Workslop, berantakannya dunia kerja akibat AI

Pernah dengar istilah workslop

Ini bukan typo dari workshop kok gaes, tapi sebuah istilah baru yang lagi ramai dibahas gara-gara maraknya penggunaan kecerdasan buatan alias AI. 


Apa itu ?

Workslop merujuk pada kondisi di mana banyak pekerjaan jadi campur aduk, aneh, atau terasa “sloppy” karena hasilnya kebanyakan diproduksi sama AI tanpa filter kualitas yang jelas. Jadi kebayang kan, kalau dulu kita bisa bedain mana karya manusia dan mana yang asal-asalan, sekarang batasnya makin kabur.


Kenapa bisa terjadi sih ? Jelas Fenomena ini lahir karena AI makin gampang diakses. 


Bagaimana nggak coba, kalian mau bikin artikel? Tinggal ketik prompt. Desain logo? Sekali klik jadi. Bikin apikasi atau website, tinggal tuangin ide jadi sebuah kalimat trus tekan enter, done. Video, musik, bahkan suara orang pun bisa direkayasa. Hasilnya, konten membanjiri internet dengan kecepatan luar biasa. 

Dari satu sisi, ini keren banget—semua orang jadi bisa “berkarya” tanpa harus punya skill teknis. Tapi di sisi lain, lautan konten ini bikin kualitas jadi campur aduk. Ada yang bener-bener niat, ada juga yang cuma sekadar upload demi eksis. Nah, tumpukan konten campur-campur inilah yang disebut workslop.




AI sekarang tuh ibarat mie instan. Praktis, murah, gampang dibuat, bisa langsung kenyang. Semua orang bisa bikin sesuatu dalam hitungan menit. Bayangin feed media sosial sekarang seperti tulisan, gambar, dan video yang kita lihat setiap hari sebagian besar mungkin udah disentuh atau bahkan dibuat full sama AI. Nggak perlu kursus bertahun-tahun atau punya skill spesial dulu. 

Keren? Banget. Tapi masalahnya, kalau semua orang bikin konten dengan cara yang sama, hasilnya jadi kayak banjir—airnya banyak, tapi keruh.


Kadang kita nemu artikel yang keliatan rapi tapi isinya datar, atau gambar yang wow tapi pas diperhatiin ada jari tangan yang jumlahnya aneh. Ini bikin kita sebagai konsumen jadi harus punya “radar” lebih tajam buat milih mana yang layak dinikmati dan mana yang cuma “sampah digital”. Ada gambar super realistis yang bikin takjub, ada juga yang bikin ngakak karena aneh. Ada tulisan yang keliatan profesional tapi ternyata muter-muter tanpa isi. Di situlah workslop terjadi, hasil kerja yang serba cepat tapi belum tentu berkualitas.


Bahkan sebuah "karya" AI bisa merusak kondusifitas negara seperti yang beberapa waktu lalu terjadi di negara kita. Tepatnya ketika hasil olah digital AI menjadi fitnah bagi seorang menteri, yang kemudian menjadi salah satu poin penyulut demo besar-besaran, sampai berakibat jatuhnya korban jiwa dan mundurnya sang menteri. 


Serem ? jelas....


Nah, pertanyaan pentingnya, workslop ini sebenernya masalah atau kesempatan? 

Jawabannya : bisa dua-duanya. Kalau cuma jadi penonton, ya kita bakal kewalahan milih mana yang bener-bener bagus dan mana yang cuma sampah digital. Tapi kalau kita jadi pemain, justru ada peluang gede di sini.


AI itu cuma alat. Sama kayak gitar, pensil, atau kamera. Yang bikin hasilnya bernilai itu bukan alatnya, tapi siapa yang pakai. Kalau asal-asalan, ya hasilnya juga asal. Tapi kalau dipaduin sama kreativitas manusia, bisa jadi karya keren yang nggak kepikiran sebelumnya.


#hanyaContohsaja


Ini bagian yang paling menarik, AI udah jadi sumber penghasilan buat banyak orang. Nggak cuma buat perusahaan besar, tapi juga anak muda biasa yang kreatif. Contohnya :

  • Side hustle cepat : bikin artikel, desain logo, atau edit video buat klien. Dengan bantuan AI, waktu pengerjaan jadi lebih singkat, hasilnya tetap oke.

  • Konten kreator : bikin channel YouTube dengan AI voice, bikin podcast pakai suara sintetis, atau produksi konten harian tanpa harus repot. bahkan mengaransemen ulang lagu lama pake gaya kita (misal lagu pop mellow diubah jadi gothic rock bahkan reggeae)

  • Digital product : bikin e-book, template desain, atau bahkan kursus mini berbasis AI, terus dijual di marketplace.

  • Bisnis utama : ada juga yang full-time kerjaan utamanya pakai AI. Misalnya, jadi konsultan AI buat bisnis kecil, bikin aplikasi sederhana, atau jadi kreator yang rutin jual karya digital.


Inspiratif banget kan? Dulu butuh modal gede buat mulai bisnis kreatif, sekarang dengan laptop dan koneksi internet aja udah bisa jadi mesin uang.


Meski AI bisa bikin segalanya jadi cepat, ada satu hal yang belum bisa dia tiru dengan sempurna, rasa manusia. Storytelling, emosi, pengalaman pribadi, dan nilai-nilai unik itu cuma bisa lahir dari orang asli. Itulah kenapa karya yang bener-bener ngena biasanya tetap ada sentuhan manusianya.


Jadi kuncinya adalah jangan cuma ngandelin AI buat semua hal. Pakai dia sebagai alat bantu, tapi tetap kasih warna pribadi di setiap karya. Biar nggak tenggelam di lautan workslop, kita harus jadi navigatornya.


Kalau dipikir-pikir, workslop memang bikin dunia kerja kelihatan agak berantakan. Tapi justru di balik “kekacauan” ini ada peluang emas. Siapa pun bisa belajar, bikin karya, bahkan dapet penghasilan dari AI. Pertanyaannya tinggal: mau sekadar jadi penumpang di tengah banjir konten, atau jadi kapten kapal yang ngarahin ke jalannya sendiri?


AI udah ada di sini, nggak mungkin balik lagi. Tinggal kita yang milih ikut hanyut sama workslop, atau justru manfaatin buat bikin karya yang beda, punya nilai, dan bikin hidup lebih seru. 


Kreativitas manusia + kecepatan AI = kombinasi yang bisa ngubah masa depan.

Contoh lain editan AI yang berbahaya, terutama buat saya. Tapi disclaimer dulu yaa..... semua foto sudah diutak atik pake bantuan GeminiAI. bisa dibuktikan adanya tanda air khas GeminiAI di pojok kiri bawah setiap foto. 



 

9.21.2025
Posted by ngatmow

DCF XV 2025, Sederhana dan Full Budaya

Ada yang berbeda dari penyelenggaraan Dieng Culture Festival ke XV tahun 2025 ini. Kali ini panggung yang dibangun panitia tidak se "nyeni" tahun tahun sebelumnya, malah lebih seperti panggung konser biasa. Tapi itulah menariknya DCF tahun ini.

 

Jujur, setelah sempat "puasa" dan simpang siur kabar karena proyek penataan kawasan di tahun sebelumnya, kembalinya DCF di Agustus 2025 kemarin itu rasanya kayak ketemu mantan yang udah glow up. Ada rasa kangen, ada rasa penasaran, tapi pas ketemu... ada juga rasa "lho, kok kamu berubah?".

 

Begini ceritanya ...

 

Masih mengusung tema "Back to The Culture" seperti tahun sebelumnya, DCF ke-15 yang digelar pada 23-24 Agustus 2025 lalu benar-benar mengajak kita kembali ke akarnya. Lokasinya masih sama, di Dataran Tinggi Dieng, Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara. Hanya saja kali ini ada 4 venue yang sama sama dilabeli "utama". Yaitu Venue Pandawa, Venue Gatotkaca, Venue Arjuna dan Venue Komplek Candi Arjuna.  

 

Kedengarannya berat dan serius ya? Tapi kenyataannya, tema ini bener-bener ngubah wajah DCF yang selama ini kita kenal.

 

Menurut mas mas panitia yang sempat ngobrol, hal ini dimaksudkan agar terjadi pemerataan hiburan dan bisa mengakomodir banyaknya kesenian yang ditampilkan pada momen itu. Sebut saja tari Ndolalak,  Tari Lengger Patak Banteng, Keroncong, Kubro Siswo, dan Kethoprak Conthong, juga Tari Rampak Yakso, Reog Bimolukar, Kesenian Jepin, dan lain sebagainya yang tampil menghibur masyarakat Dieng dan pengunjung tanpa harus memikirkan untuk membeli tiket. 




By the way, berikut sedikit pendapatku (dari sudut pandang pribadi tentunya)  tentang hal hal yang ada di seputaran Dieng Culture Festival XV tahun 2025 yang lalu :


YANG BIKIN JATUH CINTA (PLUSNYA)

1. Wajah Baru Dieng yang Lebih "Glowing" 

Harus diakui, absennya DCF di tahun sebelumnya demi proyek penataan kawasan itu worth it. Wajah kawasan Candi Arjuna sekarang jauh lebih rapi. Trotoar lebih manusiawi buat pejalan kaki (meskipun tetep aja penuh sesak pas acara), dan penataan venue terasa lebih terkonsep. Nggak ada lagi tuh kesan kumuh yang terlalu parah di area utama.



2. "Symphony Dieng" yang Bikin Merinding 

Oke, ini poin yang tricky. Banyak yang sedih karena format musiknya berubah (nanti kita bahas di poin minus), tapi harus diakui, konsep Symphony Dieng kemarin itu magis banget. Mendengar alunan lagu dari Nugie, Tiara Andini, Monita Tahalea dan orkestra dari Gamelan Orkestra Prawiratama dari Yogyakarta di tengah suhu 5 derajat celcius, dibalut kabut tipis, itu rasanya... ethereal. Mewah!

Aransemen musik yang megah, lighting yang cetar membahana berpadu sama mistisnya suasana dataran tinggi bikin bulu kuduk berdiri (bukan cuma karena dingin, ya!). Ini ngasih experience baru yang lebih "mahal" dan kontemplatif dibanding sekadar loncat-loncat nonton konser biasa.






3. Ritual Rambut Gimbal yang Lebih Sakral 

Sesuai temanya, "Back to The Culture", prosesi pencukuran rambut gimbal tahun ini terasa lebih khidmat. Panitia sepertinya bener-bener mau balikin "roh" acara ini ke akarnya. Kalau tahun-tahun sebelumnya ritual ini kadang "ketutup" sama hingar-bingar panggung musik, kemarin sorotannya bener-bener penuh ke adik-adik rambut gimbal.

Melihat prosesi jamasan sampai pelarungan, rasanya kita jadi diingetin lagi kalau DCF itu bukan cuma soal hura-hura, tapi soal doa dan tradisi leluhur yang harus dijaga. Respect!



4. Pesta Lampion yang Nggak Pernah Gagal 

Mau dikata cliché, mau dibilang mainstream, momen pelepasan lampion itu tetap jadi juara. Titik. Ribuan cahaya kuning naik pelan-pelan ke langit gelap, diiringi musik syahdu (dan ribuan story Instagram yang di-upload bersamaan), itu tetap momen terbaik buat healing. Romantisnya dapet, harunya dapet. Biarpun tangan beku megangin lampion, hati rasanya anget banget.


YANG BIKIN GARUK KEPALA (MINUSNYA)

1. Tata panggung yang kok gitu ? 

DCF tuh selalu identic dengan tata panggung yang wah. Beberapa tahun terakhir panggung utama di setting sedemikian rupa megah, nyeni dan ga pernah gagal membuat takjub, lengkap dengan setting lampu, audio sampai asap buatannya, memanjakan tukang foto seperti kita kita.

Tahun ini, panggung yang dibuat terkesan biasa saja dan (sori) kayak panggung dangdutan. Ga ada arsitektur nyeninya. Dalam pikiran baikku ini mungkin karena mengusung konsep sederhana itu tadi.

Tapi, bukankah nyeni juga bisa dalam bentuk yang sederhana ?

Ah sudahlah ……

 

2. Durasi yang "Diskon" (Cuma 2 Hari !) 

Biasanya kita dimanjain sama acara 3 hari (Jumat-Minggu), tapi DCF 2025 kemarin dipadetin jadi cuma 2 hari (Sabtu-Minggu). Efeknya? Rushed banget! Jadwal jadi super padat. Baru nafas dikit abis nonton kirab, udah harus lari ngejar open gate panggung musik.

Rasanya jadi kurang puas buat explore objek wisata lain di sekitar Dieng. Mau ke Sikunir ngejar sunrise jadi ragu karena takut telat balik buat acara inti. Padahal kita udah jauh-jauh ke sana, pengennya sih slow living, eh malah jadi rushing hour.


3. Ke Mana Perginya "Jazz Atas Awan"? 

Ini nih yang jadi perdebatan panas di tongkrongan traveler. Tahun 2025 ini, branding ikonik "Jazz Atas Awan" yang santai, jazzy, dan membumi itu rasanya agak "hilang" atau berubah drastis jadi format orkestra/simfoni tadi.

Buat penikmat lama DCF, ada rasa kehilangan. Kita kangen duduk lesehan di rumput kering, dengerin musisi jazz indie atau pop populer yang bikin kita nyanyi bareng santai sambil nyeruput purwaceng. Format baru kemarin memang keren, tapi rasanya jadi agak terlalu "formal" dan kaku. Kurang chill gitu lho, Genks. Banyak yang bilang, "DCF tanpa Jazz Atas Awan itu kayak makan mie ongklok tanpa sate sapi, enak tapi ada yang kurang.".


4. Masalah Sampah (Lagi dan Lagi) 

Katanya "Back to Culture", yang harusnya juga berarti mencintai alam. Tapi sedih banget pas bubaran acara lampion atau konser, sampah plastik bekas jas hujan sekali pakai dan botol minum masih berserakan.

Meskipun panitia udah teriak-teriak soal "Aksi Dieng Bersih" dan nyediain tong sampah, kesadaran kita sebagai pengunjung kayaknya masih perlu "direvolusi". Malu dong sama lampionnya yang udah terbang cantik, masa ninggalin jejak kotor di bawahnya?



SO, APAKAH DCF BERIKUTNYA MASIH LAYAK DITUNGGU?

Absolutely, YES.


Meskipun ada beberapa perubahan format di tahun 2025 yang bikin kaget (terutama soal musik dan durasi), Dieng Culture Festival tetap punya magisnya sendiri. Atmosfer "Negeri di Atas Awan" itu nggak bisa diduplikasi di tempat lain. Dinginnya, kabutnya, keramahan warga lokalnya, dan kentang goreng Dieng-nya (ini penting!) selalu bikin rindu.


DCF 2025 mungkin adalah masa transisi. Panitia dan warga lokal lagi nyari format terbaik buat nyeimbangin antara pariwisata massal dan pelestarian budaya yang sakral.


Buat kamu yang kemarin belum sempat ke sana, nabung deh buat tahun depan. Siapin fisik, siapin mental buat macet, dan yang paling penting: turunkan ekspektasi soal konser hura-hura, tapi naikkan ekspektasi buat pengalaman budaya yang menyentuh jiwa.

Sampai ketemu di Dieng (semoga) tahun depan, dengan jaket yang lebih tebal dan hati yang lebih siap jatuh cinta lagi!

Salam dari ketinggian 2.093 mdpl.



8.30.2025
Posted by ngatmow

Bendera One Piece Berkibar di Indonesia : Simbol Protes ala Bajak Laut Topi Jerami yang Bikin Baper Elite

Sudah lihat kan, kalau bendera Jolly Roger-nya Monkey D. Luffy dalam serial anime One Piece lagi marak dipakai masyarakat Indonesia dimana-mana ? Itu lho bendera bajak laut dengan topi jerami yang sedang meringis ......



Kok bisa ?


Jadi gini ......

Ceritanya dimulai pas Presiden Prabowo Subianto ngajak warga buat ngibarin bendera Merah Putih sepanjang Agustus 2025, biar semangat nasionalisme makin kenceng menjelang HUT RI ke-80. Eh, tapi apa yang terjadi? Alih-alih bendera Merah Putih doang, tiba-tiba bendera Jolly Roger-nya kru Topi Jerami dari One Piece muncul di mana-mana! Mulai dari rumah-rumah, tiang bendera, sampe truk ODOL yang biasa ngegas di jalanan. Bahkan, ada yang bikin stiker bendera ini buat mobil atau ganti foto profil WhatsApp sama IG pake logo tengkorak bertopi jerami itu. Keren, kan?


Fenomena ini mulai rame sejak 26 Juli 2025, pas netizen mulai ngepost foto-foto bendera One Piece di X, TikTok, sama Instagram. Dari Jakarta, Bandung, sampe Kendari dan Jogja, bendera ini kayak jadi trend baru. Malah, pas May Day Fiesta di Stadion Madya, Senayan, Mei 2024, bendera ini udah keliatan dikibarin sama buruh yang demo. Jadi, ini bukan cuma soal hype anime, tapi ada cerita lebih dalam di baliknya.


Makna di Balik Bendera: Bukan Cuma Soal Anime

Buat yang belum tahu, Jolly Roger di One Piece itu bendera bajak laut yang punya makna kebebasan, perlawanan, sama solidaritas. Bendera kru Topi Jerami, dengan tengkorak yang pake topi jerami khas Luffy, ngelambangin semangat ngejar mimpi, lawan ketidakadilan, dan anti sama kekuasaan yang nyiksa rakyat. Nah, di Indonesia, bendera ini kayak disulap jadi simbol protes rakyat yang lagi kesel sama kondisi sosial-politik.


Banyak warganet bilang, ngibarin bendera One Piece ini cara mereka nyanyi-nyanyi soal ketidakpuasan sama pemerintah. Mulai dari isu ketimpangan ekonomi, hukum yang kayak tebang pilih, sampe dugaan pelanggaran HAM yang bikin orang gerah. Misalnya, ada netizen di X yang nulis, “Bendera One Piece itu kayak teriakan : kami mau kebebasan kayak Luffy, bukan cuma janji manis!” Ada juga yang bilang ini sindiran buat penguasa yang dianggap korup, mirip kayak Pemerintah Dunia di One Piece yang dikasih label “penutup kebenaran.”


Yang bikin menarik, gerakan ini katanya organik banget. Gak ada dalang atau tokoh besar di belakangnya. Murni keresahan warga yang nyanyi lewat simbol budaya pop. 

Bahkan banyak juga bilang gini, “Aku gak anti-Indonesia kok. Tapi pemerintah sekarang tuh rasanya jauh banget dari rakyat. Ngibarin bendera One Piece itu kayak ngingetin: kita mau keadilan, kayak Luffy yang selalu bela temennya.”


Reaksi ? banyak .....


Tapi, namanya fenomena viral, pasti ada pro dan kontra. Pemerintah langsung panas kuping ngeliat bendera anime ini berkibar. Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco, sampe bilang ini “provokasi” yang bisa memecah belah bangsa. Bahkan, ada yang nuduh ini makar! Serius, bro, makar? Cuma bendera anime doang! Tapi, di sisi lain, Wakil Mendagri Bima Arya malah santai. Dia bilang ini cuma ekspresi kreatif, selama gak ngehina bendera Merah Putih atau langgar konstitusi, ya gapapa. “Kayak ngibarin bendera Pramuka aja,” katanya.


Dari sisi hukum, ternyata ngibarin bendera One Piece ini legal, lho. Pakar hukum Abdul Fickar dari Universitas Trisakti bilang, gak ada UU yang ngelarang ngibarin bendera kayak gini. Cuma, kalo disandingin sama Merah Putih, bendera nasional harus lebih tinggi dan besar, biar gak dianggap ngelecehin simbol negara. Jadi, selama bendera ini gak dipake buat provokasi serius atau ngehina bendera RI, aman-aman aja.


Kalau saja Almarhum Gus Dur masih bisa berkomentar, mungkin beliau juga akan memberikan statement gini " ya mbok biarin saja, dilihat saja ada bendera Merah Putih nya nggak. Kalau ada dan posisinya lebih tinggi ya biarin saja. Anggap saja umbul umbul ...... yang penting jangan lebih tinggi dari bendera Merah Putih "  (seperti komentar beliau pada masa itu mengenai sebuah bendera yang juga dikibarkan di ujung negeri sana)


Filosofi One Piece: Kenapa Cocok Jadi Simbol?

Buat yang ngefans sama One Piece, pasti tahu dong, cerita ciptaan Eiichiro Oda ini gak cuma soal petualangan bajak laut. Ada nilai-nilai kebebasan, persahabatan, sama perjuangan ngejar mimpi yang bikin ceritanya relate sama kehidupan nyata. Luffy, si kapten Topi Jerami, itu orang yang gak takut ngelawan Pemerintah Dunia yang korup, apalagi kalo temennya disakitin. Makanya, bendera Topi Jerami ini kayak nyanyi keras soal semangat anti-korupsi dan keadilan.


Di Indonesia, yang lagi panas sama isu-isu kayak revisi UU, kasus HAM, atau ketimpangan ekonomi, bendera ini kayak jadi “teriakan” rakyat kecil. Apalagi, One Piece udah lama banget populer di sini. Komiknya laku keras, animenya ditonton jutaan orang, dan merchandise-nya ada di mana-mana. Jadi, gak heran kalo simbol dari cerita ini dipake buat nyuarain aspirasi.


Bukan cuma di Indonesia, fenomena ini sampe dilupain media asing, lho. Screen Rant, media hiburan dari Kanada, nulis soal “kontroversi aneh” ini. Mereka bilang, bendera One Piece ini mungkin nyambung sama laporan Human Rights Watch soal dugaan pelanggaran HAM di Indonesia tahun 2023. Jadi, ini bukan cuma soal anime, tapi juga soal pesan sosial yang bikin dunia ngeliatin Indonesia.



So, apa sih inti dari fenomena bendera One Piece ini? 

Ini bukan cuma soal ngefans sama Luffy atau pengen keren-kerenan. Ini soal rakyat yang lagi pengen nyanyi keras soal kekecewaan mereka, tapi dengan cara yang kreatif dan pake bahasa budaya pop. Bendera Jolly Roger ini kayak jadi pengingat bahwa rakyat Indonesia pengen kebebasan, keadilan, dan pemerintahan yang bener-bener pro rakyat, kayak semangat kru Topi Jerami.


Buat sebagian orang, mungkin ini cuma “ulah” penggemar anime. Tapi buat yang lain, ini simbol perlawanan yang santai tapi ngena. Yang jelas, fenomena ini nunjukin betapa kuatnya budaya pop bisa nyanyi soal isu serius. Jadi, kalo kamu liat bendera One Piece berkibar di deket rumah, jangan cuma bilang “wah, keren!” Tapi coba dengerin apa yang pengen disuarain sama yang ngibarin bendera itu. Siapa tahu, kamu juga pengen ikutan jadi “bajak laut” yang ngejar keadilan!

Menurutku sih aksi protes ini dilakukan mengingat situasi politik dan ekonomi Indonesia akhir-akhir ini. Masyarakat berhak menggunakan simbol atau idiom budaya populer–seperti kasus bendera anime One Piece sebagai ekpresi kekecewaan. 


Sayangnya  ini menjadi memprihatinkan saat kita pejabat pejabat kita negara malah merespons dengan tindakan berlebihan, seperti mengerahkan aparat keamanan untuk ‘memberhangus’, menjatuhkan sanksi apalagi menghukum hingga menangkap, memenjara, dan sebagainya. Kan Lucu .....


Alangkah baiknya sebenarnya jika pemerintah seharusnya menjawab dengan narasi-narasi tandingan. Misalnya, memberikan penjelasan untuk mengatasi keresahan mereka atau melakukan aksi nyata. Itu saja sudah cukup, tidak perlu melakukan tindakan represif. Atau mengubah cara pandang seperti saran Gus Dur tadi.

Enak kan ? 
Tapi ..... ya sudahlah, kita sebagai masyarakat bagaimanapun harus mendukung pemerintah yang semua keputusan, kebijakan maupun perilakunya sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku #katanya ......





8.04.2025
Posted by ngatmow

Makan Bergizi Gratis, perlu banget upgrade sistem ke kantin sekolah

Lagi browsing cari artikel tentang si Zhou Ye beberapa waktu lalu, ga sengaja lewat sebuah  artikel yang cukup menarik perhatian namun cukup menggelitik juga di laman setneg.go.id. Disitu ditulis gini :


" Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG) yang terus menunjukkan perkembangan signifikan sejak diluncurkan secara bertahap pada Januari 2025.

Presiden menekankan bahwa skala dan kompleksitas logistik program ini sangat besar. Walaupun tingkat keberhasilan program MBG menurut Presiden mencapai angka 99 persen, tetapi ia mengingatkan kepada seluruh pihak agar tidak cepat puas. "


Pliss fokus pada kalimat kalimat yang bercetak tebal ya. Menggelitik kan ?



Oke mari kita bahas sedikit.


Program MBG alias Makan Bergizi Gratis yang sekarang lagi rame diperbincangkan sebenarnya punya niat yang super mulia. Siapa sih yang nggak seneng kalau anak-anak sekolah bisa makan gratis, bergizi, dan pastinya bikin semangat belajar lebih maksimal? Apalagi, masalah gizi buruk atau anak yang skip sarapan masih banyak banget di negeri ini. Jadi secara ide, MBG ini udah dapet “nilai plus” yang gede banget...... dari sisi niatnya. Sekali lagi niatnya......


Tapi kayak pepatah lama, “niat baik doang nggak cukup, eksekusinya juga harus bener.” Nah, di sinilah cerita plus minus MBG mulai muncul. Sebagai disclaimer, ini plus minus versiku selama mengamati dan melakukan analisis ala ala saja ya, so jangan di dramatisir kemana mana.


Plusnya MBG
  1. Bantu anak-anak yang kurang mampu.
    Dengan adanya MBG, anak-anak dari keluarga yang kurang beruntung dan anak anak yang berasal dari wilayah terpinggir di pelosok negeri ini jadi terbantu untuk mendapatkan makanan bergizi, yang biasanya cuma jajan seadanya. Jadi harapan untuk mereka lebih sehat, lebih fokus belajar, dan otomatis prestasi juga bisa naik.

  2. Mengurangi angka kelaparan terselubung.
    Percaya atau nggak, masih banyak kok siswa yang ke sekolah dengan perut kosong. MBG bisa jadi solusi biar mereka nggak “ngorok di kelas” karena laper.

  3. Niat mulia dari pemerintah.
    Program ini menunjukkan kalau negara peduli sama masa depan generasi muda. Soalnya, apa jadinya kalau otak anak-anak bangsa nggak dapat asupan nutrisi yang layak?


Minusnya MBG
  1. Teknis ribet dan rawan bocor anggaran.
    Banyak cerita soal pembagian makanan yang kadang nggak tepat sasaran, bahkan ada isu “anggaran bocor”. Jadi niatnya bagus, tapi prakteknya kadang bikin miris. Mari kita buktikan dengan bertanya pada mereka mereka yang terlibat langsung di lapangan hehehe ....

  2. Kualitas makanan sering dipertanyakan.
    Karena sistemnya tender ke pihak ketiga, sering muncul masalah kayak lauknya nggak segar, porsinya terlalu dikit, atau rasanya “meh”. Akhirnya anak-anak malah males makan. Belum lagi banyaknya kasus keracunan makanan yang terjadi hingga menimbulkan ratusan korban.

  3. Kurang memberdayakan lingkungan sekolah.
    Nah ini point yang paling jleb. Kalau makanannya semua disuplai dari luar, tidak melibatkan unsur unsur yang ada di lingkungan sekolah. Disini sekolah jadi kayak “penonton” aja. Padahal sebenarnya sekolah bisa dilibatkan lebih banyak. 


Nah, dari minus-minus tadi (terutama point terakhir), muncul sebuah pertanyaan yang menurutku juga "mungkin" perlu menjadi bahan kajian di tingkat pimpinan negeri ini.

kenapa nggak sekalian aja MBG ini dikelola lewat kantin sekolah saja? 

dan ini sudah jadi bahan obrolan dengan teman teman satu tongkrongan sejak beberapa waktu yang lalu....


Banyak kok alasan kenapa ide itu muncul, dan bayangin kalau sistemnya gini, pemerintah tetap kasih dana, tapi eksekusinya lewat kantin sekolah masing-masing. Yang akan terjadi kira kira (mungkin) akan seperti ini :

  • Lebih transparan.
    Guru, komite sekolah, dan orang tua bisa ikut ngawasin langsung. Nggak perlu lewat pihak ketiga yang jauh dan ribet, dan tentu saja gak mungkin ga mencari keuntungan.

  • Menu lebih sesuai selera anak dan terjaga kualitasnya.
    Kantin sekolah kan tiap hari ketemu anak-anak. Mereka tahu banget, anak lebih suka tempe orek daripada sup yang hambar, anak di sekolah terkait lebih suka jeruk dari pada salak, dan lain sebagainya sehingga kemungkinan makanan terbuang juga lebih kecil.
    Selain itu karena jumlah masakan lebih sedikit, peluang untuk menjadi basi juga tidak ada dan kualitasnya selalu terjaga.

  • Memberdayakan lingkungan sekitar sekolah 
    Sekedar informasi, sebelum program MBG ini diberlakukan sebenarnya sudah banyak sekolah (terutama sekolah dasar) yang punya program Kantin Sehat dan Dapur Sehat Sekolah. Dua program ini sebenarnya sangat pas sebagai partner MBG.  Bagaimana tidak ? Kantin Sehat dan Dapur Sehat Sekolah ini tentu saja bekerjasama dengan warung atau UMKM di sekitar sekolah, secara otomatis roda perekonomian juga ikut berputar.

  • Distribusi makanan lebih praktis dan cepat, BGN berfungsi pengawasan.
    Nggak perlu lagi drama makanan telat datang karena macet di jalan atau masalah distribusi. Kantin tinggal masak di tempat, selesai! Sementara itu anggota Badan Gizi Nasional di daerah melakukan tugasnya dalam fungsi pengawasan, tidak sampai ekseskusi. Nah ....


Intinya, MBG itu niatnya udah oke banget. Tapi biar nggak cuma jadi program keren di atas kertas, sistemnya harus dievaluasi lagi, dibuat lebih dekat dengan kebutuhan nyata anak-anak. Dan seandainya nanti dilimpahkan ke kantin/dapur sekolah, program ini bisa lebih transparan, efektif, dan tentu aja lebih menyenangkan buat siswa, selain juga menggerakkan roda ekonomi kantin/dapur sekolah yang bersangkutan.


Jadi, kepada para pemimpin negeri ini dan dengan tidak mengurangi rasa hormat,  coba pikir ulang kalimat ini : 

MBG lewat kantin sekolah, why not ?

5.30.2025
Posted by ngatmow

Formulir Rangkap Tiga : Cermin birokrasi yang... ah sudahlah

Thomas Fatah sudah berdiri di loket nomor dua sejak pukul delapan pagi. Persis di bawah kipas angin yang berputar pelan — cukup untuk menggerakkan rambut, tidak cukup untuk mendinginkan udara. Di tangannya, selembar formulir permohonan surat keterangan domisili yang sudah diisi dengan tinta biru, sesuai instruksi dari papan pengumuman yang terlaminating di dinding sebelah kiri.

Mbak petugas di balik kaca menerimanya tanpa menoleh. Sibuk memencet-mencet sesuatu di ponselnya.

"Ini formulirnya, Mbak."

"Fotokopinya mana?"

"Fotokopi... formulirnya?"

"Iya. Rangkap tiga."


Pemuda tambun itu mengerutkan dahi. Ia sudah membawa fotokopi KTP rangkap tiga, fotokopi KK rangkap tiga, fotokopi surat nikah meski tidak diminta, dan satu lembar materai enam ribu yang ia tempel sendiri meski juga tidak diminta — karena kata tetangganya, "daripada bolak-balik, bawa aja semua."

"Tapi ini kan formulir dari sini, Mbak. Baru diisi tadi..."

"Iya, tapi tetep harus difotokopi. Satu untuk arsip, satu untuk berkas, satu lagi untuk..."

Mbak petugas berhenti sejenak.

"...untuk apa ya..." gumamnya, seperti benar-benar tidak ingat.

Thomas menunggu. Empat detik berlalu.

"Pokoknya tiga," simpul Mbak petugas dengan nada yang tidak mengundang diskusi lebih lanjut.

Thomas pun berbalik, turun tangga, keluar gedung, menyeberang jalan, masuk ke warung fotokopi yang mejanya sudah dipadati ibu-ibu dengan tumpukan berkas masing-masing. Ia mengambil nomor antrean. Nomor empat puluh tujuh. Yang dipanggil baru nomor dua puluh sembilan.

Ia duduk di bangku plastik merah yang satu kakinya diganjal bata, menatap langit-langit yang berposter kalender 2025.

Di dalam kepalanya, satu pertanyaan berputar seperti kipas angin di loket tadi: untuk apa sebetulnya lembar ketiga itu?

Tidak ada yang tahu. Tidak Mbak petugas. Tidak Pak Kepala Seksi yang tanda tangannya tertera di pojok formulir. Mungkin juga tidak pejabat yang dulu menciptakan sistem ini.

Tapi bata itu tetap mengganjal. Formulir itu tetap harus rangkap tiga. Dan Thomas, dengan sabar luar biasa yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah terlalu sering berurusan dengan birokrasi, menunggu nomor empat puluh tujuh dipanggil.

Ia sudah bawa bekal nasi bungkus dari rumah. Ternyata berguna.

5.16.2025
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow