dilematis literasi visual versi saya

Membaca sebuah kalimat dari tulisan senior saya kak Radityo Widiatmojo dalam blognya fototiptrik.blogspot.co.id,  .....Fotografi akan lebih bermakna jika digunakan sebagai medium bercerita bukan sebagai pengumbar hawa...... mengundang senyum lebar di bibir saya yang katanya seksi ini. Hehehe....

Kenapa?
Sebab saya sangat setuju sekali dengan kalimat tersebut man... Kalimat yang seolah olah menceritakan apa yang sedang terjadi dan menjadi trending topic di dunia fotografi belakangan ini. Memang sih tidak semuanya pelaku fotografi (baik itu penggemar, penghobi maupun pekerja foto) berlaku seperti itu, namun apa yang terjadi di lingkungan saya terutama di kalangan anak anak muda (yang tentu saja seumuran dengan saya dan yang lebih muda lagi) menunjukkan kecenderungan bahwa hal tersebut adalah benar adanya.

Terkadang miris juga sih melihat atau membaca atau menjumpai anak muda seumuran saya yang masih eSeMA bercerita kepada temannya bahwa dia mau memotret seorang model dengan busana "minimalis" bersama teman-teman "fotografernya" (alias keroyokan) di suatu tempat yang menurut saya bahkan kalau disambungkan dengan busana yang diceritakannya itu sama sekali nggak nyambung temanya.....
Apakah ini bukan yang namanya pelecehan berkedok fotografi ??
Maaf bila salah, namun menurut saya hal tersebut sangat sangat tidak masuk akal dan menimbulkan banyak tanda tanya besar di kepala saya. Apa fotografi bagi dia hanya sebatas itu saja? apakah dia seorang fotografer hebat yang kemudian mendapatkan bayaran super besar setelah sesi pemotretan? atau hanya kemudian hanya untuk mendapatkan tanda jempol luar biasa banyak di media sosial semacam Fesbuk, Twiter atau Ige ?
Dan kenapa ada seorang perempuan muda nan cantik yang mau tubuhnya diabadikan sedemikian detil (bahkan hingga lubang pori-porinya kelihatan) untuk kemudian diekspos sedemikian sehingga di media sosial? dimana harga diri dan norma yang seharusnya dijaganya?

Entahlah..... mungkin saya yang terlalu kuno atau tidak kekinian. Tapi jujur saja, sebagai seorang ayah dari seorang anak perempuan dan seorang kakak dari beberapa adik perempuan, juga seorang anak dari seorang perempuan hebat, hati nurani saya sangat sangat tidak menyetujui hal semacam itu.........

Dalam tulisannya kak kak Radityo Widiatmojo juga menulis soal salah satu saran yang banyak disarankan fotografer hebat nan berpengalaman adalah "follow your passion"... yang bahkan kalimat tersebut berlaku di bidang-bidang lain selain fotografi. Menurutnya mengikuti kata hati bisa berdampak besar terhadap hidup kita dan harus diakui hal itu memang benar adanya man, karena biasanya dikaitkan dengan pilihan-pilihan sulit dalam hidup. Namun apa jadinya bila jika anda membaca sebuah kalimat "PASSION SAYA DI FOTO MODEL..."?

Berikut sedikit penggalan tulisan beliau yang cukup menggelitik bagi saya, namun saya SANGAT MENYETUJUINYA.

Pernyataan "PASSION SAYA DI FOTO MODEL.." memang syah syah saja dan tidak salah. Namun ini menunjukkan barometer literasi visual fotografi di tanah air. Di Indonesia banyak sekali bertebaran klub foto yang mengadakan "hunting model". 1 model bisa digruduk 10-30 orang. Saya tidak munafik, saya dulu juga seperti itu, pernah mengalami hal demikian, pernah merasakan euforia motret model ditengah hiruk pikuk kerumunan fotografer yang masih dalam tahap belajar. Sekali lagi saya pernah merasakannya. Asyemmmm. Asyemmm karena sadar bahwa literasi visual saya saat itu begitu dangkal. Hasyem karena tidak seharusnya memperlakukan seorang model seperti itu. Tidak terjadi komunikasi antara model dan fotografer kan. Lha wong sang model dipanggil, "mbak'e noleh sini.." "mbak, mbak noleh atas mbak.." "Non, kiri kiri Non.." "Oke mbak, sekarang noleh ke saya ya mbak Manis..." Jika saya jadi modelnya ya amsyong lah. Model juga manusia bung, janganlah jadikan beliau sebuah objek yang dinikmati secara fotografis dan masif. Berkaitan dengan literasi visual, nampaknya literasi visual dalam satu dekade ini "masih" lebih banyak berseliweran foto-foto model dalam lini masa sosial media mereka, sehingga memaksa seseorang untuk melontarkan pernyataan "PASSION SAYA DI FOTO MODEL" secara sadar dan bangga.

Hunting model bagi saya adalah aktifitas untuk memenuhi hasrat indrawi para penghobi fotografi dan bukan sebagai ajang edukasi yang pas. Outputnya pasti jelas di upload di internet, yang berarti menambah kontribusi literasi visual foto model, emboh model opo. Jika mengatas-namakan "Sama-sama Belajar" antara model dan fotografer, mengapa tidak dikemas dalam format yang lebih edukatif dan interaktif? Satu mentor, satu model, dan maksimal 4 fotografer-lah. Jangan satu model dihajar habis orang 10 lebih. Di Sydney memang ada model motret grudukan seperti ini, tapi bukan model. Istilah motret bareng itu "Photo Walk", lebih ke arah dokumenter, landscape, street atau arsitektur. Kalau mau bikin "portrait" seorang model, teman-teman saya cenderung di studio untuk belajarnya, dengan format 1 model untuk 1 fotografer dan 2 asisten (1 model 1 fotografer). Begitu sang model dan fotografer sudah pede dan "mengenal" karakter masing-masing, maka mereka akan janjian lagi untuk pemotretan outdoor. Moda seperti itu jauh lebih efektif jika mengatas-namakan "Sama-sama Belajar". Bagaimana dengan lomba motret model yang rame-rame juga? Kalau itu bisa diapresiasi karena memang model profesional di bayar dengan profesional pula.

"Lantas apa yang bikin dilematis? Kan suka-suka saya ingin motret apa. Haknya saya kan. Kamera-kamera saya sendiri. Foto-foto saya sendiri. Facebook-facebook saya sendiri. Apa hak anda cawe-cawe passion saya?" Mungkin lontaran pertanyaan bernada offensive seperti ini akan memelihara jenis pembelajaran (motret model grudukan) tetap menjadi primadona. Seakan foto Model dan motret grudukan adalah dua sejoli yang tidak bisa dilepas.

Lantas?

Meskipun motretnya tidak grudukan, namun sosial media juga mengundang dan menggelitik fotografer untuk menggunggah foto Model di komunitas yang banyak penggemar foto Model. Lantas, sosial medialah yang menjadi tujuan akhir. Bukan rahasia umumlah jika upload foto di sosmed itu kabur batasannya antara "sharing", "minta saran" atau "pamer". Coba saja lihat berbagai group fotografi di FB, banyak sekali saya ditemui foto-foto (mohon maaf) tidak seronok/vulgar, tidak pantas dan berujung pada pamer kebinalan dari mata fotografer. Lebih binal lagi yang komentar, aduhhhhh benar-benar merusak komunitas fotografi di Indonesia deh.

Lantas (lagi) ada rekan saya dari negara tetangga yang bertanya "Lha piye je solusine?" Ya lha yo modyar kalau saya disuruh membuat solusinya, itu hak mereka atas bagaimana menggunakan karunia terindah dari Sang Pencipta, berupa mata. Gunakanlah mata fotografis anda dengan bijaksana, janganlah menindas tubuh atas nama "belajar" apalagi atas nama cinta.


Kalimat terakhir adalah kalimat yang menurut saya sangat menusuk hati yang terdalam. Hehehe........ sebab banyak pemahaman (terutama bagi mereka yang sudah saya sebutkan diatas) tentang fotografi (terutama model, portrait dan fashion) yang pada akhirnya secara tidak langsung akan menyentuh langsung pada  hal tersebut.

Bagi saya pribadi, fotografi merupakan sebuah wahana dimana kita bisa mengabadikan semua hal, semua moment, dan segala apa yang bisa kita lihat dan nikmati untuk kemudian dibagikan kepada orang lain untuk dinikmati bersama sama. Tidak hanya yang indah dan harus berbentuk sesosok tubuh menawan dengan balutan busana minimal saja, tapi juga segala hal yang ada di sekeliling kita sebagai bentuk keperdulian kita terhadap lingkungan.
Tapi satu hal yang begitu penting dan musti kita pahami sebelumnya (namun sering dilupakan oleh mereka-mereka, temen-teman yang hanya mengejar nafsu indrawinya saja) yaitu bagaimana belajar memahami kamera dan bagaimana membuat foto yang baik dengan beragam genrenya. Tidak lupa juga belajar menjadi santun dalam berfotografi adalah proses yang harus dilatih setiap hari. Fotografer juga manusia, kan? Kita bisa selalu berempati dan bersimpati.

Ingat kisanak, fotografer adalah orang yang paham dengan nilai seni dalam hasil jepretannya di mana letak keindahan atau nilai seninya karena bisa dinikmati siapa saja dan siapapun harus menerima keindahan dengan rasa enak, nyaman akhirnya ihlas menerimanya, jadi seni itu indah dalam format kebersamaan, tidak indah apabila cuma dinikmati dan memberi rasa puas hanya sepihak saja.
Menurut saya pendidikan dalam konteks seni dalam hal jepret menjepret dengan kamera khususnya fotografi juga otomatis seharusnya mengajarkan manusia Indonesia terutama fotografer kita supaya punya tata krama/etika. Jadi fotografer jangan hanya menuruti hawa nafsu saja man, namun juga masih banyak hal lain yang juga harus diperhatikan, dipahami dan diamalkan sehingga menjadi satu kesatuan yang kemudian bisa dipertanggung jawabkan secara moral dan spiritual....halah............

Sudah itu saja..............
11.10.2015
Posted by ngatmow

Canon PhotoMarathon Indonesia 2015 Jogja................

Canon PhotoMarathon Indonesia (CPMI) kembali digelar tahun ini di Indonesia, dan kota Yogyakarta terpilih menjadi kota pelaksanaan pembukaan rangkaian CPMI 2015 (bahkan pembukaan CPM se Asia juga) pada tanggal 11 Oktober lalu yang kemudian akan digelar juga di Bali pada tanggal 18 Oktober dan Jakarta tanggal 24 Oktober. Selain Indonesia, Canon PhotoMarathon Indonesia 2015 yang merupakan bagian dari Canon PhotoMarathon Asia 2015, juga diselenggarakan di 10 negara lainnya, yaitu: Brunai Darusalam, Hong Kong, India, Kamboja, Malaysia, Singapura, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, dan Vietnam.

Wow........

 “Canon PhotoMarathon Indonesia 2015 tidak semata-mata menjadi ajang kompetisi foto, namun acara ini juga berperan sebagai wadah silaturahmi para penggemar fotografi dari berbagai daerah dan sarana menambah ilmu. Hal ini terlihat dari semakin beragamnya kalangan masyarakat yang mengikuti ajang ini dari tahun ke tahun, mulai dari pelajar, karyawan baik itu pemula maupun yang sudah lama berkecimpung di dunia fotografi. Tahun ini, Yogyakarta menjadi tuan rumah untuk kali kelima. Hal ini karena antusiasme peserta yang luar biasa, sekaligus menjadi tempat favorit para pecinta foto untuk berkumpul,” Merry Harun – Direktur Divisi Canon, PT. Datascrip.


Sedikit cerita, kompetisi bergengsi ini tidak dibatasi hanya untuk pengguna kamera Canon saja, namun terbuka juga bagi seluruh pengguna kamera digital merek apapun, baik DSLR, mirorrless ataupun kamera saku. Kreativitas menjadi tantangan utama untuk mendapatkan karya terbaik dengan tema dan batas waktu yang sudah ditentukan panitia. Hal itulah yang mengundang banyak sekali fotografer yang bersedia merelakan waktunya untuk beradu dan berkompetisi di ajang ini. Tidak heran bila kemudian ada 1909 peserta memadati GOR Universtitas Negeri Yogyakarta pada tanggal 11 Oktober kemarin untuk memperebutkan total hadiah ratusan juta rupiah, serta hadiah utama berupa perjalanan klinik foto ke Jepang.

Ada sesuatu yang menarik perhatian saya (yang juga berada di TKP sebagai peserta pemula), pada CPMI 2015 Yogyakarta ini terlihat banyak sekali (atau bahkan mungkin berjumlah sampai ratusan) fotografer muda yang masih duduk di bangku sekolah. yang mana mereka adalah peserta Canon PhotoMarathon Indonesia 2015 kategori Pelajar yang sengaja dikelompokkan tersendiri dengan harapan agar mereka dapat berkreasi dan berkompetisi di antara mereka dengan lebih percaya diri.



Pada pelaksanaannya, Lomba terbagi dalam tiga sesi dan peserta dibatasi waktu pada setiap sesinya. Setelah tata tertib dan peraturan dibacakan, panitia langsung mengumumkan tema 1, yaitu “Gotong Royong”, tema 2 “Tradisi Leluhur”, dilanjutkan kemudian dengan tema 3 yaitu “Sembunyi”.

Foto-foto terbaik dari hasil jepretan para peserta sejak pagi hingga siang hari langsung dinilai oleh dewan juri yang terdiri dari para fotografer dari latar gaya pemotretan yang beragam, yaitu Kenvin Pinardy (Fotografer Profesional), Risman Marah (Fotografer Profesional & Pewarta Foto), Sutomo (Fotografer & Pewarta Foto), Misbachul Munir (Fotografer Profesional & Pewarta Foto), Budi Prast (Pewarta Foto) dan Heru Chandra (Manajer Divisi PT. Datascrip).

Selama proses penjurian, para peserta disuguhi dengan sesi hunting foto model, aneka hiburan dan games dengan hadiah menarik. Tak hanya itu, para peserta pun dibekali dengan ilmu fotografi berharga dari sesi seminar fotografi yang mendatangkan langsung pembicara kelas dunia, Justin Mott, seorang fotografer profesional yang karya-karyanya telah dipublikasikan di New York Times, TIME dan Forbes. Para peserta pun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka ini dan berlomba-lomba mengajukan beragam pertanyaan kepada Justin. Ia juga merupakan fotografer profesional yang tampil di tayangan reality show kompetisi foto paling bergengsi se-Asia, Photo Face-Off.

Akhirnya, setelah dibacakan hasilnya tampil sebagai juara umum Canon PhotoMarathon Indonesia 2015 Yogyakarta adalah Muhammad Nurudin yang kemudian berhak membawa pulang 1 unit kamera DSLR Canon EOS 100D dan perjalanan phototrip ke Jepang . Bersama dengan juara umum dari Jakarta dan Bali, mereka akan dikumpulkan dengan juara utama dari negara penyelenggara Canon PhotoMarathon Asia 2015 lainnya.

Lha saya? seperti biasa, nampaknya kali ini saya berhasil mendapatkan ZONK dan sepertinya harus lebih banyak belajar motret lagi bersama teman teman senasib dan seperjuangan. Tentu saja dengan sebersit harapan agar tahun tahun berikutnya bisa ikut CPMI lagi dengan hasil yang lebih baik lagi......Amin.....


Info selengkapnya bisa cek www.canon-asia.com/photomarathon
10.12.2015
Posted by ngatmow

siapakah dalang G30S PKI yang sebenarnya ?

Sudah lama nggak menengok forum sebelah dimana saya banyak belajar menulis, iseng iseng baca soal sejarah (itung itung mumpung pas tanggal 30 September yang "katanya" hari bersejarah bagi bangsa ini. Nah disitu saya nemu sebuah tulisan yang menarik, bahkan sangat menarik bagi saya, yaitu tulisan mas Andi Firmansyah yang menulis soal siapa dalang G30S/PKI sebenarnya.

Yup, sebuah gerakan pemberontakan di masa lalu (bahkan sebelum saya direncanakan oleh orang tua saya. Namun berdasarkan pelajaran PSPB (Pendidikan Sejarah dan Pengetahuan Bangsa) yang saya terima di SD dulu, kemudian berlanjut jaman putih biru dan abu abu) yang sempat sangat mengancam stabilitas nasional dan kemerdekaan bangsa ini. Yang ternyata dibalik itu semua, ada satu rahasia besar yang sampai saat ini belum terungkap jawabannya.


Ada banyak versi yang menggambarkan siapa-siapa saja dalang dibalik peristiwa G30S/PKI. Ada yang mengatakan Presiden Sukarno, PKI, CIA bahkan pahlawan yang menumpas gerakan tersebut pun dikatakan bagian dari dalang tersebut, yaitu Presiden Suharto. Sebenarnya sangat sulit sekali menguraikan misteri Gerakan 30 September/PKI tersebut karena semua pihak yang dikatakan sebagai dalang punya kepentingan masing-masing terhadap gerakan tersebut. Untuk itu saya akan uraikan sedikit kisah peristiwa tersebut berdasarkan buku-buku yang pernah saya baca tentang G 30 S/PKI agar gampang kita untuk menganalisa Siapa sebenarnya dalang dari peristiwa tersebut.
Buku- buku tersebut adalah:
· Coen Holtzapel, Plot TNI AD – Barat Di Balik Tragedi’65, Tapol ;MIK; Solidamor, Jakarta, 2000
· A.C.A Dake, The Spirit of the Red Banteng: Indonesian Communism between Moscow and Peking 1959-1965
· Tahun yang Tak Pernah berakhir, Memahami Pengalaman Korban 65, Elsam;ISSI;Tim Relawan untuk Kemanusiaan,Jakarta, 2004
· Tatik S. Hafidz, The War on Terror and the Future of Indonesian Democracy, IDSS,2004
· Dokumen CIA, Melacak Penggulingan Sukarno dan Konspirasi G30S 1965, Hasta Mitra, Jakarta,2000
· Kerstin Beise, Apakah Soekarno Terlibat G30S?, ombak, Yogyakarta,2004
· Harsutejo, G30S Sejarah yang Digelapkan, Hasta Mitra, Jakarta, 2003

Pemicu G30 S adalah adanya isu atau rumor tentang Dewan Jendral. Isu ini menimbulkan reaksi tidak hanya para dedengkot PKI tapi juga Presiden Sukarno. Untuk mengantisipasi adanya isu Dewan Jendral yang akan mengadakan Kudeta pada 5 Oktober 1965, maka Presiden sukarno melaui orang-orangnya membentuk apa yang disebut Dewan Revolusi. Mulanya gerakan ini hendak diberi nama Dewan Militer tapi tidak jadi karena ditentang oleh salah seorang dalang dari gerakan tersebut yaitu Syam Kamaruzzaman, wakil Aidit di Biro Khusus yang dulunya ketua Partai Serikat Buruh Pelabuhan. Untuk mendahului gerakan Dewan Jendral tersebut maka Dewan Revolusi memandang penting untuk melakukan gerakan dalam upaya menyelamatkan kedudukan presiden sekaligus masa depan PKI. Maka atas saran dari D.N Aidit, Presiden Sukarno memerintahkan Men/Pangau laksamana Omar Dani untuk menyelesaikan masalah ini secara damai. Oleh Omar Dani karena ini gerakan tertutup maka garis komando harus dibuat terputus-putus mirip gerakan terorisme.

Disinilah factor yang membuat G30S diselimuti oleh misteri yang akan saya jelaskan kemudian. Omar Dani lantas mengutus orang kepercayaannya, Brigjen Suparjo, yang waktu itu Pangkopur Kalimantan Timur untuk balik ke Jakarta dan menjalankan misi ini. Untuk menjalankan misi ini agar garis komando menjadi terputus, maka Brigjen Suparjo mengangkat Mayor Sujono ( Komandan Resimen Pertahanan Pangkalan, Indoktrinator KONTRAR, orang yang melatih sukarelawan dan sukarelawati sebanyak 1000 orang sebagai cikal bakal angkatan ke 5), Kolonel A. Latief (Komandan Brigif I) dan letkol Untung ( Komandan Yon I Tjakrabirawa).
Untuk melaksanakan misi ini mereka mempersiapkan beberapa pasuka seperti: - Brigif I - Yon I Tjakrabirawa - Yon Raiders 454 Diponegoro - Yon Raiders 530 Brawijaya Untuk itu mereka menggunakan: - Penas sebagai Cenko (Central Komando) - Kenderaan-kenderaan Depo Angkutan - Senjata yang ada di gudang AURI Gerakan ini dibagi kepada tiga satuan tugas yaitu:
 - Pasopati dibawah Lettu Dul Arif
 - Bimasakti dibawah Kapten Suradi
 - Pringgodani dibawah Mayor Sujono dan Mayor Gatot Sukrisno
Tujuan dari gerakan ini adalah menculik para jendral yang nantinya akan dihadapkan kepada Presiden Sukarno yang telah berada di Bandara Halim PerdanaKusuma untuk dimintai keterangan berkisar isu Dewan Jendral.

Tapi ternyata pelaksanaan tak sejalan dengan perencanaan. Ditengah misi, ketujuh jendral yang diculik malah dibantai dan tak pernah dihadapkan sama sekali dengan Presiden Sukarno. Tindakan ini tentunya mengundang amarah dari Presiden Sukarno. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Akhirnya yang bisa dilakukan Presiden Sukarno adalah menyingkir ke Madiun untuk menghindari konflik dengan Angkatan Darat yang salah satu Jendralnya berhasil lolos dari penculikan. Seterusnya mungkin telah banyak kita ketahui, dimana Angkatan Darat kemudian menguasai keadaan dan berusaha menumpas habis PKI bahkan sampai ke anak cucunya kelak. Yang menarik untuk di analisa dan dibahas adalah intrik dibalik peristiwa tersebut.

Benarkah Adanya Dewan Jendral? 
Benar(Dokumen CIA, Melacak Penggulingan Sukarno dan Konspirasi G30S 1965, Hasta Mitra, Jakarta,2000). Tapi masih dalam bentuk wacana. Setelah gagal dengan PRRI/Permesta dan Peristiwa Cikini, CIA mendekati Ahmad Yani yang waktu itu sedang tugas belajar di Amerika untuk membentuk apa yang disebut Dewan Jendral dalam upaya melakukan kudeta. Ahmad yani pernah mengutarakan ide CIA ini kepada para sohibnya di Angkatan Darat, namun urung dibentuk karena mereka sendiri masih pro dan kontra terhadap ide tersebut.

Mengapa Presiden Sukarno tidak bereaksi?
Presiden Sukarno bereaksi tapi tidak dengan cara mengutus para anggota CPM untuk memanggil para jendral yang diindikasi terlibat dalam Dewan jendral tersebut karena apabila tidak terbukti maka itu akan mempermalukan Presiden sendiri dan tentunya makin menanamkan sikap antipati Angkatan Darat terhadap Presiden Sukarno. Untuk itulah G30S dibuat. Maksudnya agar Presiden dapat menginterogasi para jendral tersebut dan menanyakan kebenaran isu tersebut walaupun pada pelaksanaannya menjadi berbeda.

Mengapa Presiden Sukarno mengutus Laksamana Omar Dani untuk melaksanakan misi tersebut? 
Presiden Sukarno tidak pernah mengutus siapapun untuk memulai misi ini. Hanya presiden pernah berkeinginan untuk mengkonfirmasi tentang isu tersebut. Misi tersebut adalah murni idenya D.N Aidit yang disampaikan kepada Presiden dan Presiden Sukarno setuju dengan ide tersebut dan meminta Laksamana Omar Dani untuk membantu gerakan tersebut. Sebagai loyalis dan orang dekat presiden, tentunya laksamana Omar Dani tak dapat menampik tugas yang diembankan Presiden kepadanya.

Siapakah otak dari gerakan tersebut? 
Syam Kamaruzzaman. Syam yang mengatur strategi dan melaporkan kepada D.N Aidit. Itulah mengapa dilapangan peran Aidit tidak nampak sekali. Dalam gerakan tersebut ada beberapa nama yang sangat berperan sekali yaitu dari pihak sipil Syam kamaruzzaman, Pono dan Bono sedangkan dari pihak militer Mayor Sujono, Kol. Latif dan Letkol. Untung.

Pada akhirnya baru ketahuan bahwa Syam ternyata Double Agent. Syam ternyata juga adalah agen CIA. Jadi dalam hal ini Aidit telah menjadi korban anak buahnya sendiri. Tak disangka dalam tubuh PKI sendiri ada infiltrasi yang dilakukan oleh CIA seperti juga di Angkatan Darat.
Lantas apa peran Brigjen Suparjo? Brigjen Suparjo adalah bawahan langsung Laksamana Omar Dani. Tak ada yang tahu apa peran Brigjen Suparjo dalam misi ini. Tapi kalau melihat pergerakan pasukan yang hamper satu divisi, secara militer, tak mungkin hanya dipimpin oleh perwira menengah seperti Kol. Latif dan Letkol. Untung. Mungkin disitulah peran brigjen Suparjo.

Adakah keterlibatan PKI pada peristiwa tersebut? 
Secara organisatoris tidak ada. Hanya oknum yang bermain disitu melalui yang disebut Biro Khusus. Biro Khusus sendiri hasil bentukan D. N Aidit sebagai ketua partai dimana Ketua Biro Khusus itu adalah Syam dan wakilnya Pono. Itulah mengapa gerakan tersebut tidak berhasil karena tidak didukung oleh seluruh simpatisan partai. Biro Khusus sendiri mempunyai kedudukan paling tinggi dalam intern partai. Kedudukan yang sama sekali ditentang oleh banyak simpatisan PKI sendiri.

Adakah Keterlibatan Suharto dalam Hal ini?
Dari beberapa bukti – bukti yang pada akhirnya terungkap didapat bahwa sebagai agen CIA, Syam ternyata punya hubungan dekat dengan orang-orang Angkatan Darat termasuk Suharto. Itulah mengapa banyak pengamat mengatakan bahwa dalang yang sesungguhnya dari peristiwa ini adalah Amerika melalui CIA dengan tujuan menyingkirkan PKI dengan haluan komunisnya dan Presiden Sukarno yang dianggap paling berbahaya dengan pemikirannya ketimbang Kruschev ataupun Mao. Gerakan ini memang sengaja dirancang untuk gagal. Agar lebih mudah memprovokasi rakyat Indonesia, maka disusunlah scenario berdarah tersebut.

SKENARIO BERDARAH VERSI CIA 
Syam diupayakan agar menjadi orang kepercayaan Aidit. Kemudian Syam melontarkan isyu Dewan Jendral yang waktu itu masih wacana. Presiden merasa terancam. Aidit panik dan mencoba berdiskusi dengan orang kepercayaannya sekaligus orang yang menurut Aidit banyak tahu tentang Dewan Jendral tersebut siapa lagi kalau bukan Syam Kamaruzzaman. Syam merasa pancingannya mengena lantas menelorkan ide G 30 S. Aidit setuju begitu juga Presiden Sukarno. Syam mengambil alih pimpinan karena merasa memiliki ide dan tahu banyak tentang strateginya. Syam minta bantuan militer yang akhirnya dijawab Presiden Sukarno dengan meminta Laksamana Omar Dani yang mengaturnya. Syam lantas menyusun para perwira yang pantas untuk memimpin eksekusi.

Untuk itu Syam meminta saran Suharto. Lantas Suharto memilih orang – orang dekatnya yang menurutnya dapat dipercaya yaitu Kol. Latief dan Letkol. Untung. Padahal ada banyak perwira yang lebih mampu ketimbang mereka berdua. Untuk Kol. Latief misalnya, padahal masih ada Mayor Sigit yang mampu memimpin satu batalyon tapi tidak dipilih. Sedangkan untuk Letkol. Untung, masih ada Maulwi Saelan yang lebih pantas memimpin pasukan Tjakrabirawa. Jawabannya karena Kol. Latief dan Letkol. Untung mempunyai hubungan dekat dengan Suharto. Kol. Latief adalah bekas anak buah Suharto dan masih sering berhubungan baik secara formal maupun non formal. Bahkan malam tanggal 30 September 1965 Kol. Latief melapor pada Suharto bahwa malam tersebut dia akan bergerak bersama Letkol. Untung. Tapi Suharto sama sekali tidak melarang gerakan tersebut.

Ada apa dengan Suharto? Yang pasti Suharto dipersiapkan CIA untuk menunggu langkah selanjutnya. Keberadaan Letkol. Untung di Tjakrabirawa juga mengindikasikan bakal ada gerakan terselubung karena Letkol. Untung baru saja di mutasi di Yon I Tjakrabirawa yaitu pada bulan Mei. Keberadaan mereka berdua sudah jelas untuk mempermudah koordinasi agar Suharto tahu posisi lawan yang hendak ditumpas. Satu yang menarik lagi yaitu daftar orang-orang yang di culik dimana Mayjen Suprapto(Deputi II Men/Pangad)dan Mayjen Haryono(Deputi III Men/Pangad) masuk dalam daftar penculikan sedangkan Deputi I Men/Pangad mengapa tidak masuk daftar? Karena posisi itu ditempati oleh Suharto. Cuma yang jadi pertanyaan, apakah Suharto tahu kalau rencana penculikan itu berubah menjadi pembantaian? Itu yang masih menjadi tanda tanya. Kalau seandainya Suharto tahu bahwa rencana itu akan dibelokkan, berarti secara tidak langsung Suharto terlibat dalam pembunuhan rekan-rekan seperjuangannya sendiri. Selanjutnya setelah malam kejadian, maka Suharto pun bergerak dengan menggunakan pasukan RPKAD melakukan serangan ke Halim Perdanakusuma, itupun karena dia sudah tahu bagaimana kekuatan lawan yang bakal dihadapinya.


Jadi kalau berdasarkan analisa saya, siapa dalang G 30 S/PKI? Dia tak lain dan tak bukan adalah bangsa yang tak pernah senang melihat Negara lain mandiri, maunya terus bergantung kepada mereka, dialah Uncle Sam…

ah entahlah...............

Tulisan asli : kompasiana.com : siapakah dalang g30s pki yang sebenarnya ? by : andi firmansyah 
Sumber Gambar : Mbah Google
9.30.2015
Posted by ngatmow

Mengulas Festival Serayu Banjarnegara 2015 dari sisi tukang foto abal abal macam saya

Dalam Festival Serayu Banjarnegara 2015, ada beberapa acara yang menjadi sub-event dalam kegiatan "besar" warga Banjarnegara ini. Diantaranya adalah Banjar Banjir Dawet, Parade Budaya, Pesta Parak Iwak, Banjarnegara Expo, Kongres Sungai Indonesia, aneka lomba pelajar yang bertema Sungai Serayu, sampai Banjarnegara Night Carnival yang baru pertama kali diadakan pada tanggal 29 Agustus 2015 yang lalu.


Secara keseluruhan acara yang berlangsung hampir selama bulan Agustus ini sanggup menarik animo masyarakat Banjarnegara dan sekitarnya untuk ikut "berpesta". Masyarakat juga secara tidak langsung diajak untuk semakin menyayangi Sungai Serayu yang membentang di sepanjang Kabupaten Banjarnegara dari ujung timur hingga ujung Barat dimana kemudian berlanjut melewati Banyumas dan berakhir di Cilacap (Laut Selatan). Bahkan, selama pelaksanaan Festival Serayu tahun 2015 ini, masyarakat (terutama pedagang) mengaku merasakan peningkatan pendapatan mereka dengan cukup signifikan.

Hal tersebut bisa diartikan bahwa sebenarnya dengan adanya kegiatan wisata dan event berskala nasional yang digelar di Banjarnegara mampu ikut mendorong laju perekonomian warga masyarakatnya. Dan ini berarti pemerintah harus lebih tanggap, lebih jeli dan mau untuk peduli dengan mengusahakan diadakannya kegiatan semacam ini atau kegiatan berskala besar lain lebih sering lagi.

Satu hal lagi adalah bahwa pelaksanaan Festival Serayu Banjarnegara yang digelar setiap 2 tahun sekali ini mampu mengangkat nama Banjarnegara menjadi lebih dikenal lagi di kalangan para maniak travelling. Ini sangat penting kisanak. Bagaimana tidak, sekarang kita contohkan saja bukit sikunir dan Gunung Prau di kota sebelah yang sekarang ini hampir setiap minggu dikunjungi ribuan traveller. Ya itu tadi, terkenal karena para penggemar jalan jalan ini mengabadikan sesuatu yang istimewa dan kemudian menyebarkannya melalui berbagai media (terutama media sosial). Sehingga akhirnya Boommm....... meledaklah nama dua destinasi (yang katanya wajib dikunjungi juka berkunjung ke Jawa Tengah itu) di seantero jagad raya......halah


Dalam rangkaian event besar ini, kehadiran para jurnalis dan fotografer juga tidak bisa dipungkiri sangat penting. Dari segi promosi, blow up keluar (daerah), bahkan sampai dari sisi dokumentasi, kehadiran mereka akan sangat berpengaruh. Bagaimana tidak, kegiatan yang mereka liput dan abadikan kemudian akan diterbitkan dalam media massa maupun media sosial, dan kemudian secara berantai akan dilihat oleh sekian banyak orang di luar sana yang diantaranya akan merasa tertarik, penasaran juga berminat untuk di kemudian hari berkunjung ke Banjarnegara. Nah.......

Hal tersebut mutlak harus mulai dipikirkan oleh pemerintah daerah dan juga beliau beliau yang terhormat yang duduk di kursi wakil rakyat (katanya) dalam rangka niatan mereka untuk menaikkan "derajat" banjarnegara dari sektor pariwisata. Sebab bagaimanapun, sektor inilah penunjang perekonomian terbesar bagi masyarakat. Juga sektor pariwisata merupakan pintu gerbang masuknya investor di bidang lain yang tidak jarang malah justru tidak ada sangkut pautnya dengan pariwisata. Dengan pariwisata yang terkelola dengan maksimal maka Banjarnegara akan lebih dikenal, selain itu banyak orang yang kemudian akan tertarik berkunjung dan bahkan membuka usaha. Dan itu adalah pekerjaan rumah bagi kita bersama yang mengaku mencintai Banjarnegara dan punya cita cita untuk memajukan kota nan asri ini.......

Harapan saya (dan teman teman penggemar dan penghobi fotografi) sih bahwasanya untuk tahun tahun berikutnya secuil tentang fotografi di Banjarnegara ikut diingat oleh panitia. Maksudnya adalah bahwa untuk event sekelas Festival Serayu yang (katanya) berkelas nasional seperti ini sudah selayaknya kebutuhan para pengambil gambar juga disediakan dengan layak. Baik dari sisi lighting, posisi, tempat serta tidak kalah pentingnya adalah akses. Sehingga semua momen yang terjadi bisa terekam dan tertangkap gambar dengan baik dan maksimal.

Berikut sedikit tangkapan gambar yang berhasil saya abadikan selama pelaksanaan Festival Serayu Banjarnegara 2015 yang lalu


















 







*All Photo taken by Canon EOS 550D
9.21.2015
Posted by ngatmow

Festival Serayu Banjarnegara 2015 : Edisi Banjar Banjir Dawet

Rangkaian Festival Serayu Banjarnegara memang sudah beberapa hari yang lalu berakhir. Namun hingar bingar festival budaya terbesar di Banjarnegara ini masih terasa hingga kini. Dan bahkan ratusan stok foto yang ada di dalam kamera terkadang sampai belum dibuka dan diseleksi oleh rekan rekan fotografer yang mengabadikan setiap moment yang ada. Termasuk saya (meskipun saya bukan seorang fotografer - hanya seorang tukang foto gadungan saja)....halah

Dari keseluruhan acara yang digelar, saya pribadi merasa bahwa festival budaya khas kota tercinta ini sangat istimewa. Ramai, Elegan, dan klasik. Meskipun tentu saja masih banyak kekurangan dibeberapa hal yang bisa dijadikan koreksi untuk pelaksanaan kegiatan serupa di masa yang akan datang.
Oke, saya contohkan saja pada event Banjarnegara banjir dawet,
Pertama, semua fotografer terpusat di depan Balai Budaya dimana menteri Puan Maharani dan Gubernur Ganjar hadir di sana. Hal ini menyebabkan sangat kurangnya dokumentasi kegiatan serupa yang digelar di Gedung Dekranasda dan Stadion Kolopaking yang mana ternyata jumlah rombong dawetnya lebih banyak dan variatif. Sebagai seorang masyarakat awam, hal ini tentu saja sangat kurang sip mengingat bahwa animo mayarakat di lapangan sangat luar biasa.

Yang kedua adalah kesan bahwa panitia seolah olah mengkotak kotakkan kelas dalam masyarakat itu sendiri. Meskipun sebenarnya bertujuan baik, yaitu menghindari terjadinya over pengunjung, namun hal ini justru membuat pelaksanaan event ini menjadi sepi dan kurang greget. Tidak seperti apa yang digembar gemborkan sebelumnya yaitu Banjarnegara akan menjadi lautan dawet.........Bew.......



Sedikit masukan sih sebagai koreksi panitia (kalau berkenan tapinya........), mungkin akan jauh lebih baik kalau saja event seperti banjar banjir dawet ini dilakukan di satu tempat, Stadion Sumitro Kolopaking misalnya, dengan memberikan tempat khusus bagi pejabat dan orang orang yang diistimewakan. Dengan begitu, kesan membedakan kasta dalam masyarakat tidak begitu jelas kelihatan.                                          




Bersambung .......

9.17.2015
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow