Formulir Rangkap Tiga : Cermin birokrasi yang... ah sudahlah

Thomas Fatah sudah berdiri di loket nomor dua sejak pukul delapan pagi. Persis di bawah kipas angin yang berputar pelan — cukup untuk menggerakkan rambut, tidak cukup untuk mendinginkan udara. Di tangannya, selembar formulir permohonan surat keterangan domisili yang sudah diisi dengan tinta biru, sesuai instruksi dari papan pengumuman yang terlaminating di dinding sebelah kiri.

Mbak petugas di balik kaca menerimanya tanpa menoleh. Sibuk memencet-mencet sesuatu di ponselnya.

"Ini formulirnya, Mbak."

"Fotokopinya mana?"

"Fotokopi... formulirnya?"

"Iya. Rangkap tiga."


Pemuda tambun itu mengerutkan dahi. Ia sudah membawa fotokopi KTP rangkap tiga, fotokopi KK rangkap tiga, fotokopi surat nikah meski tidak diminta, dan satu lembar materai enam ribu yang ia tempel sendiri meski juga tidak diminta — karena kata tetangganya, "daripada bolak-balik, bawa aja semua."

"Tapi ini kan formulir dari sini, Mbak. Baru diisi tadi..."

"Iya, tapi tetep harus difotokopi. Satu untuk arsip, satu untuk berkas, satu lagi untuk..."

Mbak petugas berhenti sejenak.

"...untuk apa ya..." gumamnya, seperti benar-benar tidak ingat.

Thomas menunggu. Empat detik berlalu.

"Pokoknya tiga," simpul Mbak petugas dengan nada yang tidak mengundang diskusi lebih lanjut.

Thomas pun berbalik, turun tangga, keluar gedung, menyeberang jalan, masuk ke warung fotokopi yang mejanya sudah dipadati ibu-ibu dengan tumpukan berkas masing-masing. Ia mengambil nomor antrean. Nomor empat puluh tujuh. Yang dipanggil baru nomor dua puluh sembilan.

Ia duduk di bangku plastik merah yang satu kakinya diganjal bata, menatap langit-langit yang berposter kalender 2025.

Di dalam kepalanya, satu pertanyaan berputar seperti kipas angin di loket tadi: untuk apa sebetulnya lembar ketiga itu?

Tidak ada yang tahu. Tidak Mbak petugas. Tidak Pak Kepala Seksi yang tanda tangannya tertera di pojok formulir. Mungkin juga tidak pejabat yang dulu menciptakan sistem ini.

Tapi bata itu tetap mengganjal. Formulir itu tetap harus rangkap tiga. Dan Thomas, dengan sabar luar biasa yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang sudah terlalu sering berurusan dengan birokrasi, menunggu nomor empat puluh tujuh dipanggil.

Ia sudah bawa bekal nasi bungkus dari rumah. Ternyata berguna.

5.16.2025
Posted by ngatmow

Cuti Sakit yang butuh Surat Sehat

Thomas sudah tiga hari tidak masuk kantor. Demam, batuk, dan tenggorokan yang terasa seperti diamplas. Dokter puskesmas sudah memberinya surat keterangan sakit. Istirahat tiga hari. Resep sudah ditebus. Antibiotik sudah diminum.

Hari keempat, ia kembali ke kantor. Wajahnya masih pucat, tapi sudah bisa berdiri tegak.


Yang pertama ia temui adalah Pak Widodo, Kepala Sub Bagian Kepegawaian, yang menyambutnya bukan dengan "sudah sehat?" melainkan dengan ekspresi seorang auditor yang menemukan selisih di neraca keuangan.

"Thomas. Tiga hari tidak masuk."

"Iya, Pak. Sakit. Ini suratnya."

Pak Widodo menerima surat itu, membacanya dengan seksama, lalu meletakkannya di atas meja seperti barang bukti.

"Surat ini dari dokter puskesmas."

"Iya, Pak."

"Tapi prosedurnya, untuk pengajuan cuti sakit lebih dari dua hari, harus disertai surat keterangan dari dokter plus surat pernyataan bahwa kamu sudah sehat untuk kembali bekerja."

Thomas mengedipkan mata.

"Surat sehat, Pak?"

"Iya."

"Dari dokter juga?"

"Iya."

"Jadi saya harus ke dokter lagi, minta surat bahwa saya sehat, supaya surat sakit saya diterima?"

Pak Widodo mengangguk dengan mantap. Tidak ada ironi di wajahnya. Tidak sedikit pun.

Thomas mengambil napas panjang. Ia sudah cukup sehat untuk melakukan itu — ini yang paling ironis. Kalau ia masih sakit, ia tidak bisa pergi ke dokter. Kalau ia sudah sehat, ia tidak butuh dokter. Tapi ia butuh surat bahwa ia sehat, dari dokter, supaya surat sakitnya valid.

Logika ini berputar di kepalanya seperti baling-baling yang macet.

Ia pergi ke puskesmas. Antre dua jam. Dokter yang sama menerimanya dengan ekspresi bingung.

"Kamu balik lagi? Masih sakit?"

"Nggak, Dok. Ini sudah sehat. Tapi butuh surat keterangan sehat."

Dokter menatapnya lama. Kemudian menatap layar komputer. Kemudian menatap Thomas lagi.

"Untuk apa?"

"Supaya surat sakit dari Dokter tempo hari bisa diproses."

Dokter menarik napas panjang. Kemudian mengetik. Kemudian mencetak. Kemudian menandatangani. Kemudian membubuhkan stempel.

"Ini ya. Semoga... tidak perlu balik lagi."

Thomas menerima surat itu dengan kedua tangan.

Sore harinya, surat sehat itu diserahkan ke Pak Widodo bersama surat sakitnya. Pak Widodo menerimanya, membolongnya dengan perforator, dan memasukkannya ke map berwarna hijau.

"Oke. Beres."

Thomas ingin bertanya kenapa tidak ada formulir pengajuan cuti sakit yang juga harus dilampirkan. Tapi ia memilih diam. Ada kalanya kebijaksanaan tertinggi seorang PNS adalah tahu kapan harus berhenti bertanya.

4.28.2025
Posted by ngatmow

Serah Terima Jabatan dan Seni Berbohong dengan Wajah Sedih

Pak Hendra, Kepala Bagian Umum yang sudah tiga tahun berkuasa — atau lebih tepatnya, bersemayam — di kantor itu, akhirnya dimutasi ke instansi lain. Kabar ini beredar lebih cepat dari informasi resmi apapun yang pernah disampaikan di kantor itu.


Reaksi pegawai terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, yang memang bersedih karena akan kehilangan sosok yang mereka anggap pimpinan yang baik. Jumlahnya sekitar tiga orang — Bu Eni yang memang setia pada siapapun atasan, Pak Dar yang tidak pernah terlalu mengerti siapa atasannya, dan seorang staf magang yang baru sebulan dan belum sempat merasakan era Pak Hendra secara penuh.


Kelompok kedua: yang lega tapi tidak boleh kelihatan lega. Ini jumlahnya jauh lebih banyak. Dan Thomas Fatah termasuk di dalamnya.


Acara serah terima jabatan atau sertijab diadakan di aula kantor. Semua pegawai hadir dengan seragam terbaik dan ekspresi yang sudah diset ke mode "khidmat dan terharu." Thomas sudah berlatih ekspresi ini di cermin pagi harinya — alis sedikit turun, sudut bibir netral, mata sesekali berkedip lebih lambat dari biasanya.


.....................

Pak Hendra naik podium untuk sambutan perpisahan. Pak Hendra yang sehari-harinya dikenal dengan tatapan tajam dan kemampuan istimewa dalam mengingat keterlambatan absen, tiba-tiba tampil dengan mata berkaca-kaca.


"Tiga tahun bersama kalian adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan. Saya mungkin tidak sempurna sebagai pemimpin—"


Nah ini yang baru, pikir Thomas.


"—tapi saya selalu berusaha yang terbaik untuk kemajuan kita bersama. Dan saya harap, apapun yang sudah kita lalui, kita bisa kenang sebagai perjalanan yang bermakna."


Thomas bertepuk tangan. Tepukan yang sungguh-sungguh, bukan karena berbohong, tapi karena dalam hatinya ada sesuatu yang dia sebut sebagai penghargaan atas konsistensi. Pak Hendra memang sering menyebalkan, tapi setidaknya konsisten dalam menyebalkannya. Itu, dalam dunia yang penuh ketidakpastian, adalah sesuatu.


Kemudian pejabat baru diperkenalkan. Pak Wahyu. Muda. Senyumnya terlalu ramah. Thomas sudah cukup lama jadi PNS untuk tahu bahwa senyum yang terlalu ramah di hari pertama adalah sinyal ambigu — bisa berarti baik hati, bisa berarti belum kelihatan aslinya.


Di sela-sela acara, Thomas berbisik ke Bowo:


"Yang baru kira-kira gimana ya?"


"Ya tau sendiri lah. Tiga bulan pertama pasti baik. Bulan keempat kita baru tau aslinya."


"Bagaimana kalau ternyata lebih parah dari Pak Hendra?"


"Ya kita nanti kangen Pak Hendra."


Thomas tertawa kecil, pelan, dengan mulut hampir tertutup — tertawa kantor, salah satu keahlian yang tidak tertulis di manapun tapi dikuasai semua orang.


Sertijab mengajarkan bahwa di kantor, orang yang tadinya kamu keluhkan setiap hari bisa tiba-tiba terasa berharga begitu pergi. Bukan karena dia berubah. Tapi karena kamu baru sadar bahwa setanmu yang lama, setidaknya, sudah kamu hafal kelemahannya.

2.02.2025
Posted by ngatmow

Rapat buat rapat lagi untuk rapat selanjutnya

Senin pagi di kantor dimana Thomas bekerja tampak sibuk dengan intensitas yang ga biasa, dimulai dengan rapat koordinasi. Agendanya adalah membahas persiapan rapat besar bulan depan.

Pak Bambang, Kepala Bidang Perencanaan, membuka rapat dengan khidmat.

"Baik, kita mulai. Agenda kita hari ini adalah menyusun agenda rapat kita bulan depan."

Tidak ada yang tertawa. Semua mengangguk dengan wajah serius. Ibu Lastri langsung membuka laptop dan mulai mengetik notulensi.

"Rapat bulan depan akan membahas apa, Pak?" tanya Fatah dengan polos.

"Membahas hasil rapat hari ini."


Fatah mengangguk perlahan. Ia baru tiga bulan menjadi anggota baru di dinas ini sejak mutasi semena mena yang sebenernya nggak ia percaya juga. Ia masih percaya bahwa semua ini pasti ada maksudnya.

Rapat pun bergulir. Mereka membahas siapa yang harus hadir di rapat bulan depan. Diputuskan: semua kepala bidang plus staf pendamping. Lalu mereka membahas kapan rapatnya. Diputuskan: tanggal dua belas, jam sembilan pagi. Lalu mereka membahas di mana rapatnya. Ini memakan waktu dua puluh menit karena ruang rapat utama sedang direnovasi, dan ruang rapat kecil kapasitasnya tidak cukup kalau semua kepala bidang plus staf pendamping hadir.

Akhirnya diputuskan: rapat bulan depan akan membahas tempat yang tepat untuk rapat berikutnya.

Thomas mengangkat tangan.

"Pak, maaf... jadi kita rapat hari ini untuk persiapan rapat bulan depan yang isinya membahas rapat selanjutnya?"

Pak Bambang menatapnya dengan tatapan seorang guru yang melihat murid belum memahami konsep dasar.

"Bukan. Kita rapat hari ini untuk menyusun kerangka acuan rapat bulan depan, yang nanti hasilnya akan menjadi bahan pra-rapat sebelum rapat besar triwulanan."

"Oh," kata Fatah. "Jadi ada rapat lagi di antaranya?"

"Pra-rapat, namanya. Beda."

"Bedanya?"

"Pra-rapat tidak ada notulensi resmi."

Ibu Lastri langsung menutup laptopnya dengan bunyi klik yang entah kenapa terdengar seperti kepasrahan.

Rapat hari itu selesai pukul sebelas. Menghasilkan satu dokumen: undangan rapat bulan depan. Yang rencananya akan membahas: jadwal rapat berikutnya.

Di perjalanan pulang ke meja masing-masing, Thomas berpapasan dengan Pak Samsuri, staf senior yang sudah dua puluh tahun mengabdi.

"Mas Tom, gimana rapatnya?"

"Bingung, Pak. Kita rapat buat ngebahas rapat."

Pak Samsuri menepuk bahunya sambil tertawa sinis

"Selamat datang di plat merah, Nak."

FAKKKKK .... batin Thomas........

1.25.2025
Posted by ngatmow

Dawet Ayu Banjarnegara, minuman khas yang jadi Warisan Budaya Tak benda Indonesia

Kakang kakang pada plesir (maring endi yayi)

Tuku dawet, dawete banjarnegara

Seger adem legi (apa iya)

Dawet ayu, dawete banjarnegara


Begitu sepenggal bait dari lagu berjudul “Dawet Ayu Banjarnegara” yang konon diciptakan seniman Banjarnegara bernama Bono (dan disebut-sebut sebagai asal sejarah nama dawet ayu) untuk kemudian dipopulerkan kembali oleh Grup Seni Calung dan Lawak Banyumas Peang Penjol yang terkenal di Karesidenan Banyumas pada era 1970-1980-an. 


Wajar kalau nama Dawet Ayu kemudian di identikkan dengan Banjarnegara karena dalam lirik lagu ini memang disebutkan beberapa kali kata 'Dawet Banjarnegara'.  Dalam liriknya lagu ini berkisah tentang percakapan sederhana antara adik dan kakak soal rencana pergi bepergian piknik kemana saja yang penting jangan lupa membeli dawet banjarnegara yang segar, dingin dan manis. Begitu ...... 




Dalam masyarakat Banjarnegara sendiri, asal muasal penamaan Dawet Ayu memang ada beberapa versi. Selain versi tersebut, ada pula versi Ahmad Tohari (dan setelah melalui penelusuran yang intensif ternyata versi Tohari ini mirip dengan keterangan tokoh masyarakat Banyumas, Kiai Haji Khatibul Umam Wiranu) yang mengatakan bahwa berdasarkan cerita tutur turun temurun, ada sebuah keluarga yang berjualan dawet sejak awal abad ke-20. Generasi ketiga penjual es dawet ini terkenal dengan parasnya yang cantik. Dari sini mulailah orang menyebutnya sebagai es dawete wong ayu yang artinya es dawet racikan wanita cantik.


Ada juga cerita dari mulut ke mulut yang beredar di masyarakat Banjarnegara bahwa popularitas dawet Banjarnegara ini adalah berkat jasa dan dorongan mantan Presiden Soeharto saat meresmikan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Mrica pada 1989. Disebutkan saat itu Presiden Soeharto disuguhi minuman khas Banjarnegara yakni dawet oleh ibu ibu cantik, dan kemudian Pak Harto bilang minuman ini seterusnya disebut saja dawet ayu agar semakin terkenal ke seluruh Indonesia. 


Pak Harto juga menganjurkan supaya hiasan ukiran sosok Semar dan Gareng terpampang di angkringan dawet ayu. Semar Gareng atau disingkat mareng dalam bahasa Jawa artinya, musim kemarau.


“Jadi simbolnya nanti berupa Mareng, Semar dan Gareng yang menjadi penanda ajakan untuk menghilangkan rasa dahaga (kering, mareng atau kemarau) dengan meminum dawet ayu" begitu dikisahkan.



Btw, lupakan soal nama...... ingatlah soal rasa ...... halah ......


Dawet Ayu sendiri sebenarnya merupakan minuman yang unik. Keunikan es dawet ayu Banjarnegara terletak pada cita rasanya yang khas. Santan kelapa yang digunakan beraroma gurih dan tidak amis. Gula arennya juga berkualitas tinggi, memberikan rasa manis yang legit tanpa rasa pahit. Selain itu, dawetnya terbuat dari tepung beras yang diolah secara tradisional, sehingga menghasilkan tekstur yang kenyal dan lembut.


Selain cita rasanya, es dawet ayu Banjarnegara juga memiliki penampilan yang cantik. Warna hijau dari dawet dan putih dari santan berpadu harmonis, menciptakan tampilan yang menggoda. Ditambah es serut yang dingin dan serutan gula aren, es dawet ayu Banjarnegara menjadi sajian yang memanjakan mata dan lidah.


Menggoda ? 

Pasti dong.......


Pengakuan terhadap Dawet Ayu Banjarnegara juga nggak main main lho. Dawet Ayu Banjarnegara ditetapkan sebagai ‘Minuman Tradisional Terpopuler’ dan meraih Juara 1 pada ajang Anugerah Pesona Indonesia (API) 2020 sekaligus sebagai minuman terfavorit pilihan masyarakat Indonesia pada ajang yang sama pada tahun 2021.




Pada tahun ini Dawet Ayu Banjarnegara telah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda Indonesia tahun 2024. Sertifikat penetapan tersebut diserahterimakan oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara dalam kegiatan Apresiasi Warisan Budaya Indonesia (AWBI) Tahun 2024 pada hari Sabtu (16/11).




Foto by Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Banjarnegara 

Keren kan ?


Pengakuan terhadap Dawet Ayu Banjarnegara diharapkan kemudian menjadi kebanggaan dan sebuah komitmen bagi masyarakat Banjarnegara untuk terus berupaya melestarikan minuman khasnya tersebut.  Selain itu juga dapat mendorong masyarakat untuk lebih mencintai, menjaga, dan mengembangkan budaya lokal di tengah tantangan modernisasi untuk diwariskan kepada generasi mendatang.


So, kita sebagai generasi terkini siap untuk mengemban tugas itu ?

Harus lah ....

karena kalau bukan kita, siapa lagi ??

12.07.2024
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow