Sejenak di MAJT, Masjid Agung Jawa Tengah
Sudah lama sebenernya pingin piknik ke suatu tempat yang nggak kaya biasanya, kalo biasanya saya perginya ke gunung, sawah, waduk, lapangan, dan sebagainya yang berbau bau alam, suatu ketika tuh pinginnya ke tempat yang beda gaes........Kota.....
Yes....... kota besar yang banyak anunya ...... ehhh
Jangan salah sangka dulu, jangan ngeres dulu kisanak.....
maksud saya adalah bahwa di kota besar banyak gedungnya, banyak bangunan megahnya, banyak lampunya dan banyak pula hal hal yang tidak akan saya temukan di desa..........
maksud saya adalah bahwa di kota besar banyak gedungnya, banyak bangunan megahnya, banyak lampunya dan banyak pula hal hal yang tidak akan saya temukan di desa..........
Singkat cerita, Pucuk dicinta ulampun tiba sodara sodara, mungkin karena nasib lagi mujur atau mungkin sudah dituliskan dalam catatan hidup saya oleh Nya, beberapa waktu yang lalu saya dapat kesempatan menyambang kota kenangan (jaman masih bujangan), Semarang. eitss.......Jangan kira saya cuman sekedar mlipir dan jalan jalan ga jelas lho sodara sodara, ini tugas dinas lho ..... resmi dan halal hehehe......
Hal pertama yang ada di kepala saya selama di perjalanan menuju kota itu adalah niat untuk motret di beberapa tempat (yang sedari jaman masih ganteng dulu menjadi lokasi favorit untuk mengambil gambar) yaitu Masjid Agung Jawa Tengah, Klenteng Sam Poo Kong, Tugu Muda plus Gedung Lawang Sewunya, serta Pagoda Avalokitesvara atau yang lebih dikenal sebagai Vihara Buddhagaya Watugong.
skip........
Singkat cerita, setelah semua beban tugas terselesaikan maka saya langsung pesen ojek online (sopir kantor saya tinggal di suatu tempat yang bisa menjamin kebahagiaannya lahir dan bathin........ you know abaout that ? aw aw aw .....) untuk menuju target saya yang paling jauh dulu. Masjid Agung Jawa Tengah alias MAJT.
Masjid yang terletak di Jl. Gajah Raya No. 128 Sambirejo, Gayamsari Semarang ini ga jauh dari Simpang Lima lho. Ga sampai setengah jam dari Mall Ciputra kalo naik sepeda motor atau
- 4 Km dari pusat Kota Semarang melalui Jl. Semarang-Purwodadi (dengan perkiraan waktu tempuh kurang lebih 15 menit)
- 4 Km dari Stasiun Tawang melalui Jl. Citarum (15 menit)
- 8 Km dari Bandara Ahmad Yani melalui Jl. Jendral Sudirman (24 menit)
(perkiraan waktu tempuh menggunakan sepeda motor dan tanpa kendala lho ya)
Tapi....... sangat tidak direkomendasikan untuk ke lokasi pada saat sore hari sebab jalan ke masjid ini pasti macet parah. menyebalkan..... and i hate it........
Apa sih yang bikin masjid ini menarik ?
Yang pertama, sebagai seorang muslim saya insyaalloh punya ikatan bathin yang kuat terhadap masjid. Karena bagi seorang muslim, masjid adalah rumah dan tempat untuk kembali (terserah mau ditafsirkan bagaimana ya......bebas). Selain itu ada satu hal lagi yang muncul tiba tiba dalam hati nurani saya yang paling dalam, saya pingin menjalankan Sholat Maghrib di masjid ini gaes....... suwer......
Yang kedua, masjid ini merupakan salah satu masjid termegah di Indonesia lho. Luas lahannya saja mencapai 10 Hektar dan luas bangunan induk (untuk shalat) 7.669 meter persegi dengan rancangan gaya arsitektural campuran Jawa, Islam dan Romawi. So, sangat menarik untuk dipotret dan dipamerkan di halaman instagram kan ? hehehe ......
FYI, Masjid Agung yang luar biasa ini ceritanya dulu diarsiteki oleh Ir. H. Ahmad Fanani dari PT. Atelier Enam Jakarta yang memenangkan sayembara desain MAJT pada tahun 2001. Bangunan utama masjid beratap limas khas bangunan Jawa namun dibagian ujungnya dilengkapi dengan kubah besar berdiameter 20 meter ditambah lagi dengan 4 menara masing masing setinggi 62 meter ditiap penjuru atapnya sebagai bentuk bangunan masjid universal Islam lengkap dengan satu menara terpisah dari bangunan masjid setinggi 99 meter yang disebut sebagai Menara Al Husna atau Al Husna Tower.
Menara Al Husna atau Al Husna Tower yang tingginya 99 meter ini pada bagian dasarnya terdapat Studio Radio Dais (Dakwah Islam) dan pemancar TVKU. Sedangkan di lantai 2 dan lantai 3 digunakan sebagai Museum Kebudayaan Islam, di lantai 18 terdapat Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat dan di lantai 19 digunakan untuk menara pandang, dilengkapi 5 teropong yang bisa melihat kota Semarang. Dan tahu nggak gaes, pada awal Ramadhan 1427 H lalu, teropong di masjid ini untuk pertama kalinya digunakan untuk melihat Rukyatul Hilal oleh Tim Rukyah Jawa Tengah dengan menggunakan teropong canggih dari Boscha lho......
Di bagian depan masjid, Gaya Romawi terlihat dari bangunan 25 pilar. Pilar-pilar bergaya koloseum Athena di Romawi dihiasi kaligrafi kaligrafi yang indah, menyimbolkan 25 Nabi dan Rosul, di bagian gerbang ditulis dua kalimat syahadat, pada bidang datar tertulis huruf Arab Melayu “Sucining Guno Gapuraning Gusti“.
Masih ada lagi kisanak, di sini ada Al Qur’an raksasa yang merupakan tulisan tangan karya H. Hayatuddin, yaitu seorang penulis kaligrafi dari Wonosobo dan ada juga replika bedug raksasa yang dibuat oleh santri dari Pesantren Alfalah Mangunsari, Jatilawang, Banyumas.
Mantab kan ???
Alraight, setelah beberapa waktu mengambil gambar adzan Maghrib pun berkumandang. Merinding gaess....... langit memunculkan semburat merah kebiruan dengan kombinasi sinar lampu yang luar biasa indah. Suasana yang khikmad serta alunan ayat suci Al Quran yang mengalun syahdu membuat hati ini serasa mau runtuh...... Bahkan seluruh raga ini seolah tidak mau diajak untuk beranjak pergi setelah jamaah shalat Maghrib selesai ........
Sebuah pengalaman spiritual yang tidak terbayangkan........
Subhanalloh .......
Dan suatu saat nanti saya akan kesini lagi...... pasti !!
9.07.2018
Posted by ngatmow
Sedikit Opini Kemerdekaan Negeri ini
"Tujuh belas Agustus tahun empat lima
itulah hari kemerdekaan kita
hari merdeka nusa dan bangsa
hari lahirnya bangsa Indonesia
merdeka......
sekali merdeka tetap merdeka
selama hayat masih dikandung badan
kita tetap setia tetap sedia
mempertahankan Indonesia
kita tetap setia tetap sedia
membela negara kita......."
Nggak sengaja air mata ini menetes di pipi. Bukan perkara saya cengeng atau apa tapi karena pas nyanyi lagu itu seekor semut nyasar ke mata sebelah kanan dan nggigit pula gaess ....... suwer..........hahahaha........
Tapi emang sih, nggak tahu kenapa hati ini sangat sangat dan sangat trenyuh waktu mendengar (dan menyanyikan) lagu itu. Dan nggak seperti tahun tahun sebelumnya yang kayaknya datar datar aja, tahun ini terasa beda.lebih jleb di dalam jiwa..... halah.......
Kalo dipikir sih mungkin semua itu akibat dari semakin rutinnya saya nonton tivi dan berita dalam negeri. Dimana masyarakat bangsa ini dikabarkan semakin tercerai beraikan oleh sesuatu hal yang bernama politik. Halal jadi Haram, benar jadi salah, kawan jadi lawan, dan semua hal yang berseberangan dan berkebalikan akan nampak seolah olah terbolak balik nggak karuan. Hasut menghasut serta memutar balikkan fakta seolah sudah menjadi "makanan ringan alias cemilan" bagi orang orang yang saya sendiri bingung mau menunjuk yang mana.....
Ah sudahlah.......
Bagi saya semua yang muncul di layar televisi kini hanyalah sinetron saja. Semua hal yang diberitakan hanyalah demi sebuah tujuan kekuasaan saja, terlepas bahwa di berita juga ada kabar menyesakkan dada bahwa habis terjadi gempa bumi di Nusa Tenggara Barat yang menelan banyak jiwa......
Ada satu pertanyaan mendasar dan mungkin perlu sebuah jawaban dari hati sanubari kita masing masing (hanya bagi yang masih waras saja ya, belum tercemar dengan faham politikisasi hihihi.........) Benarkah kita sudah merdeka dan menjalani kemerdekaan itu sesuai dengan yang kita bayangkan, pahami, dan yakini?
Alright, banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu gaess......Kita pun mafhum, dalam hidup global seperti sekarang ini, ternyata semua jawaban akan menjadi benar. Hanya dengan satu alasan, apa yang membuat jawaban benar saya tidak lebih benar daripada kebenaran menurut anda? Maka semua pun benar karena kebenaran bukan lagi satu pohon atau tiang yang kuat dan kukuh melawan waktu, pilahan demografis, atau geografis.
Berterimakasihlah pada temuan-temuan baru kehidupan modern, seperti kebebasan individu (untuk berpendapat, berkarya, berkumpul, dll), HAM, demokrasi, hingga laizzez faire yang menjadi fondasi kita bernafkah untuk melanggengkan hidup. Kebenaran pun, atas nama itu semua, menjadi bersifat preferensial, sesuai dengan kepentingan, latar belakang, dan tujuan seseorang. Personal.
Situasi yang kemudian ideologis itu kita nikmati dan jalankan sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Begitu pun ketika modernitas memproduksi karya budayanya yang paling hebat (terima kasih berkali-kali) yakni teknologi, baik komputasi, informasi, maupun komunikasi. Dalam dunia virtual yang diciptakannya, kita menikmati kemerdekaan yang sebenar-benarnya, lebih dari kemerdekaan mana pun yang diraih bangsa apa pun sejak awal abad 20.
Kini kita dapatkan kemerdekaan (yang dipelintir jadi kebebasan), hampir tanpa batasan negara, kebangsaan, adat, budaya, bahkan perangkat-perangkat keras dan lunak dunia modern seperti sistem politik, hukum atau ekonomi, yang dengan mudahnya diterabas, ditipu, atau dimanipulasi para manusia merdeka ini. Media sosial yang bukan hanya memeluk, melainkan juga menelan (terutama generasi muda) kita, adalah ruang entah-berentah di mana kita merdeka--maksud saya bebas--bahkan untuk tidak merdeka.
Bingung kisanak ?
Damn...... Sama !!!!
Mungkin yang bisa kita lakukan saat ini adalah menumbuhkan semangat cinta tanah air dan bangsa dengan segenap jiwa dan tulus ikhlas lahir bathin tanpa secuilpun pamrih....... Mungkin kita harus sadarkan diri kita masing masing bahwa rasa malu itu harus dipelihara sebagai kontrol pribadi..... malu pada sesama malu pada sanak saudara dan malu pada apa yang sudah dilakukan orang lain untuk negeri ini sementara kita belum terpikir untuk melakukannya.
Mungkin kita harus malu juga pada seorang Yohanes Andigala pelajar kelas 7 SMPN Silawan saat upacara peringatan HUT RI ke-73 di pantai Mota’ain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto, Kabupaten Belu, NTT yang berani memanjat tiang bendera setinggi 20 meter demi menarik kembali ujung tali pada tiang bendera ketika upacara HUT RI di daerahnya.....lha kita? sudah bisa apa? wong berangkat upacara saja telat..... dilapangan mengeluh kepanasan dan segera mencari tempat berteduh, kemudian buru buru kabur ke warung gara gara ga kuat nahan lapar.......
By the way, di hari kemerdekaan yang ke 73 ini mari kita murnikan hati kembali. Dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa mari kita tata kembali negeri ini dengan melupakan sejenak semua egoisme dan kepentingan politik, pribadi maupuun golongan. Mari kita kembalikan Indonesia kita yang Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo ........
DIRGAHAYU INDONESIA
itulah hari kemerdekaan kita
hari merdeka nusa dan bangsa
hari lahirnya bangsa Indonesia
merdeka......
sekali merdeka tetap merdeka
selama hayat masih dikandung badan
kita tetap setia tetap sedia
mempertahankan Indonesia
kita tetap setia tetap sedia
membela negara kita......."
Nggak sengaja air mata ini menetes di pipi. Bukan perkara saya cengeng atau apa tapi karena pas nyanyi lagu itu seekor semut nyasar ke mata sebelah kanan dan nggigit pula gaess ....... suwer..........hahahaha........
Tapi emang sih, nggak tahu kenapa hati ini sangat sangat dan sangat trenyuh waktu mendengar (dan menyanyikan) lagu itu. Dan nggak seperti tahun tahun sebelumnya yang kayaknya datar datar aja, tahun ini terasa beda.lebih jleb di dalam jiwa..... halah.......
Kalo dipikir sih mungkin semua itu akibat dari semakin rutinnya saya nonton tivi dan berita dalam negeri. Dimana masyarakat bangsa ini dikabarkan semakin tercerai beraikan oleh sesuatu hal yang bernama politik. Halal jadi Haram, benar jadi salah, kawan jadi lawan, dan semua hal yang berseberangan dan berkebalikan akan nampak seolah olah terbolak balik nggak karuan. Hasut menghasut serta memutar balikkan fakta seolah sudah menjadi "makanan ringan alias cemilan" bagi orang orang yang saya sendiri bingung mau menunjuk yang mana.....
Ah sudahlah.......
Bagi saya semua yang muncul di layar televisi kini hanyalah sinetron saja. Semua hal yang diberitakan hanyalah demi sebuah tujuan kekuasaan saja, terlepas bahwa di berita juga ada kabar menyesakkan dada bahwa habis terjadi gempa bumi di Nusa Tenggara Barat yang menelan banyak jiwa......
Ada satu pertanyaan mendasar dan mungkin perlu sebuah jawaban dari hati sanubari kita masing masing (hanya bagi yang masih waras saja ya, belum tercemar dengan faham politikisasi hihihi.........) Benarkah kita sudah merdeka dan menjalani kemerdekaan itu sesuai dengan yang kita bayangkan, pahami, dan yakini?
Alright, banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu gaess......Kita pun mafhum, dalam hidup global seperti sekarang ini, ternyata semua jawaban akan menjadi benar. Hanya dengan satu alasan, apa yang membuat jawaban benar saya tidak lebih benar daripada kebenaran menurut anda? Maka semua pun benar karena kebenaran bukan lagi satu pohon atau tiang yang kuat dan kukuh melawan waktu, pilahan demografis, atau geografis.
Berterimakasihlah pada temuan-temuan baru kehidupan modern, seperti kebebasan individu (untuk berpendapat, berkarya, berkumpul, dll), HAM, demokrasi, hingga laizzez faire yang menjadi fondasi kita bernafkah untuk melanggengkan hidup. Kebenaran pun, atas nama itu semua, menjadi bersifat preferensial, sesuai dengan kepentingan, latar belakang, dan tujuan seseorang. Personal.
Situasi yang kemudian ideologis itu kita nikmati dan jalankan sebagai sesuatu yang tak terelakkan. Begitu pun ketika modernitas memproduksi karya budayanya yang paling hebat (terima kasih berkali-kali) yakni teknologi, baik komputasi, informasi, maupun komunikasi. Dalam dunia virtual yang diciptakannya, kita menikmati kemerdekaan yang sebenar-benarnya, lebih dari kemerdekaan mana pun yang diraih bangsa apa pun sejak awal abad 20.
Kini kita dapatkan kemerdekaan (yang dipelintir jadi kebebasan), hampir tanpa batasan negara, kebangsaan, adat, budaya, bahkan perangkat-perangkat keras dan lunak dunia modern seperti sistem politik, hukum atau ekonomi, yang dengan mudahnya diterabas, ditipu, atau dimanipulasi para manusia merdeka ini. Media sosial yang bukan hanya memeluk, melainkan juga menelan (terutama generasi muda) kita, adalah ruang entah-berentah di mana kita merdeka--maksud saya bebas--bahkan untuk tidak merdeka.
Bingung kisanak ?
Damn...... Sama !!!!
Mungkin yang bisa kita lakukan saat ini adalah menumbuhkan semangat cinta tanah air dan bangsa dengan segenap jiwa dan tulus ikhlas lahir bathin tanpa secuilpun pamrih....... Mungkin kita harus sadarkan diri kita masing masing bahwa rasa malu itu harus dipelihara sebagai kontrol pribadi..... malu pada sesama malu pada sanak saudara dan malu pada apa yang sudah dilakukan orang lain untuk negeri ini sementara kita belum terpikir untuk melakukannya.
Mungkin kita harus malu juga pada seorang Yohanes Andigala pelajar kelas 7 SMPN Silawan saat upacara peringatan HUT RI ke-73 di pantai Mota’ain, Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto, Kabupaten Belu, NTT yang berani memanjat tiang bendera setinggi 20 meter demi menarik kembali ujung tali pada tiang bendera ketika upacara HUT RI di daerahnya.....lha kita? sudah bisa apa? wong berangkat upacara saja telat..... dilapangan mengeluh kepanasan dan segera mencari tempat berteduh, kemudian buru buru kabur ke warung gara gara ga kuat nahan lapar.......
By the way, di hari kemerdekaan yang ke 73 ini mari kita murnikan hati kembali. Dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa mari kita tata kembali negeri ini dengan melupakan sejenak semua egoisme dan kepentingan politik, pribadi maupuun golongan. Mari kita kembalikan Indonesia kita yang Gemah Ripah Loh Jinawi, Toto Tentrem Kerto Raharjo ........
DIRGAHAYU INDONESIA
Festival Dewi Gita, memulai sebuah tradisi ....
" Monggo pak .... " kata seorang wanita setengah baya berbaju jawa lama sambil menenteng sebuah bendho alias pisau besar mirip parang yang bentuknya seperti ibu hamil....... membesar di bagian tengah hehehe........
" Nggih bu..... badhe tindak pundi ? " jawabku singkat
" badhe teng curug pak, nderek jamasan gaman ... " sahut ibu ibu itu sambil mempercepat langkahnya menyusuri jalan setapak yang naik turun khas pegunungan di depan kami.
Ibu itu nggak sendiri sodara sodara, dia bersama puluhan orang lainnya sedang bersama sama menuju ke arah Curug (Air Terjun) Genting di Desa Giritirta, sebab di sana sedang berlangsung Upacara Jamasan Gaman yang merupakan salah satu rangkaian dari Festival Dewi Gita (Desa Wisata Giritirta). Festival desa yang baru pertama kali diselenggarakan dengan inisiasi dari Tim KKN UGM di desa Giritirta.
For your infornation Guys, Desa Giritirta sebenarnya pada tahun 2015 memang sudah didapuk sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Banjarnegara. Keren sih, tapi pada kenyataannya tidak ada kegiatan apapun yang menunjang istilah " desa wisata " itu sendiri, dan bahkan sebagian besar warganya justru tidak tahu bahwa desa mereka adalah sebuah desa wisata. Aneh kan ?
Saya dan penduduk secara beriringan menuju ke lokasi kurang lebih selama sepuluh menit dari pusat desa. Sesampainya disana ternyata sudah menunggu delapan orang laki laki yang dituakan di desa dengan berpakaian hitam dan kain putih diikatkan pada bagian pinggang. Masing masing dari mereka membawa sebuah alat pertanian seperti golok, celurit, cangkul dan lain sebagainya. Juga puluhan warga masyarakat baik tua muda, pria dan wanita yang menenteng peralatan pertaniannya masing masing. Tujuannya sama, Jamasan Gaman atau Mencuci Senjata.........
What ? Senjata ?
Tenang sodara sodara, senjata yang dimaksud disini adalah senjata yang digunakan untuk bertani, bukan senjata yang digunakan untuk berperang dan melukai orang lain (meskipun sebenernya perlatan pertanian pun bisa digunakan juga untuk itu kan hehehe......) dan bukan juga alat alat lain yang berkaitan sama mistis seperti keris, tombak dan sebagainya........ kalo kata orang sih takut menjurus ke hal hal syirik ..........
Bukan ..... bukan seperti itu kok .......
Rangkaian prosesi Jamasan Gaman ini diawali dengan sambutan Kepala Desa, Mister M. Yusuf, yang menegaskan bahwa acara ini (mencuci alat pertanian secara bersama sama di bawah air terjun Genting) adalah sebuah simbol yang bertujuan untuk mengajak warga agar lebih guyub rukun, tulung tinulung, bangga serta mau merawat lokasi wisata seperti Curug Genting yang ada di desa mereka itu. Selain itu diharapkan bahwa warga masyarakat di kemudian hari ikut menjaga aliran sungai yang mengalir di sepanjang desa agar tidak mengalami kerusakan dan tercemar.
Pada kesempatan itu, Camat Pejawaran juga berkenan untuk ikut mencuci dan mengasah sebilah parang milik Mbah Bambang yang merupakan tokoh dan sesepuh desa. Dengan diikuti oleh warga masyarakat yang hadir di lokasi, beliau nyemplung ke kali dan mencuci gaman bersama sama. Dalam kesempatan itu beliau berpesan agar kegiatan semacam ini dilestarikan dan dilanjutkan di tahun tahun berikutnya sebagai magnet untuk menarik kunjungan wisatawan ke desa Giritirta, karena bagaimanapun Tradisi dan Lokasi untuk hal tersebut sudah sangat mendukung. Hanya tinggal pengembangannya saja.
Setelah selesai proses pencucian, acara selanjutnya adalah mengarak (bukan arak yang itu lho gaess hihihi....) Gaman tersebut menuju ke pusat kegiatan Festival Dewi Gita di lapangan sebelah balai desa. Dengan diiringi oleh tabuhan musik kentongan dan lenggak lenggok tarian para penari Dewi Gita, arak arakan itu berjalan kurang lebih 1 kilometer dengan disaksikan oleh ratusan warga yang berdiri membentuk pagar betis di sepanjang jalan desa.
Sesampai di lapangan, dilakukan acara serah terima dari rombongan pembawa tadi kepada pemuda desa sebagai perlambang sebuah harapan akan kontinuitas pertanian secara turun temurun di Desa Giritirta, dan sekaligus sebagai simbol ajakan para orang tua jepada generasi muda untuk tetap bercocok tanam.
Setelah rangkaian itu selesai barulah beragam kesenian tradisional dimulai. Ada Jepin, Kuda Lumping, Tari Dewi Gita sampai Organ Tunggal bergantian menghibur masyarakat sambil menunggu proses penjurian gunungan hasil bumi.
Sekitar jam 2 siang, penjurian gunungan hasil bumipun selesai. Dan dengan didahului bunyi Gong, massa pun ambyar sodara sodara .......... semuanya menyerbu ke arah gunungan. Saling berebut, saling sikut namun semuanya sambil tertawa bahagia. Karena mereka sadar bahwa pesta ini untuk mereka.... yes Festival Dewi Gita ini tidak lain dan tidak bukan untuk masyarakat seluruhnya.....Bukan untuk segelintir orang saja...... apalagi cuma untuk Kepala Desa saja hehehehe......
" Tahun ngajeng wonten malih bilih pak, seneng jane nek wonten rame rame kados niki "
" Ngenjang kulo tek nderek njamas pacul lah teng curug.Bismillah sareng sareng sederek ...... "
" Saya sama teman teman pemuda siap menyelenggarakan tahun depan mas...... dengan syarat ******************** sensor **********************, mohon dibantu ya ...... "
" Niku jamasane wonten malih pak ? tek mendet arit riyin "
Menarik dan syahdu lho sodara sodara, sumpah..... bisa dibuktikan dari testimono testimoni tadi. Dan saya sepakat soal itu. Hanya saja menurut saya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dibenahi lagi oleh panitia desa untuk pelaksanaan tahun tahun berikutnya.....
Pertama, Prosesi di lokasi Curug Genting masih perlu ditata lagi baik dari segi waktu pelaksanaan maupun ubo rampenya, lokasi pencucian juga perlu dipersiapkan sebelumnya agar tidak terjadi krodit dan kebingungan peserta, selain itu warga yang datang juga perlu ditambah jumlah. bayangkan saja apabila mereka mengenakan baju tradisional .......... pasti epik sekali kan ???......
By the way, secara keseluruhan acara sih menurut saya festival yang pertama kali dilaksanakan ini bisa dikatakan cukup berhasil sebab semua rangkaian acara bisa terlewati dengan baik dan tidak ada permasalahan yang berarti. Pameran hasil kerajinan dan industri rumah tangga yang juga digelarpun mendapat respon positif dari tamu undangan dan segenap warga masyarakat.
Harapannya sih semoga kegiatan ini bisa berlanjut di tahun tahun mendatang dengan lebih meriah, lebih tertata, lebih terorganisir dan lebih baik lagi......
So berani mengagendakan tanggal 8 bulan 8 di tahun depan untuk berkunjung di sini???
why not?? rugi besar lho..... hihihi........
" Nggih bu..... badhe tindak pundi ? " jawabku singkat
" badhe teng curug pak, nderek jamasan gaman ... " sahut ibu ibu itu sambil mempercepat langkahnya menyusuri jalan setapak yang naik turun khas pegunungan di depan kami.
Ibu itu nggak sendiri sodara sodara, dia bersama puluhan orang lainnya sedang bersama sama menuju ke arah Curug (Air Terjun) Genting di Desa Giritirta, sebab di sana sedang berlangsung Upacara Jamasan Gaman yang merupakan salah satu rangkaian dari Festival Dewi Gita (Desa Wisata Giritirta). Festival desa yang baru pertama kali diselenggarakan dengan inisiasi dari Tim KKN UGM di desa Giritirta.
For your infornation Guys, Desa Giritirta sebenarnya pada tahun 2015 memang sudah didapuk sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Banjarnegara. Keren sih, tapi pada kenyataannya tidak ada kegiatan apapun yang menunjang istilah " desa wisata " itu sendiri, dan bahkan sebagian besar warganya justru tidak tahu bahwa desa mereka adalah sebuah desa wisata. Aneh kan ?
Saya dan penduduk secara beriringan menuju ke lokasi kurang lebih selama sepuluh menit dari pusat desa. Sesampainya disana ternyata sudah menunggu delapan orang laki laki yang dituakan di desa dengan berpakaian hitam dan kain putih diikatkan pada bagian pinggang. Masing masing dari mereka membawa sebuah alat pertanian seperti golok, celurit, cangkul dan lain sebagainya. Juga puluhan warga masyarakat baik tua muda, pria dan wanita yang menenteng peralatan pertaniannya masing masing. Tujuannya sama, Jamasan Gaman atau Mencuci Senjata.........
What ? Senjata ?
Tenang sodara sodara, senjata yang dimaksud disini adalah senjata yang digunakan untuk bertani, bukan senjata yang digunakan untuk berperang dan melukai orang lain (meskipun sebenernya perlatan pertanian pun bisa digunakan juga untuk itu kan hehehe......) dan bukan juga alat alat lain yang berkaitan sama mistis seperti keris, tombak dan sebagainya........ kalo kata orang sih takut menjurus ke hal hal syirik ..........
Bukan ..... bukan seperti itu kok .......
Rangkaian prosesi Jamasan Gaman ini diawali dengan sambutan Kepala Desa, Mister M. Yusuf, yang menegaskan bahwa acara ini (mencuci alat pertanian secara bersama sama di bawah air terjun Genting) adalah sebuah simbol yang bertujuan untuk mengajak warga agar lebih guyub rukun, tulung tinulung, bangga serta mau merawat lokasi wisata seperti Curug Genting yang ada di desa mereka itu. Selain itu diharapkan bahwa warga masyarakat di kemudian hari ikut menjaga aliran sungai yang mengalir di sepanjang desa agar tidak mengalami kerusakan dan tercemar.
Pada kesempatan itu, Camat Pejawaran juga berkenan untuk ikut mencuci dan mengasah sebilah parang milik Mbah Bambang yang merupakan tokoh dan sesepuh desa. Dengan diikuti oleh warga masyarakat yang hadir di lokasi, beliau nyemplung ke kali dan mencuci gaman bersama sama. Dalam kesempatan itu beliau berpesan agar kegiatan semacam ini dilestarikan dan dilanjutkan di tahun tahun berikutnya sebagai magnet untuk menarik kunjungan wisatawan ke desa Giritirta, karena bagaimanapun Tradisi dan Lokasi untuk hal tersebut sudah sangat mendukung. Hanya tinggal pengembangannya saja.
Setelah selesai proses pencucian, acara selanjutnya adalah mengarak (bukan arak yang itu lho gaess hihihi....) Gaman tersebut menuju ke pusat kegiatan Festival Dewi Gita di lapangan sebelah balai desa. Dengan diiringi oleh tabuhan musik kentongan dan lenggak lenggok tarian para penari Dewi Gita, arak arakan itu berjalan kurang lebih 1 kilometer dengan disaksikan oleh ratusan warga yang berdiri membentuk pagar betis di sepanjang jalan desa.
Sesampai di lapangan, dilakukan acara serah terima dari rombongan pembawa tadi kepada pemuda desa sebagai perlambang sebuah harapan akan kontinuitas pertanian secara turun temurun di Desa Giritirta, dan sekaligus sebagai simbol ajakan para orang tua jepada generasi muda untuk tetap bercocok tanam.
Setelah rangkaian itu selesai barulah beragam kesenian tradisional dimulai. Ada Jepin, Kuda Lumping, Tari Dewi Gita sampai Organ Tunggal bergantian menghibur masyarakat sambil menunggu proses penjurian gunungan hasil bumi.
Sekitar jam 2 siang, penjurian gunungan hasil bumipun selesai. Dan dengan didahului bunyi Gong, massa pun ambyar sodara sodara .......... semuanya menyerbu ke arah gunungan. Saling berebut, saling sikut namun semuanya sambil tertawa bahagia. Karena mereka sadar bahwa pesta ini untuk mereka.... yes Festival Dewi Gita ini tidak lain dan tidak bukan untuk masyarakat seluruhnya.....Bukan untuk segelintir orang saja...... apalagi cuma untuk Kepala Desa saja hehehehe......
" Tahun ngajeng wonten malih bilih pak, seneng jane nek wonten rame rame kados niki "
" Ngenjang kulo tek nderek njamas pacul lah teng curug.Bismillah sareng sareng sederek ...... "
" Saya sama teman teman pemuda siap menyelenggarakan tahun depan mas...... dengan syarat ******************** sensor **********************, mohon dibantu ya ...... "
" Niku jamasane wonten malih pak ? tek mendet arit riyin "
Menarik dan syahdu lho sodara sodara, sumpah..... bisa dibuktikan dari testimono testimoni tadi. Dan saya sepakat soal itu. Hanya saja menurut saya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dibenahi lagi oleh panitia desa untuk pelaksanaan tahun tahun berikutnya.....
Pertama, Prosesi di lokasi Curug Genting masih perlu ditata lagi baik dari segi waktu pelaksanaan maupun ubo rampenya, lokasi pencucian juga perlu dipersiapkan sebelumnya agar tidak terjadi krodit dan kebingungan peserta, selain itu warga yang datang juga perlu ditambah jumlah. bayangkan saja apabila mereka mengenakan baju tradisional .......... pasti epik sekali kan ???......
By the way, secara keseluruhan acara sih menurut saya festival yang pertama kali dilaksanakan ini bisa dikatakan cukup berhasil sebab semua rangkaian acara bisa terlewati dengan baik dan tidak ada permasalahan yang berarti. Pameran hasil kerajinan dan industri rumah tangga yang juga digelarpun mendapat respon positif dari tamu undangan dan segenap warga masyarakat.
Harapannya sih semoga kegiatan ini bisa berlanjut di tahun tahun mendatang dengan lebih meriah, lebih tertata, lebih terorganisir dan lebih baik lagi......
So berani mengagendakan tanggal 8 bulan 8 di tahun depan untuk berkunjung di sini???
why not?? rugi besar lho..... hihihi........
8.14.2018
Posted by ngatmow
Sikunir yang sudah berbenah kini .....
Gadis berjilbab hijau itu memekik kegirangan ketika kami (lebih tepatnya - rombongannya dan saya yang ada di belakang mereka) sampai di puncak Sikunir. Senyumnya yang manis kemudian mengarah kepada saya yang juga sedang terpana oleh keindahan ciptaan Nya sehingga melupakan kamera yang menggelantung di pundak sebelah kanan.
Seketika itu juga tiba tiba saya sangat merasa sedih yang luar biasa kisanak.....
Kenapa ?
Sebab saya nggak ngerti bahasa yang keluar dari bibir itu. Blas..... satu katapun saya ga ada yang mudeng.......... hehehehe.........
"พระอาทิตย์ขึ้นที่สวยงามที่นี่ใช่ Subhanallah ...... " serunya sambil sekali lagi melirik saya.....dan kebetulan pas saya lagi melirik juga .... #ehh
"และพี่ชายที่นำถุงแดงก็หล่อมาก...... " tambahnya yang kemudian disusul tawa cekikikan kawan kawannya.
Nah lho ...........
Saya yang semakin penasaran kemudian dengan modus memasang tripod kamera bergeser posisi sedemikian rupa sehingga bisa lebih mendekati rombongan pemudapemudi berjaket biru dengan tulisan Yala Rajabhat University di punggungnya itu. Jebulnya mereka orang Thailand sodara sodara............ pantesan saja saya ga mudeng babar blas bahasanya.
Betewe, Pagi itu matahari muncul secara berlahan dengan warna emas yang sungguh indah. Layak dengan gelar sebagai tempat melihat matahari terbit terbaik di negeri ini. Saya bersama Mas Imam seolah tersihir untuk kembali memotret keindahan pagi di Sikunir sambil "menengok" tempat bolos sekolah favorit saya kala masih muda dulu ini lagi dan lagi.
Hasilnya ? Cukup memuaskan ternyata. Kami memperoleh foto foto pemandangan alam matahari terbit yang memerah di ufuk timur plus bonus foto candid para pengunjung Sikunir pada pagi hari itu yang beraneka rupa dan warna hihihi .........

"พี่ชายที่หล่อเหลาเหมือนคนดี คุณจะไม่เป็นไกด์ของเราในช่วง dieng? " sayup sayup saya mendengar ucap gadis cantik berjilbab hijau di rombongan sebelah tadi diikuti dengan anggukan dari beberapa orang kawannya sambil menatap ke arah saya. Entah apa maksudnya.
Lha saya ? saya tetap fokus mencari gambar pemandangan kisanak. jangan khawatir .... hehehe......
Harus saya akui memang bahwa banyak hal telah berubah di bukit Sikunir ini. Mulai dari area parkirnya yang luas dan sekarang tertata rapi, jalan menuju puncaknya yang sudah dibangun sedemikian rupa sehingga tetap terkesan alami, kondisi di puncak yang dikondisikan untuk camping ground, adanya fasilitas seperti toilet dan musholla tanpa mengganggu keindahan bukit Sikunir itu sendiri, disediakannya tempat sampah di berbagai titik, serta munculnya warung warung di sekitar jalan masuk dari area parkir menuju ke tempat bermulanya tangga untuk naik ke puncak.
Dan semua itu ditata sedemikian rupa tanpa ada kesan mengganggu pemandangannya sodara sodara........Hebat.......
Sikunir lain dulu lain sekarang. Dulu tempat ini begitu tenang dan sepi, cocok untuk para penyendiri seperti saya. Namun sekarang tempat ini tak ubahnya seperti pasar pagi yang tumpah ruah. Ratusan kepala manusia berkumpul hanya untuk menikmati keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa. Padahal hari itu bukan malam minggu, namun malam Sabtu !!
Inilah yang membuat saya tidak heran mengapa warga setempat sangat "menyayangi" tempat ini. Secara logika, semakin ramai pengunjungnya maka otomatis pendapatan merekapun akan ikut "ramai" juga. Dan hal itu sudah sangat disadari penduduk sekitar. Banyak usaha bermunculan di area parkir dan bawah bukit Sikunir. mulai dari petugas parkir, penjual souvenir, penjual makanan bahkan sampai penunggu WC umum...... semuanya laris manis ........
Sayang, diluar semua keindahan dan kekaguman saya akan kondisi Sikunir yang sudah berbenah itu, ada beberapa hal yang menurut saya perlu kita renungkan ulang. Pertama adanya spot yang agak mengganggu di puncak bukit, yaitu toilet dan musholla dengan atap seng yang mengkilat (hal ini sangat mengganggu pemotretan lho....... dan mungkin bisa diakali dengan mengecat atap seng tersebut dengan warna gelap atau hijau menyesuaikan dengan rerumputan yang ada di sekitarnya), yang kedua adalah adanya spot foto dengan burung hantu dengan membayar sejumlah uang sebagai imbalannya dengan alasan untuk memberi makan mereka (menurut saya alasan ini tidak bisa diterima karena bagaimanapun mereka sejatinya bukan hewan yang hidup beraktifitas pada siang hari dan yang sesungguhnya mencari makan adalah si empunya, bukan burung burung hantu ini ..... damn !!! #MENURUTSAYA)
Singkat cerita, setelah kurang lebih setengah jam kami berada di puncak bukit Sikunir untuk mengambil gambar, kami memutuskan untuk turun. Pulang. Sebab disamping cuaca yang mulai panas, juga lokasinya juga sudah mulai tidak menarik..... sepi...... ga ada lagi pemandangan indah hehehe ..........
Sampai di bagian bawah bukit, kami memutuskan untuk membeli tempe kemul dan teh panas terlebih dahulu sambil menikmati keramaian pengunjung Sikunir. Sampai tiba tiba ada suara merdu seseorang menyapa kami ......
" excume, boleh kami ikut duduk ? "
" ehh .... anu .... emm .... boleh boleh .... silahkan " jawab saya kaget setengah mati. Dan Mas Imam pun tersedak dengan sukses
" Terima Kasih "
Tak berapa lama kemudian setelah mereka dalam posisi nyaman, acara basa basi pun dimulai. Si cantik berkerudung hijau yang sejak tadi jadi bahan plirikan saya memberanikan diri memulai pembicaraan
" Perkenalkan ... saya Hafiza, ini Emma dan ini Natt, kami dari Bangkok. Kalau anda ? " jelasnya dengan bahasa Indonesia yang terbata.
" emm... ini mas imam. kami dari Banjarnegara saja....... oh iya, saya pesankan minum ya ....... mau minum apa? teh atau kopi, biar saya pesankan ..... "
" i think i wanna cup of Tea...... terima kasih" jawab si kacamata yang tadi diperkenalkan sebagai Nattchanappa eh Natt saja ding.......
Karena saya menyadari bahwa mereka berasal dari luar negeri dan mungkin saja tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik, saya kemudian memesan sejumlah minuman, tempe kemul dan arem arem ala desa sembungan yang enaknya istimewa.
"สิ่งที่ฉันพูดเขาเป็นคนดี ดีมองอีกครั้ง ..... " bisik mereka bertiga sambil mencicipi tempe kemul khas Wonosobo di pagi yang hangat itu ......
waktu pun berjalan semakin cepat dengan sinar mentari yang semakin hangat. asik namun aneh cara pembicaraan kami. sebab hanya bermodal bahasa Indonesia yang terbatas, bahasa Inggris yang terbatas pula serta dominan bahasa tarzan dimana mana...... tapi nyambung terus lho........
" ฉันชอบที่นี่จริงๆ วันหนึ่งฉันจะกลับมาแน่นอนและฉันหวังว่าพี่ชายของฉันจะมาพร้อมกับฉันเมื่อมันมาถึง "
mbuh..... apapun artinya itu, saya hanya modal ngomong " haik......." saja hahahaha ........
Dan obrolan kami pun berlanjut panjang kemudian sodara sodara..........
#berkahanaksoleh
#mpilirdihati
#mayodolanbanjarnegara
Seketika itu juga tiba tiba saya sangat merasa sedih yang luar biasa kisanak.....
Kenapa ?
Sebab saya nggak ngerti bahasa yang keluar dari bibir itu. Blas..... satu katapun saya ga ada yang mudeng.......... hehehehe.........
"พระอาทิตย์ขึ้นที่สวยงามที่นี่ใช่ Subhanallah ...... " serunya sambil sekali lagi melirik saya.....dan kebetulan pas saya lagi melirik juga .... #ehh
"และพี่ชายที่นำถุงแดงก็หล่อมาก...... " tambahnya yang kemudian disusul tawa cekikikan kawan kawannya.
Nah lho ...........
Saya yang semakin penasaran kemudian dengan modus memasang tripod kamera bergeser posisi sedemikian rupa sehingga bisa lebih mendekati rombongan pemudapemudi berjaket biru dengan tulisan Yala Rajabhat University di punggungnya itu. Jebulnya mereka orang Thailand sodara sodara............ pantesan saja saya ga mudeng babar blas bahasanya.
Betewe, Pagi itu matahari muncul secara berlahan dengan warna emas yang sungguh indah. Layak dengan gelar sebagai tempat melihat matahari terbit terbaik di negeri ini. Saya bersama Mas Imam seolah tersihir untuk kembali memotret keindahan pagi di Sikunir sambil "menengok" tempat bolos sekolah favorit saya kala masih muda dulu ini lagi dan lagi.
Hasilnya ? Cukup memuaskan ternyata. Kami memperoleh foto foto pemandangan alam matahari terbit yang memerah di ufuk timur plus bonus foto candid para pengunjung Sikunir pada pagi hari itu yang beraneka rupa dan warna hihihi .........

"พี่ชายที่หล่อเหลาเหมือนคนดี คุณจะไม่เป็นไกด์ของเราในช่วง dieng? " sayup sayup saya mendengar ucap gadis cantik berjilbab hijau di rombongan sebelah tadi diikuti dengan anggukan dari beberapa orang kawannya sambil menatap ke arah saya. Entah apa maksudnya.
Lha saya ? saya tetap fokus mencari gambar pemandangan kisanak. jangan khawatir .... hehehe......
Harus saya akui memang bahwa banyak hal telah berubah di bukit Sikunir ini. Mulai dari area parkirnya yang luas dan sekarang tertata rapi, jalan menuju puncaknya yang sudah dibangun sedemikian rupa sehingga tetap terkesan alami, kondisi di puncak yang dikondisikan untuk camping ground, adanya fasilitas seperti toilet dan musholla tanpa mengganggu keindahan bukit Sikunir itu sendiri, disediakannya tempat sampah di berbagai titik, serta munculnya warung warung di sekitar jalan masuk dari area parkir menuju ke tempat bermulanya tangga untuk naik ke puncak.
Dan semua itu ditata sedemikian rupa tanpa ada kesan mengganggu pemandangannya sodara sodara........Hebat.......
Sikunir lain dulu lain sekarang. Dulu tempat ini begitu tenang dan sepi, cocok untuk para penyendiri seperti saya. Namun sekarang tempat ini tak ubahnya seperti pasar pagi yang tumpah ruah. Ratusan kepala manusia berkumpul hanya untuk menikmati keindahan ciptaan Yang Maha Kuasa. Padahal hari itu bukan malam minggu, namun malam Sabtu !!
Inilah yang membuat saya tidak heran mengapa warga setempat sangat "menyayangi" tempat ini. Secara logika, semakin ramai pengunjungnya maka otomatis pendapatan merekapun akan ikut "ramai" juga. Dan hal itu sudah sangat disadari penduduk sekitar. Banyak usaha bermunculan di area parkir dan bawah bukit Sikunir. mulai dari petugas parkir, penjual souvenir, penjual makanan bahkan sampai penunggu WC umum...... semuanya laris manis ........
Sayang, diluar semua keindahan dan kekaguman saya akan kondisi Sikunir yang sudah berbenah itu, ada beberapa hal yang menurut saya perlu kita renungkan ulang. Pertama adanya spot yang agak mengganggu di puncak bukit, yaitu toilet dan musholla dengan atap seng yang mengkilat (hal ini sangat mengganggu pemotretan lho....... dan mungkin bisa diakali dengan mengecat atap seng tersebut dengan warna gelap atau hijau menyesuaikan dengan rerumputan yang ada di sekitarnya), yang kedua adalah adanya spot foto dengan burung hantu dengan membayar sejumlah uang sebagai imbalannya dengan alasan untuk memberi makan mereka (menurut saya alasan ini tidak bisa diterima karena bagaimanapun mereka sejatinya bukan hewan yang hidup beraktifitas pada siang hari dan yang sesungguhnya mencari makan adalah si empunya, bukan burung burung hantu ini ..... damn !!! #MENURUTSAYA)Singkat cerita, setelah kurang lebih setengah jam kami berada di puncak bukit Sikunir untuk mengambil gambar, kami memutuskan untuk turun. Pulang. Sebab disamping cuaca yang mulai panas, juga lokasinya juga sudah mulai tidak menarik..... sepi...... ga ada lagi pemandangan indah hehehe ..........
Sampai di bagian bawah bukit, kami memutuskan untuk membeli tempe kemul dan teh panas terlebih dahulu sambil menikmati keramaian pengunjung Sikunir. Sampai tiba tiba ada suara merdu seseorang menyapa kami ......
" excume, boleh kami ikut duduk ? "
" ehh .... anu .... emm .... boleh boleh .... silahkan " jawab saya kaget setengah mati. Dan Mas Imam pun tersedak dengan sukses
" Terima Kasih "
Tak berapa lama kemudian setelah mereka dalam posisi nyaman, acara basa basi pun dimulai. Si cantik berkerudung hijau yang sejak tadi jadi bahan plirikan saya memberanikan diri memulai pembicaraan
" Perkenalkan ... saya Hafiza, ini Emma dan ini Natt, kami dari Bangkok. Kalau anda ? " jelasnya dengan bahasa Indonesia yang terbata.
" emm... ini mas imam. kami dari Banjarnegara saja....... oh iya, saya pesankan minum ya ....... mau minum apa? teh atau kopi, biar saya pesankan ..... "
" i think i wanna cup of Tea...... terima kasih" jawab si kacamata yang tadi diperkenalkan sebagai Nattchanappa eh Natt saja ding.......
Karena saya menyadari bahwa mereka berasal dari luar negeri dan mungkin saja tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik, saya kemudian memesan sejumlah minuman, tempe kemul dan arem arem ala desa sembungan yang enaknya istimewa.
"สิ่งที่ฉันพูดเขาเป็นคนดี ดีมองอีกครั้ง ..... " bisik mereka bertiga sambil mencicipi tempe kemul khas Wonosobo di pagi yang hangat itu ......
waktu pun berjalan semakin cepat dengan sinar mentari yang semakin hangat. asik namun aneh cara pembicaraan kami. sebab hanya bermodal bahasa Indonesia yang terbatas, bahasa Inggris yang terbatas pula serta dominan bahasa tarzan dimana mana...... tapi nyambung terus lho........
" ฉันชอบที่นี่จริงๆ วันหนึ่งฉันจะกลับมาแน่นอนและฉันหวังว่าพี่ชายของฉันจะมาพร้อมกับฉันเมื่อมันมาถึง "
mbuh..... apapun artinya itu, saya hanya modal ngomong " haik......." saja hahahaha ........
Dan obrolan kami pun berlanjut panjang kemudian sodara sodara..........
#berkahanaksoleh
#mpilirdihati
#mayodolanbanjarnegara
![]() |
| Suasana Jalan tepat sebelum mendaki Sikunir |
![]() |
| Suasana parkiran yang sudah |
![]() |
| Jalan setapak itu sekarang jusah menjadi lebih lebar dan aman |
![]() |
| Tempat sampah ada di beberapa tempat |
![]() |
| Musholla pun sudah ada, asri pula..... |
5.16.2018
Posted by ngatmow
Rejeban Plabengan Dewi Cepag, tradisi unik yang penuh daya tarik
Mata saya masih "mbendul" dan merah ketika seseorang menyapa dengan suara sengau khasnya
" welah..... ada orang banjarnegara sampai di sini juga ...... dirimu nginep apa om ? "
" eh om senior...... nggak om, aku baru aja dateng.dari rumah tadi jam 3an kok " jawabku setengah kaget.
" weh jam tiga ? gasik men ...... "
Yes, itu sekelumit perbincangan saya dengan seorang senior motret dari Yogyakarta yang tidak mau disebut namanya hahahaha........ Lha terus pertanyaannya, ngapain saya pagi uput uput macam itu otewe dari Banjarnegara ke Parakan Temanggung ?
Piknik dong pemirsa..... piknik spiritual demi bisa makan pisang sepuasnya sambil motret Rejeban Plabengan. Yaitu sebuah acara budaya yang digelar di Dewi Cepag atau Desa Wisata Cepit Pagergunung Kecamatan Bulu Temanggung. Sekitar 5,2 kilo meter dari arah RSK Ngesti Waluyo Parakan naik menuju punggung Gunung Sumbing.
Dusun Cepit Desa Pagergunung ini berada tepat di sebelah Timur agak ke Utara sedikit di kaki Gunung Sumbing, dimana puncak gunungnya sebenernya sudah tepat didepan mata. Bagi saya, desa ini sebenarnya sangat cocok bagi para landscaper karena pemandangan yang terpampang di semua sudut desa ini adalah keelokan yang tak terkatakan ......... suwer.........
selain itu keramah tamahan Penduduk, puncak gunung Ungaran di kejauhan dengan matahari yang muncul berwarna kemerahan di puncaknya, kearifan lokal penduduknya serta aroma lintingan klembak menyan yang harum menyengat, juga menambah eksotisme suasana di Dusun berpenduduk kurang lebih 250 KK ini........ istimewa pokoknya .....
Menurut cerita masyarakat, Plabengan merupakan sebuah petilasan yang konon dahulunya merupakan tempat berkumpul Ki Ageng Makukuhan (beliau adalah Tokoh Penyebar Agama Islam yang dipercaya sebagai penerus Wali Songo) bersama para muridnya yaitu Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Ageng Gandung Melati, Ki Ageng Paniti Kudo Negoro dan Syeh Dami Aking, untuk melakukan musyawarah sambil menyebarkan agama Islam. Nah untuk memperingati dan meneruskan tradisi itu, maka setiap hari Jumat Wage pada bulan Rejeb (Penanggalan jawa) masyarakat Desa Pagergunung melakukan tradisi unik Nyadran.
Sebagai info nih sodara sodara, Nyadran disini merupakan prosesi mengunjungi Punden Plabengan dan Makam Leluhur yang ada disana untuk berdoa agar keberkahan selalu menyertai seluruh warga Desa Pagergunung. Prosesi ini pun tidak sembarangan dan berbeda dengan di tempat lain lho. Prosesi Rejeban Plabengan ini diawali dengan Ritual Doa Malam Jumat di Punden Plabengan yang diikuti para kaum lelaki warga desa dengan penerangan ratusan obor di sepanjang jalan menuju punden, acara sakral ini dipimpin oleh sesepuh dan pemangku adat desa dalam balutan pakaian jawa yang berupa beskap dan bangkon.
Paginya, seluruh warga berjalan kaki sejauh hampir 2 kilometer dari dusun Cepit naik menuju ke arah puncak gunung Sumbing dengan membawa bekal makanan yang sudah disiapkan dari rumah. Bekal tersebut berupa dua sisir pisang atau lebih, ketan dan jenang, ingkung ayam serta aneka lauk pauk yang dibawa dalam dua tenong (wadah makanan berbentuk bundar yang terbuat dari anyaman bambu) dan dipikul oleh kaum laki laki dusun Cepit Desa Pagergunung. Selain itu warga masyarakat juga mempersiapkan beberapa buah gunungan yang berupa makanan pokok lengkap dengan lauk pauknya.
Setelah semua tenong dan gunungan ini masuk ke lokasi Punden Plabengan, semuanya ditata membentuk barisan memanjang dengan dikelilingi oleh masyarakat yang duduk di sebelah kanan dan kirinya. Beberapa saat kemudian sesepuh desa mengkomando masyarakat untuk melantunkan ayat ayat suci Al Quran, dan lokasipun menjadi penuh khikmad....... tenang ...... dan syahdu .......
Sekitar 20 menit kemudian, sesepuh desa dan Kepala Desa Pagergunung mulai memberikan wejangan, petuah bijak serta harapan harapan di depan semua yang hadir di lokasi itu, dilanjutkan dengan melakukan jamasan terhadap anak anak yang berambut gimbal dengan menggunakan air dari mata air yang ada di sebelah punden tersebut.
Para tukang foto pun ambyar ......... berebut maju ke depan ....... baik yang pemula seperti saya maupun sudah pro seperti om om yang suka pake hal hal berwarna merah brewokan yang tidak mau disebutkan namanya, berebut mencari posisi terbaik untuk mengabadikan momen di lokasi yang super sempit itu.
Selanjutnya adalah acara yang paling ditunggu tunggu sodara sodara..... pranoto coro memberikan komando kepada kami untuk merapat ke gunungan tumpeng utama yang ada di sebelah gazebo. Untuk apa ? makan tentu saja .....
Belum sampai komando selesai disampaikan, sedetik kemudian kondisi lokasi tersebut menjadi krodit dengan banyaknya manusia yang berebut makanan yang disediakan. Tumpah ruah manusia dengan berbagai rasa dan aroma hehehehe.........
Belum sampai komando selesai disampaikan, sedetik kemudian kondisi lokasi tersebut menjadi krodit dengan banyaknya manusia yang berebut makanan yang disediakan. Tumpah ruah manusia dengan berbagai rasa dan aroma hehehehe.........
Lha saya ? berhubung saya cerdas, makanya saya justru menepi dan mencari tenong di pinggir lokasi yang relatif sepi dan tanpa rebutan demi bisa makan pisang dengan aman, nyaman tertib dan kenyang hehehee......
Oya, sambil makan kami disuguhi 8 kesenian tradisional yang tampil bergantian, mulai dari emblek (tari kuda kepang), tari angguk, tari butho galak, dan sebagainya. Epik, eksotis dan gaib......... begitu yang saya rasakan. Ada perasaan takut terbersit mengingat bahwa biasanya acara macam ini akan membawa banyak kejadian mistis
Dan benar saja, belum sampai 1 jam kesenian itu berlangsung tiba tiba banyak warga yang kesurupan. Tidak hanya kaum laki laki, tapi juga kaum hawa yang berada di sekitar lokasi ituk kesambet juga. Seru ......
Karena sudah terlalu banyak yang kesurupan, akhirnya sesepuh desa memerintahkan kami semua beserta masyarakat yang masih sadar untuk turun gunung kembali ke desa. Sayang memang karena acara belum selesai sudah dibubarkan seperti itu, namun demi keamanan dan keselamatan ya mau tidak mau kami harus menurutinya kan ?
Sesampainya di desa, kami berkumpul di kediaman Pak Kades untuk sekedar melepas lelah dan menikmati jamuan yang ternyata sudah disediakan. Disitu kami diajak untuk bertukar pikiran, memberikan masukan dan koreksi terkait penyelenggaraan kegiatan oleh pak kades dan ketua pokdarwis setempat. Sebuah kegiatan yang sangat jarang dilakukan oleh panitia panitia kegiatan budaya dimanapun yang pernah saya kunjungi ......... #salut
Ada satu kalimat yang dilontarkan sahabat saya @Yoga_YoGreat tentang kegiatan budaya kali ini :
" ........20% motret, 20% ketemu sedulur, 60% panen gedhang !!!! ......."
Apa panen gedhang ?
yes.....betul sodara sodara, sebab kalau setiap orang membawa 2 sisir pisang, maka jika dikalikan 250 KK akan ketemu 500 sisir pisang ! dan banyak diantaranya yang tidak hanya membawa 2 tapi juga 3, 4 bahkan lebih dari 5 sisir !!
puassss........
![]() |
| Photo by @Yoga_YoGreat |
4.01.2018
Posted by ngatmow
























