Rejeban Plabengan Dewi Cepag, tradisi unik yang penuh daya tarik
Mata saya masih "mbendul" dan merah ketika seseorang menyapa dengan suara sengau khasnya
" welah..... ada orang banjarnegara sampai di sini juga ...... dirimu nginep apa om ? "
" eh om senior...... nggak om, aku baru aja dateng.dari rumah tadi jam 3an kok " jawabku setengah kaget.
" weh jam tiga ? gasik men ...... "
Yes, itu sekelumit perbincangan saya dengan seorang senior motret dari Yogyakarta yang tidak mau disebut namanya hahahaha........ Lha terus pertanyaannya, ngapain saya pagi uput uput macam itu otewe dari Banjarnegara ke Parakan Temanggung ?
Piknik dong pemirsa..... piknik spiritual demi bisa makan pisang sepuasnya sambil motret Rejeban Plabengan. Yaitu sebuah acara budaya yang digelar di Dewi Cepag atau Desa Wisata Cepit Pagergunung Kecamatan Bulu Temanggung. Sekitar 5,2 kilo meter dari arah RSK Ngesti Waluyo Parakan naik menuju punggung Gunung Sumbing.
Dusun Cepit Desa Pagergunung ini berada tepat di sebelah Timur agak ke Utara sedikit di kaki Gunung Sumbing, dimana puncak gunungnya sebenernya sudah tepat didepan mata. Bagi saya, desa ini sebenarnya sangat cocok bagi para landscaper karena pemandangan yang terpampang di semua sudut desa ini adalah keelokan yang tak terkatakan ......... suwer.........
selain itu keramah tamahan Penduduk, puncak gunung Ungaran di kejauhan dengan matahari yang muncul berwarna kemerahan di puncaknya, kearifan lokal penduduknya serta aroma lintingan klembak menyan yang harum menyengat, juga menambah eksotisme suasana di Dusun berpenduduk kurang lebih 250 KK ini........ istimewa pokoknya .....
Menurut cerita masyarakat, Plabengan merupakan sebuah petilasan yang konon dahulunya merupakan tempat berkumpul Ki Ageng Makukuhan (beliau adalah Tokoh Penyebar Agama Islam yang dipercaya sebagai penerus Wali Songo) bersama para muridnya yaitu Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Ageng Gandung Melati, Ki Ageng Paniti Kudo Negoro dan Syeh Dami Aking, untuk melakukan musyawarah sambil menyebarkan agama Islam. Nah untuk memperingati dan meneruskan tradisi itu, maka setiap hari Jumat Wage pada bulan Rejeb (Penanggalan jawa) masyarakat Desa Pagergunung melakukan tradisi unik Nyadran.
Sebagai info nih sodara sodara, Nyadran disini merupakan prosesi mengunjungi Punden Plabengan dan Makam Leluhur yang ada disana untuk berdoa agar keberkahan selalu menyertai seluruh warga Desa Pagergunung. Prosesi ini pun tidak sembarangan dan berbeda dengan di tempat lain lho. Prosesi Rejeban Plabengan ini diawali dengan Ritual Doa Malam Jumat di Punden Plabengan yang diikuti para kaum lelaki warga desa dengan penerangan ratusan obor di sepanjang jalan menuju punden, acara sakral ini dipimpin oleh sesepuh dan pemangku adat desa dalam balutan pakaian jawa yang berupa beskap dan bangkon.
Paginya, seluruh warga berjalan kaki sejauh hampir 2 kilometer dari dusun Cepit naik menuju ke arah puncak gunung Sumbing dengan membawa bekal makanan yang sudah disiapkan dari rumah. Bekal tersebut berupa dua sisir pisang atau lebih, ketan dan jenang, ingkung ayam serta aneka lauk pauk yang dibawa dalam dua tenong (wadah makanan berbentuk bundar yang terbuat dari anyaman bambu) dan dipikul oleh kaum laki laki dusun Cepit Desa Pagergunung. Selain itu warga masyarakat juga mempersiapkan beberapa buah gunungan yang berupa makanan pokok lengkap dengan lauk pauknya.
Setelah semua tenong dan gunungan ini masuk ke lokasi Punden Plabengan, semuanya ditata membentuk barisan memanjang dengan dikelilingi oleh masyarakat yang duduk di sebelah kanan dan kirinya. Beberapa saat kemudian sesepuh desa mengkomando masyarakat untuk melantunkan ayat ayat suci Al Quran, dan lokasipun menjadi penuh khikmad....... tenang ...... dan syahdu .......
Sekitar 20 menit kemudian, sesepuh desa dan Kepala Desa Pagergunung mulai memberikan wejangan, petuah bijak serta harapan harapan di depan semua yang hadir di lokasi itu, dilanjutkan dengan melakukan jamasan terhadap anak anak yang berambut gimbal dengan menggunakan air dari mata air yang ada di sebelah punden tersebut.
Para tukang foto pun ambyar ......... berebut maju ke depan ....... baik yang pemula seperti saya maupun sudah pro seperti om om yang suka pake hal hal berwarna merah brewokan yang tidak mau disebutkan namanya, berebut mencari posisi terbaik untuk mengabadikan momen di lokasi yang super sempit itu.
Selanjutnya adalah acara yang paling ditunggu tunggu sodara sodara..... pranoto coro memberikan komando kepada kami untuk merapat ke gunungan tumpeng utama yang ada di sebelah gazebo. Untuk apa ? makan tentu saja .....
Belum sampai komando selesai disampaikan, sedetik kemudian kondisi lokasi tersebut menjadi krodit dengan banyaknya manusia yang berebut makanan yang disediakan. Tumpah ruah manusia dengan berbagai rasa dan aroma hehehehe.........
Belum sampai komando selesai disampaikan, sedetik kemudian kondisi lokasi tersebut menjadi krodit dengan banyaknya manusia yang berebut makanan yang disediakan. Tumpah ruah manusia dengan berbagai rasa dan aroma hehehehe.........
Lha saya ? berhubung saya cerdas, makanya saya justru menepi dan mencari tenong di pinggir lokasi yang relatif sepi dan tanpa rebutan demi bisa makan pisang dengan aman, nyaman tertib dan kenyang hehehee......
Oya, sambil makan kami disuguhi 8 kesenian tradisional yang tampil bergantian, mulai dari emblek (tari kuda kepang), tari angguk, tari butho galak, dan sebagainya. Epik, eksotis dan gaib......... begitu yang saya rasakan. Ada perasaan takut terbersit mengingat bahwa biasanya acara macam ini akan membawa banyak kejadian mistis
Dan benar saja, belum sampai 1 jam kesenian itu berlangsung tiba tiba banyak warga yang kesurupan. Tidak hanya kaum laki laki, tapi juga kaum hawa yang berada di sekitar lokasi ituk kesambet juga. Seru ......
Karena sudah terlalu banyak yang kesurupan, akhirnya sesepuh desa memerintahkan kami semua beserta masyarakat yang masih sadar untuk turun gunung kembali ke desa. Sayang memang karena acara belum selesai sudah dibubarkan seperti itu, namun demi keamanan dan keselamatan ya mau tidak mau kami harus menurutinya kan ?
Sesampainya di desa, kami berkumpul di kediaman Pak Kades untuk sekedar melepas lelah dan menikmati jamuan yang ternyata sudah disediakan. Disitu kami diajak untuk bertukar pikiran, memberikan masukan dan koreksi terkait penyelenggaraan kegiatan oleh pak kades dan ketua pokdarwis setempat. Sebuah kegiatan yang sangat jarang dilakukan oleh panitia panitia kegiatan budaya dimanapun yang pernah saya kunjungi ......... #salut
Ada satu kalimat yang dilontarkan sahabat saya @Yoga_YoGreat tentang kegiatan budaya kali ini :
" ........20% motret, 20% ketemu sedulur, 60% panen gedhang !!!! ......."
Apa panen gedhang ?
yes.....betul sodara sodara, sebab kalau setiap orang membawa 2 sisir pisang, maka jika dikalikan 250 KK akan ketemu 500 sisir pisang ! dan banyak diantaranya yang tidak hanya membawa 2 tapi juga 3, 4 bahkan lebih dari 5 sisir !!
puassss........
![]() |
| Photo by @Yoga_YoGreat |
4.01.2018
Posted by ngatmow
Not recommended waterfall, Curug Tempuk Telu
Not recommended ?? why ??
bwahahahaha...... yes it's true sodara sodara. Sangat sangat tidak dianjurkan untuk didatangi oleh kalian kalian yang cemen, nggak punya jiwa petualang, ga suka mancing, manja, takut jatuh, nggak punya nyali untuk menaklukkan medan berat, takut basah dan ga bisa move on dari mantan ......ehhh...... Sebab untuk sampai ke air terjun super indah ini harus berjuang sangat keras menaklukkan rute yang ekstrim dan penuh liku seperti hidupmu.....eh......
Penasaran ? Jangan .......
yakin deh.......penasaran itu berat, kamu ga akan kuat...... cukup aku aja...... hehehe......
Ceritanya begini kisanak, beberapa waktu yang lalu saya dan teman teman berkunjung ke Curug Sipawon di Desa Sarwodadi Kecamatan Pejawaran, kami mendapatkan informasi bahwa tidak jauh dari Curug itu ada Curug lain yang konon katanya jauh lebih indah dan menantang. Curug Tumpuk Telu atau Curug Tempuk Telu namanya. Nah dari situlah muncul rasa penasaran yang menggebu di hati sanubari kami semenggebu penasarannya arwah vampir vampir di film mandarin yang ga ada hentinya melompat sambil menyeringai menunjukkan taringnya yang kuning itu hehehe.....
Olrait.......Sebagai informasi saja, Curug Tempuk Telu (sering disebut juga Curug Tumpuk Telu) ini sesuai namanya adalah barisan dari beberapa air terjun (namun hanya 3 yang dominan dan debit airnya paling besar). Titik jatuhnya air ketiga air terjun itu menjadi satu dan kemudian menjadi ujung sungai yang mengalir di tengah tengah tebing batu......... mirip seperti ujung sungai di film film petualangan Hollywood pemirsah ..... indah, mempesona, bikin mulut menganga dan pastinya akan memanjakan kita yang suka banget berteman sama joran alias mancing ........ sebab disini surganya ikan man !!! .......suwer deh ......
Singkat cerita, setelah mengatur waktu, menyusun rencana mlipir sambil menunggu curah hujan mereda, akhirnya kamipun merealisasikannya kemarin. Hal yang kami lakukan pertama kali adalah menghubungi "juru kunci" yang tidak lain dan tidak bukan adalah penduduk sekitar (dalam hal ini perangkat desa Sarwodadi - yang ternyata sebagian besar adalah tukang jaring ikan jagoan di sungai Panaraban) untuk meminta bantuan mereka sebagai penunjuk jalan. Hal ini penting mengingat bahwa jalur ke Curug Tempuk Telu dikabarkan sangat ekstrim dan katanya berbahaya.
![]() |
| foto by Agussalam |
Sebenarnya jarak Curug ini dari Curug Sipawon tidak begitu jauh sih, kurang lebih hanya 300 meter saja dan hanya dibatasi oleh sebuah bukit setinggi lebih dari 50 meter dengan kemiringan yang cukup curam. Tapi dengan rute yang ternyata sangat masyaalloh itu, kami (terutama saya) yang tidak biasa blangsakan disitu, harus menempuhnya dalam waktu hampir 40 menit (belum termasuk istirahat sambil minum kopi dan foto foto..... ) penuh dengan perjuangan yang cukup berat (halah......) hingga akhirnya kami berhasil mendekati lokasi Curug Tempuk Telu tersebut.
What ?
Hanya mendekati ? belum sampai lokasi dong ....
Yes. Belum sampai lokasi dibawah air terjunnya langsung. Sebab pada waktu itu cuaca mendadak mendung, kabut hitam datang dan arus air bertambah cukup deras. Dengan banyak pertimbangan akhirnya kami balik kanan dan mengikhlaskan hati untuk tidak melanjutkan langkah yang tinggal 50 meter itu. Dan berdasarkan info dari sang juru kunci hehehe ..... 50 meter terakhir itu adalah yang paling sulit...... dan itulah yang kami jadikan bahan menghibur diri hehehehe......
Jika ditanya apa yang saya rasakan setelah blangsakan itu ?
Sangat berkesan sodara sodara....... apalagi ditambah dengan kenyataan bahwa sesampainya di rumah, kartu memori saya tidak terbaca alias error dan setelah di recovery foto yang terselamatkan bukan foto aslinya yang berukuran besar melainkan copyannya saja yang berukuran sangat kecil....... ambyarrrrr................
Tapi tidak apa apa kisanak, salah satu tujuan utama saya telah tercapai. Apa itu ??
Survey jalan dan lokasi Curug Tempuk Telu tersebut.
Survey jalan dan lokasi Curug Tempuk Telu tersebut.
Kenapa ? sebab berdasarkan informasi yang bisa dipercaya, lokasi ini di tahun 2019 akan mendapatkan dana pengelolaan daerah wisata dari Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melalui Dinas Pariwisatanya. So, perlu dilakukan survey dalam perencanaan pembangunannya kan ? Mulai dari perencanaan tempat parkir, jalur wisata, gazebo, jalan setapak dan bahkan sampai rencana mengikis tebing batu untuk membuat minimal jalan setapak menuju Curug Tempuk Telu ini........(yang kalau dalam bayangan saya sih seperti jalan di Taman Nasional Gunung Tianmen, Zhangjiajie, di barat laut Provinsi Hunan, Cina itu)
Harapan kedepannya sih ga muluk, semoga nantinya setelah jadi daerah wisata, pendapatan desa dan masyarakat bisa meningkat dan meningkatkan kesejahteraan penduduk di sekitarnya serta menjadikan orang orang seperti saya yang suka mlipir untuk berburu foto jadi punya lokasi alternatif lokasi motret di wilayah Banjarnegara tercinta ini....... hehehe...........
Dan yang jelas besok pas sudah musim kemarau dan debit airnya menurun, saya insyaalloh PASTI AKAN KESITU LAGI ......... ikut ???
and the last question, anda berani kesana saat ini ?
Curug Sirawe, surga tersembunyi di tanah kahyangan
Salah satu resiko bekerja sebagai abdi masyarakat di desa macam saya ini diantaranya adalah jadi sering piknik ke lokasi lokasi menarik dan jelas berpemandangan yang sangat indah kisanak. Dan itu sudah sangat pasti sepasti harga listrik yang selalu naik di negeri ini .... halah......
Seperti yang terjadi beberapa hari kemarin kisanak, habis merdesa alias kunjungan dinas ke desa saya beserta pasukan kemudian sedikit mingser alias membelokkan sepeda motor kami ke arah Dusun Bitingan, Desa Kepakisan, Kecamatan Batur. Atau lebih tepatnya lagi menuju ke Curug Sirawe yang konon katanya adalah curug dengan tiga air terjun dan dua jenis air, air panas dan air dingin. Nah......
Sekitar 15 Menit dari Pasar Kecamatan Batur, melalui jalur alternatif menuju ke Dieng via d'Qiano dengan akses jalan yang lumayan halus mulus, akhirnya kami sampai ke Dusun Bitingan. Sebuah dusun yang memiliki tingkat kemiringan tanah yang Masyaalloh (bahkan jalan cor beton yang ada di tengah dusun dan juga sebagai akses utama ke lokasi parkir punya kemiringan cukup ekstrim, mungkin lebih dari 45 derajat lho). Oya, sekedar saran sodara sodara, kalau mau ke sini jangan menggunakan kendaraan roda 4 karena akses jalan masuk ke dusun (via jalan cor beton) yang sangat sempit dan curam, dan jalan aspal yang hanya separo jalan (300 meter sebelum masuk dusun via jalan aspal yang memutar, sudah ambyar....).
Dari lokasi parkir sepeda motor, kami berjalan kurang lebih 15 menit (perkiraan waktu jalan bagi manusia dengan bobot 80 kilo macam saya hehehe .....) melewati jalan usaha tani (yang sudah berupa jalan cor beton) untuk menuju ke tujuan utama kami. Curug Sirawe. Trek yang dilalui cukup menarik lho kisanak, datar dulu nunjem kemudian. Sekitar 50 meter terakhir jalan berubah wujud jadi satu turunan yang lumayan curam dengan pemandangan yang istimewa. Suwer.........
Turunan pertama hanya setinggi 20 meter man, relatif mudah dan belum bikin kemringet.....kemudian ada sedikit tanah lapang yang datar dimana sekarang di tempat tersebut sudah dibangun saung saung beratap ijuk dan sebuah tower pandang yang terbuat dari bambu setinggi sekitar 7 meter (3 tingkat). Tepat di samping tower itu ada trek turun yang kedua setinggi sekitar 30 meter dengan kondisi jalan cukup berbahaya karena sangat licin dan penuh dengan rumput dan ilalang liar di sekitarnya. Dan pastinya di trek yang ini keringat akan deras mengalir membasahi seluruh tubuh kita. Itung itung olah raga hehehe .......
Kata penduduk sekitar yang kami temui, Konon penamaan Curug Sirawe ini diambil dari asal kata rawe, yang artinya banyak suwiran atau seperti kain yang terdapat roncenya. Hal itu bisa dimaklumi karena curug ini terdiri dari tiga curug yang lokasinya saling berdekatan. Dua curug berukuran besar dengan ketinggian kurang lebih 80an meter dan satu curug yang ukurannya lebih kecil dengan ketinggian yang sama namun airnya panas.
What ?? air panas ??
Yes sodara sodara. Dua dari tiga curug yang ada di sini airnya berasal dari mata air panas hasil proses geothermal di dalam perut pegunungan Dieng. So jangan kaget kalau di sekitar pegunungan dieng akan kita temui banyak mata air panas yang kemudian digunakan oleh masyarakat untuk kebutuhan sehari hari. Bisa dibanyangkan deh mandi air panas gratis dan tanpa masak air sebelumnya....... enak kan ??
Berdasarkan data wilayah Curug Sirawe ini masuk dusun Sigemplong, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Lho ? iya sodara sodara. Perlu diketahui bahwa sungai yang mengalir dan kemudian membentuk curug ini merupakan batas desa dan batas kabupaten yaitu Banjarnegara dan Batang. Memang sih orang lebih banyak mengetahui curug ini masuk wilayah Banjarnegara, tepatnya desa Bitingan. Disamping karena akses jalan dari Bitingan (Banjarnegara) lebih mudah dan lebih dekat dibandingkan dari Sigemplong (Batang), juga karena mata airnya berada di Bitingan (bahkan dibawahnya sudah dibuat pemandian air panas juga lho).
Kata salah seorang warga, dahulu pihak Kabupaten Banjarnegara pernah mengklaim curug sirawe sebagai asetnya karena memang sumber mata air curug (di desa Bitingan) masuk wilayah Banjarnegara namun pihak Kabupaten Batang tidak begitu saja mengakui klaim tersebut, karena memang curugnya sudah masuk wilayah Batang. Pihak Kabupaten Batang berdalih, kalau memang curug tersebut menjadi milik Banjarnegara, pihak Banjarnegara tidak diperkenankan mengalirkan aliran sumber mata air dari desa Bitingan tersebut ke wilayah Batang oleh pihak Batang. Nah...njur piye jal .....
BTW, udah ga usah dibikin pusing. Biarkan para pembesar yang mikirin hal begituan......kita ? piknik aja.....hehehe
Setelah puas motret di curug dan cukup berkeringat karena jalan kaki, saya dan rombongan kemudian memutuskan untuk berendam dulu di pemandian air panas Bitingan yang lokasinya tepat di sebelah parkiran motor. Pemandian ini masih berupa sebuah kolam yang isinya air panas (kalau dikira kira panasnya seperti air panas satu gayung ditambah dengan air dingin dua gayung.....Pas banget dikulit !!!), dilanjut makan mie ayam di warung bambu disebelahnya yang ternyata rasanya ga kalah dengan mie ayam langganan di kota ..... yakin........... *cerita soal pemandian ini berlanjut di tulisan lain ya ......
Sekedar info kisanak, dari berbagai sumber saya dapet informasi bahwa karena sebagian besar para pengunjung Curug Sirawe lebih memilih melalui jalan Kabupaten Banjarnegara karena dinilai lebih efektif dan mudah dijangkau, Pemerintah Kabupaten Batang yang memiliki Curug Sirawe berusaha mengambil alih agar pengunjung bisa melalui Desa Pranten, Kecamatan Bawang. Keseriusan Pemkab Batang untuk mengelola Curug Sirawe diwujudkan dengan memperbaiki sarana infrastruktur mulai dari Kecamatan Bawang hingga objek wisata itu. Pemkab Batang sudah merencanakan membangun masjid berukuran besar dan megah di sekitar Curug Sirawe.
Bahkan menurut beberapa sumber, Bupati Batang, Wihaji, mengatakan Pemkab akan membuat detail engineering design pembangunan infrastruktur, termasuk sarana pendukungnya. Detail engineering design akan dibuat 2018 dan pada 2019 akan dimulai pelaksanaan pembangunannya. Bahkan dalam salah satu sumber, Bupati Wihaji mengatakan setelah jalur Bawang–Pranten selesai maka nantinya jarak tempuh yang selama ini memerlukan waktu dua jam, dapat ditempuh 15 menit. Pemkab sudah menjanjikan untuk menghidupkan potensi wisata di Kecamatan Bawang. Pemkab akan bekerja sama dengan sejumlah perusahaan dan tidak menutup kemungkinan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Bentuk kerja sama dengan perusahaan melalui program corporate sosial responbilty untuk membantu pengembangan wisata curug itu.
Nah lho .....
Lha terus Banjarnegara ?
Masih banyak hal yang perlu ditindak lanjuti, dipikirkan dan kemudian segera disikapi oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara soal daerah ini kisanak. Yang jelas pertama dari sisi infrastruktur yang harus segera diperbaiki, kemudian promosi yang juga ditingkatkan sebagai komplek wisata kedua setelah komplek utama Dieng (karena dikomplek ini juga ada Pemandian air panas Bitingan yang sampai saat ini dikelola oleh BUMDes Desa Kepakisan namun menurut saya masih butuh campur tangan pemerintah Kabupaten Banjarnegara) dan sebagainya dan sebagainya......
Tinggal bagaimana menyikapinya.......
Dari lokasi parkir sepeda motor, kami berjalan kurang lebih 15 menit (perkiraan waktu jalan bagi manusia dengan bobot 80 kilo macam saya hehehe .....) melewati jalan usaha tani (yang sudah berupa jalan cor beton) untuk menuju ke tujuan utama kami. Curug Sirawe. Trek yang dilalui cukup menarik lho kisanak, datar dulu nunjem kemudian. Sekitar 50 meter terakhir jalan berubah wujud jadi satu turunan yang lumayan curam dengan pemandangan yang istimewa. Suwer.........
Turunan pertama hanya setinggi 20 meter man, relatif mudah dan belum bikin kemringet.....kemudian ada sedikit tanah lapang yang datar dimana sekarang di tempat tersebut sudah dibangun saung saung beratap ijuk dan sebuah tower pandang yang terbuat dari bambu setinggi sekitar 7 meter (3 tingkat). Tepat di samping tower itu ada trek turun yang kedua setinggi sekitar 30 meter dengan kondisi jalan cukup berbahaya karena sangat licin dan penuh dengan rumput dan ilalang liar di sekitarnya. Dan pastinya di trek yang ini keringat akan deras mengalir membasahi seluruh tubuh kita. Itung itung olah raga hehehe .......
Kata penduduk sekitar yang kami temui, Konon penamaan Curug Sirawe ini diambil dari asal kata rawe, yang artinya banyak suwiran atau seperti kain yang terdapat roncenya. Hal itu bisa dimaklumi karena curug ini terdiri dari tiga curug yang lokasinya saling berdekatan. Dua curug berukuran besar dengan ketinggian kurang lebih 80an meter dan satu curug yang ukurannya lebih kecil dengan ketinggian yang sama namun airnya panas.
What ?? air panas ??
Berdasarkan data wilayah Curug Sirawe ini masuk dusun Sigemplong, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Lho ? iya sodara sodara. Perlu diketahui bahwa sungai yang mengalir dan kemudian membentuk curug ini merupakan batas desa dan batas kabupaten yaitu Banjarnegara dan Batang. Memang sih orang lebih banyak mengetahui curug ini masuk wilayah Banjarnegara, tepatnya desa Bitingan. Disamping karena akses jalan dari Bitingan (Banjarnegara) lebih mudah dan lebih dekat dibandingkan dari Sigemplong (Batang), juga karena mata airnya berada di Bitingan (bahkan dibawahnya sudah dibuat pemandian air panas juga lho).
Kata salah seorang warga, dahulu pihak Kabupaten Banjarnegara pernah mengklaim curug sirawe sebagai asetnya karena memang sumber mata air curug (di desa Bitingan) masuk wilayah Banjarnegara namun pihak Kabupaten Batang tidak begitu saja mengakui klaim tersebut, karena memang curugnya sudah masuk wilayah Batang. Pihak Kabupaten Batang berdalih, kalau memang curug tersebut menjadi milik Banjarnegara, pihak Banjarnegara tidak diperkenankan mengalirkan aliran sumber mata air dari desa Bitingan tersebut ke wilayah Batang oleh pihak Batang. Nah...njur piye jal .....
BTW, udah ga usah dibikin pusing. Biarkan para pembesar yang mikirin hal begituan......kita ? piknik aja.....hehehe
Setelah puas motret di curug dan cukup berkeringat karena jalan kaki, saya dan rombongan kemudian memutuskan untuk berendam dulu di pemandian air panas Bitingan yang lokasinya tepat di sebelah parkiran motor. Pemandian ini masih berupa sebuah kolam yang isinya air panas (kalau dikira kira panasnya seperti air panas satu gayung ditambah dengan air dingin dua gayung.....Pas banget dikulit !!!), dilanjut makan mie ayam di warung bambu disebelahnya yang ternyata rasanya ga kalah dengan mie ayam langganan di kota ..... yakin........... *cerita soal pemandian ini berlanjut di tulisan lain ya ......
Sekedar info kisanak, dari berbagai sumber saya dapet informasi bahwa karena sebagian besar para pengunjung Curug Sirawe lebih memilih melalui jalan Kabupaten Banjarnegara karena dinilai lebih efektif dan mudah dijangkau, Pemerintah Kabupaten Batang yang memiliki Curug Sirawe berusaha mengambil alih agar pengunjung bisa melalui Desa Pranten, Kecamatan Bawang. Keseriusan Pemkab Batang untuk mengelola Curug Sirawe diwujudkan dengan memperbaiki sarana infrastruktur mulai dari Kecamatan Bawang hingga objek wisata itu. Pemkab Batang sudah merencanakan membangun masjid berukuran besar dan megah di sekitar Curug Sirawe.
Bahkan menurut beberapa sumber, Bupati Batang, Wihaji, mengatakan Pemkab akan membuat detail engineering design pembangunan infrastruktur, termasuk sarana pendukungnya. Detail engineering design akan dibuat 2018 dan pada 2019 akan dimulai pelaksanaan pembangunannya. Bahkan dalam salah satu sumber, Bupati Wihaji mengatakan setelah jalur Bawang–Pranten selesai maka nantinya jarak tempuh yang selama ini memerlukan waktu dua jam, dapat ditempuh 15 menit. Pemkab sudah menjanjikan untuk menghidupkan potensi wisata di Kecamatan Bawang. Pemkab akan bekerja sama dengan sejumlah perusahaan dan tidak menutup kemungkinan dengan Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo. Bentuk kerja sama dengan perusahaan melalui program corporate sosial responbilty untuk membantu pengembangan wisata curug itu.
Nah lho .....
Lha terus Banjarnegara ?
Masih banyak hal yang perlu ditindak lanjuti, dipikirkan dan kemudian segera disikapi oleh Pemerintah Kabupaten Banjarnegara soal daerah ini kisanak. Yang jelas pertama dari sisi infrastruktur yang harus segera diperbaiki, kemudian promosi yang juga ditingkatkan sebagai komplek wisata kedua setelah komplek utama Dieng (karena dikomplek ini juga ada Pemandian air panas Bitingan yang sampai saat ini dikelola oleh BUMDes Desa Kepakisan namun menurut saya masih butuh campur tangan pemerintah Kabupaten Banjarnegara) dan sebagainya dan sebagainya......
Tinggal bagaimana menyikapinya.......
Setahun di Pejawaran
Hari ini, tepat setahun yang lalu saya dapat surat sakti maha berharga yang berisi perintah pindah meja kerja. Dari semula mejanya di kantor yang deket alun-alun jadi meja yang berada di sebuah kantor kecamatan yang kurang lebih 40 menit sampai satu jam perjalanan dari alun alun..... bahkan bisa seharian penuh baru sampe kesana kalau jalan kaki hehehe ......
Menyesal ? Sedih ? Tidak Bahagia ?
TIDAK, sangat TIDAK dan sama sekali TIDAK sodara sodara.......
Kenapa ?
Karena seiring berjalannya waktu, tempat kerja yang baru jebulnya memberikan surga bagi saya......
What ? Surga ?
Yes...... saya dapat banyak ilmu dan pengalaman baru disini, dapat saudara saudara baru disini, banyak hiburan dan pereda sakit kepala disini dan yang jelas semakin banyak rejeki di sini kisanak, rejeki dalam arti yang luas tentunya...... suwer.......
Ada seorang sahabat lama yang kemudian bertanya karena saking penasarannya,
" sakjannya Pejawaran itu di mana sih ? kok kamu kayane bahagia banget disitu ? "
" Nganu....Pejawaran itu ada di Banjarnegara begian atas, di sebelahnya surga nyit........ "
" Jadi kalo dari Pejawaran bisa ngintip surga gitu ? "
" Whoooo hayo mestu......buktinya di sana aku bisa lihat bidadari lagi pada mandi lho....tiap hari lagi........yakin...... "
" Whuuuuuu.......... your head ......... pekokkkkk........ your eyes is ndulegggg "
bwahahaha.....
Penasaran ?
Monggo mampir ke sini saja kisanak....... Tapi ada sedikit saran sebelumnya, kalau mau kesini persiapkan fisik dan mental dulu sepenuhnya ya. karena untuk kesini harus menempuh perjalanan sejauh 34 km dengan medan yang berliku liku seperti jalan cerita hidup anda hehehe..... rute itu termasuk jalan yang naik turun dengan sudut kemiringan yang lumayan membuat orang (yang terbiasa lewat jalan datar) kapok kesini lagi ....... juga banyak jalan yang pernah diaspal halus dan hanya menyisakan kenangannya saja ...... hahahaha.....
syu
Sedikit cerita saja sodara sodara, Kecamatan Pejawaran adalah kecamatan yang mempunyai luas wilayah 52,24 km persegi dengan jumlah penduduk sekitar 44 ribu jiwa dan terbagi dalam 17 desa. Wilayahnya sendiri terdiri dari perbukitan dan lembah dengan tingkat kerawanan yang cukup tinggi terhadap bencana longsor. Karena disamping tanahnya yang cukup labil, juga karena mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani sayur mayur terutama kentang, wortel, kol dan tanaman umbi umbian lain. So, efeknya adalah banyak bukit yang kelihatan gundul seksi tanpa ada pepohonan penyangga dan pengikat tanah sama sekali. nah lho.....
Di sisi lain wilayah kerja saya ini menyimpan banyak sekali potensi yang tidak disangka lho pemirsah, seperti Kopi Senggani dari desa Pegundungan yang beberapa waktu lalu jadi kopi terbaik di negeri ini (bahkan bu kades sampe diundang ke istana dan duduk bareng pak bos Jokowi pas acara International Coffee Day 2017 lalu lho....), ada juga Talas begug dari desa Grogol yang gedhenya masyaalloh, ada juga stroberi Gembol yang gedhe gedhe, segedhe cintaku padanya...eh .....
selain itu, ada kentang jenis anu yang khusus dibuat sebagai cemilannya orang Amrik dan keripik kentang kualitas nomer satu yang identik dengan lebaran....... serta masih banyak lagi lainnya baik sayuran, buah buahan maupun hasil non itu seperti Gas alam (Desa Pegundungan), Batu Belah Super (Desa Sarwodadi dan Giritirta), de es be ...... buanyak kisanak..............
Nah dari kontur tanah dan bentangan alam yang berbukit dan berlembah lembah inilah, saya jadi sering dapat foto lumayan cakep dan bisa dipamerin ke teman sejawat dan kolega...halah.....
ga percaya ? monggo cek aja akun instagram saya Ngatmow_jilid_dua atau explore saja hastag #dolanpejawaran . Landscape .....ada, air terjun alias curug......ada, kesenian yang sudah mulai langka...... ada juga........ kurang apa coba.....
Promosi?
Bukan kisanak......saya cuman pengen curhat saja kok......hihihi
Intinya sih gini, meskipun Kecamatan Pejawaran adalah kecamatan pinggiran di Kabupaten Banjarnegara, meskipun di sini sangat dingin udaranya, meskipun jalannya berliku dan penuh batu, meskipun disini jauh dari hingar bingar kota, meskipun disini kadang terlupakan oleh para penguasa, meskipun disini rawan bencana tanah longsor dan seterusnya dan seterusnya ...............
Tapi,
Disini saya punya banyak sodara, disini saya nemu kedamaian dan kenyamanan hati, disini saya bisa piknik tiap hari, disini saya bisa motret sana sini, disini saya bisa ngopi setiap hari, disini saya bisa bermain sambil bekerja dengan status resmi, disini saya bisa tidur siang bisa makan kenyang dengan hiburan senyuman para bidadari .......
dan disini saya betah sekali ......
Udah itu aja........
Menyesal ? Sedih ? Tidak Bahagia ?
TIDAK, sangat TIDAK dan sama sekali TIDAK sodara sodara.......
Kenapa ?
Karena seiring berjalannya waktu, tempat kerja yang baru jebulnya memberikan surga bagi saya......
What ? Surga ?
Yes...... saya dapat banyak ilmu dan pengalaman baru disini, dapat saudara saudara baru disini, banyak hiburan dan pereda sakit kepala disini dan yang jelas semakin banyak rejeki di sini kisanak, rejeki dalam arti yang luas tentunya...... suwer.......
Ada seorang sahabat lama yang kemudian bertanya karena saking penasarannya,
" sakjannya Pejawaran itu di mana sih ? kok kamu kayane bahagia banget disitu ? "
" Nganu....Pejawaran itu ada di Banjarnegara begian atas, di sebelahnya surga nyit........ "
" Jadi kalo dari Pejawaran bisa ngintip surga gitu ? "
" Whoooo hayo mestu......buktinya di sana aku bisa lihat bidadari lagi pada mandi lho....tiap hari lagi........yakin...... "
" Whuuuuuu.......... your head ......... pekokkkkk........ your eyes is ndulegggg "
bwahahaha.....
Penasaran ?
Monggo mampir ke sini saja kisanak....... Tapi ada sedikit saran sebelumnya, kalau mau kesini persiapkan fisik dan mental dulu sepenuhnya ya. karena untuk kesini harus menempuh perjalanan sejauh 34 km dengan medan yang berliku liku seperti jalan cerita hidup anda hehehe..... rute itu termasuk jalan yang naik turun dengan sudut kemiringan yang lumayan membuat orang (yang terbiasa lewat jalan datar) kapok kesini lagi ....... juga banyak jalan yang pernah diaspal halus dan hanya menyisakan kenangannya saja ...... hahahaha.....
syu
Sedikit cerita saja sodara sodara, Kecamatan Pejawaran adalah kecamatan yang mempunyai luas wilayah 52,24 km persegi dengan jumlah penduduk sekitar 44 ribu jiwa dan terbagi dalam 17 desa. Wilayahnya sendiri terdiri dari perbukitan dan lembah dengan tingkat kerawanan yang cukup tinggi terhadap bencana longsor. Karena disamping tanahnya yang cukup labil, juga karena mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani sayur mayur terutama kentang, wortel, kol dan tanaman umbi umbian lain. So, efeknya adalah banyak bukit yang kelihatan gundul seksi tanpa ada pepohonan penyangga dan pengikat tanah sama sekali. nah lho.....
Di sisi lain wilayah kerja saya ini menyimpan banyak sekali potensi yang tidak disangka lho pemirsah, seperti Kopi Senggani dari desa Pegundungan yang beberapa waktu lalu jadi kopi terbaik di negeri ini (bahkan bu kades sampe diundang ke istana dan duduk bareng pak bos Jokowi pas acara International Coffee Day 2017 lalu lho....), ada juga Talas begug dari desa Grogol yang gedhenya masyaalloh, ada juga stroberi Gembol yang gedhe gedhe, segedhe cintaku padanya...eh .....
selain itu, ada kentang jenis anu yang khusus dibuat sebagai cemilannya orang Amrik dan keripik kentang kualitas nomer satu yang identik dengan lebaran....... serta masih banyak lagi lainnya baik sayuran, buah buahan maupun hasil non itu seperti Gas alam (Desa Pegundungan), Batu Belah Super (Desa Sarwodadi dan Giritirta), de es be ...... buanyak kisanak..............
Nah dari kontur tanah dan bentangan alam yang berbukit dan berlembah lembah inilah, saya jadi sering dapat foto lumayan cakep dan bisa dipamerin ke teman sejawat dan kolega...halah.....
ga percaya ? monggo cek aja akun instagram saya Ngatmow_jilid_dua atau explore saja hastag #dolanpejawaran . Landscape .....ada, air terjun alias curug......ada, kesenian yang sudah mulai langka...... ada juga........ kurang apa coba.....
Promosi?
Bukan kisanak......saya cuman pengen curhat saja kok......hihihi
Intinya sih gini, meskipun Kecamatan Pejawaran adalah kecamatan pinggiran di Kabupaten Banjarnegara, meskipun di sini sangat dingin udaranya, meskipun jalannya berliku dan penuh batu, meskipun disini jauh dari hingar bingar kota, meskipun disini kadang terlupakan oleh para penguasa, meskipun disini rawan bencana tanah longsor dan seterusnya dan seterusnya ...............
Tapi,
Disini saya punya banyak sodara, disini saya nemu kedamaian dan kenyamanan hati, disini saya bisa piknik tiap hari, disini saya bisa motret sana sini, disini saya bisa ngopi setiap hari, disini saya bisa bermain sambil bekerja dengan status resmi, disini saya bisa tidur siang bisa makan kenyang dengan hiburan senyuman para bidadari .......
dan disini saya betah sekali ......
Udah itu aja........
1.12.2018
Posted by ngatmow
Last Day Odong Odong Kesayangan, My Kijang Super G
Anda kenal Toyota Kijang kisanak ??
Khususon saya, sampai dengan kemarin ada seonggok Kijang Super G kelahiran tahun 1996 di garasi rumah. Kijang Super G ini merupakan mobil Toyota Kijang Generasi Ketiga atau dalam bahasa desa saya 3rd Generation (selain Kijang Grand Extra tentunya). Toyota Kijang jenis ini di produksi pada tahun 1986 sampai tahun 1997 untuk menggantikan pendahulunya yaitu Toyota Kijang Kotak. Setelah tahun 1997, Toyota kemudian memproduksi varian terbarunya sebagai generasi penerus keluarga Kijang yaitu Toyota Kijang Kapsul.
Sedikit penilaian saya soal mobil yang satu ini sodara sodara, bagian mesinnya Toyota Kijang Super G sudah dilengkapi dengan mesin 7K 1.8 liter karburator 4 silinder segaris SOHC yang memiliki tenaga yang cukup baik. Dengan mesin seperti itu mobil ini mampu mengeluarkan tenaga maksimal mencapai 72 Hp atau setara dengan putaran mesin 4.600 rpm sedangkan untuk torsinya mencapai 139 Nm atau setara dengan putaran mesin 2.800 rpm.
Mudeng ?
wong saya saja ga maksud kok hahahaha..........
Begini singkatnya....
Kijang super G saya, meskipun sudah uzur untuk ukuran sebuah mobil (21 tahun lebih sedikit men....) kekuatannya luwar biasah. Dibawa nanjak untuk medan extrim macam ke desa Semangkung di Pejawaran (dimana Kecamatan Pejawaran ini di Banjarnegara terkenal dengan medannya yang sulit mlilit) dengan semua kursi (2-3-3) terisi full berhasil dengan sukses. Aman, lancar, dan tanpa ada masalah mogok ga kuat nanjak apalagi sampai mundur.. coba bandingkan dengan mobil mobil keluaran baru dengan bodi yang terbalut almunium itu ...... jauhhhhh................hihihi............
Lanjut, Untuk bagian eksterior mobil ini mempunyai sebuah desain yang sangat klasik dengan bodi berbentuk kotak. Pada sisi depan Kijang Super ini tampil cukup asik dan unik sebab mempunyai headlamp kotak dan ditambah logo Toyota yang dilapisi dengan warna chrome. Sisi belakang mempunyai tampilan berbentuk kotak, sehingga tampilan belakang dari mobil ini juga nampak klasik dengan dibekali lampu stoplamp yang berbentuk kotak juga. Begitu kira kira....
Kalo kita ngomong bagian interior, pada bagian interior Toyota Kijang Super atau Grand Extra pada umumnya, kapasitas kabinnya meurut saya cukup luas dengan tampilan interior yang lagi lagi klasik (maklum, barang AMA - Angkatan Mbah Ane hihihi......). Bagian dashboard memiliki tampilan kotak dengan fitur – fitur yang standar seperti AC sebagai penyejuk kabin, Audio sebagai fitur hiburan, dan speedometer. Pada bagian kursinya Toyota Kijang Super atau Grand Extra memiliki 3 baris kursi yang dapat menampung penumpang maksimal 8 orang. Untuk material jok orisinil, saya merasa kurang begitu nyaman digunakan sehingga terpaksa harus dirubah dengan material kulit agar lebih nyaman di pantat seksi saya. Hehehehe......coba deh......
Kalau boleh diringkas sih, kira kira pendapat saya soal odong odong kesayangan intinya begini,
Kelebihan :
Kekurangan :
That's it.........
Tapi, hari ini di awal tahun 2018 ini, si odong odong harus berpindah garasi. STNK dan BPKB pun dengan terpaksa harus disimpan orang lain untuk selamanya. Banyak hal yang sudah dilalui bersama dan hanya akan meninggalkan kenangan indah dalam memori otak saya.......halah.....
Si odong odong ga bisa lagi menemani perjalanan panjang saya dari Banjarnegara sampai Semarang, Banjarnegara - Solo, Banjarnegara - Jogja, Banjarnegara - Purwokerto, Banjarnegara - Cilacap, Banjarnegara - Pekalongan, Banjarnegara - Kudus dan entah berapa banyak daerah lagi yang pernah kami kunjungi bersama......
Sehat sehat ya nak, jangan rewel, jangan bikin tuanmu yang baru marah apalagi sampai sedih .......
Ehh ................
#merasasedih
Tidak ??
Hadeww..... anda selama ini hidup dimana nih ?
Begini kisanak.....Toyota Kijang dengan beragam variannya adalah salah satu dari beberapa mobil PALING legendaris di negeri ini. Bahkan sampai pernah ada julukan Mobil Sejuta Umat. Kenapa ?karena mobil ini dimiliki oleh jutaan orang di masa jayanya dulu dan masih digemari sampai saat ini...... termasuk saya hehehe
Khususon saya, sampai dengan kemarin ada seonggok Kijang Super G kelahiran tahun 1996 di garasi rumah. Kijang Super G ini merupakan mobil Toyota Kijang Generasi Ketiga atau dalam bahasa desa saya 3rd Generation (selain Kijang Grand Extra tentunya). Toyota Kijang jenis ini di produksi pada tahun 1986 sampai tahun 1997 untuk menggantikan pendahulunya yaitu Toyota Kijang Kotak. Setelah tahun 1997, Toyota kemudian memproduksi varian terbarunya sebagai generasi penerus keluarga Kijang yaitu Toyota Kijang Kapsul.
Sedikit penilaian saya soal mobil yang satu ini sodara sodara, bagian mesinnya Toyota Kijang Super G sudah dilengkapi dengan mesin 7K 1.8 liter karburator 4 silinder segaris SOHC yang memiliki tenaga yang cukup baik. Dengan mesin seperti itu mobil ini mampu mengeluarkan tenaga maksimal mencapai 72 Hp atau setara dengan putaran mesin 4.600 rpm sedangkan untuk torsinya mencapai 139 Nm atau setara dengan putaran mesin 2.800 rpm.
Mudeng ?
wong saya saja ga maksud kok hahahaha..........
Begini singkatnya....
Kijang super G saya, meskipun sudah uzur untuk ukuran sebuah mobil (21 tahun lebih sedikit men....) kekuatannya luwar biasah. Dibawa nanjak untuk medan extrim macam ke desa Semangkung di Pejawaran (dimana Kecamatan Pejawaran ini di Banjarnegara terkenal dengan medannya yang sulit mlilit) dengan semua kursi (2-3-3) terisi full berhasil dengan sukses. Aman, lancar, dan tanpa ada masalah mogok ga kuat nanjak apalagi sampai mundur.. coba bandingkan dengan mobil mobil keluaran baru dengan bodi yang terbalut almunium itu ...... jauhhhhh................hihihi............
Lanjut, Untuk bagian eksterior mobil ini mempunyai sebuah desain yang sangat klasik dengan bodi berbentuk kotak. Pada sisi depan Kijang Super ini tampil cukup asik dan unik sebab mempunyai headlamp kotak dan ditambah logo Toyota yang dilapisi dengan warna chrome. Sisi belakang mempunyai tampilan berbentuk kotak, sehingga tampilan belakang dari mobil ini juga nampak klasik dengan dibekali lampu stoplamp yang berbentuk kotak juga. Begitu kira kira....
Kalo kita ngomong bagian interior, pada bagian interior Toyota Kijang Super atau Grand Extra pada umumnya, kapasitas kabinnya meurut saya cukup luas dengan tampilan interior yang lagi lagi klasik (maklum, barang AMA - Angkatan Mbah Ane hihihi......). Bagian dashboard memiliki tampilan kotak dengan fitur – fitur yang standar seperti AC sebagai penyejuk kabin, Audio sebagai fitur hiburan, dan speedometer. Pada bagian kursinya Toyota Kijang Super atau Grand Extra memiliki 3 baris kursi yang dapat menampung penumpang maksimal 8 orang. Untuk material jok orisinil, saya merasa kurang begitu nyaman digunakan sehingga terpaksa harus dirubah dengan material kulit agar lebih nyaman di pantat seksi saya. Hehehehe......coba deh......
Kalau boleh diringkas sih, kira kira pendapat saya soal odong odong kesayangan intinya begini,
Kelebihan :
- Tampilan mobil klasik dan menarik
- Harga jual bertahan
- Kapasitas kabin luas
- Mesin mobil responsif dan bertenaga
- Dijamin kuat dan ampuh di segala medan tempur
- Pajak mobil murah
- Biaya perawatan murah
- Spare part mobil melimpah dan bisa dioplos sana sini
Kekurangan :
- Punya beberapa penyakit bawaan (contoh : Kaki kaki, power steering, Aki drop)
- Putaran atas lemah
- Kurang fitur pengamanan
- Bantingan mobil bisa dikatakan cukup keras
- Banyak komponen yang sudah uzur karena memang sudah banyak umurnya
- Fitur peredaman kabin buruk ga seperti mobil mobil generasi sekarang
- Konsumsi BBM lumayan boros apalagi jika dibandingkan dengan "cucu"nya - si Apanza, itu...
That's it.........
Tapi, hari ini di awal tahun 2018 ini, si odong odong harus berpindah garasi. STNK dan BPKB pun dengan terpaksa harus disimpan orang lain untuk selamanya. Banyak hal yang sudah dilalui bersama dan hanya akan meninggalkan kenangan indah dalam memori otak saya.......halah.....
Si odong odong ga bisa lagi menemani perjalanan panjang saya dari Banjarnegara sampai Semarang, Banjarnegara - Solo, Banjarnegara - Jogja, Banjarnegara - Purwokerto, Banjarnegara - Cilacap, Banjarnegara - Pekalongan, Banjarnegara - Kudus dan entah berapa banyak daerah lagi yang pernah kami kunjungi bersama......
Sehat sehat ya nak, jangan rewel, jangan bikin tuanmu yang baru marah apalagi sampai sedih .......
Ehh ................
#merasasedih





















