunci grup. (Aji Santoso hanya melatih di 1 laga terakhir saja)
2. Thailand (U23) 6 - 0 Indonesia (U23). September 2014 = Asian Games 2014
3. Indonesia (U23) 1 - 4 Korea Utara (U23). Sept 2014 = Asian Games 2014. Hasil Tournamen = Perempat Final
4. Indonesia (U23) 0 - 3 Syria (U23). Februari 2015 = Laga persahabatan sebagai Tuan Rumah)
5. Indonesia(U23) 0 - 4 Korea Selatan (U23). Maret 2015 = Kualifikasi AFC U23. Gagal lolos ke Putaran FInal AFC U23
6. Indonesia (U23) 2 - 4 (U23) Myanmar. Juni 2015 = Pertandingan pembuka SEA GAmes 2015.
7. Indonesia U23 0 - 5 Thailand U23. 12 Juni 2015 = Babak Semifinal SEA Games 2015.
8. Vietnam U23 5 - 0 Indonesia U23. 15 Juni 2015 = Perebutan Juara III SEA Games 2015.

Track Record diatas adalah bukti kesaktian Aji. Yang paling fenomenal adalah saat laga menghadapi Bahrain (Febr 2012) skor Bahrain 10 - 0 Indonesia. Ini adalah laga "Legend" dimana rekor baru tercipta sebagai torehan prestasi emas bangsa ini. Dunia Internasional berdecak kagum sembari angkat topi terhadap hasil ini. Permainan ngotot dengan aliran-aliran bola jelas antar pemain merupakan terapan strateginya. Dan ini sangat menghibur.

Masih mengenai catatan harum diatas, lihatlah bagaimana Indonesia begitu trengginas, banjir gol kegawang lawan dan begitu sukar kebobolan saat menghadapi tim elit dunia (macam Bahrain, Myanmar, dan Thailand) adalah bukti nyata kejeniusan Aji Santoso. Sepanjang 2 dekade terakhir, rentetan hasil ini sangat memuaskan bangsa. Sungguh Aji melesatkan harapan besar tentang kejayaan Sepakbola Indonesia untuk berjaya di kancah Internasional. Bila pelatih seperti dia terus dipelihara memegang tampuk kepelatihan utama, niscaya Gelar Piala Dunia 2022 bisa disandingkan dengan Gelar Piala Asia 2023. Atau jika ada sedikit keajaiban, TImnas Indonesia bisa menginvasi African Cup, EURO, dan American Cup. O betapa bahagianya kami se-Indonesia.

Bagaimana dengan insting dan pengetahuan umumnya tentang sepakbola? Jangan ditanya. Sempat dikaitkan dengan isu pemanggilan Lorenzo Pace, pemuda 19 tahun keturunan Indonesia-Italia, Aji ogah memanggilnya karena sepengetahuan Aji ; Pace hanyalah pemain cadangan di Primavera Lazio. Pace jarang menembus skuad utama ungkapnya. Aji begitu kukuh dengan pernyataannya sekalipun statistik Pace di transfermarkt.com dan soccerway berkata lain (di kedua situs kredibel ini : Pace adalah penghuni regular squad Lazio Primavera). Berbekal wawasan luas, tak heran ia sanggup menjayakan sepakbola Indonesia di 2 tahun belakangan.

Btw, Jupe bayar hutangnya beneran lho ,.......hahahahaha.............

#AjiSantosomundur #saveIndonesianFootball #callIndraSjafri #KillPSSI #goTimnas #goEvanDimas

Special Thanks to sancimelekete on Kaskus
6.16.2015
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow