Tampilkan postingan dengan label banjarnegara. Tampilkan semua postingan

Tips n Trik Survival Saat Dieng Culture Festival

Buat yang mau datang ke Dieng Culture Festival 2026 tanggal 28–30 Agustus 2026, siap-siap ya. Akhir Agustus itu termasuk musim kemarau, langit biasanya cerah, tapi suhu malam dan subuh di Dieng bisa bikin kamu merasa jadi es batu rasa manusia. Festival tahun ini mengusung tema Spirit of Harmony dan digelar selama tiga hari di kawasan Dieng Kulon.


Biar liburan kamu gak zonk gara-gara hipotermia atau saltum, nih intip starter pack dan tips berburu frosty vibes ala Gen Z yang antiribet :


1. Jangan Sok Kuat, Pakai Jaket Tebal

Kalau cuma bawa hoodie tipis karena merasa "anak gunung sejati", selamat menikmati mode menggigil premium. Minimal bawa:


semua item itu bisa ditemukan di sini

Atau pake trik kedua ini, gunakan 'Layering Style'

Dieng pas DCF itu dinginnya gak ngotak, bisa bikin gigil seharian. Kunci utamanya adalah layering (baju berlapis) biar tetep estetik tapi anget.

  • Layer 1 (Base): Pakai thermal underwear (manset/long john) yang nge-pas di badan.

  • Layer 2 (Mid): Jaket fleece, hoodie tebal, atau sweater rajut.

  • Layer 3 (Outer): Jaket windproof, down jacket (jaket tebal), atau puffer jacket biar dapet look ala-ala musim dingin di Korea.

  • Aksesoris Wajib: Kupluk (beanie hat), sarung tangan, kaos kaki tebal (bawa cadangan!), dan syal.


2. Kupluk > Gaya Rambut

Di Dieng, yang penting kepala hangat dulu. Rambut keren tidak akan terlihat kalau kamu sibuk menggigil sambil mencari warung kopi.



3. Sarung = Item Legendaris khusus di DIENG !

Ini bukan bercanda. Sarung bisa jadi:

  • Selimut dadakan
  • Alas duduk
  • Penahan angin
  • Fashion item bapak-bapak healing


4. Jangan Lupa Masker atau Buff

Udara dingin Dieng kadang bikin hidung berasa keran bocor.
Buff juga berguna saat kabut dan angin mulai menyerang.


5. Datang Lebih Awal ke Venue Favorit

Kalau ada acara malam seperti konser atau pelepasan lentera, area strategis biasanya cepat penuh. Datang mepet = nonton punggung orang.



6. Gadget Butuh 'Skincare' Juga (Baterai Drop Parah)

Suhu ekstrem dingin itu musuh utamanya baterai HP dan kamera. Baterai bisa drop dari 80% langsung ke 10% dalam sekejap.

Bawa Powerbank Lebih dari Satu: Ini hukumnya fardhu ain!

Angetin Gadget: Jangan biarkan HP terekspos udara dingin terus-menerus. Taruh di kantong jaket bagian dalam yang dekat dengan suhu tubuh kamu.



7. Jaga Tubuh Tetep 'Hydrated' & Butuh Asupan Lokal

Karena dingin, kamu bakal jarang ngerasa haus, padahal tubuh tetep butuh cairan.

Bawa Termos Kecil/Tumbler: Isi pakai air panas dari penginapan buat bekal pas nonton konser jazz di atas awan.

Kulineran Lokal: Sering-sering jajan Carica hangat, Purwaceng, atau nyemil Kentang Goreng Dieng dan Tempe Kemul yang baru diangkat dari wajan. Ini booster energi terbaik biar gak gampang drop.


8. Siapkan Uang Tunai Secukupnya

Sinyal dan pembayaran digital kadang bisa naik-turun saat pengunjung membludak. Cash tetap penyelamat di saat genting.

Oya, kalau pas DCF sering terjadi sinyal HILANG. sehingga kalau kalian mengandalkan pembayaran cashless, IT'S A BIG MISTAKE !


9. Survival Kit & Logistik Fisik

Skincare: Udara dingin + angin Dieng bisa bikin kulit muka kering dan bibir pecah-pecah (bikin perih pas senyum). Wajib bawa lip balm dan moisturizer.

Obat Pribadi: Tolak Angin, minyak kayu putih, atau koyo adalah lifesaver.

Fisik Wajib Prima: Seminggu sebelum berangkat, usahain olahraga ringan atau jalan kaki biar kaki gak gampang kram pas trekking di antara venue DCF.


10. Yang Terpenting Jangan Lupa Nikmati Momentnya : Berburu Embun Es (Bun Upas) Tanpa Kesiangan

Ini dia main event alamnya. Kalau mau ngelihat rumput Dieng berubah jadi hamparan es putih berlian, kamu harus set alarm! 

Waktu Terbaik: Jam 05.00 – 06.00 WIB. Lewat jam 7 pagi, esnya udah lumer jadi air biasa.

Spot Terbaik: Sekitar Kompleks Candi Arjuna atau lapangan terbuka yang luas.

Tips: Jangan mager pas subuh. Begitu bangun langsung gass ke lokasi, jangan lupa pakai outfit berlapis tadi.


Oya, kalau ke Dieng Jangan sampai datang ke Dieng cuma buat bikin story 15 detik ya. Nikmati juga

  • Udara pegunungan
  • Budaya lokal
  • Keramaian festival
  • Momen langit malam Dieng





💡 Pro-Tip: Karena DCF Agustus 2026 ini bakal rame parah, pastikan semua booking-an penginapan/homestay kamu udah aman dari jauh-jauh hari ya. Jangan sampai stranded nyari tempat tidur pas malam hari yang suhunya lagi beku-bekunya!

Stay safe, stay warm, and let's make some core memories at DCF 2026! 🥶✨

6.05.2026
Posted by ngatmow

Bencana Longsor Situkung, Banjarnegara Berduka Lagi !

Banyak yang mengaitkan hujan dengan kenangan, asmara dan bahkan waktu bersantai untuk makan dan minum sesuatu yang menghangatkan badan. Namun bagi warga yang tinggal di dataran tinggi atau pegunungan, hujan apalagi sampai deras bukan lagi soal "romantisme" atau "mie rebus". Hujan deras yang mengguyur berjam-jam justru adalah alarm bahaya, dan semuanya harus dalam mode siaga.

 

Itulah yang terjadi, bencana tanah longsor besar terjadi pada Minggu sore, 16 November 2025, di Dusun Situkung, Desa Pandanarum, Kecamatan Pandanarum, Banjarnegara. Longsor ini terjadi akibat hujan deras yang berlangsung sepanjang hari, membuat tanah di bukit yang berada di atas pemukiman warga menjadi labil dan runtuh secara masif, menimbun puluhan rumah warga. Akibatnya 28 orang dinyatakan meninggal dan seribu lebih warga berada di pengungsian.


Banjarnegara berduka lagi.

 

Dari keterangan berbagai sumber, sebenernya ternyata alam udah ngasih kode, gaess. Sehari sebelum kejadian, tepatnya Sabtu, 15 November 2025, warga sudah mendeteksi adanya retakan tanah di area Gunung Jaran yang terletak di atas Dusun Situkung. Namun karena berada di tengah hutan dan banyaknya pohon di sekelilingnya sebagai pengikat tanah, hal ini dirasa tidak begitu membahayakan.

 

Pada hari Minggu (16 November 2025), hujan deras mengguyur Kecamatan Pandanarum tanpa ampun selama lebih dari 13 jam. Bayangin, tanah yang udah retak diguyur air segitu lamanya. Tekanan air pori di dalam tanah naik drastis, bikin tanah jadi bubur yang siap meluncur ke bawah. Dan pada pukul 15.45 WIB mimpi buruk itu terjadi. Sore itu, saat warga lagi istirahat dan sebagian keluar rumah karena hujan reda, tebing di atas Dusun Situkung runtuh. Rekaman video yang diambil warga pun mendadak viral di media sosial. Bencana mendadak itu berdampak parah pada permukiman, pertanian, dan peternakan, menyebabkan ratusan warga mengungsi, puluhan rumah rusak, ratusan ternak tertimbun, dan lahan pertanian serta irigasi hancur, dengan area terdampak mencapai sekitar 10 hektar dan luncuran material hingga 1 km.

 



Kepanikan massal melanda. Semua masyarakat berlarian masing masing mencari selamat, cerita kalau mereka nggak punya pilihan lain selain lari. Karena jalur biasa udah tertutup lumpur atau terlalu bahaya, ada sebagian warga yang lari masuk ke dalam hutan dan area kuburan desa buat nyelamatin diri. Kebayang nggak ? 

 

Mereka bertahan di sana sampai akhirnya ditemukan dan diidentifikasi oleh tim SAR beserta relawan pada malam harinya. Mereka baru bisa dievakuasi dalam kondisi shock berat, basah kuyup, dan penuh lumpur pada keesokan harinya melalui jalan hutan yang memutar dengan waktu tempuh mencapai 1,5 jam.  Respect setinggi-tingginya buat mental baja mereka.

 

Hari Senin, 17 November 2025 operasi evakuasi dimulai. Pandanarum mendadak kedatangan ratusan orang dari berbagai penjuru, jalanan macet, banyak orang dengan berbagai atribut tiba-tiba terlihat di sana. Mulai dari pasukan orange, semi orange, TNI berbaju hijau, TNI berwarna abu abu, orang-orang yang bersliweran membawa kamera dan alat perekam, drone terbang dimana mana. Sesuatu yang jarang terjadi di sana.

 






Sebagian tim BPBD, SAR dan relawan mulai memetakan area longsor, lainnya ada yang mulai melakukan pendataan masyarakat terdampak, ada juga yang bergerak menyisir hutan untuk mencari penduduk yang mengungsi disana.

Kantor Kecamatan Pandanarum berubah menjadi Posko Induk penanganan bencana, Dapur Umum, Gudang Logistik dan Media Center. Semua bergerak, bersinergi dan menyamakan tujuan, Penanganan Maksimal.

 

Satu hal yang menjadi kendala dalam proses pencarian korban adalah factor cuaca yang tidak bersahabat dan kontur tanah di sana yang memang "ngeri-ngeri sedap". Menurut PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), di daerah itu punya struktur geologi sesar dan jenis tanah pelapukan yang gampang banget rontok kalau kena air jenuh. Dan inilah yang menjadi penyebab luasnya area longsoran.

 

Sampai hari ke 4 (Rabu, 19 November 2025), pencarian korban masih belum bisa dilakukan secara maksimal. Meskipun sudah banyak pejabat yang datang dan memerintahkan untuk segera melakukan pencarian (bahkan dengan alat berat sekalipun), alam tetap tidak bisa dilawan. Kata teman teman BPBD, konyol rasanya kalau sampai terjadi tim penyelamat malah diselamatkan. Betul juga kan ?



 

Tapi diluar itu semua, tim non lapangan tetap bergerak tanpa henti. Terus berusaha memberikan pelayanan terbaik bagi Masyarakat terdampak, plus para petugas dan relawan di lapangan. Dapur umum tetap mengebul, pendataan logistic dan bantuan yang masuk dan keluar tetap dilakukan dengan cermat, perbaikan sarana dan prasarana termasuk transportasi, jalur evakuasi bahkan fasilitas medis dipercepat.

Hebat….





 

Kamis (20 November), Perlahan tapi pasti, korban-korban mulai ditemukan. Setelah melalui proses rekayasa cuaca oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pencarian besar besaran dimulai. Dengan melibatkan 18 alat berat (excavator) tim lapangan menyisir Lokasi terjadinya longsoran sesuai dengan data  yang sudah dibuat tim BPBD Banjarnegara.

 

Satu demi satu korban mulai ditemukan.

 





Ada satu hal yang unik dalam proses pencarian ini, muncul sosok “indigo” yang juga ikut dilibatkan dalam proses pencarian jenazah. Rival Altaf namanya. Di lapangan beberapa kali dia menunjukkan Lokasi diduga terdapat jenazah yang masih tertimbun tanah, dan hampir semuanya tepat.

 



Saking sulitnya medan dan banyaknya korban yang belum ketemu, operasi SAR yang harusnya 7 hari diperpanjang 3 hari lagi. Dan puncaknya adalah di hari terakhir atau hari ke-10, Selasa (25 November 2025), tim SAR gabungan berhasil menemukan lima korban yang semuanya berasal dari sektor A2 (sektor A Worksite 2). Kelima korban yang ditemukan berada di sektor A2 merupakan satu keluarga yang berdasarkan kesaksian kerabat korban, mereka terlihat berlari untuk menyelamatkan diri namun tidak berhasil dan terjatuh di sisi kanan jalan setapak depan rumah.

 

Dengan ditemukan jasad 5 orang ini, maka jumlah total korban longsor yang telah dievakuasi dalam keadaan meninggal dunia mencapai 17 orang dan 11 orang tidak ditemukan.

 

Upacara penaburan bunga berjalan dengan haru, hampir semua orang yang hadir tidak kuasa menahan air mata. Ada perasaan haru, sedih, lega dan beragam perasaan yang bercampur menjadi satu seiring rintik hujan yang ikut turun seolah semesta turut berduka.

 


So,  Apa yang Bisa Kita Pelajari dari bencana ini ?

 

Bencana Situkung ini jadi tamparan keras buat kita semua soal lingkungan. Banyak hal yang perlu kita sadari dan pertimbangkan.

 

  1. Geografi Kita Rawan : Kita tinggal di Ring of Fire. Tanah di Banjarnegara emang subur, tapi juga rapuh.
  2. Pentingnya Mitigasi : Retakan tanah sehari sebelumnya itu warning. Ke depannya, sistem peringatan dini harus lebih kenceng lagi biar warga bisa evakuasi SEBELUM longsor kejadian, bukan SAAT kejadian.
  3. Solidaritas : Aku salut banget sama relawan. Dari yang masak di dapur umum sampai yang nyangkul lumpur, kalian pahlawan!

 

Yang terakhir,
kita semua harus peka dan peduli sama tanda alam !





11.29.2025
Posted by ngatmow

Dawet Ayu Banjarnegara, minuman khas yang jadi Warisan Budaya Tak benda Indonesia

Kakang kakang pada plesir (maring endi yayi)

Tuku dawet, dawete banjarnegara

Seger adem legi (apa iya)

Dawet ayu, dawete banjarnegara


Begitu sepenggal bait dari lagu berjudul “Dawet Ayu Banjarnegara” yang konon diciptakan seniman Banjarnegara bernama Bono (dan disebut-sebut sebagai asal sejarah nama dawet ayu) untuk kemudian dipopulerkan kembali oleh Grup Seni Calung dan Lawak Banyumas Peang Penjol yang terkenal di Karesidenan Banyumas pada era 1970-1980-an. 


Wajar kalau nama Dawet Ayu kemudian di identikkan dengan Banjarnegara karena dalam lirik lagu ini memang disebutkan beberapa kali kata 'Dawet Banjarnegara'.  Dalam liriknya lagu ini berkisah tentang percakapan sederhana antara adik dan kakak soal rencana pergi bepergian piknik kemana saja yang penting jangan lupa membeli dawet banjarnegara yang segar, dingin dan manis. Begitu ...... 




Dalam masyarakat Banjarnegara sendiri, asal muasal penamaan Dawet Ayu memang ada beberapa versi. Selain versi tersebut, ada pula versi Ahmad Tohari (dan setelah melalui penelusuran yang intensif ternyata versi Tohari ini mirip dengan keterangan tokoh masyarakat Banyumas, Kiai Haji Khatibul Umam Wiranu) yang mengatakan bahwa berdasarkan cerita tutur turun temurun, ada sebuah keluarga yang berjualan dawet sejak awal abad ke-20. Generasi ketiga penjual es dawet ini terkenal dengan parasnya yang cantik. Dari sini mulailah orang menyebutnya sebagai es dawete wong ayu yang artinya es dawet racikan wanita cantik.


Ada juga cerita dari mulut ke mulut yang beredar di masyarakat Banjarnegara bahwa popularitas dawet Banjarnegara ini adalah berkat jasa dan dorongan mantan Presiden Soeharto saat meresmikan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica pada 1989. Disebutkan saat itu Presiden Soeharto disuguhi minuman khas Banjarnegara yakni dawet oleh ibu ibu cantik, dan kemudian Pak Harto bilang minuman ini seterusnya disebut saja dawet ayu agar semakin terkenal ke seluruh Indonesia. 


Pak Harto juga menganjurkan supaya hiasan ukiran sosok Semar dan Gareng terpampang di angkringan dawet ayu. Semar Gareng atau disingkat mareng dalam bahasa Jawa artinya, musim kemarau.


“Jadi simbolnya nanti berupa Mareng, Semar dan Gareng yang menjadi penanda ajakan untuk menghilangkan rasa dahaga (kering, mareng atau kemarau) dengan meminum dawet ayu" begitu dikisahkan.



Btw, lupakan soal nama...... ingatlah soal rasa ...... halah ......


Dawet Ayu sendiri sebenarnya merupakan minuman yang unik. Keunikan es dawet ayu Banjarnegara terletak pada cita rasanya yang khas. Santan kelapa yang digunakan beraroma gurih dan tidak amis. Gula arennya juga berkualitas tinggi, memberikan rasa manis yang legit tanpa rasa pahit. Selain itu, dawetnya terbuat dari tepung beras yang diolah secara tradisional, sehingga menghasilkan tekstur yang kenyal dan lembut.


Selain cita rasanya, es dawet ayu Banjarnegara juga memiliki penampilan yang cantik. Warna hijau dari dawet dan putih dari santan berpadu harmonis, menciptakan tampilan yang menggoda. Ditambah es serut yang dingin dan serutan gula aren, es dawet ayu Banjarnegara menjadi sajian yang memanjakan mata dan lidah.


Menggoda ? 

Pasti dong.......


Pengakuan terhadap Dawet Ayu Banjarnegara juga nggak main main lho. Dawet Ayu Banjarnegara ditetapkan sebagai ‘Minuman Tradisional Terpopuler’ dan meraih Juara 1 pada ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 sekaligus sebagai minuman terfavorit pilihan masyarakat Indonesia pada ajang yang sama pada tahun 2021.




Pada tahun ini Dawet Ayu Banjarnegara telah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia tahun 2024. Sertifikat penetapan tersebut diserahterimakan oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara dalam kegiatan Apresiasi Warisan Budaya Indonesia (AWBI) Tahun 2024 pada hari Sabtu (16/11).




Foto by Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Banjarnegara 

Keren kan ?


Pengakuan terhadap Dawet Ayu Banjarnegara diharapkan kemudian menjadi kebanggaan dan sebuah komitmen bagi masyarakat Banjarnegara untuk terus berupaya melestarikan minuman khasnya tersebut.  Selain itu juga dapat mendorong masyarakat untuk lebih mencintai, menjaga, dan mengembangkan budaya lokal di tengah tantangan modernisasi untuk diwariskan kepada generasi mendatang.


So, kita sebagai generasi terkini siap untuk mengemban tugas itu ?

Harus lah ....

karena kalau bukan kita, siapa lagi ??

12.07.2024
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow