Serah Terima Jabatan dan Seni Berbohong dengan Wajah Sedih
Pak Hendra, Kepala Bagian Umum yang sudah tiga tahun berkuasa — atau lebih tepatnya, bersemayam — di kantor itu, akhirnya dimutasi ke instansi lain. Kabar ini beredar lebih cepat dari informasi resmi apapun yang pernah disampaikan di kantor itu.
Reaksi pegawai terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, yang memang bersedih karena akan kehilangan sosok yang mereka anggap pimpinan yang baik. Jumlahnya sekitar tiga orang — Bu Eni yang memang setia pada siapapun atasan, Pak Dar yang tidak pernah terlalu mengerti siapa atasannya, dan seorang staf magang yang baru sebulan dan belum sempat merasakan era Pak Hendra secara penuh.
Acara serah terima jabatan atau sertijab diadakan di aula kantor. Semua pegawai hadir dengan seragam terbaik dan ekspresi yang sudah diset ke mode "khidmat dan terharu." Thomas sudah berlatih ekspresi ini di cermin pagi harinya — alis sedikit turun, sudut bibir netral, mata sesekali berkedip lebih lambat dari biasanya.
.....................
Pak Hendra naik podium untuk sambutan perpisahan. Pak Hendra yang sehari-harinya dikenal dengan tatapan tajam dan kemampuan istimewa dalam mengingat keterlambatan absen, tiba-tiba tampil dengan mata berkaca-kaca.
"Tiga tahun bersama kalian adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya mungkin tidak sempurna sebagai pemimpin—"
Nah ini yang baru, pikir Thomas.
"—tapi saya selalu berusaha yang terbaik untuk kemajuan kita bersama. Dan saya harap, apapun yang sudah kita lalui, kita bisa kenang sebagai perjalanan yang bermakna."
Thomas bertepuk tangan. Tepukan yang sungguh-sungguh, bukan karena berbohong, tapi karena dalam hatinya ada sesuatu yang dia sebut sebagai penghargaan atas konsistensi. Pak Hendra memang sering menyebalkan, tapi setidaknya konsisten dalam menyebalkannya. Itu, dalam dunia yang penuh ketidakpastian, adalah sesuatu.
Kemudian pejabat baru diperkenalkan. Pak Wahyu. Muda. Senyumnya terlalu ramah. Thomas sudah cukup lama jadi PNS untuk tahu bahwa senyum yang terlalu ramah di hari pertama adalah sinyal ambigu — bisa berarti baik hati, bisa berarti belum kelihatan aslinya.
Di sela-sela acara, Thomas berbisik ke Bowo:
"Yang baru kira-kira gimana ya?"
"Ya tau sendiri lah. Tiga bulan pertama pasti baik. Bulan keempat kita baru tau aslinya."
"Bagaimana kalau ternyata lebih parah dari Pak Hendra?"
"Ya kita nanti kangen Pak Hendra."
Thomas tertawa kecil, pelan, dengan mulut hampir tertutup — tertawa kantor, salah satu keahlian yang tidak tertulis di manapun tapi dikuasai semua orang.
Sertijab mengajarkan bahwa di kantor, orang yang tadinya kamu keluhkan setiap hari bisa tiba-tiba terasa berharga begitu pergi. Bukan karena dia berubah. Tapi karena kamu baru sadar bahwa setanmu yang lama, setidaknya, sudah kamu hafal kelemahannya.
Rapat buat rapat lagi untuk rapat selanjutnya
Senin pagi di kantor dimana Thomas bekerja tampak sibuk dengan intensitas yang ga biasa, dimulai dengan rapat koordinasi. Agendanya adalah membahas persiapan rapat besar bulan depan.
Pak Bambang, Kepala Bidang Perencanaan, membuka rapat dengan khidmat.
"Baik, kita mulai. Agenda kita hari ini adalah menyusun agenda rapat kita bulan depan."
Tidak ada yang tertawa. Semua mengangguk dengan wajah serius. Ibu Lastri langsung membuka laptop dan mulai mengetik notulensi.
"Rapat bulan depan akan membahas apa, Pak?" tanya Fatah dengan polos.
"Membahas hasil rapat hari ini."
Fatah mengangguk perlahan. Ia baru tiga bulan menjadi anggota baru di dinas ini sejak mutasi semena mena yang sebenernya nggak ia percaya juga. Ia masih percaya bahwa semua ini pasti ada maksudnya.
Rapat pun bergulir. Mereka membahas siapa yang harus hadir di rapat bulan depan. Diputuskan: semua kepala bidang plus staf pendamping. Lalu mereka membahas kapan rapatnya. Diputuskan: tanggal dua belas, jam sembilan pagi. Lalu mereka membahas di mana rapatnya. Ini memakan waktu dua puluh menit karena ruang rapat utama sedang direnovasi, dan ruang rapat kecil kapasitasnya tidak cukup kalau semua kepala bidang plus staf pendamping hadir.
Akhirnya diputuskan: rapat bulan depan akan membahas tempat yang tepat untuk rapat berikutnya.
Thomas mengangkat tangan.
"Pak, maaf... jadi kita rapat hari ini untuk persiapan rapat bulan depan yang isinya membahas rapat selanjutnya?"
Pak Bambang menatapnya dengan tatapan seorang guru yang melihat murid belum memahami konsep dasar.
"Bukan. Kita rapat hari ini untuk menyusun kerangka acuan rapat bulan depan, yang nanti hasilnya akan menjadi bahan pra-rapat sebelum rapat besar triwulanan."
"Oh," kata Fatah. "Jadi ada rapat lagi di antaranya?"
"Pra-rapat, namanya. Beda."
"Bedanya?"
"Pra-rapat tidak ada notulensi resmi."
Ibu Lastri langsung menutup laptopnya dengan bunyi klik yang entah kenapa terdengar seperti kepasrahan.
Rapat hari itu selesai pukul sebelas. Menghasilkan satu dokumen: undangan rapat bulan depan. Yang rencananya akan membahas: jadwal rapat berikutnya.
Di perjalanan pulang ke meja masing-masing, Thomas berpapasan dengan Pak Samsuri, staf senior yang sudah dua puluh tahun mengabdi.
"Mas Tom, gimana rapatnya?"
"Bingung, Pak. Kita rapat buat ngebahas rapat."
Pak Samsuri menepuk bahunya sambil tertawa sinis
"Selamat datang di plat merah, Nak."
FAKKKKK .... batin Thomas........
Dawet Ayu Banjarnegara, minuman khas yang jadi Warisan Budaya Tak benda Indonesia
Kakang kakang pada plesir (maring endi yayi)
Tuku dawet, dawete banjarnegara
Seger adem legi (apa iya)
Dawet ayu, dawete banjarnegara
Begitu sepenggal bait dari lagu berjudul “Dawet Ayu Banjarnegara” yang konon diciptakan seniman Banjarnegara bernama Bono (dan disebut-sebut sebagai asal sejarah nama dawet ayu) untuk kemudian dipopulerkan kembali oleh Grup Seni Calung dan Lawak Banyumas Peang Penjol yang terkenal di Karesidenan Banyumas pada era 1970-1980-an.
Wajar kalau nama Dawet Ayu kemudian di identikkan dengan Banjarnegara karena dalam lirik lagu ini memang disebutkan beberapa kali kata 'Dawet Banjarnegara'. Dalam liriknya lagu ini berkisah tentang percakapan sederhana antara adik dan kakak soal rencana pergi bepergian piknik kemana saja yang penting jangan lupa membeli dawet banjarnegara yang segar, dingin dan manis. Begitu ......
Dalam masyarakat Banjarnegara sendiri, asal muasal penamaan Dawet Ayu memang ada beberapa versi. Selain versi tersebut, ada pula versi Ahmad Tohari (dan setelah melalui penelusuran yang intensif ternyata versi Tohari ini mirip dengan keterangan tokoh masyarakat Banyumas, Kiai Haji Khatibul Umam Wiranu) yang mengatakan bahwa berdasarkan cerita tutur turun temurun, ada sebuah keluarga yang berjualan dawet sejak awal abad ke-20. Generasi ketiga penjual es dawet ini terkenal dengan parasnya yang cantik. Dari sini mulailah orang menyebutnya sebagai es dawete wong ayu yang artinya es dawet racikan wanita cantik.
Ada juga cerita dari mulut ke mulut yang beredar di masyarakat Banjarnegara bahwa popularitas dawet Banjarnegara ini adalah berkat jasa dan dorongan mantan Presiden Soeharto saat meresmikan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica pada 1989. Disebutkan saat itu Presiden Soeharto disuguhi minuman khas Banjarnegara yakni dawet oleh ibu ibu cantik, dan kemudian Pak Harto bilang minuman ini seterusnya disebut saja dawet ayu agar semakin terkenal ke seluruh Indonesia.
Pak Harto juga menganjurkan supaya hiasan ukiran sosok Semar dan Gareng terpampang di angkringan dawet ayu. Semar Gareng atau disingkat mareng dalam bahasa Jawa artinya, musim kemarau.
“Jadi simbolnya nanti berupa Mareng, Semar dan Gareng yang menjadi penanda ajakan untuk menghilangkan rasa dahaga (kering, mareng atau kemarau) dengan meminum dawet ayu" begitu dikisahkan.
Btw, lupakan soal nama...... ingatlah soal rasa ...... halah ......
Dawet Ayu sendiri sebenarnya merupakan minuman yang unik. Keunikan es dawet ayu Banjarnegara terletak pada cita rasanya yang khas. Santan kelapa yang digunakan beraroma gurih dan tidak amis. Gula arennya juga berkualitas tinggi, memberikan rasa manis yang legit tanpa rasa pahit. Selain itu, dawetnya terbuat dari tepung beras yang diolah secara tradisional, sehingga menghasilkan tekstur yang kenyal dan lembut.
Selain cita rasanya, es dawet ayu Banjarnegara juga memiliki penampilan yang cantik. Warna hijau dari dawet dan putih dari santan berpadu harmonis, menciptakan tampilan yang menggoda. Ditambah es serut yang dingin dan serutan gula aren, es dawet ayu Banjarnegara menjadi sajian yang memanjakan mata dan lidah.
Menggoda ?
Pasti dong.......
Pengakuan terhadap Dawet Ayu Banjarnegara juga nggak main main lho. Dawet Ayu Banjarnegara ditetapkan sebagai ‘Minuman Tradisional Terpopuler’ dan meraih Juara 1 pada ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 sekaligus sebagai minuman terfavorit pilihan masyarakat Indonesia pada ajang yang sama pada tahun 2021.
Pada tahun ini Dawet Ayu Banjarnegara telah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia tahun 2024. Sertifikat penetapan tersebut diserahterimakan oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara dalam kegiatan Apresiasi Warisan Budaya Indonesia (AWBI) Tahun 2024 pada hari Sabtu (16/11).
Keren kan ?
Pengakuan terhadap Dawet Ayu Banjarnegara diharapkan kemudian menjadi kebanggaan dan sebuah komitmen bagi masyarakat Banjarnegara untuk terus berupaya melestarikan minuman khasnya tersebut. Selain itu juga dapat mendorong masyarakat untuk lebih mencintai, menjaga, dan mengembangkan budaya lokal di tengah tantangan modernisasi untuk diwariskan kepada generasi mendatang.
So, kita sebagai generasi terkini siap untuk mengemban tugas itu ?
Harus lah ....
karena kalau bukan kita, siapa lagi ??
Dieng Culture Festival XIV 2024, Back to The Journey
Dieng Culture Festival kembali digelar dengan mengusung tema Back to The Journey, acara budaya tahunan yang ditunggu tunggu (karena tahun 2023 ga ada) ini akhirnya dilaksanakan di Kawasan Wisata Dataran Tinggi (KWDT) Dieng, Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, 23-25 Agustus 2024 yang lalu.
Wait.....Dieng kulon ? Banjarnegara ?
Yes. Sekedar menjelaskan saja, KWDT Dieng terutama lokasi utama tempat adanya Candi dan Telaga itu terbagi menjadi 2 wilayah. Desa Dieng Kulon masuk wilayah Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara dan Desa Dieng Wetan yang masuk wilayah Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Namun karena akses yang lebih mudah dan jarak yang lebih dekat dengan pusat kota, Dieng lebih dikenal oleh masyarakat luas sebagai Dieng Wonosobo (56,6 km via Kejajar vs 26 km via Karangkobar)...... meskipun faktanya sebagian besar wilayah di pusat wisata Dieng masuk desa Dieng Kulon. gitu .......
Kembali ke DCF ya .....
Dieng Culture Festival XIV tahun 2024 ini sesuai temanya memang mengusung konsep yang agak sedikit berbeda dengan penyelenggaraan sebelumnya. Kali ini ada lebih banyak acara diluar acara inti seperti Upacara Ruwat Rambut Gembel, Jazz Atas Awan, Senandung Atas Awan, Festival Lentera dan Lampion, seperti Kontes Domba Batur, Gebyar Damar Kurung, Sendratari Anak Gembel, Pertunjukan Seni Tradisional & Festival Caping Gunung, Festival Kopi Pegunungan Dieng, Festival kuliner dan bazar produk kreatif/UKM serta Dieng Bersholawat. Komplit.....
Khusus Kontes Domba Batur, acara ini sebenarnya sudah diselenggarakan sejah DCF sebelumnya. Namun ada yang berbeda kali ini yaitu adanya beberapa ekor domba batur yang diletakkan di luar kandang dan langsung bisa disentuh dan diberi makan oleh pengunjung. Sesuatu yang sangat menarik terutama bagi pengunjung anak anak dan pengunjung yang berasal dari luar kota. Apalagi domba batur adalah domba langka di Indonesia yang mungkin tidak akan dijumpai di daerah lain.
Seperti biasa, dari semua acara tersebut yang paling ditunggu pengunjung (baik yang beli tiket maupun nggak beli) adalah pertunjukan Jazz Atas Awan dimana selalu menghadirkan konser musik dari sejumlah musisi ternama Indonesia dan menampilkan lagu lagu andalannya di tengah suhu dingin Dieng.
Dieng Culture Festival XIV Tahun 2024 ini, musisi Tanah Air yang tampil pada konser Jazz Atas Awan antara lain Danilla Riyadi, Parade Hujan, ditutup oleh Pradikta Wicaksono. Penampilan mereka cukup sukses menghibur pengunjung meskipun banyak juga yang kecewa karena penyusunannya terkesan anti klimaks. Namun kekecewaan itu menjadi hilang ketika kode pelepasan lampion sudah dikumandangkan oleh pembawa acara.
Dengan aba aba dari MC di panggung ribuan lampion beraneka warna dilepas ke udara untuk kemudian menghias langit dengan warna merah, hijau dan oranye, pemandangan cantik di atas langit Dieng itu seperti biasanya selalu berhasil memukau sekitar 6000 pasang mata yang sedang menikmati suasana. Sebagai informasi, lampion DCF berbentuk unik karena cenderung bulat (berbeda dengan lampion Borobudur yang cenderung kotak memanjang) dan lampion tersebut tidak bisa terbang terlalu tinggi alias tidak dirancang bisa bertahan lama di udara. Tujuannya adalah agar tidak mengganggu lintasan penerbangan dan merusak lingkungan.
Asik, syahdu dan jelas meninggalkan kesan mendalam di setiap momennya.
itulah Dieng Culture Festival yang selalu tidak akan membosankan .......
By the way, kalo dari pengamatan pribadi, penyelenggaraan secara umum DCF kali ini relatif jauh lebih baik dan tertata dari penyelenggaran sebelumnya. Terlihat dari penukaran tiket, tata kelola venue, jalur pengunjung dan tamu undangan, kantong kantong parkir, kebersihan dan sebagainya.....
Oke.... kita ceritain satu persatu ya.
Ticketing area dan sekretariat panitia
Kali ini tempat penukaran tiket dan sekretariat panitia sudah lebih tertata dan rapi. Bahkan bisa dikatakan paling baik, karena disamping mudah ditemukan (ada di jalur masuk ke komplek Pendopo Soeharto Withlam dan parkiran candi arjuna), juga alur penukaran tiketnya sudah dipersiapkan dengan baik, dilayani banyak panitia dan voulentir, juga tepat berada di depan sekretariat yang menggunakan aula putih (bangunan yang merupakan gedung serba guna ini juga baru jadi lho gaes.....), lengkap dengan fasilitas kamar mandinya dan tempat yang luas untuk semua kegiatan kesekretariatan).
Sekretariat juga merupakan gedung serba guna dimana ruangannya cukup luas dengan fasilitas pendukung yang cukup lengkap. Bahkan masih ada space untuk tempat istirahat panitia serta volunteer bahkan agen biro wisata yang kecapekan karena padatnya acara.
Jalur Pengunjung dan Tamu Undangan dan Tata kelola Venue
Untuk yang satu ini, harus diakui bahwa gelaran Dieng Culture Festival XIV Tahun 2024 ini yang paling de best. Sebab semuanya direncanakan dengan matang dan berdasar pada pengalaman penyelenggaraan sebelumnya.
Bagaimana tidak ? pada tahun ini jalur pengunjung dan jalur tamu undangan dibuat sedemikian rapi dan jelas. Tidak seperti sebelumnya yang selalu membuat tamu VVIP pun kurang merasa nyaman.
Jalur tersebut dibuat melewati semua venue yang disediakan oleh panitia. Mulai dari masuk komplek candi arjuna, kemudian melewati jalur candi setyaki, venue pojok UMKM Banjarnegara, venue eKraf Banjarnegara baru kemudian masuk ke venue utama tempat digelarnya Jazz Atas Awan. Apik.
Selain itu, jalur pejalan kaki pengunjung dibuat semenarik mungkin dengan berbagai ornamen festival yang khas Dieng lengkap dengan pencahayaan dan tata lampu yang estetik. Bahkan ada juga spot pameran foto dan logo penyelenggaraan DCF dari waktu ke waktu, yang membuat pengunjung seakan dibawa kembali kepada memori Dieng Culture Festival yang sudah berlalu.
Kebersihan dan Kantong Parkir
Yes.....
indikator yang terakhir ini menjadi satu hal yang sangat jelas terlihat bedanya pada gelaran Dieng Culture Festival XIV Tahun 2024 ini. Kemacetan yang selalu menjadi "momok" pengunjung setiap tahun ternyata sangat berkurang karena pengelolaan kantong kantong parkir yang sangat efektif. Banyak kantong parkir disediakan oleh panitia bekerjasama dengan masyarakat Dieng yang mampu menampung ratusan kendaraan pengunjung sekaligus mengurangi parkir di pinggir/bahu jalan yang selalu menjadi "penyakit" pada tahun tahun sebelumnya.
Terkait dengan parkir, permasalahan kebersihan yang biasanya juga menjadi "cacat" di setiap kantong parkir dan sudut sudut Dieng juga ikut terselesaikan. Khusus kebersihan, kali ini banyak sekali volunteer persampahan (hebatnya mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia lho) yang dengan sigapnya menjaga kebersihan.
Hebat
Aduan Online yang Ditanggapi dengan Aduan Offline
Pemerintah Kabupaten sekarang punya layanan aduan online. Namanya LADUWA — Layanan Aduan Warga. Bisa diakses lewat website dan aplikasi. Ada tracking nomor tiket. Ada SLA: dijawab dalam 3x24 jam.
Thomas Fatah menggunakannya untuk melaporkan lampu jalan di depan kantornya yang sudah mati tiga bulan.
Ia mengisi formulir dengan detail: lokasi tepat, koordinat GPS, foto kondisi lampu mati, perkiraan waktu kerusakan, dampak terhadap keselamatan pengguna jalan. Thomas serius dalam hal ini.
Tiket terbit: LDW-2024-11-0847. Sistem mengirim konfirmasi otomatis: "Aduan Anda telah diterima. Tim kami akan memproses dalam 3x24 jam."
Tiga hari berlalu. Tidak ada update.
Enam hari: tidak ada update.
Dua minggu: Thomas membuka LADUWA untuk mengecek status tiketnya. Status: "Dalam Proses."
Dalam proses apa, tidak dijelaskan.
Tiga minggu kemudian, Thomas mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo, ini Pak Thomas?"
"Iya."
"Dari Dinas PU Kabupaten, Pak. Mau konfirmasi aduan lampu jalan."
"Oh, iya. Sudah tiga minggu lebih, Pak."
"Iya, maaf Pak. Jadi begini, kami mau minta Bapak datang ke kantor dinas untuk tanda tangan berita acara aduan."
Thomas hening tiga detik.
"Tanda tangan berita acara... aduan?"
"Iya, Pak. Sebagai bukti bahwa aduannya valid."
"Saya sudah isi formulirnya secara online, Pak. Ada nomor tiketnya. Ada foto. Ada koordinat GPS."
"Iya Pak, kami tahu. Tapi prosedurnya memang perlu tanda tangan fisik dulu sebelum bisa diproses ke lapangan."
Thomas menutup telepon. Kemudian membuka LADUWA lagi dan mengecek tiketnya. Status masih: "Dalam Proses."
Ia pergi ke kantor dinas. Tanda tangan berita acara. Satu lembar. Namanya, tanggal, nomor tiket, lokasi lampu, tanda tangan, cap jari.
"Sekarang prosesnya berapa lama lagi, Pak?"
"Seminggu sampai dua minggu, Pak. Tergantung anggaran."
Thomas pulang.
Dua minggu kemudian, lampu itu diperbaiki. LADUWA mengirim notifikasi: "Aduan Anda telah diselesaikan! Terima kasih telah berpartisipasi dalam pembangunan Kabupaten Watu Ireng."
Thomas menatap notifikasi itu, kemudian menatap lampu jalan yang sekarang menyala terang.
Empat puluh hari. Satu formulir online. Satu telepon. Satu tanda tangan fisik. Satu berita acara. Satu perjalanan ke kantor dinas. Tapi akhirnya menyala.
Ia klik tombol "Nilai Pelayanan Ini" di LADUWA.
Bintang empat. Minus satu karena prosesnya terlalu panjang. Ditambah komentar: "Semoga sistem ini terus diperbaiki. Matur nuwun."
Apresiasi yang tulus, dengan catatan yang juga tulus.











