Jepin Ratamba, menjaga tetap eksis walau semakin terkikis

Do you know about a Banjarnegara traditional martial art called Jepin Broxy ?
Tanya seorang kawan asal Denmark pada saya beberapa waktu yang lalu. 
What the f*ck that .......saya ga tahu babar blas .......apa itu Jepin........
Malu saya sebagai warga Banjarnegara .......

So, pada hari itu juga saya browsing sana sini dan bertanya kepada teman teman pemerhati budaya yang ada di Banjarnegara tentang apa itu Jepin dan dimana Jepin itu ada........
hasilnya ? check this out man....... 


Kesenian Jepin mungkin tidak begitu familiar di telinga kita (apalagi bagi yang sok hidup di daerah kota......macam saya.....hehehe....), padahal kesenian ini sudah berumur puluhan tahun dan sudah mengakar dalam hidup masyarakat lho.
Diangkat dari kata Jepin atau Zapin, seni tari dan lagu, bisa menjadi contoh bagaimana proses adaptasi dan akulturasi antara Islam dan budaya lokal tumbuh secara unik. Awalnya, seni ini menjadi alat dakwah para saudagar dari Hadramaut, Yaman, yang menyebarkan Islam di Nusantara pada abad ke-13 Masehi. Sarana syiar agama itu lantas berkembang sebagai kreasi seni penuh variasi di seluruh antero negeri ini.

Dr. Oemar Amin Hoesin dalam bukunya Kultur Islam mengatakan kata Zapin berasal dari Arab, ”Al-Zafn”, yang berarti “Gerak kaki”. Pada uraian berikutnya ia juga mengatakan bahwa buku tentang tarian Islam yang pertama adalah Kitab Al-ragsh wa – zafn. Kitab tarian dan gerak kaki karangan Al- Farabi. Pendapat lain tentang nama Zapin disampaikan Almarhum Tangku Tonel, seorang pencatat sejarah di Kerajaan Pelalawan menyebutkan bahwa nama Zapin itu kemungkinan berasal dari kata As-Syafin yakni bahasa Arab yang berarti di dalam barisan. Syaf = barisan dihubungkan dengan uraian bahwa Zapin ini telah ada dalam barisan prajurit Islam di Zaman Nabi Muhammad SAW, yakni beberapa latihan gerak kaki dalam barisan.

Di Banjarnegara, ada beberapa daerah yang menjadi kantong kantong pelestari kebudayaan Jepin ini. Diantaranya adalah Kecamatan Pagentan dan Kecamatan Pejawaran. Khusus untuk Kecamatan Pejawaran sendiri ada beberapa desa dengan beberapa variasi yang khas dan tidak bisa digabungkan satu sama lain. Misalnya Jepin Desa Giritirta yang cenderung halus dan lembut, serta Jepin desa Ratamba yang cenderung keras dan "galak".

Dan berhubung saya tertarik dengan Jepin Ratamba, maka saya segerakan untuk on the way ke sana .....halah.....


Ratamba adalah sebuah desa dengan kontur permukaan yang asik. Bagaimana tidak, desa ini terdiri dari beberapa bukit dengan susunan rumah penduduk yang seolah bertingkat karena mengikuti permukaan tanah. Untuk menuju ke desa inipun dibutuhkan perjuangan yang cukup lumayan mengingat sepanjang 3 kilometer dari pusat Kecamatan Pejawaran (dan plis jangan tanya berapa kilo jarak pusat kecamatan ini dari pusat kota Banjarnegara) kita harus melewati mantan jalan beraspal halus... nanjak pula......

Menurut sesepuh desa sekaligus sesepuh kesenian ini, Mbah Muhyono, Kesenian Jepin Ratamba (kalau boleh saya sebut demikian), ini agak lain dari yang lain karena pada awalnya merupakan pengembangan dari ilmu kanuragan bernama Rodad dan Cimoi, dan karena pakaian-pakaian kesenian Rodad dan Cimoi dirampas oleh penjajah Jepang yang berada di Banjarnegara pada waktu itu maka kesenian tersebut berubah nama menjadi Jepin yang bisa diartikan sebagai Dijajah Jepang .... lho ??

Oleh karena itulah kesenian ini tumbuh sejak jaman Jepang dan berlangsung sampai sekarang. Kata Mbah Mulyono, dulu kesenian ini diciptakan bertujuan untuk memancing dan menggelorakan semangat juang masyarakat. Gerakan olah kanuragan yang menciptakan gerakan tegas seirama tabuhan beritme dinamis yang berasal dari jedur dan terbang, lengkaplah sudah seni rakyat jepin menjadi gandrungan warga. Busana yang dipakai oleh pemain mirip busana kejawen silat serba hitam serta ikat kepala dari kain batik sebagai penegas gerakan kepala. Juga tiupan peluit yang melengking sebagai tanda dimulainya satu jurus tertentu yang menambah ke"gaharan" kesenian yang satu ini.

Jepin Ratamba memang lain dari yang lain kisanak, dari keterangan ketua Kesenian Jepin Ratamba, Walnoto, pada umumnya Kesenian Jepin memiliki 23 jurus namun untuk Jepin Ratamba terdapat 38 Jurus. Hanya saja dari 67 orang pelaku yang sekarang masih aktif rata rata hanya menguasai 2/3 nya saja karena disamping faktor usia yang belum matang, juga karena beratnya latihan yang harus dijalani untuk bisa menguasai jurus pamungkasnya itu.
Ada yang menarik mengenai jumlah jurus ini. Setelah diamati, ditelusuri dan kemudian ditanyakan kepada yang bersangkutan hehehe....... ternyata memang ada banyak jurus tambahan yang berdasar pada jurus jurus Karate. Weh ... karate ???
Yes..... ilmu kanuragan asal Jepang...... (dan inilah yang menjadikan Jepin Ratamba memiliki gerakan yang cenderung keras dan "galak").

Selain jumlah jurus yang lebih banyak dan gerakan yang cenderung keras, Jepin Ratamba memiliki keunikan lain. Mereka tidak ragu untuk bermain api. Baik itu menyembur api, melompati api dan bahkan makan bara api !! 


Busyet.... 
itu yang bikin saya tertarik setengah mati dengan kesenian yang satu ini......

Salah satu tokoh pemuda Ratamba yang juga menjadi senior di Kesenian Jepin, Sohib, mengatakan bahwa dalam Jepin Ratamba semua batasan manusia seolah terlewati. Seorang pemain jepin akan memiliki kemampuan yang luar biasa istimewa dan bahkan diluar akal manusia apabila dia sudah menguasai semua jurusnya, atau apabila dia sudah bisa bersatu dengan "endangnya"

What ?? endang ??
Endang disini bukan berarti mbak endang atau bu endang man...... endang dimaksud adalah roh halus atau jin tertentu yang bersedia untuk merasuk ke dalam jasad manusia yang mengundangnya. Dan biasanya sih mereka setia, dalam artian satu endang untuk satu orang saja........

Dan seperti kesenian kesenian lain di seluruh penjuru dunia, satu hal yang menjadi permasalahan bagi Jepin Ratamba adalah regenerasinya. Kini semakin banyak pemuda yang mengalihkan "dunia"nya ke kota dan meninggalkan kampung halamannya. Semakin miris memang bahwa di satu sisi kesenian wajib dilestarikan, di sisi lain kebutuhan hidup sekarang memang semakin menusuk tulang. Sehingga pada akhirnya memang kesenian tradisional seperti ini hanya bergantung pada mereka mereka yang sanggup mengembannya meski jumlahnya tak semenjana........



Bocah Bajang, Rambut Gembel Asli Dieng

Di abad modern ini, rambut gimbal digandrungi oleh kalangan muda seiring dengan semakin populernya lagu lagu berirama reggeae. Rambut gimbal yang mendunia ini sangat lazim kita temui di komunitas komunitas uye di semua sudut bumi. Tapi tahukah anda bahwa tidak semua rambut gimbal itu adalah asli ?

Suwer man..... berani di cium mbak luna deh kalo saya ngawur ...... mungkin 80% gimbal yang biasa kita temui adalah gimbal sambungan alias aspal......

Dan tahu tidak bahwa gimbal asli ada di Dieng, Banjarnegara ? Nggak percaya ? monggo cari saja bocah bocah bajang di sana ....

Di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, mereka diistimewakan. Yes....anak-anak itu adalah kesayangan roh-roh gaib penunggu Dataran Tinggi Dieng yang dititipkan penguasa Laut Selatan, Nyai Roro Kidul. Berambut gimbal atau gembel dan kemudian disebut sebagai anak bajang.

Awalnya rambut gimbal ini tumbuh sedikit demi sedikit, anak kecil yang kadang umurnya masih delapan bulan sudah mengalami sakit panas yang tinggi yang tidak sembuh sembuh hingga berminggu minggu. Setelah anak sembuh sudah mulai ada segumpal rambut yang terlihat mencolok di kepala si anak. Ada beberapa jenis gimbal yang terkenal di Dieng, mulai gimbal keris yang seperti rambut di kepang, gimbal sanggul yang bentuknya seperti sanggul, gimbal pari yang seperti helai padi yang sudah tua, juga ada gimbal wedus atau gimbal kambing, bentuknya seperti bulu domba. Salah satu syarat yang harus di penuhi sebelum rambut gimbal ini di potong adalah dengan memberikan permintaan si anak tentang apa apa yang di minta. Orang tua yang memiliki anak berambut gimbal mesti memperlakukan si anak dengan istimewa. Apa pun yang diminta sang anak akan dikabulkan. Jika tidak, orang tua mereka percaya petaka akan datang.

Syifa Muasyaroh atau yang biasa dipanggil Syifa salah satunya, bocah cantik berusia 5,5 tahun ini memiliki rambut gimbal pari yang cukup merata di seluruh permukaan rambutnya. Kepada orang tuanya Suhatno (31 tahun) dan Hatinem (29), dia hanya meminta sebuah sepeda kecil yang nantinya bisa digunakan untuk berangkat ke sekolah. Untuk diketahui saja, permintaannya ini sangat masuk akal mengingat bahwa jarak dari rumah ke sekolahnya yang berada di Desa Beji Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara memang cukup jauh, 2 kilometer, dan harus ditempuhnya dengan berjalan kaki setiap hari. Sangat berat untuk seorang bocah PAUD lho kisanak.


Mitos lain tentang anak bajang juga hidup di antara warga yang mendiami dataran tinggi yang membentang di dua kabupaten di Jawa Tengah yakni Banjarnegara dan Wonosobo. Konon, rambut gimbal sudah ada di Dieng sejak ratusan tahun silam. Mereka adalah titisan Kiai Kaladete yang dianggap sebagai orang yang pertama kali membuka desa tersebut. Diceritakan, Kiai Kaladete bersumpah tak akan memotong rambutnya dan tak akan mandi sebelum desa yang dibukanya makmur. Kelak, keturunannya akan mempunyai ciri seperti dirinya. Itu pertanda akan membawa kemakmuran bagi desa yang ditinggalinya.

Lhah.... bagaimana cara menghilangkannya ?
Satu satunya cara untuk menghilangkan rambut gembel yang melekat pada bocah bajang adalah dengan melakukan ritual ruwatan (Menurut Wikipedia, ruwatan dapat diartikan sebagai ritual khusus dan bertujuan untuk membersihkan diri). Acara ruwatan ini bisa dilakukan secara mandiri (perseorangan) atau dengan pelaksanaan secara bersama sama yang tentu saja menghemat biaya #ehh (inilah yang kemudian mendasari lahirnya Festival Budaya Dieng alias Dieng Culture Festival setiap tahunnya).


Ruwatan potong rambut juga dipercaya sebagai penanda berakhirnya masa titipan anak dari sang Ratu. Mbah Naryono (Alm) adalah sesepuh spiritual sekaligus juru kunci kawasan Dataran Tinggi Dieng. Itulah sebabnya, sebagai orang yang ditokohkan, dulu Mbah Naryono wajib melakukan perjalanan spiritual ke beberapa lokasi sehari sebelum acara ruwatan digelar. Di Tuk Bimo Lukar, tempat yang diyakini sumber mata air Sungai Serayu, misalnya. Di tempat ini, mbah naryono didampingi asistennya mengawali ritual dengan memberitahu kepada Sang Bahurekso, Pangeran Bimo, jika esok akan diadakan ruwatan potong rambut.

Perjalanan pun dilanjutkan. Kali ini, Mbah Naryono bersama asistennya mendatangi puncak Gunung Kendil. Di tempat ini, Mbah Naryono menghaturkan caos dahar (persembahan) kepada roh leluhur Kiai Temenggung Kaladete dan istrinya Nyai Larascinde. Mbah Naryono memohon agar acara ruwatan dijauhkan dari gangguan jin dan setan. Akhirnya, ritual sebelum ruwatan berakhir di Pertapaan Mandalasari Gua Semar. Di tempat yang akan menjadi lokasi puncak ruwatan ini, Mbah Naryono bersemedi.

Esok paginya, ruwatan cukur rambut gembel digelar. Segala sesaji dibawa untuk diberikan kepada leluhur sebagai bakti para anak cucu yang mendiami Dataran Tinggi Dieng. Di pelataran komplek candi Arjuna, digelar seni tradisional tari topeng, sebuah pertunjukan yang disuguhkan untuk menyenangkan para penguasa jagat mistik. Sedangkan anak anak yang akan diruwat dinaikkan ke kereta kuda untuk diarak menuju lokasi itu. Tak ketinggalan, beberapa syarat permintaan sang anak gembel juga diarak diikuti barisan pembawa saji.

Sesampainya di lokasi komplek candi, arak-arakan dilanjutkan dengan berjalan kaki. Anak-anak gembel yang akan diruwat digendong orang tuanya menuju pelataran. Setelah sampai di tempat yang dituju, prosesi puncak dimulai. Satu per satu rambut gimbal yang bertengger di kepala anak digunting para sesepuh desa yang memiliki kemampuan spiritual. Berdasarkan kepercayaan di sana, rambut gembel tak akan pernah tumbuh lagi setelah diruwat. Namun, jika permintaan sang anak tidak dipenuhi orang tuanya, rambut gimbal akan tumbuh lagi.
Potongan-potongan rambut tersebut lantas dibawa ke pinggir Telaga Warna untuk dilarungkan ke tengah telaga. Potongan rambut anak bajang yang dipersonifikasikan sebagai rambut gembel itu dikembalikan kepada pemiliknya, sang penguasa Laut Selatan Nyi Roro Kidul.


Sekedar informasi, Mbah Naryono sudah berpulang pada hari Sabtu jam 03.00 WIB dini hari tanggal 8 Oktober 2016, dan sekarang tugas tugasnya akan dilanjutkan oleh 3 orang sesepuh lain yaitu Mbah Sumar, Mbah Suyanto, dan Mbah Reswanto.

Kembali ke Syifa, Kedua orang tua Syifa sebenarnya sudah mendaftarkan anak sulungnya ini pada panitia Dieng Culture Festival untuk ikut menjadi salah satu peserta ruwat massal potong gembel beberapa waktu yang lalu, hanya saja Syifa ternyata masuk dalam daftar antrian dan harus menunggu pelaksanaan ruwatan massal beberapa waktu lagi. Akhirnya merekapun harus bersabar menunggu "jatah" pelaksanaan ruwatan massal yeng digelar seiring DCF berikutnya. Hal ini mengingat bahwa pelaksanaan ruwatan massal biaya yang dikeluarkan hanya sedikit sedangkan pada sebuah pelaksanaan ruwat perseorangan membutuhkan biaya yang cukup banyak. Padahal kedua orang tua Syifa merupakan warga sederhana dan merasa tidak mampu untuk mencukupi semua kebutuhan untuk itu.

Nah......
ada yang mau membantu ? atau sekedar mengulurkan tangan agar ruwatan rambut Syifa bisa segera terealisasi ?

Please contact me soon.......

Telaga Dringo, satu lagi destinasi yang tersembunyi di Dieng

Di suatu senja di musim yang lalu .....
Ketika itu hujan rintik .....
Halah......

Hehehe...... tapi emang pernah sih, waktu gerimis siang-siang, saya lagi menjalankan tugas sebagai abdi negara yang baik..... (hemm ....) eh ga sengaja nemu dua orang bule cantik kesasar......

" Excuse me sir, do you know where is the Dringo Lake ? i think we lost here .... " tanya salah satunya (yang kemudian saya tahu namanya Lena) sambil menunjukkan muka sangat memelas ..... :)
" Oh yes yes..... i know it, but..... nganu...... i think is not save to go to Dringo lake now, because  now is kremun mau hujan .... the street is lunyu ...... oya, don' t call me sir, just zis aja" 

Dan karena mereka masih tetap ngeyel saja ya apa boleh buat.... akhirnya  dengan sangat tidak terpaksa saya mengantarkan ke lokasi yang dimaksud ......

Sekitar setengah jam kemudian ..... 

" woooooowww.......... "
" wonderfull......"
" amazing ..... "
" this is a paradise zis....."
teriak mereka sambil lari kesana dan kesini .....

Dan dua jam kemudian ......

" thank you zis, this is a best lake that i ever see..... love you so much......" #ehh.......

Dan saya pun terbangun kemudian .......
Bwahahahaha.........

Berbicara tentang Dataran tinggi Dieng, bagi beberapa orang yang mau dan sudi mengeksplore habis wilayahnya pasti tidak akan melewatkan sebuah telaga yang konon mirip dengan Ranu Kumbolo di bawah puncak Mahameru sana..... atau istilah lainnya Ranu Kumbolo KW.

 Yes.... Telaga Dringo namanya

Telaga yang berada di wilayah desa Pekasiran Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara (bukan berada di Kabupaten Batang seperti yang selalu muncul di hasil pencarian mbah Google) ini memang seolah menjadi surga yang tersembunyi karena keindahan alamnya yang tak terbantahkan. Telaga Dringo ini merupakan destinasi wisata yang memang belum banyak dikunjungi wisatawan karena kurangnya publikasi dan akses jalan untuk menuju kelokasi itu memang sangat ekstrim, dimana kita harus treking selama 20 menit jalan tanah dan berbatu dari Desa Pekasiran. Dengan suasana yang memang masih sepi, belum banyak terjamah alay alay selfi, dan tangan tangan jahil para pemburu like di media sosial, lokasi ini sangat cocok untuk camping, atau sekedar melepaskan segala kepenatan hati dan jiwa......heissshhh........

Telaga Dringo dengan background puncak Gunung Sindoro (foto pribadi)

Konon, Penyebutan Telaga Dringo berasal dari nama Dlingo yaitu tumbuhan sebangsa rerumputan menyebarkan bau wangi yang banyak ditemukan di bibir telaga. Rerumputan jenis ini hanya hidup dan muncul pada musim penghujan saja, sedangkan pada musim kemarau seolah menghilang tidak tahu kemana.

Ada sebuah mitos yang berkembang di masyarakat sekitar, bahwa di tengah telaga hidup seekor kerbau bertanduk emas. Hewan sahabat petani ini diceritakan sebagai penjaga telaga. Karenanya warga sekitar meyakini bahwa bala akan tiba jika telaga tak dirawat. Memang sih belum ada warga yang pernah melihat langsung kerbau bertanduk emas tersebut, namun hal ini cukup membuat penduduk sekitar menjadi sangat rajin merawat telaga ini.

Selain mitos tersebut, yang menarik dari Telaga Dringo adalah keberadaan 10 makam di puncak Bukit Cemeti di sisi kanan telaga. Katanya makam-makam tersebut merupakan peristirahatan penyebar agama Islam di sana. Namun belum diketahui detail 10 makam tersebut. Warga sekitar juga mengaku tak mengetahui asal usulnya. Dahulu waktu pertama kali ditemukan, 10 kerangka sempat dilakukan rukyat oleh seorang ahli agama.

Di Telaga Dringo terdapat dua spot camping man..... yaitu di Bukit Stlompak dan Bukit Cemeti. Keduanya masih sangat asri dengan rumput yang tumbuh subur dan udara yang sangat segar. Hanya saja kalau memang mau bermalam di kedua lokasi ini harap waspada dengan keberadaan hewan hewan liar seperti ular.  Selain itu Telaga Dringo ini letaknya cukup dekat dengan kawah candradimuka. Legendanya kawah Candradimuka ini merupakan tempat Gatot Kaca dicelupkan sehingga Gatot Kaca mempunya kesaktian yakni kebal senjata, kecuali engkel kakinya karena hanya bagian itu saja yang tidak dicelupkan di dalam bagian kawah.


Ada 2 jalan masuk untuk menikmati Telaga Dringo ini yakni jalan yang menuju dan dari Desa Pekasiran Banjarnegara dan dari arah Kabupaten Batang. Jalan menuju Telaga Dringo inipun sangatlah kecil, mungkin hanya cukup 1 mobil saja. Kalau ada mobil lain yang lewat berlawanan arah maka salah satu mobil harus mengalah dan mundur agar satu jalan bisa dilalui dua mobil. Sangat disarankan untuk menggunakan mobil yang tinggi seperti Jeep. Jangan coba coba pakai mobil sedan karena jalan ke Telaga Dringo ini sangat curam dan jalannya masih berupa batu ditata. atau bila ingin lebih mudah pakailah kendaraan roda dua saja.


Momen yang paling tepat untuk berkunjung ke telaga istimewa ini adalah pada pagi hari menjelang atau sesudah matahari terbit karena Dieng jika sudah lewat dari jam 10 pagi biasanya sudah berkabut. Sedangkan suhu cuaca kalau malam sangatlah dingin, bahkan lebih dingin dari Dieng. View terbaik untuk menikmati Telaga Dringo adalah pada saat sunrise, karena Telaga Dringo dikelilingi oleh bukit bukit yang langsung menghadap pemandangan Dieng. Memang sih ketika sunrise, keindahan telaga tidak tampak karena tertutup bukit. Tetapi pada saat sunrise anda harus berjalan dan trekking sedikit ke arah bukit untuk mendapatkan view di balik bukit pemandangan Dieng yang menawan.


Kembali ke permasalahan yang sering dimasalahkan oleh para pencari masalah mengenai status kepemilikan Telaga Dringo ini. Banyak artikel di internet yang menyebutkan bahwa Telaga ini masuk wilayah Destinasi wisata Kabupaten Batang dan bukan Banjarnegara. It's true ?

Sama sekali salah sodara sodara......

Memang sih Telaga cantik ini sudah dimasukkan kedalam peta wisata kabupaten sebelah, namun apabila kita telusuri lebih jauh maka akan ketahuan bahwa Telaga Dringo ini (sekali lagi saya katakan) 100 % masuk wilayah desa Pekasiran Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara.

Perlu bukti ?

Berdasarkan data dari Data di Badan Statistik, Data dari LMDH Wilayah Banyumas, data Desa Pekasiran dan Data dari Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara, sebanyak 26 hektar wilayah Desa Pekasiran masih berupa hutan dengan 8 hektar diantaranya berupa kawasan air (telaga)..... ya Dringo ini..... dan ini bisa kita tanyakan kepada ketua LMDH setempat yaitu Bapak Yahya (bisa ditemui di sekitar kawah Candradimuka atau di rumahnya di dekat Masjid besar Desa Pekasiran)

Pak Yahya
Batas wilayah dengan Kabupaten Batang ada di 25 meter di sebelah kanan jalan (dari arah Pekasiran) atau dibawah tebing jalan. sehingga untuk mempermudah penjelasan ke pendatang disebutlah bahwa jalan itulah batas antar kabupaten.
Selain itu ada pembatas lain yaitu berada di puncak bukit cemeti yang ditandai dengan dua pohon Cemara dimana pohon sebelah kanan (dari arah utara) ikut Kabupaten Batang dan pohon sebelah kiri ikut Kabupaten Banjarnegara. Hal ini juga menjelaskan bahwa makam keramat yang ada di tempat tersebut 100% ikut wilayah Banjarnegara.


Jalan batas wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Batang (arah yang ditunjuk Pak Yahya adalah arah Banjarnegara)

Tapi .........
Adalah sebuah kewajaran manakala telaga ini di klaim oleh tetangga sebelah. Sebab akses jalan termudah menuju ke Dringo dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Batang. Dan seperti sudah dijelaskan di awal tadi, akses dari wilayah Banjarnegara sendiri malah ambyar.... jauh dari kata mendingan sekalipun. Bahkan penunjuk jalan yang ada di ruas jalan provinsi (Jalur Pekalongan - Dieng ) pun tidak ada tulisannya......


Damn !!!

Selain itu, para "petinggi" di Banjarnegara yang notabene sebagai pemilik wilayah seolah olah tidak memperdulikan akses kesini (padahal melewati Kawah Candradimuka yang memiliki history sangat kuat). Hal ini bisa dibuktikan dengan tidak adanya respon atau minimal kunjungan para pejabat ke Telaga Dringo. Dan parahnya lagi, bahkan ada pejabat sangat tinggi yang tidak tahu akan keberadaan telaga ini. Mereka (yang tahu) rata rata hanya memperdulikan nilai nominal pendapatan yang masuk saja......dengan sebuah jurus silat lidah ......
" Ah biarkan saja diklaim tetangga.... sukur sukur mereka mau membangunnya. Yang penting retribusi masuknya ke kita ....... " 

Kan a*u to .......

Well...... seandainya akses dibangun, kemudian dibuat semacam festival atau kegiatan budaya di sini, pasti jumlah pengunjung akan meningkat dan secara otomatis pendapatan daerah (yang diantaranya masuk ke kantong para pejabat itu) akan semakin meningkat. Iya nggak ?

So..... bullshit dengan para pejabat itu. Tugas kita sebagai orang orang yang waras dan tidak punya kepentingan diluar pariwisata, camping dan tentu saja fotografi, adalah menjaga bagaimana caranya agar surga yang tersembunyi ini tetap lestari. Entah bagaimanapun dan dengan cara apapun......
Betul tidak ???

Waduk Mrica(n) riwayatmu kini ......

Beberapa waktu lalu, saya iseng posting beberapa foto di akun Instagram saya yang menggambarkan kondisi terakhir Bendungan Panglima Besar Jenderal Sudirman alias Waduk Mrica(n). Gambaran sebagian orang tentang bendungan yang penuh akan air dengan pemandangan indah menjadi backgoundnya seolah terbantahkan dalam foto saya. Mengapa ? karena yang muncul dalam gambar saya adalah gambar seorang kakek yang sedang termenung memandang bendungan kering dengan beberapa buah kapal terparkir tanpa daya di belakangnya.

Kering ?
Serius ?

Yes .... itulah yang terjadi pemirsa.......
Fenomena alam yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir memang sungguh mengkhawatirkan. Erosi yang terjadi di sepanjang sungai Serayu baik di hulu maupun hilir semakin parah. Ditambah dengan pola pertanian sebagian besar warga yang tinggal di daerah "atas" dan "kelakuan" para penghuni bantaran sungai di daerah "bawah" yang dengan semena mena membuang sampah secara ikhlas ke aliran sungai Serayu........

So Damn that !!


Bendungan yang terletak sekitar 9 km di sebelah barat kota Banjarnegara ini adalah saksi bisu bagaimana ketidakpedulian manusia akan alamnya. Bayangkan saja man, pengendapan tanah yang bersumber dari erosi super banyak di sepanjang aliran sungai Serayu dari Dataran Tinggi Dieng sana lambat laun semakin meninggi dan mengakibatkan pendangkalan yang luar biasa luas di Bendungan yang memiliki panjang 6,5 Km dengan luas 1.250 Ha ini. Gilanya lagi, pada bagian bagian tertentu yang terdapat pendangkalan maksimal bahkan sudah dijadikan area persawahan oleh beberapa orang yang tidak bertanggungjawab. Disewakan pula !!!

bah !!!

Ditambah lagi dengan tumbuhnya enceng gondok yang merata hampir di seluruh permukaan air yang tersisa. Maka lengkap sudah  penderitaan Bendungan yang pernah menjadi kebanggaan masyarakat Banjarnegara dan sekitarnya ini.

Kembali ke masalah penggunaan Bendungan sebagai sumber mata pencaharian penduduk di sekitar, sejak selesainya pembangunan dan diresmikan oleh Presiden Suharto pada tahun 1989, bendungan ini tidak hanya di gunakan sebagai PLTA saja (perlu diketahui bahwa PLTA Waduk Mrica menghasilkan daya listrik mencapai 184,5 MW, untuk memasok kebutuhan energi listrik meliputi area Jawa dan Bali man), namun juga dimanfaatkan sebagai sarana untuk menstabilkan aliran air irigasi yang dialirkan ke sawah-sawah dan terbentang luas di wilayah Banjarnegara dan sekitarnya (termasuk juga aliran sungai Serayu setelahnya). Selain itu air di sini dulunya juga dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air minum dan bahkan sebagai (mantan) objek wisata. Nah .......

Tapi, seiring dengan berjalannya waktu dan kondisi bendungan yang semakin mengenaskan (kalau boleh saya katakan demikian), muncullah sebuah pertanyaan (dan pernyataan), masihkan bendungan ini berfungsi optimal.... ?
tentu jawabannya akan sangat mudah ditebak. bahkan oleh seorang bocah yang masih beringus sekalipun. TENTU SAJA TIDAK ...... iya tho ???



Okeh...mungkin akan tidak bijak kalau kita hanya ngomongin minusnya saja, mencari kekurangan saja, mung nyacat tok, muni muni tok, misuhi tok, tanpa kita berusaha mencari solusinya........

Baiklah.... begini kisanak .......

Yang pertama mungkin kita bahas soal pemanfaatan enceng gondok yang luar biasa banyak. Untuk soal ini, pemerintah daerah melalui Dinas Indagkop dan UMKM, Dinas Pertanian, Dinas Lingkungan Hidup mungkin perlu melakukan pengarahan, sosialisasi dan bahkan mungkin pelatihan terhadap masyarakat yang hidup di sekitar bendungan yang kesejahteraannya mulai menurun karena berkurangnya populasi ikan di sekitar bendungan. harapannya adalah dengan pemanfaatan enceng gondok secara maksimal sehingga bernilai jual tinggi, akan mampu mengangkat pendapatan dan taraf hidup mereka.

Yang kedua, pemerintah mungkin sudah waktunya menerapkan peraturan yang tegas mengenai tata guna lahan di wilayah pegunungan yaitu Dieng dan sekitarnya (tentu saja bekerja sama dengan Pemerintah Kota Tetangga). Hal ini penting mengingat semakin gundulnya tanah disana. Hampir tidak ada lagi pohon penunjang dan penjaga ketahanan tanah. Berganti dengan berhektar hektar lahan pertanian kentang, wortel, kol, sawi dan sayuran lainnya yang tidak punya kekuatan menjaga alam. Sudah saatnya pemerintah secara tegas melakukan tindakan pencegahan sedari sekarang sebelum bencana melanda masyarakat kita......

Yang ketiga, mungkin pariwisata di lingkungan bendungan Mrica akan menjadi kembali seperti dahulu atau bahkan menjadi lebih baik apabila pengelolaannya diberikan kepada pihak swasta ataupun BUMD tersendiri yang bertanggung jawab penuh terhadap segala aspek pariwisata disana. Kenapa demikian ? sebab selama ini pengelolaan yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara sangatlah tidak optimal. Kondisi tempat wisatanya pun sangat mengenaskan disamping faktor keamanan yang juga lumayan buruk. Hal inilah yang kemudian berimbas kepada enggannya masyarakat untuk berkunjung kesana ataupun minimal datang dan berlama lama di lokasi........
Suwer.....ga bohong......
saya soalnya mengalami hal ini juga hehehe.......

Yang keempat, Pemerintah mungkin perlu untuk lebih mendorong desa desa di sekeliling Bendungan untuk lebih memaksimalkan wilayah mereka menjadi daerah wisata dengan memanfaatkan lokasi pinggir bendungan. Hal ini tentu saja bisa dilakukan dengan mengarahkan desa untuk memanfaatkan dana yang bersumber dari Dana Desa sebagai embrio wisata kabupaten.iniaw

Selanjutnya, alangkah tidak bijaknya saya kalau nggak nampilin beberapa view Bendungan yang (katanya pernah) indah ini..........so check this out pemirsah ..............








Daftar Paspor via online ? Bisa kok ...

Paspor adalah barang wajib yang perlu kita miliki sebelum berpergian ke luar negeri, tetapi mungkin banyak orang tidak mengetahui bagaimana caranya untuk membuatnya. Paspor merupakan salah satu indentitas resmi yang diperlukan untuk melakukan perjalanan resmi secara internasional, walaupun beberapa negara juga menetapkan dokumen lain untuk disertakan selain paspor.

Sekarang ini paspor bukan lagi barang istimewa untuk orang indonesia karena seperti kita tahu banyak sekali orang Indonesia yang pergi untuk keperluan bisnis atau hanya sekedar jalan-jalan. Bukan hanya di dunia, indonesia juga menjadi pengguna pesawat terbang komersil terbanyak, bahkan International Air Transport Association (IATA) menyatakan bahwa indonesia diperkirakan akan menjadi nomor 4 pengguna pesawat terbanyak pada tahun 183 juta pada tahun 2034 dengan peningkatan rata-rata 6,4% pertahun.

Wow.....

So, Sebenarnya apa saja sih jenis paspor yang berlaku di Indonesia ??
Alright.......saya jelaskan kisanak ......

  1. Paspor Biasa : Paspor ini merupakan paspor reguler yang biasanya masyarakat indonesia gunakan, paspor ini biasanya berwarna hijau tua yang dikeluarkan oleh Dirjen Keimigrasian. 
  2. Paspor Dinas : Yaitu paspor yang diterbitkan untuk kalangan petugas administrasi dari suatu misi diplomatik seperti kedutaan dan konsulat ataupun bagi pegawai negeri sipil yang sedang melaksanakan tugas ke luar negeri. Biasanya paspor ini berwarna biru yang dikeluarkan oleh kementrian luar negeri yang di acc oleh Sekretariat Negara. 
  3. Paspor Diplomatik : Dengan paspor ini kita akan mendapatkan kemudahan di negara tujuan. Di Indonesia, paspor ini diberi sampul warna hitam dan dikeluarkan oleh Kementerian Luar Negeri.
Dan karena saya juga lagi berkepentingan untuk buat paspor (hemmm)..... so sekarang mari kita bahas bagaimana cara mendaftar paspor tapi yang via online saja ya hehehe .....
Tapi sebelumnya, ada beberapa hal yang harus kita persiapkan terlebih dahulu. Yaitu :

  1. Scan e-ktp (file jpeg warna grayscale)
  2. Scan kartu keluarga (file jpeg warna grayscale)
  3. Scan ijazah / akta kelahiran / surat nikah  - pilih salah satu (file jpeg warna grayscale)

Caranya ?? 
Check this out .......
  1. Pertama kita harus masuk website resmi kementrian imigrasi di imigrasi.go.id 
  2. Lalu masuk sub judul Layanan Paspor Online 
  3. Setelah terbuka halaman tersebut lalu pilih Pra Permohonan Personal, di halaman ini kita harus mengisi beberapa data sebagai pemohon dan kemudian pilih 48H perorangan (jika paspor kita hanya untuk berkunjung atau rekreasi) dan pilih 24H perorangan (jika kita akan menjadi TKI) 
  4. Jika kita belum memiliki paspor sebelumnya,  maka pilih Baru – Paspor Biasa pada isian Jenis Permohonan
  5. Kantor Imigrasi diisi dengan lokasi yang akan kita datangi untuk membuat paspor, kita dapat memilih yang terdekat dengan lokasi tempat tinggal. Cek saja di SINI
  6. Email merupakan data yang penting, jadi kita harus memperhatikannya jangan sampai email yang diinput salah karena bukti tanda terima pemohon akan dikirim ke email tersebut. 
  7. Pada saat muncul tab verifikasi, ketikkan angka dan huruf pada kode verifikasi tersebut. Kemudian klik OK
  8. Setelah itu akan muncul halaman Bukti Permohonan. Anda harus mencetak bukti permohonan tersebut untuk dibawa saat melakukan wawancara di kantor imigrasi yang anda pilih tadi.
  9. Setelah bukti verifikasi tersebut sudah dicetak, anda bisa datang ke kantor imigrasi sesuai dengan tanggal yang tercantum dalam Bukti Permohonan untuk Wawancara, Pembayaran, dan juga Foto.
  10. Pada waktu wawancara, anda hanya melakukan proses mencocokkan data yang telah anda submit secara online dengan berkas berkas anda yang asli.
  11. Setelah wawancara selesai, anda akan melakan proses foto untuk paspor anda kemudian melakukan pembayaran di loket pembayaran atau langsung foto apabila pembayaran dilakukan secara online.
  12. Setelah membayar, anda akan mendapatkan bukti pembayaran serta kartu untuk mengambil paspor anda. Biasanya paspor akan selesai dalam waktu 3 hingga 7 hari.
  13. Pada tanggal dan hari yang ditentukan untuk mengambil paspor, silahkan anda kembali ke kantor imigrasi tempat anda mendaftar untuk mengambil paspor anda.

Biaya yang harus di bayar

Jenis PasporKeteranganTarif
Paspor BiasaBuku 48 halaman untuk WNI/orangRp.300,000
Paspor BiasaBuku 48 halaman pengganti yang hilang/rusakRp.600,000
Paspor BiasaBuku 48 halaman pengganti yang rusak yang masih berlaku disebabkan karena bencana alamRp.300,000
Paspor BiasaPaspor biasa 24 halaman untuk WNI/orangRp.100,000
Paspor BiasaBuku 24 halaman pengganti yang hilang/rusakRp.200,000
Paspor BiasaPaspor biasa 24 halaman pengganti yang hilang/rusak yang masih berlaku disebabkan karena bencana alamRp.100,000
Paspor BiasaSurat Perjalanan Laksana Paspor untuk WNI PeroranganRp.50,000
Paspor BiasaSurat Perjalanan Laksana Paspor untuk WNI dua orangRp.100,000
Paspor BiasaJasa penggunaan teknologi sistem penerbitan paspor berbasis biometrikRp.55,000
Jenis PasporKeteranganTarif
PASPOR BIASA ELEKTRONISE-Passport 48 Halaman untuk WNIRp.600,000
PASPOR BIASA ELEKTRONISE-Passport 48 Halaman pengganti yang hilang / rusakRp.800,000
PASPOR BIASA ELEKTRONISE-Passport 48 halaman pengganti yang hilang/rusak yang masih berlaku disebabkan karena bencana alamRp.600,000
PASPOR BIASA ELEKTRONISE-Passport 24 Halaman untuk WNIRp.350,000
PASPOR BIASA ELEKTRONISE-Passport 24 Halaman pengganti yang hilang / rusakRp.400,000
PASPOR BIASA ELEKTRONISE-Passport 24 halaman pengganti yang hilang/rusak yang masih berlaku disebabkan karena bencana alamRp.350,000
PASPOR BIASA ELEKTRONISJasa penggunaan teknologi sistem penerbitan paspor berbasis biometrikRp.55,000
*Pembayaran bisa dilakukan via layanan bank mandiri misalnya seperti via ATM dan mobile banking.
2.14.2017
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow