Salon Foto Indonesia pertama saya
Siang itu tiba tiba ponsel saya berbunyi, hanya angka yang tertera di layar tanpa nama.
Ceritanya begini sodara sodara, untuk tahun 2016 ini HISFA Yogyakarta adalah penyelenggara Salon Foto Indonesia ke 37. Dan Salon Foto ini adalah sebuah ajang kompetisi foto paling bergengsi di negeri ini dimana foto yang masuk adalah foto foto sangat pilihan dari para peserta pilihan dan kemudian di seleksi lagi oleh Juri juri kelas wahid yang dijamin super istimewa hasil pilihannya. Dan alhamdulillahnya dari 4 kategori foto yang dikompetisikan ada 3 foto saya yang masuk dalam album itu....padahal ini adalah kali pertama saya berani nekat untuk mengirimkan karya foto...... Sebelumnya? saya tidak punya nyali kisanak .......
Hanya 3 foto dengan masing masing satu piagam, tanpa piala apalagi medali. Namun bagi saya itu semua sudah lebih dari cukup untuk berbangga hati tanpa menyombongkan diri. Yang jelas, masih banyak hal yang harus saya pelajari lagi, perlu lebih banyak lagi diskusi dan menimba ilmu dari senior senior fotografi di negeri ini, dan masih sangat jauh lagi bagi saya untuk bisa membusungkan dada terlalu tinggi dengan hanya berbekal prestasi yang secuil ini.
" Halo selamat siang, saya dari jasa pengiriman mau mengirimkan paket untuk bapak, mohon maaf rumahnya yang sebelah mana ya " tanya sebuah suara dari ujung sana.
" Halo juga mas, rumah saya yang ujung jalan, ada pintunya, ada gentengnya, trus ada gerbangnya warna hitam muda......oya ngomong ngomong paketan dari mana ya ? "
" Halo juga mas, rumah saya yang ujung jalan, ada pintunya, ada gentengnya, trus ada gerbangnya warna hitam muda......oya ngomong ngomong paketan dari mana ya ? "
" HISFA Jogja Mas.......kayaknya isinya album foto pak "
Dan kejadian setelahnya tidak usah diceritakan lagi karena sedetik kemudian saya cuman berjingkrak jingkrak dan menari mengikuti irama lagunya NDX, Kimcil Kepolen ........
Kenapa saya begitu bahagia ?
Ceritanya begini sodara sodara, untuk tahun 2016 ini HISFA Yogyakarta adalah penyelenggara Salon Foto Indonesia ke 37. Dan Salon Foto ini adalah sebuah ajang kompetisi foto paling bergengsi di negeri ini dimana foto yang masuk adalah foto foto sangat pilihan dari para peserta pilihan dan kemudian di seleksi lagi oleh Juri juri kelas wahid yang dijamin super istimewa hasil pilihannya. Dan alhamdulillahnya dari 4 kategori foto yang dikompetisikan ada 3 foto saya yang masuk dalam album itu....padahal ini adalah kali pertama saya berani nekat untuk mengirimkan karya foto...... Sebelumnya? saya tidak punya nyali kisanak .......
Hanya 3 foto dengan masing masing satu piagam, tanpa piala apalagi medali. Namun bagi saya itu semua sudah lebih dari cukup untuk berbangga hati tanpa menyombongkan diri. Yang jelas, masih banyak hal yang harus saya pelajari lagi, perlu lebih banyak lagi diskusi dan menimba ilmu dari senior senior fotografi di negeri ini, dan masih sangat jauh lagi bagi saya untuk bisa membusungkan dada terlalu tinggi dengan hanya berbekal prestasi yang secuil ini.
Dan bukan bermaksud untuk riya ..... ini foto saya yang masuk album Salon Foto Indonesia 37 itu.....
![]() |
| " Persimpangan " - kategori Streetphoto |
![]() |
| " Larung Rambut gembel " - Kategori Travel Photography |
![]() |
| " Negeri Atas Awan " - Kategori Travel Photography |
Abdan 1 tahun
Tidak terasa sudah setahun yang lalu kamu hadir melengkapi keluarga ini. Tawamu, tangisanmu, celotehanmu bahkan baunya ompolmu semakin menambah warna hidup ayah dan bundamu ini.
Dan tepat hari ini, 30 Desember 2016, genaplah tahun pertamamu eksis di dunia bersama kami, keluargamu......
Selamat Ulang Tahun yang pertama Abdan Rakha Assaid Al Azis, banyak harapan dan doa yang kami panjatkan untukmu untuk masa depanmu dan untuk kebahagiaanmu kelak. sei ring dengan kekhawatiran tentang berbagai hal terkait semakin gilanya dunia yang kita tinggali ini.
Dan ayah bundamu ini berjanji akan sebisa mungkin menuntunmu melewati jalanan berbatu yang menghadang di depanmu, menuntunmu melewati kerasnya hidup dengan tetap memegang teguh agamamu...... semoga .......
Lagi : Adik cowok ada yang laku
Tanggal 9 Desember 2016, salah satu adik cowok laku lagi..... halah......
Yah begitulah sodara sodara, Alhamdulillah pada jam 9.00 pagi waktu Banjarnegara bagian Desa Gemuruh, akad nikah dan ijab qobul sukses dilakukan di masjid Al Ikhlas dengan anggukan kepala dan sebuah kata SAH dari para saksi nikah.....
Setelah bertahun tahun menyandang status tidak "genah", setelah bertahun tahun berpacaran dengan burung murai lengkap beserta kandangnya dan diprediksi oleh para ahli bahwa adik cowokku yang satu ini bakal lulus U30, akhirnya dia bisa mematahkan semua prediksi dan memperbaiki statusnya di KTP menjadi Menikah.
yes..... Anindita Widya Widagdo sudah sah jadi suami seseorang sekarang......... hahahaha..........
sudah resmi jadi anak mantu seorang bapak dan seorang ibu baru
sudah layak dipanggil mas dan adek bagi keluarga baru
dan sudah waktunya segera dihapus dari Kartu Keluarga Bapak........
(karena sudah berhak untuk punya Kartu Keluarga sendiri tentunya hehehe.....)
Selamat datang dik Lita di keluarga besar kami. Semoga lambat laun kamu akan terbiasa dengan semua kondisi dan situasi yang ada di rumah kami. Jangan protes kalau di pagi hari akan antri mandi dengan durasi yang lumayan bikin keki, jangan kaget kalau nantinya kamu akan ditinggal pacaran lagi sama burung murai, jangan kaget kalau pas musim liburan datang kamu akan capek bikin nasi hampir tiap jam karena akan datang kakak ipar dan adek iparmu yang semuanya berperut keranjang dan makan nasi satu kwintal sehari, jangan kaget kalau setelah ini kamu akan menemukan banyak hal aneh bin ajaib yang hanya akan ditemukan di sini .... di keluarga kami.......
Dan satu hal yang pasti, maafkan kalau pas lagi asik tolong jangan berisik karena ada keponakan kalian yang akan segera datang dan mengganggu kalian "berkegiatan" membuat keponakan baru buat kami ..... hahaha.......
Dan sesuai janji bahwa foto pre wedding hanya akan di publikasikan setelah kalian menikah, ini beberapa fotonya
Yah begitulah sodara sodara, Alhamdulillah pada jam 9.00 pagi waktu Banjarnegara bagian Desa Gemuruh, akad nikah dan ijab qobul sukses dilakukan di masjid Al Ikhlas dengan anggukan kepala dan sebuah kata SAH dari para saksi nikah.....
Setelah bertahun tahun menyandang status tidak "genah", setelah bertahun tahun berpacaran dengan burung murai lengkap beserta kandangnya dan diprediksi oleh para ahli bahwa adik cowokku yang satu ini bakal lulus U30, akhirnya dia bisa mematahkan semua prediksi dan memperbaiki statusnya di KTP menjadi Menikah.
yes..... Anindita Widya Widagdo sudah sah jadi suami seseorang sekarang......... hahahaha..........
sudah resmi jadi anak mantu seorang bapak dan seorang ibu baru
sudah layak dipanggil mas dan adek bagi keluarga baru
dan sudah waktunya segera dihapus dari Kartu Keluarga Bapak........
(karena sudah berhak untuk punya Kartu Keluarga sendiri tentunya hehehe.....)
Selamat datang dik Lita di keluarga besar kami. Semoga lambat laun kamu akan terbiasa dengan semua kondisi dan situasi yang ada di rumah kami. Jangan protes kalau di pagi hari akan antri mandi dengan durasi yang lumayan bikin keki, jangan kaget kalau nantinya kamu akan ditinggal pacaran lagi sama burung murai, jangan kaget kalau pas musim liburan datang kamu akan capek bikin nasi hampir tiap jam karena akan datang kakak ipar dan adek iparmu yang semuanya berperut keranjang dan makan nasi satu kwintal sehari, jangan kaget kalau setelah ini kamu akan menemukan banyak hal aneh bin ajaib yang hanya akan ditemukan di sini .... di keluarga kami.......
Dan satu hal yang pasti, maafkan kalau pas lagi asik tolong jangan berisik karena ada keponakan kalian yang akan segera datang dan mengganggu kalian "berkegiatan" membuat keponakan baru buat kami ..... hahaha.......
Selamat menempuh hidup baru Anindita Widya Widagdo dan Laelita Intan Rahmawati,
Semoga dengan menikah semakin dibukakan pintu rejekinya brader,
semoga dengan menikah hidupmu akan semakin aman nyaman tenteran damai dan tertata rapi, semoga dengan menikah hidupmu semakin indah,
semoga dengan menikah beban dalam pikiranmu semakin dipermudah, dan
semoga dengan menikah segera diberikan sebuah kehidupan idaman yang sakinah mawaddah warahmah ........Aminnn.........
be a good man, good husband, good brother, good son, and good father Ndi ........
Dan sesuai janji bahwa foto pre wedding hanya akan di publikasikan setelah kalian menikah, ini beberapa fotonya
Membuat Angka Terbilang Pada Excel Untuk Merubah Angka Menjadi Huruf
Seringkali ketika kita bekerja menggunakan Microsoft Excel, kita menemui data angka yang harus diubah menjadi huruf. Misal angka 1.200.000 akan diubah menjadi satu juta dua ratus ribu rupiah. Memang bisa diubah secara manual, namun jika data yang harus diproses jumlahnya banyak, maka akan memakan banyak waktu.
Salah satu cara termudah untuk mengenjakannya sehingga sangat mempersingkat waktu kerja kita adalah dengan menggunakan fungsi terbilang pada MS Excel. Berbeda dengan kebanyakan fungsi Excel yang sudah tersedia dalam paket standar, rumus Terbilang termasuk metode yang unik. Sebab, kita memerlukan unsur tambahan yang diperoleh dari sumber diluar. unsur tersebut adalah sebuah Add-Ins. Dan agar fitur tambahan ini dapat berfungsi, maka terlebih dahulu kita harus mematikan security macro.
Silahkan download dulu Add-Ins nya disini
Berikut ini langkah-langkah membuat angka terbilang pada Microsoft Excel 2010 yang sebenarnya juga bisa diterapkan pada versi lain dengan sedikit perbedaan. Jangan lupa untuk mendownload file terbilang dan menyimpannya di lokasi yang mudah ditemukan pada komputer.
Pertama, non-aktifkan dahulu security macro dengan cara:
Kedua, install Add-ins Terbilang Excel, caranya:
Ketiga, langkah-langkah menggunakan rumus Terbilang untuk merubah angka menjadi huruf
Ketikkan angka berapa saja di sebuah cell, misal A1. Kemudian, posisikan kalimat terbilangnya di B1. Sebagai contoh, Kita bisa mengetik angka 1234567 pada A1.
Bagaimana jika ingin menampilkan rupiah ?
caranya gampang kok...... kita tinggal memodifikasi fungsi terbilang ini. Misal akan merubah sel D4 maka Rumusnya
Bagaimana jika ingin kalimat yang tampil ini memiliki huruf besar disetiap katanya ?
Misalnya Seratus dua puluh delapan menjadi Seratus Dua Puluh Delapan. Kira kira caranya seperti ini kakak......
Jika ingin mengubah menjadi huruf besar semua, ganti PROPER menjadi UPPER. Sedangkan bila ingin merubah menjadi huruf kecil semua, ganti menjadi LOWER .
Dan bagaimana cara menggunakan koma dalam fungsi terbilang ini. Misalnya mau membuat angka 1000,5 menjadi seribu koma lima. Cara melakukan hal ini sangat mudah, tulis saja seperti biasanya yaitu 1000,5 . Lalu gunakan fungsi terbilang. Jika hasilnya malah sepuluh ribu lima, berarti setting regional di komputer anda masih setting luar. Oleh karena itu gunakan tanda titik (.) . Jadi jika 1000,5 tidak bisa, gunakan 1000.5
Salah satu cara termudah untuk mengenjakannya sehingga sangat mempersingkat waktu kerja kita adalah dengan menggunakan fungsi terbilang pada MS Excel. Berbeda dengan kebanyakan fungsi Excel yang sudah tersedia dalam paket standar, rumus Terbilang termasuk metode yang unik. Sebab, kita memerlukan unsur tambahan yang diperoleh dari sumber diluar. unsur tersebut adalah sebuah Add-Ins. Dan agar fitur tambahan ini dapat berfungsi, maka terlebih dahulu kita harus mematikan security macro.
Silahkan download dulu Add-Ins nya disini
Berikut ini langkah-langkah membuat angka terbilang pada Microsoft Excel 2010 yang sebenarnya juga bisa diterapkan pada versi lain dengan sedikit perbedaan. Jangan lupa untuk mendownload file terbilang dan menyimpannya di lokasi yang mudah ditemukan pada komputer.
Pertama, non-aktifkan dahulu security macro dengan cara:
- Klik Menu pada excel dan pilih Options
- Setelah muncul jendela Excel Options, klik Trust Center, kemudian klik Trust Center Settings.
- Anda akan melihat Macro Settings. Klik Enable all macros dan OK 2 kali.
Kedua, install Add-ins Terbilang Excel, caranya:
- Klik Menu File pada Microsoft Excel dilanjutkan dengan klik Options.
- Setelah muncul jendela Excel Options, klik Add-ins.
- Klik tombol Go dan jendela Add-ins akan muncul. Klik Browse.
- Temukan letak file Add-ins Terbilang kemudian klik OK. Sekarang, Anda dapat mulai menggunakan fungsi tersebut.
Ketiga, langkah-langkah menggunakan rumus Terbilang untuk merubah angka menjadi huruf
Ketikkan angka berapa saja di sebuah cell, misal A1. Kemudian, posisikan kalimat terbilangnya di B1. Sebagai contoh, Kita bisa mengetik angka 1234567 pada A1.
Bagaimana jika ingin menampilkan rupiah ?
caranya gampang kok...... kita tinggal memodifikasi fungsi terbilang ini. Misal akan merubah sel D4 maka Rumusnya
=terbilang(D4)&" Rupiah"
Bagaimana jika ingin kalimat yang tampil ini memiliki huruf besar disetiap katanya ?
Misalnya Seratus dua puluh delapan menjadi Seratus Dua Puluh Delapan. Kira kira caranya seperti ini kakak......
=PROPER(terbilang(D4)&" Rupiah")
Jika ingin mengubah menjadi huruf besar semua, ganti PROPER menjadi UPPER. Sedangkan bila ingin merubah menjadi huruf kecil semua, ganti menjadi LOWER .
Dan bagaimana cara menggunakan koma dalam fungsi terbilang ini. Misalnya mau membuat angka 1000,5 menjadi seribu koma lima. Cara melakukan hal ini sangat mudah, tulis saja seperti biasanya yaitu 1000,5 . Lalu gunakan fungsi terbilang. Jika hasilnya malah sepuluh ribu lima, berarti setting regional di komputer anda masih setting luar. Oleh karena itu gunakan tanda titik (.) . Jadi jika 1000,5 tidak bisa, gunakan 1000.5
Kolopaking, sepenggal sejarah Banjarnegara
Nama Kolopaking ini otomatis mengingatkan beberapa kawan kepada artis yang dulu pernah terkenal, Novia Kolopaking. Apakah ada hubungannya? Sebagai trah, Kolopaking sering disangka sebuah marga yang berasal dari wilayah Indonesia Timur, padahal nama ini bila dirunut ceritanya, akan muncul pada cerita sejarah Kebumen di Jawa tengah.
Pada masa Amangkurat I memerintah di Mataram, seorang bangsawan dari Madura, Trunojoyo, melakukan pemberontakan (1677) dan berhasil membuat Amangkurat I menyingkir ke Cirebon. Dalam perjalanan ini, Amangkurat I dibawa oleh penguasa setempat yang bernama Ngabehi Kertowongso untuk singgah di Panjer (sekarang Kebumen). Rupanya Kertowongso masih mengakui Amangkurat I sebagai raja Mataram yang sah, bahkan ketika melihat sang raja yang tampak kelelahan dan menderita sakit karena keracunan, Kertowongso mencarikan air kelapa untuk penawar racun. Sayang buah kelapa yang dapat ditemukan saat itu hanya yang kulitnya sudah kering (kelapa aking) saja. Air kelapa diminumkan dan tak berapa lama berhasil membuat kondisi tubuh Amangkurat I membaik. Kertowongso kemudian digelari Tumenggung Kolopaking I dan menjadi awal trah Kolopaking.
Walaupun awalnya trah Kolopaking berkuasa di wilayah Kebumen (sebelumnya disebut Panjer), namun pada masa Perang Diponegoro, terjadi perseteruan dengan Adipati Arungbinang yang didukung oleh VOC. Dukungan Kolopaking terhadap Diponegoro harus ditebusnya dengan menyingkir ke wilayah Banjarnegara.
Di Banjarnegara, dinasti Kolopaking tetap berperan terutama melalui salah satu keturunannya, yaitu Raden Adipati Arya Poerbonegoro Soemitro Kolopaking, yang menjadi bupati dari tahun 1927-1945. Nama Soemitro Kolopaking saat ini diabadikan sebagai nama stadion di Parakancanggah, Banjarnegara. Soemitro Kolopaking memiliki istri bernama Anna Lasmanah.
Semasa suaminya menjabat sebagai bupati di Banjarnegara, Lasmanah berkeinginan kuat membangun sarana pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Upayanya diwujudkan tahun 1940 dengan mendirikan rumah sakit bersalin yang diberi nama Boedi Rahajoe pada tanggal 31 Agustus 1940.
Dana untuk pembangunan rumah sakit ini didapatkan dengan cara patungan yang disebut Gerakan Satoe Sen, setiap keluarga menyumbang masing-masing 1 sen. Kekurangannya sekitar 40.000 Gulden didapatkan dari sumbangan Bupati Banjarnegara. Lahan untuk pembangunan adalah pekarangan rumah milik H. Noor di Desa Kutabanjarnegara. Hasil rintisannya ini kelak menjadi RSUD Banjarnegara dan setahun lalu diubah namanya menjadi RSUD Hj. Anna Lasmanah Soemitro Kolopaking (2013).
Soemitro Kolopaking
Soemitro dilahirkan di Papringan, Banyumas pada 14 Juni 1887. Buku Harry Poeze, “Di Negeri Penjajah”, menyebutkan bahwa Soemitro menentang kehendak ayahnya dengan bersekolah di HBS Batavia. Lalu pada usia 19 tahun (1906) pergi ke melanjutkan belajar ke Eropa menggunakan kapal sebagai penumpang kelas 4 dengan uang hanya f.15. Di Eropa, Soemitro banyak bepergian demi mencari tambahan biaya sekolah. Untuk hidup sehari-hari ia bekerja sebagai perawat domba di Leiden. Ia juga pernah pergi ke Jerman (1908) untuk bekerja menjadi buruh tambang batubara.
Kembali ke Hindia Belanda, Soemitro bekerja di pabrik teh dan kina Pandjang Estate di Pangrango, kemudian mengikuti pendidikan komisaris polisi di Batavia. Setelah pendidikan inilah Soemitro mendapatkan tugas sebagai Gewestelijk Leider der Veldpolitie untuk Keresidenan Priangan yang berkedudukan di Bandung (1922). Inilah pertama kalinya orang pribumi mendapatkan pangkat dan jabatan setinggi itu dalam dinas kepolisian Hindia Belanda.
Parta Kutang
Pada masa jabatannya ini terjadi peristiwa yang cukup legendaris di Bandung. Pada tahun 1920-an, Oranjeplein (Taman Pramuka) adalah batas timur Kota Bandung. Kawasan ini dirancang oleh Ir. D.H. Ton sebagai kawasan elite dengan rumah-rumah besar berpekarangan luas untuk taman. Kawasan permukiman ini dinamai Kapitein Hill. Letaknya yang di pinggir kota membuat kawasan ini bersuasana tenang dan nyaman ditinggali.
Tetapi itu tidak berarti tidak ada gangguan sama sekali. Suatu hari di bulan Desember 1922, diberitakan seekor macan tutul dari Gunung Manglayang berkeliaran di sebuah rumah di sebelah timur Jl. Supratman sekarang. Macan tutul sepanjang dua meter itu akhirnya mati ditembak, lalu bangkainya dipamerkan kepada masyarakat.
Bukan itu saja peristiwa yang terjadi di sekitar Kapitein Hill. Pada tahun 1922 itu juga ada kejadian yang cukup bikin heboh warga Bandung, sebuah rumah milik seorang Preangerplanter ditemukan terbuka lebar semua pintu dan jendelanya , sepertinya baru kemasukan maling. Anehnya, tak ada barang yang hilang. Juga tak ditemukan jejak-jejak pembongkaran paksa. Sama tidak tidak ada jejak kecuali sebuah pahat besi yang tergeletak di atas meja tulis pemilik rumah.
Satu minggu kemudian, peristiwa yang sama terjadi lagi. Kali ini di sebuah bank di Alun-alun Bandung. Seluruh pintu dan dan jendela ditemukan dalam keadaan terbuka lebar, begitu juga dengan lemari besi. Anehnya, lagi-lagi tak ada barang yang hilang. Namun sebilah pahat besi tampak tergeletak di dalam lemari besi. Pembobol rumah yang misterius ini lantas dijuluki polisi sebagai De Beitelaar (Si Pahat).
Saat Soemitro melakukan pemeriksaan, disadarinya bahwa ada latar ilmu gaib dalam peristiwa ini. Soemitro pun menggunakan panduan Primbon Maling untuk menangkap pembobol misterius ini. Dengan mempelajari hari, pasaran, dan waktu kejadian, dapat diduga arah kedatangan sang maling. Rencana disusun. Sejumlah anak buahnya ditugaskan berjaga di wilayah timur kota pada hari yang diperkirakan akan jadi hari kedatangan kembali De Beitelaar. Benar saja, sang maling dengan mudah dapat ditangkap.
Akhirnya diketahui, De Beitelaar ini bernama Parta, tinggal di lereng gunung sekitar 20 kilometer sebelah timur Kota Bandung. Ternyata Parta adalah seorang petani kaya yang memiliki sawah, kebun, kolam ikan, ternak, dan sejumlah pembantu rumah tangga. Lantas untuk apa ia membobol rumah orang?
Benar dugaan Komisaris I Soemitro Kolopaking, ada ilmu gaib di balik kasus ini. Rupanya Parta memiliki ilmu turun temurun dalam hal bobol-membobol. Dengan ilmunya ini tak ada gembok yang tak dapat dibukanya, tak ada pintu besi yang dapat menghalanginya. Ternyata Parta hanya ingin menguji ilmunya bila didengarnya ada sesuatu yang tak dapat dibongkar. Sistem pengamanan baru akan selalu menimbulkan keinginan kuat baginya untuk mencoba ilmunya.
Kalaupun ada kasus Parta benar-benar maling, maka hasil curiannya tak pernah diambilnya barang sedikit pun. Semua selalu dibagikannya kepada warga desa yang miskin. Setiap kali melakukan aksinya, Parta selalu hanya memakai singlet dari kain belacu, sehingga orang kampungnya memberikan julukan “Parta Kutang”.
Parta Kutang lalu diadili di Landraad dan mendapatkan hukuman dua tahun penjara serta kewajiban perawatan dokter secara rutin karena dianggap memiliki kelainan jiwa. Selama dalam penjara, Parta Kutang selalu mendapatkan kunjungan dari Komisaris I Soemitro Kolopaking. Bahkan Komisaris ini juga datang berkunjung ke keluarga Parta di lereng gunung.
Sebebas dari penjara, Parta Kutang menyerahkan anaknya kepada Soemitro Kolopaking untuk dididik menjadi orang baik. Soemitro menyekolahkan anak Parta ke sekolah pelayaran di Zeevaartschool Makassar hingga berhasil lulus. Kejadian naas kemudian menimpa keluarga Parta Kutang. Pasangan suami istri Parta Kutang tewas tertimpa pohon saat angin puyuh melanda desa mereka. Sedangkan anaknya yang sudah menjadi mualim di kapal pemburu torpedo Belanda (Torpedo jager) tewas saat kapalnya dibom Jepang di Laut Banda pada tahun 1942.
Free Mason
Di Bandung Soemitro juga berkenalan dengan teosofi dan Freemasonry. Pada tahun 1927 menjabat sebagai Bupati Banjarnegara hingga tahun 1945, kemudia menjadi Residen Pekalongan. Masih di tahun 1945, Soemitro terpilih menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Pada tahun 1951 Soemitro Kolopaking ditunjuk untuk menjadi Menteri Pertahanan RI namun menolaknya dan digantikan oleh Sewaka.
Kemudian Soemitro lebih aktif bergiat dalam komunitas Free Mason. Sebelumnya Soemitro pernah mendirikan dan memimpin loji Serajoedal di Purwokerto yang beroperasi sampai 1942. Pada tahun 1955 Soemitro mendirikan loji Purwo-Daksina di Jakarta, loji Pamitraan di Surabaya, loji Bhakti di Semarang, loji Dharma di Bandung, dan puncaknya masih pada tahun yang sama, ia mendirikan Tarekat Mason Indonesia serta diangkat menjadi Suhu Agung pertamanya.
sumber : https://mooibandoeng.wordpress.com/…/dari-lasmanah-di-tama…/
Pada masa Amangkurat I memerintah di Mataram, seorang bangsawan dari Madura, Trunojoyo, melakukan pemberontakan (1677) dan berhasil membuat Amangkurat I menyingkir ke Cirebon. Dalam perjalanan ini, Amangkurat I dibawa oleh penguasa setempat yang bernama Ngabehi Kertowongso untuk singgah di Panjer (sekarang Kebumen). Rupanya Kertowongso masih mengakui Amangkurat I sebagai raja Mataram yang sah, bahkan ketika melihat sang raja yang tampak kelelahan dan menderita sakit karena keracunan, Kertowongso mencarikan air kelapa untuk penawar racun. Sayang buah kelapa yang dapat ditemukan saat itu hanya yang kulitnya sudah kering (kelapa aking) saja. Air kelapa diminumkan dan tak berapa lama berhasil membuat kondisi tubuh Amangkurat I membaik. Kertowongso kemudian digelari Tumenggung Kolopaking I dan menjadi awal trah Kolopaking.
![]() |
| Raden Toemenggoeng Soemitro Kolopaking Poerbonegoro van Bandjarnegara met Raden Ajoe 1930 KITLV |
Walaupun awalnya trah Kolopaking berkuasa di wilayah Kebumen (sebelumnya disebut Panjer), namun pada masa Perang Diponegoro, terjadi perseteruan dengan Adipati Arungbinang yang didukung oleh VOC. Dukungan Kolopaking terhadap Diponegoro harus ditebusnya dengan menyingkir ke wilayah Banjarnegara.
Di Banjarnegara, dinasti Kolopaking tetap berperan terutama melalui salah satu keturunannya, yaitu Raden Adipati Arya Poerbonegoro Soemitro Kolopaking, yang menjadi bupati dari tahun 1927-1945. Nama Soemitro Kolopaking saat ini diabadikan sebagai nama stadion di Parakancanggah, Banjarnegara. Soemitro Kolopaking memiliki istri bernama Anna Lasmanah.
Semasa suaminya menjabat sebagai bupati di Banjarnegara, Lasmanah berkeinginan kuat membangun sarana pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Upayanya diwujudkan tahun 1940 dengan mendirikan rumah sakit bersalin yang diberi nama Boedi Rahajoe pada tanggal 31 Agustus 1940.
Dana untuk pembangunan rumah sakit ini didapatkan dengan cara patungan yang disebut Gerakan Satoe Sen, setiap keluarga menyumbang masing-masing 1 sen. Kekurangannya sekitar 40.000 Gulden didapatkan dari sumbangan Bupati Banjarnegara. Lahan untuk pembangunan adalah pekarangan rumah milik H. Noor di Desa Kutabanjarnegara. Hasil rintisannya ini kelak menjadi RSUD Banjarnegara dan setahun lalu diubah namanya menjadi RSUD Hj. Anna Lasmanah Soemitro Kolopaking (2013).
![]() |
| Ibu Hj. Lasmanah Kolopaking (1902-1965) yang dipajang di sebuah restoran di Jl. Taman Cibeunying Selatan Foto: Ariyono Wahyu |
Soemitro Kolopaking
Soemitro dilahirkan di Papringan, Banyumas pada 14 Juni 1887. Buku Harry Poeze, “Di Negeri Penjajah”, menyebutkan bahwa Soemitro menentang kehendak ayahnya dengan bersekolah di HBS Batavia. Lalu pada usia 19 tahun (1906) pergi ke melanjutkan belajar ke Eropa menggunakan kapal sebagai penumpang kelas 4 dengan uang hanya f.15. Di Eropa, Soemitro banyak bepergian demi mencari tambahan biaya sekolah. Untuk hidup sehari-hari ia bekerja sebagai perawat domba di Leiden. Ia juga pernah pergi ke Jerman (1908) untuk bekerja menjadi buruh tambang batubara.
Kembali ke Hindia Belanda, Soemitro bekerja di pabrik teh dan kina Pandjang Estate di Pangrango, kemudian mengikuti pendidikan komisaris polisi di Batavia. Setelah pendidikan inilah Soemitro mendapatkan tugas sebagai Gewestelijk Leider der Veldpolitie untuk Keresidenan Priangan yang berkedudukan di Bandung (1922). Inilah pertama kalinya orang pribumi mendapatkan pangkat dan jabatan setinggi itu dalam dinas kepolisian Hindia Belanda.
Parta Kutang
Pada masa jabatannya ini terjadi peristiwa yang cukup legendaris di Bandung. Pada tahun 1920-an, Oranjeplein (Taman Pramuka) adalah batas timur Kota Bandung. Kawasan ini dirancang oleh Ir. D.H. Ton sebagai kawasan elite dengan rumah-rumah besar berpekarangan luas untuk taman. Kawasan permukiman ini dinamai Kapitein Hill. Letaknya yang di pinggir kota membuat kawasan ini bersuasana tenang dan nyaman ditinggali.
Tetapi itu tidak berarti tidak ada gangguan sama sekali. Suatu hari di bulan Desember 1922, diberitakan seekor macan tutul dari Gunung Manglayang berkeliaran di sebuah rumah di sebelah timur Jl. Supratman sekarang. Macan tutul sepanjang dua meter itu akhirnya mati ditembak, lalu bangkainya dipamerkan kepada masyarakat.
Bukan itu saja peristiwa yang terjadi di sekitar Kapitein Hill. Pada tahun 1922 itu juga ada kejadian yang cukup bikin heboh warga Bandung, sebuah rumah milik seorang Preangerplanter ditemukan terbuka lebar semua pintu dan jendelanya , sepertinya baru kemasukan maling. Anehnya, tak ada barang yang hilang. Juga tak ditemukan jejak-jejak pembongkaran paksa. Sama tidak tidak ada jejak kecuali sebuah pahat besi yang tergeletak di atas meja tulis pemilik rumah.
Satu minggu kemudian, peristiwa yang sama terjadi lagi. Kali ini di sebuah bank di Alun-alun Bandung. Seluruh pintu dan dan jendela ditemukan dalam keadaan terbuka lebar, begitu juga dengan lemari besi. Anehnya, lagi-lagi tak ada barang yang hilang. Namun sebilah pahat besi tampak tergeletak di dalam lemari besi. Pembobol rumah yang misterius ini lantas dijuluki polisi sebagai De Beitelaar (Si Pahat).
Saat Soemitro melakukan pemeriksaan, disadarinya bahwa ada latar ilmu gaib dalam peristiwa ini. Soemitro pun menggunakan panduan Primbon Maling untuk menangkap pembobol misterius ini. Dengan mempelajari hari, pasaran, dan waktu kejadian, dapat diduga arah kedatangan sang maling. Rencana disusun. Sejumlah anak buahnya ditugaskan berjaga di wilayah timur kota pada hari yang diperkirakan akan jadi hari kedatangan kembali De Beitelaar. Benar saja, sang maling dengan mudah dapat ditangkap.
Akhirnya diketahui, De Beitelaar ini bernama Parta, tinggal di lereng gunung sekitar 20 kilometer sebelah timur Kota Bandung. Ternyata Parta adalah seorang petani kaya yang memiliki sawah, kebun, kolam ikan, ternak, dan sejumlah pembantu rumah tangga. Lantas untuk apa ia membobol rumah orang?
Benar dugaan Komisaris I Soemitro Kolopaking, ada ilmu gaib di balik kasus ini. Rupanya Parta memiliki ilmu turun temurun dalam hal bobol-membobol. Dengan ilmunya ini tak ada gembok yang tak dapat dibukanya, tak ada pintu besi yang dapat menghalanginya. Ternyata Parta hanya ingin menguji ilmunya bila didengarnya ada sesuatu yang tak dapat dibongkar. Sistem pengamanan baru akan selalu menimbulkan keinginan kuat baginya untuk mencoba ilmunya.
Kalaupun ada kasus Parta benar-benar maling, maka hasil curiannya tak pernah diambilnya barang sedikit pun. Semua selalu dibagikannya kepada warga desa yang miskin. Setiap kali melakukan aksinya, Parta selalu hanya memakai singlet dari kain belacu, sehingga orang kampungnya memberikan julukan “Parta Kutang”.
Parta Kutang lalu diadili di Landraad dan mendapatkan hukuman dua tahun penjara serta kewajiban perawatan dokter secara rutin karena dianggap memiliki kelainan jiwa. Selama dalam penjara, Parta Kutang selalu mendapatkan kunjungan dari Komisaris I Soemitro Kolopaking. Bahkan Komisaris ini juga datang berkunjung ke keluarga Parta di lereng gunung.
Sebebas dari penjara, Parta Kutang menyerahkan anaknya kepada Soemitro Kolopaking untuk dididik menjadi orang baik. Soemitro menyekolahkan anak Parta ke sekolah pelayaran di Zeevaartschool Makassar hingga berhasil lulus. Kejadian naas kemudian menimpa keluarga Parta Kutang. Pasangan suami istri Parta Kutang tewas tertimpa pohon saat angin puyuh melanda desa mereka. Sedangkan anaknya yang sudah menjadi mualim di kapal pemburu torpedo Belanda (Torpedo jager) tewas saat kapalnya dibom Jepang di Laut Banda pada tahun 1942.
Free Mason
Di Bandung Soemitro juga berkenalan dengan teosofi dan Freemasonry. Pada tahun 1927 menjabat sebagai Bupati Banjarnegara hingga tahun 1945, kemudia menjadi Residen Pekalongan. Masih di tahun 1945, Soemitro terpilih menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Pada tahun 1951 Soemitro Kolopaking ditunjuk untuk menjadi Menteri Pertahanan RI namun menolaknya dan digantikan oleh Sewaka.
Kemudian Soemitro lebih aktif bergiat dalam komunitas Free Mason. Sebelumnya Soemitro pernah mendirikan dan memimpin loji Serajoedal di Purwokerto yang beroperasi sampai 1942. Pada tahun 1955 Soemitro mendirikan loji Purwo-Daksina di Jakarta, loji Pamitraan di Surabaya, loji Bhakti di Semarang, loji Dharma di Bandung, dan puncaknya masih pada tahun yang sama, ia mendirikan Tarekat Mason Indonesia serta diangkat menjadi Suhu Agung pertamanya.
sumber : https://mooibandoeng.wordpress.com/…/dari-lasmanah-di-tama…/


















