Banjarnegara Street Photohunt 2017 : Culture On The Street

Komunitas Penggemar dan Penghobi Fotografi Banjarnegara (KPFB) bekerjasama dengan Gajah Pro Production dan RajaTrophy Banjarnegara pada tanggal 22 Agustus 2017 atau bertepatan dengan Hari jadi Kabupaten Banjarnegara yang ke 186 sukses menyelenggarakan sebuah kegiatan bertajuk " Banjarnegara Street Photo Hunt : Culture On The Street "

Kegiatan yang berlangsung pada hari kerja ini ternyata tidak menyurutkan niat para peserta yang berlatar belakang dari berbagai golongan dan pekerjaan. Terbukti dengan jumlah peserta yang mencapai 77 orang. Jumlah yang cukup banyak untuk kegiatan yang digelar di hari kerja di kota kecil pula hehehehe...... FYI, banyak diantara peserta yang (berstatus pegawai, karyawan bahkan juragan) rela mengajukan cuti kantor, ijin, mengajukan Dinas Luar, bahkan ada yang sampai bolos resmi dari kantor/instansinya masing masing. Salutt........

Dengan submit point di Dapoer Central Cafe and Resto, secara garis besar pelaksanaan lomba foto OTS ini sukses digelar. Dimulai dari proses pendaftaran sejak jam 7 pagi sampai dengan berakhirnya proses penjurian pada jam 2 siang, semuanya dapat berjalan dengan baik tanpa ada permasalahan yang cukup berarti. Bahkan pada saat waiting time,  alias menunggu proses penjurian, tidak ada satu pesertapun yang merasa kurang nyaman karena diselingi dengan Ekstra Photo session dan hidangan full dari DC resto ...... bebas makan apa saja......... bayarnya pas mau pulang saja ........dan bukan tanggungan panitia tentu saja........hehehehe.................


Dan......
Dari hasil penjurian yang cukup alot............dalam lomba foto ini diperoleh hasil sebagai berikut :
- Juara I      :  Edo Saputra 
- Juara II     :  Wahyu Tri Suroso
- Juara III    :  Agus Wuryanto
- Juara Harapan I  :  Moh Reza Gemi Omandi
- Juara Harapan II  :  Kukuh Bhahari
- Juara Harapan III  : Yoga Ardi Nugroho

Penasaran seperti apa foto foto juaranya ? Check this out man........
Monggo .........

Juara I : Edo Saputra

Juara II : Wahyu Tri Suroso

Juara III  :  Agus Wuryanto

Juara harapan I  :  Moh. Reza Gemi Omandi

Juara Harapan II  :  Kukuh Bhahari

Juara harapan III  :  Yoga Ardi N
Meskipun penduduk tuan rumah tidak ada satupun yang berhasil menjadi juara, tapi setidaknya ada beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari lomba ini. Pertama, pelajaran tentang memahami tema lomba. Hal ini menjadi penting karena dari hasil penjurian ternyata sebagian besar penduduk tuan rumah mengirimkan foto yang melupakan 'street' nya. Alias justru mensubmit foto foto budaya yang sedang berlangsung. baru setelah pengumuman juara banyak yang menyesali keputusan submit fotonya masing masing

Kedua, dari sisi internal pribadi teman teman yang belum berhasil menjadi juara mungkin akan sedikit kecewa, namun hal itu diharapkan jangan sampai menjadi sebuah alasan untuk berhenti mencoba dan memupus jiwa kompetisi masing masing. Mental untuk berkompetisi perlu selalu dipupuk untuk menghasilkan seorang juara yang benar benar handal dan tahan banting. Ya minimal untuk sedikit mengobati kekecewaan gagal menjadi juara ya dengan menyalahkan teman.......

" sante, banyak temennya man....... tuh yang juara cuman berenam.lha kita segini banyak temennya kok............jangan lebay lah....... " begitu misalnya hehehehe....................

atau .......

" ah foto gitu aja menang....aku punya tuh yang lebih baik dari itu.........cuman ga disubmit ke panitia......... mbak panitia sih kenapa cantik banget, kan aku jadi ga fokus submitnya ........"

By the way, harapan utama diadakannya lomba foto semacam ini sebenarnya adalah ikut meramaikan pagelaran kirab hari jadi Banjarnegara dari sisi fotografi (suwer...... setelah acara ini pendaftar di lomba foto Pesona Banjarnegara jadi meningkat drastis), juga sebagai ajang silaturahmi para pecinta fotografi yang ada di wilayah Banjarnegara dan sekitarnya. Selain itu Wawan Kardjo sebagai ketua pelaksana,  berharap acara ini bisa menjadi langkah awal dari berbagai kegiatan fotografi dan lomba foto yang diadakan di Banjarnegara ke depannya sehingga duunia fotografi di Banjarnegara terus mengalami kemajuan yang positif dan signifikan........halah.........

Foto Keluarga

Para Jawara (termasuk yang tengah lho ......)

Tim Ubresh


8.31.2017
Posted by ngatmow

Dieng Culture Festival VIII, Semakin Rapi, Terkendali tapi semakin Sepi

Kau mainkan untukku 
Sebuah lagu tentang negri di awan 
Di mana kedamaian menjadi istananya 
Dan kini tengah kau bawa Aku menuju kesana ................

Begitu kira kira bait demi bait lagu Negeri Di Awan yang dilantunkan oleh om Katon Bagaskara dan pak Gubernur Ganjar Pranowo malam itu. Malam dimana suhu udara mencapai 3 derajat celcius.

What ? tiga derajat ?
Yang bener aja......

Ya iya lah Dieng gitu ..... kalau di bulan Juli-Agustus itu mah wajar saja. Dan akan selalu terulang di setiap tahunnya. Suer......
Dan kenapa kok om Katon dan Pak Gubernur rela berdingin dingin di Dieng sambil bernyanyi nyanyi ? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena algi ada pagelaran akbar tahunan warga Dieng yaitu Dieng Culture Festival yang ke delapan tanggal 4 - 6 Agustus 2017 lalu.

Yap, seperti tahun tahun sebelumnya DCF mampu menyedot perhatian ribuan massa untuk berkunjung ke Dieng dan menikmati dinginnya udara malam yang begitu menusuk tulang serta rela mengeluarkan duit 10ribu rupiah demi segelas kopi...... what the f#@k that........

DCF VIII tahun 2017 ini memang punya suasana yang agak berbeda dengan DCF tahun tahun sebelumnya. Terlihat lebih rapi, lebih terencana dan lebih sepi.........
Lho??
Khusus yang point terakhir, ada beberapa hal yang mungkin bisa dijadikan sebagai "kambing hitam", salah satunya adalah mahalnya tiket masuk ke area yang mencapai 400ribu OTS. Damn.... !!!

Suasana puncak pesta kembang api dan lampion Jazz Atas Awan 2017

Alrigt..... mari kita ngobrol lebih jauh soal DCF VIII kali ini.
Hal positif pertama yang wajib dan harus kita apresiasi adalah bahwa pelaksanaan kali ini adalah murni swasembada Pokdarwis alias tanpa campur tangan pemerintah......
Kedua, pengelolaan lalu lintas jauh lebih baik dari pada DCF sebelumnya. Hal ini berimbas pada lancarnya arus kendaraan baik yang masuk maupun keluar dari Dieng.
Ketiga, Tempat parkir kendaraan dan "parkir manusia" dalam bentuk camping ground juga sudah tertata rapi (meskipun tidak bisa dipungkiri masih ada banyak sekali tenda tenda dengan lokasi yang ilegal)

Selanjutnya, alias yang ke empat,  dari sisi acara juga sudah cukup bervariasi baik pada hari pertama maupun hari kedua. Hal ini bisa dibuktikan dengan penampilan grup rebana yang menyanyikan lagu-lagu keagamaan dan pembacaan ayat suci Alquran sebagai pembuka rangkaian acara, panggung Jazz di Atas Awan, Festival Caping dan Ritual Anak Gimbal sebagai acara puncak yang berlangsung pada hari Minggunya di area Candi Arjuna.

Kelima, pada saat pelaksanaan acara acara malam, titik dimana orang berdesak desakan sudah jauh berkurang. hanya pada tempat tertentu saja seperti di depan panggung (dan itupun di luar area tamu penting saja), hal ini kemudian menjadikan wilayah lain di sekitar Dieng relatif lebih sepi..
Enam, petugas keamanan yang selalu stand by penuh dan tanpa ampun dalam mengatasi segala bentuk potensi kerusuhan (ini bisa dibuktikan dengan terjadinya "pembuangan" beberapa orang pengunjung oleh pihak panitia dan keamanan karena mabuk berat di sekitar lokasi utama DCF sehingga meresahkan pengunjung lainnya ke luar area Festival)

Tapi....................Diluar segala hal positif itu, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan dan sukur sukur bisa menjadi bahan pelajaran dalam pelaksanaan DCF selanjutnya. Dan tanpa bermaksud mencela atau menghina, hanya bermaksud untuk mengajak kita semua berfikir sambil berbenah diri, berikut beberapa catatan yang saya rasa perlu ditindaklanjuti lebih jauh lagi.......
Pertama,  Harga Tiket yang (saya rasa) terlalu mahal untuk kantong masyarakat ramai macam saye.....400 ribu men...... gila aja....... untuk tiket dengan harga segini, andai saya masih mahasiswa tenu ga akan kuat beli. Paling kalo ke Dieng pun hanya bisa nonton keramaian dan suasananya dari jauh saja. Ga berani deket deket apalagi ikut berdesakan demi dapet fotonya Anji lagi nyanyi pas Jazz atas Awan ........

Kedua, meskipun sudah agak mendingan, saya pikir perlu ada petugas pengatur khusus untuk para pemotret yang berada di barisan depan pada saat ritual puncak pemotongan rambut gimbal di komplek candi arjuna. Kenapa perlu ? sebab banyak sekali tripot, tongsis dan bahkan drone yang pating pencungul di barisan depan dan itu sangat sangat mengganggu barisan fotografer yang ada di belakang (termasuk wartawan yang tidak dapat tempat di panggung).........

Ketiga, kemasan pada saat ritual puncak mungkin perlu sedikit dikemas sedmikian rupa sehingga penonton tidak bosan dan beranjak meninggalkan tempatnya sebelum acara selesai. Seperti kemarin, begitu pemotong ke tiga (Pak Bupati Budi Sarwono dan Wabup Syamsudin)  naik altar, penonton bubar.... nah...... hal itu terjadi karena mereka sudah ilfil duluan dan bosan menunggu menyaksikan ritual yang hanya seperti itu saja.......

Bupati dan Wakil Bupati Banjarnegara

Padahal .......Menteri Pariwisata Arief Yahya mengapresiasi digelarnya kembali Dieng Culture Festival (DCF) 2017. Menurutnya ini kolaborasi penta-helix. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dieng Kulon sebagai komunitas, sukses menginisiasi acara yang terbukti efektif menarik wisatawan.
katanya sih Indirect impact-nya atau media value-nya cukup besar. Dan terbukti dari banyak media asing yang ikut meliput. Beliau sebelumnya juga telah menetapkan Dieng sebagai satu dari empat kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Selain Borobudur, Sangiran dan Karimunjawa.

Nah ...........

Udah ah ...... itu aja................

Salon Foto Indonesia, Ajang Apresiasi Fotografi Tertinggi di Negeri Ini

Pernah dengar soal salon foto ??
belum ??
wajar.......
jangan malu kisanak..... banyak temennya hehehe........

Di kalangan penggila fotografi, Salon Foto tentu sudah tidak asing lagi. Salon Foto Indonesia, ajang apresiasi insan fotografi yang dihelat oleh Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia (FPSI) ini selalu dinanti. Tahun 2017 ini, Salon Foto Indonesia (SFI) diadakan di Surakarta alias Solo, Jawa Tengah dan bertindak sebagai "tuan rumah" yaitu teman teman dari HSB (Himpunan Senifoto Begawan).

Sebenarnya, meskipun SFI ini mirip dengan sebuah kompetisi fotografi, namun saya pikir kurang tepat bila menyebut acara ini sebagai kompetisi foto. Sebab, sejak pertama kali diadakan pada 1973, tujuan SFI adalah ajang apresiasi foto melalui pameran yang telah melalui proses kurasi. Karena itu, jarang sekali terdapat hadiah berupa uang. Kalau pun ada, lebih untuk menarik minat para calon peserta. Jika dunia musik punya Grammy Award dan insan film punya Academy Award, maka fotografi Indonesia punya Salon Foto. Fotografer mengikuti SFI demi mendapat gelar atau pengakuan dari sesama kolega. Memperoleh serta menambah gelar dengan mengikuti SFI menjadi pencapaian tersendiri dari karier seorang fotografer.

Kalau kita perhatikan, beberapa fotografer memasang gelar khas fotografi di belakang namanya. Seperti misalnya Agatha Bunanta, salah seorang perempuan di Indonesia yang punya gelar fotografi terbanyak: Agatha Anne Bunanta, ARPS, EPSA, EFIAP/bronze, UPI Crown 4.

Mengutip dari artikel yang pernah ditulis oleh Arbain Rambey, gelar-gelar tersebut adalah pengakuan dari lembaga foto internasional terhadap kemampuan karya dan jerih payah sang fotografer. Saat para penggemar fotografi saling berkumpul dan bertukar kartu nama, gelar-gelar fotografi sangat berperan di sini. Dengan mengetahui gelar tersebut, setidaknya di antara sesama fotografer mengetahui posisi dan kemampuan si pemilik gelar.

Gelar-gelar fotografi tersebut diberikan oleh berbagai lembaga yang diakui kekuatannya di lingkungan fotografi. Untuk lingkup Indonesia, lembaga yang memiliki kekuatan untuk memberikan gelar fotografi adalah FPSI. Sedangkan di lingkup dunia, ada empat lembaga fotografi internasional, yaitu:
  • RPS (Royal Photographic Society) yang berkantor pusat di Bath, Inggirs
  • PSA (Photographic Society of America) yang berkantor pusat di Amerika Serikat
  • FIAP (Federation Internationale de l’art Photographique) yang berkantor pusat di Paris
  • UPI (United Photographic International) yang berkantor pusat di Yunani

Dalam lomba internasional, setiap foto yang diterima atau terpilih untuk pameran akan mendapatkan satu poin. Dan poin itu dikumpulkan sampai mencapai jumlah tertentu yang bisa diajukan sebagai gelar fotografi.

Sedangkan pada SFI, fotografer yang karyanya menang akan mendapatkan medali serta poin tertentu. Jika sering juara, poin akan terakumulasi dan sang fotografer berhak atas gelar khusus A.FPSI, atau “Artist of FPSI.” Gelar A.FPSI sendiri ada lima, dari satu bintang hingga lima bintang. Syarat poin untuk mendapatkan tiap gelar tersebut adalah sebagai berikut:

30 poin untuk A.FPSI* (Artist of FPSI One Star)
60 poin untuk A.FPSI** (Artist of FPSI Two Stars)
90 poin untuk A.FPSI***(Artist of FPSI Three Stars)
120 poin untuk A.FPSI**** (Artist of FPSI Four Stars)
150 poin untuk A.FPSI***** (Artist of FPSI Five Stars)

Sedangkan untuk perolehan poin dihitung dengan cara:
  • Terpilih / Accepted = 1 Point
  • Penghargaan / Honorable Mention + 1 = 2 poin
  • Medali Perunggu / Bronze Medal + 2 = 3 poin Medali Perak / Silver Medal + 3 = 4 poin
  • Medali Emas / Gold Medal + 4 = 5 poin
  • Pasangan Terbaik / Best Set (4 Karya Foto Accepted) + 2 = 6 poin

“ Semakin banyak poin yang dicapai, gelar yang telah didapat pun akan terus meningkat Dan ini akan menjadi pencapaian tersendiri bagi seorang fotografer ”


Sedikit ngobrol saja, pada penyelenggaraan SFI ke 37 tahun 2016 yang lalu, sebagian besar foto saya berstatus R alias Rejected alias Ditolak hehehehe...... itu yang membuat saya jadi sadar diri bahwa saya mah apatuh.... masih perlu banyak belajar lagi soal fotografi, belum layak untuk sombong sambil mengatakan bahwa saya ini sudah jago (kaya wong kae hahahaha......), dan bahkan mungkin saya juga belum layak untuk menenteng kamera de es el er dengan lensa panjang berwarna putih belang belang hehehe......

Dengan adanya SFI di negeri ini, setidaknya para fotografer (muda) bisa belajar dan menimba ilmu serta pengalaman dari para seniornya agar bisa berkarya dengan lebih baik lagi. Yang jelas, satu hal yang kemudian dialtih secara ga langsung disini adalah mental fotografernya itu sendiri. Mental untuk bersaing, mental untuk menerima kekalahan dan mental apabila mendapatkan predikat A alias Accepted........ sehingga apabil ada seorang (yang mengaku) fotografer namun langsung down begitu menerima predikat R alias Rejected alias Ditolak........ monggo menjauh saja, ga usah susah payah mendaftar Salon Foto Indonesia........ Pliss.........



8.16.2017
Posted by ngatmow

Jepin Ratamba, menjaga tetap eksis walau semakin terkikis

Do you know about a Banjarnegara traditional martial art called Jepin Broxy ?
Tanya seorang kawan asal Denmark pada saya beberapa waktu yang lalu. 
What the f*ck that .......saya ga tahu babar blas .......apa itu Jepin........
Malu saya sebagai warga Banjarnegara .......

So, pada hari itu juga saya browsing sana sini dan bertanya kepada teman teman pemerhati budaya yang ada di Banjarnegara tentang apa itu Jepin dan dimana Jepin itu ada........
hasilnya ? check this out man....... 


Kesenian Jepin mungkin tidak begitu familiar di telinga kita (apalagi bagi yang sok hidup di daerah kota......macam saya.....hehehe....), padahal kesenian ini sudah berumur puluhan tahun dan sudah mengakar dalam hidup masyarakat lho.
Diangkat dari kata Jepin atau Zapin, seni tari dan lagu, bisa menjadi contoh bagaimana proses adaptasi dan akulturasi antara Islam dan budaya lokal tumbuh secara unik. Awalnya, seni ini menjadi alat dakwah para saudagar dari Hadramaut, Yaman, yang menyebarkan Islam di Nusantara pada abad ke-13 Masehi. Sarana syiar agama itu lantas berkembang sebagai kreasi seni penuh variasi di seluruh antero negeri ini.

Dr. Oemar Amin Hoesin dalam bukunya Kultur Islam mengatakan kata Zapin berasal dari Arab, ”Al-Zafn”, yang berarti “Gerak kaki”. Pada uraian berikutnya ia juga mengatakan bahwa buku tentang tarian Islam yang pertama adalah Kitab Al-ragsh wa – zafn. Kitab tarian dan gerak kaki karangan Al- Farabi. Pendapat lain tentang nama Zapin disampaikan Almarhum Tangku Tonel, seorang pencatat sejarah di Kerajaan Pelalawan menyebutkan bahwa nama Zapin itu kemungkinan berasal dari kata As-Syafin yakni bahasa Arab yang berarti di dalam barisan. Syaf = barisan dihubungkan dengan uraian bahwa Zapin ini telah ada dalam barisan prajurit Islam di Zaman Nabi Muhammad SAW, yakni beberapa latihan gerak kaki dalam barisan.

Di Banjarnegara, ada beberapa daerah yang menjadi kantong kantong pelestari kebudayaan Jepin ini. Diantaranya adalah Kecamatan Pagentan dan Kecamatan Pejawaran. Khusus untuk Kecamatan Pejawaran sendiri ada beberapa desa dengan beberapa variasi yang khas dan tidak bisa digabungkan satu sama lain. Misalnya Jepin Desa Giritirta yang cenderung halus dan lembut, serta Jepin desa Ratamba yang cenderung keras dan "galak".

Dan berhubung saya tertarik dengan Jepin Ratamba, maka saya segerakan untuk on the way ke sana .....halah.....


Ratamba adalah sebuah desa dengan kontur permukaan yang asik. Bagaimana tidak, desa ini terdiri dari beberapa bukit dengan susunan rumah penduduk yang seolah bertingkat karena mengikuti permukaan tanah. Untuk menuju ke desa inipun dibutuhkan perjuangan yang cukup lumayan mengingat sepanjang 3 kilometer dari pusat Kecamatan Pejawaran (dan plis jangan tanya berapa kilo jarak pusat kecamatan ini dari pusat kota Banjarnegara) kita harus melewati mantan jalan beraspal halus... nanjak pula......

Menurut sesepuh desa sekaligus sesepuh kesenian ini, Mbah Muhyono, Kesenian Jepin Ratamba (kalau boleh saya sebut demikian), ini agak lain dari yang lain karena pada awalnya merupakan pengembangan dari ilmu kanuragan bernama Rodad dan Cimoi, dan karena pakaian-pakaian kesenian Rodad dan Cimoi dirampas oleh penjajah Jepang yang berada di Banjarnegara pada waktu itu maka kesenian tersebut berubah nama menjadi Jepin yang bisa diartikan sebagai Dijajah Jepang .... lho ??

Oleh karena itulah kesenian ini tumbuh sejak jaman Jepang dan berlangsung sampai sekarang. Kata Mbah Mulyono, dulu kesenian ini diciptakan bertujuan untuk memancing dan menggelorakan semangat juang masyarakat. Gerakan olah kanuragan yang menciptakan gerakan tegas seirama tabuhan beritme dinamis yang berasal dari jedur dan terbang, lengkaplah sudah seni rakyat jepin menjadi gandrungan warga. Busana yang dipakai oleh pemain mirip busana kejawen silat serba hitam serta ikat kepala dari kain batik sebagai penegas gerakan kepala. Juga tiupan peluit yang melengking sebagai tanda dimulainya satu jurus tertentu yang menambah ke"gaharan" kesenian yang satu ini.

Jepin Ratamba memang lain dari yang lain kisanak, dari keterangan ketua Kesenian Jepin Ratamba, Walnoto, pada umumnya Kesenian Jepin memiliki 23 jurus namun untuk Jepin Ratamba terdapat 38 Jurus. Hanya saja dari 67 orang pelaku yang sekarang masih aktif rata rata hanya menguasai 2/3 nya saja karena disamping faktor usia yang belum matang, juga karena beratnya latihan yang harus dijalani untuk bisa menguasai jurus pamungkasnya itu.
Ada yang menarik mengenai jumlah jurus ini. Setelah diamati, ditelusuri dan kemudian ditanyakan kepada yang bersangkutan hehehe....... ternyata memang ada banyak jurus tambahan yang berdasar pada jurus jurus Karate. Weh ... karate ???
Yes..... ilmu kanuragan asal Jepang...... (dan inilah yang menjadikan Jepin Ratamba memiliki gerakan yang cenderung keras dan "galak").

Selain jumlah jurus yang lebih banyak dan gerakan yang cenderung keras, Jepin Ratamba memiliki keunikan lain. Mereka tidak ragu untuk bermain api. Baik itu menyembur api, melompati api dan bahkan makan bara api !! 


Busyet.... 
itu yang bikin saya tertarik setengah mati dengan kesenian yang satu ini......

Salah satu tokoh pemuda Ratamba yang juga menjadi senior di Kesenian Jepin, Sohib, mengatakan bahwa dalam Jepin Ratamba semua batasan manusia seolah terlewati. Seorang pemain jepin akan memiliki kemampuan yang luar biasa istimewa dan bahkan diluar akal manusia apabila dia sudah menguasai semua jurusnya, atau apabila dia sudah bisa bersatu dengan "endangnya"

What ?? endang ??
Endang disini bukan berarti mbak endang atau bu endang man...... endang dimaksud adalah roh halus atau jin tertentu yang bersedia untuk merasuk ke dalam jasad manusia yang mengundangnya. Dan biasanya sih mereka setia, dalam artian satu endang untuk satu orang saja........

Dan seperti kesenian kesenian lain di seluruh penjuru dunia, satu hal yang menjadi permasalahan bagi Jepin Ratamba adalah regenerasinya. Kini semakin banyak pemuda yang mengalihkan "dunia"nya ke kota dan meninggalkan kampung halamannya. Semakin miris memang bahwa di satu sisi kesenian wajib dilestarikan, di sisi lain kebutuhan hidup sekarang memang semakin menusuk tulang. Sehingga pada akhirnya memang kesenian tradisional seperti ini hanya bergantung pada mereka mereka yang sanggup mengembannya meski jumlahnya tak semenjana........



Bocah Bajang, Rambut Gembel Asli Dieng

Di abad modern ini, rambut gimbal digandrungi oleh kalangan muda seiring dengan semakin populernya lagu lagu berirama reggeae. Rambut gimbal yang mendunia ini sangat lazim kita temui di komunitas komunitas uye di semua sudut bumi. Tapi tahukah anda bahwa tidak semua rambut gimbal itu adalah asli ?

Suwer man..... berani di cium mbak luna deh kalo saya ngawur ...... mungkin 80% gimbal yang biasa kita temui adalah gimbal sambungan alias aspal......

Dan tahu tidak bahwa gimbal asli ada di Dieng, Banjarnegara ? Nggak percaya ? monggo cari saja bocah bocah bajang di sana ....

Di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, mereka diistimewakan. Yes....anak-anak itu adalah kesayangan roh-roh gaib penunggu Dataran Tinggi Dieng yang dititipkan penguasa Laut Selatan, Nyai Roro Kidul. Berambut gimbal atau gembel dan kemudian disebut sebagai anak bajang.

Awalnya rambut gimbal ini tumbuh sedikit demi sedikit, anak kecil yang kadang umurnya masih delapan bulan sudah mengalami sakit panas yang tinggi yang tidak sembuh sembuh hingga berminggu minggu. Setelah anak sembuh sudah mulai ada segumpal rambut yang terlihat mencolok di kepala si anak. Ada beberapa jenis gimbal yang terkenal di Dieng, mulai gimbal keris yang seperti rambut di kepang, gimbal sanggul yang bentuknya seperti sanggul, gimbal pari yang seperti helai padi yang sudah tua, juga ada gimbal wedus atau gimbal kambing, bentuknya seperti bulu domba. Salah satu syarat yang harus di penuhi sebelum rambut gimbal ini di potong adalah dengan memberikan permintaan si anak tentang apa apa yang di minta. Orang tua yang memiliki anak berambut gimbal mesti memperlakukan si anak dengan istimewa. Apa pun yang diminta sang anak akan dikabulkan. Jika tidak, orang tua mereka percaya petaka akan datang.

Syifa Muasyaroh atau yang biasa dipanggil Syifa salah satunya, bocah cantik berusia 5,5 tahun ini memiliki rambut gimbal pari yang cukup merata di seluruh permukaan rambutnya. Kepada orang tuanya Suhatno (31 tahun) dan Hatinem (29), dia hanya meminta sebuah sepeda kecil yang nantinya bisa digunakan untuk berangkat ke sekolah. Untuk diketahui saja, permintaannya ini sangat masuk akal mengingat bahwa jarak dari rumah ke sekolahnya yang berada di Desa Beji Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara memang cukup jauh, 2 kilometer, dan harus ditempuhnya dengan berjalan kaki setiap hari. Sangat berat untuk seorang bocah PAUD lho kisanak.


Mitos lain tentang anak bajang juga hidup di antara warga yang mendiami dataran tinggi yang membentang di dua kabupaten di Jawa Tengah yakni Banjarnegara dan Wonosobo. Konon, rambut gimbal sudah ada di Dieng sejak ratusan tahun silam. Mereka adalah titisan Kiai Kaladete yang dianggap sebagai orang yang pertama kali membuka desa tersebut. Diceritakan, Kiai Kaladete bersumpah tak akan memotong rambutnya dan tak akan mandi sebelum desa yang dibukanya makmur. Kelak, keturunannya akan mempunyai ciri seperti dirinya. Itu pertanda akan membawa kemakmuran bagi desa yang ditinggalinya.

Lhah.... bagaimana cara menghilangkannya ?
Satu satunya cara untuk menghilangkan rambut gembel yang melekat pada bocah bajang adalah dengan melakukan ritual ruwatan (Menurut Wikipedia, ruwatan dapat diartikan sebagai ritual khusus dan bertujuan untuk membersihkan diri). Acara ruwatan ini bisa dilakukan secara mandiri (perseorangan) atau dengan pelaksanaan secara bersama sama yang tentu saja menghemat biaya #ehh (inilah yang kemudian mendasari lahirnya Festival Budaya Dieng alias Dieng Culture Festival setiap tahunnya).


Ruwatan potong rambut juga dipercaya sebagai penanda berakhirnya masa titipan anak dari sang Ratu. Mbah Naryono (Alm) adalah sesepuh spiritual sekaligus juru kunci kawasan Dataran Tinggi Dieng. Itulah sebabnya, sebagai orang yang ditokohkan, dulu Mbah Naryono wajib melakukan perjalanan spiritual ke beberapa lokasi sehari sebelum acara ruwatan digelar. Di Tuk Bimo Lukar, tempat yang diyakini sumber mata air Sungai Serayu, misalnya. Di tempat ini, mbah naryono didampingi asistennya mengawali ritual dengan memberitahu kepada Sang Bahurekso, Pangeran Bimo, jika esok akan diadakan ruwatan potong rambut.

Perjalanan pun dilanjutkan. Kali ini, Mbah Naryono bersama asistennya mendatangi puncak Gunung Kendil. Di tempat ini, Mbah Naryono menghaturkan caos dahar (persembahan) kepada roh leluhur Kiai Temenggung Kaladete dan istrinya Nyai Larascinde. Mbah Naryono memohon agar acara ruwatan dijauhkan dari gangguan jin dan setan. Akhirnya, ritual sebelum ruwatan berakhir di Pertapaan Mandalasari Gua Semar. Di tempat yang akan menjadi lokasi puncak ruwatan ini, Mbah Naryono bersemedi.

Esok paginya, ruwatan cukur rambut gembel digelar. Segala sesaji dibawa untuk diberikan kepada leluhur sebagai bakti para anak cucu yang mendiami Dataran Tinggi Dieng. Di pelataran komplek candi Arjuna, digelar seni tradisional tari topeng, sebuah pertunjukan yang disuguhkan untuk menyenangkan para penguasa jagat mistik. Sedangkan anak anak yang akan diruwat dinaikkan ke kereta kuda untuk diarak menuju lokasi itu. Tak ketinggalan, beberapa syarat permintaan sang anak gembel juga diarak diikuti barisan pembawa saji.

Sesampainya di lokasi komplek candi, arak-arakan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Anak-anak gembel yang akan diruwat digendong orang tuanya menuju pelataran. Setelah sampai di tempat yang dituju, prosesi puncak dimulai. Satu per satu rambut gimbal yang bertengger di kepala anak digunting para sesepuh desa yang memiliki kemampuan spiritual. Berdasarkan kepercayaan di sana, rambut gembel tak akan pernah tumbuh lagi setelah diruwat. Namun, jika permintaan sang anak tidak dipenuhi orang tuanya, rambut gimbal akan tumbuh lagi.
Potongan-potongan rambut tersebut lantas dibawa ke pinggir Telaga Warna untuk dilarungkan ke tengah telaga. Potongan rambut anak bajang yang dipersonifikasikan sebagai rambut gembel itu dikembalikan kepada pemiliknya, sang penguasa Laut Selatan Nyi Roro Kidul.


Sekedar informasi, Mbah Naryono sudah berpulang pada hari Sabtu jam 03.00 WIB dini hari tanggal 8 Oktober 2016, dan sekarang tugas tugasnya akan dilanjutkan oleh 3 orang sesepuh lain yaitu Mbah Sumar, Mbah Suyanto, dan Mbah Reswanto.

Kembali ke Syifa, Kedua orang tua Syifa sebenarnya sudah mendaftarkan anak sulungnya ini pada panitia Dieng Culture Festival untuk ikut menjadi salah satu peserta ruwat massal potong gembel beberapa waktu yang lalu, hanya saja Syifa ternyata masuk dalam daftar antrian dan harus menunggu pelaksanaan ruwatan massal beberapa waktu lagi. Akhirnya merekapun harus bersabar menunggu "jatah" pelaksanaan ruwatan massal yeng digelar seiring DCF berikutnya. Hal ini mengingat bahwa pelaksanaan ruwatan massal biaya yang dikeluarkan hanya sedikit sedangkan pada sebuah pelaksanaan ruwat perseorangan membutuhkan biaya yang cukup banyak. Padahal kedua orang tua Syifa merupakan warga sederhana dan merasa tidak mampu untuk mencukupi semua kebutuhan untuk itu.

Nah......
ada yang mau membantu ? atau sekedar mengulurkan tangan agar ruwatan rambut Syifa bisa segera terealisasi ?

Please contact me soon.......

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow