- Back to Home »
- Thomas Fatah »
- Pertanyaan yang Tidak Ada Jawaban Benarnya
Ada satu pertanyaan yang lebih ditakuti Thomas Fatah daripada apapun yang ada dalam daftar panjang hal-hal menakutkan dalam hidupnya sebagai PNS, termasuk sidang SKP, mutasi dadakan, dan mesin fingerprint yang rewel.
Pertanyaan itu adalah: "Kamu kerja di sini, tapi penghasilannya segitu-gitu aja. Nggak mau cari yang lebih baik?"
Sore itu pertanyaan itu datang dari Ridho, teman lama yang kebetulan sedang mengurus dokumen di kantor dan melihat Thomas di balik loket.
"Tomm! Kamu di sini? Kirain udah resign!"
"Hahaha, ya belum lah Mas."
"Masih betah? Gaji PNS kan ya... kamu tau sendiri lah. Temen-temen kita yang di swasta udah pada punya mobil."
Thomas senyum. Senyum yang sudah dia sempurnakan selama bertahun-tahun: senyum yang tidak defensif, tidak menyerang, tapi juga tidak sepakat sepenuhnya.
"Iya, beda. Tapi ya masing-masing ada plus minusnya lah, Mas."
"Plus-plusnya apa? Jaminan hari tua? Haha."
"Ya itu salah satunya."
Mas Ridho tertawa. Thomas ikut tertawa. Tapi dalam tawa itu Thomas juga sedang berpikir serius tentang pertanyaan itu — bukan karena tersinggung, tapi karena jujur dia sendiri sering menanyakannya kepada dirinya sendiri.
...............
Malam itu Thomas duduk di teras kos, menghabiskan secangkir kopi murah yang rasanya jauh lebih enak dari yang seharusnya. Dia memikirkan pertanyaan Ridho.
Dia tidak punya mobil. Benar. Dia masih naik vespa pink yang rewel. Gajinya tidak akan pernah bisa bersaing dengan teman-temannya di sektor swasta yang sama-sama lulusan S1. Karirnya lambat, bisa diprediksi, dan kadang-kadang terasa seperti berjalan di eskalator yang mati — tetap sampai, tapi harus jalan sendiri.
Tapi kemudian dia memikirkan yang lain.
Minggu lalu, dia sempat pulang jam lima sore tepat, mampir ke tempat ibunya yang lagi sakit, menemani makan malam. Teman-temannya di swasta rata-rata baru pulang jam delapan atau sembilan, dan pertemuan keluarga sering tergeser oleh deadline kuartal.
Dia tidak pernah dipecat. Di tengah krisis ekonomi yang datang bergelombang, dia tidur tanpa mimpi buruk soal pekerjaan. Ada ketenteraman dalam itu — bukan kegembiraan besar, tapi juga bukan kecemasan yang menggerogoti.
Dan ada hari-hari seperti waktu dia bantu ibu tadi yang frustasi di loket — dan ibu itu pulang dengan lega. Kecil, tapi nyata.
Thomas tidak bisa menjawab apakah pilihannya adalah yang terbaik. Mungkin memang bukan. Mungkin ada jalur lain yang lebih menguntungkan secara finansial dan lebih menantang secara intelektual. Tapi jalur itu bukan jalurnya, dan jalurnya bukan jalur itu.
Dia meneguk kopi terakhirnya. Cukup sudah.
Pertanyaan "nggak mau cari yang lebih baik?" mengasumsikan bahwa kita semua mendefinisikan "lebih baik" dengan cara yang sama. Kenyataannya, setiap orang punya ukurannya sendiri. Dan menjalani hidup dengan ukuran orang lain adalah cara paling efisien untuk tidak pernah merasa cukup.
