Denda yang Lebih Mahal dari Pajaknya

Pajak kendaraan Thomas Fatah: Rp 87.000. 

Ia terlambat dua hari membayar — karena sistem online-nya error, dan kantor Samsat-nya... sudah kita tahu ceritanya.


Dendanya: Rp 215.000.


Thomas membaca struk itu tiga kali untuk memastikan ia tidak salah baca. Kemudian membaliknya. Kemudian menerawangnya ke cahaya. Angkanya tetap sama.

"Pak, ini dendanya lebih mahal dari pajaknya."

"Iya, Mas. Dua hari telat, bunga-nya numpuk."

"Bunga dua hari itu seratus dua puluh delapan ribu?"

"Ada komponen administrasinya juga, Mas."

"Administrasi apa?"


Petugas mulai menjelaskan. Ada denda keterlambatan. Ada biaya administrasi keterlambatan. Ada biaya pemrosesan denda keterlambatan. Dan ada — ini yang paling mengesankan — biaya penerbitan surat keterangan bahwa denda sudah dibayar.

"Biaya surat keterangan denda itu buat apa, Pak?"

"Buat bukti bahwa dendanya sudah lunas, Mas."

"Tapi kalau pajaknya sudah lunas, kan ada STNK-nya sebagai bukti?"

"Iya, tapi tetap perlu surat keterangan dendanya juga."

"Untuk apa?"


Petugas berhenti sebentar. Ia tampak benar-benar memikirkan pertanyaan itu — mungkin untuk pertama kalinya.

"Prosedurnya begitu, Mas."


Thomas membayar. Total: Rp 215.000. Untuk kendaraan yang pajaknya cuma Rp 87.000. Untuk keterlambatan dua hari. Dua hari yang dihabiskan bukan untuk berfoya-foya, melainkan untuk menunggu sistem online pulih dan kantor tidak tutup lebih awal.


Di parkiran, Thomas duduk sebentar di atas motornya yang sudah lunas pajaknya — bersama dendanya, bersama biaya administrasi dendanya, bersama biaya surat keterangan bahwa dendanya sudah dibayar.

Motor itu tidak terlihat lebih baik dari kemarin. Tidak lebih kinclong. Tidak lebih nyaman dikendarai.

Tapi setidaknya, sekarang resmi.

7.07.2022
Posted by ngatmow

Surat yang Membutuhkan Surat untuk Meminta Surat

Ini adalah puncak dari segala puncak. Everest-nya birokrasi. Kisah yang Thomas Fatah ceritakan berulang-ulang di warung kopi, di kantin kantor, di mana saja ada orang yang mau mendengar — bukan dengan marah, tapi dengan tawa yang sudah matang, tawa orang yang sudah berdamai dengan realita.

Ceritanya bermula sederhana: Thomas perlu Surat Keterangan Penghasilan untuk melengkapi berkas KPR rumah.

Ia datang ke kelurahan.


"Minta surat keterangan penghasilan, Pak."

"Ada surat pengantar dari RT?"



Thomas balik ke RT. Minta surat pengantar. Pak Ketua RT bilang: "Ada, tapi harus ada dulu surat permohonan tertulis dari kamu ke RT."

Thomas menulis surat permohonan ke RT. Pak Ketua RT menerimanya, menandatanganinya, memberi stempel RT yang gambarnya sedikit miring.


Balik ke kelurahan. Surat pengantar diserahkan.

"Oke. Sekarang minta surat keterangan penghasilannya perlu dilampiri slip gaji atau bukti penghasilan."

"Saya tidak punya slip gaji, Pak. Saya wiraswasta."

"Kalau wiraswasta, perlu surat keterangan usaha."

"Dari mana?"

"Dari kelurahan."


Thomas menatap petugas kelurahan di depannya.

"Pak... saya sekarang di kelurahan. Minta surat keterangan penghasilan. Tapi untuk bikin surat keterangan penghasilan, saya perlu surat keterangan usaha. Dari kelurahan. Ini kelurahan yang sama?"

"Iya."

"Jadi saya perlu surat dari sini... untuk minta surat dari sini?"

"Beda loketnya, Mas. Surat keterangan usaha di loket dua. Ini loket satu."


Thomas berpindah ke loket dua. Minta surat keterangan usaha.

"Ada surat pengantar dari RT?"

Thomas mengeluarkan surat pengantar RT yang tadi. Sudah ada. Aman.

"Ini untuk surat keterangan penghasilan, Pak. Bisa untuk keterangan usaha juga?"


Petugas loket dua membaca surat itu. Mengerutkan dahi.

"Ini tertulisnya 'pengantar permohonan surat keterangan penghasilan', Mas. Kalau untuk keterangan usaha, suratnya harus spesifik menyebut keterangan usaha."


Thomas kembali ke RT. Pak Ketua RT sudah tidak ada di rumah — ada kondangan. Istrinya bilang Pak Ketua baru pulang malam.

Thomas pulang. Menunggu malam. Malam itu mendatangi Pak Ketua RT yang masih pakai baju batik kondangan. Minta surat pengantar baru yang menyebut keterangan usaha.

Pak Ketua RT menandatanganinya sambil melepas jas.


Keesokan harinya, Thomas ke kelurahan lagi. Loket dua. Surat keterangan usaha terbit.

Balik ke loket satu. Serahkan surat keterangan usaha untuk melengkapi permohonan surat keterangan penghasilan.

"Oke, Mas. Besok bisa diambil."


Thomas mengambil napas dalam. "Jadi bisa, Pak?"

"Bisa. Tapi nanti keterangan penghasilannya perlu dilegalisir dulu di kecamatan sebelum bisa dilampirkan ke berkas KPR."


Thomas hening selama delapan detik penuh.

"Di kecamatan... perlu apa lagi, Pak?"

Petugas itu membuka buku panduannya. Membacanya. Kemudian menutupnya.

"Surat pengantar dari kelurahan."


Thomas duduk di bangku tunggu loket. Menatap langit-langit. Ada satu cicak di sudut langit-langit yang menatap balik.

Mereka berdua diam cukup lama.

"Kamu juga bingung, kan?" tanya Thomas ke cicak itu.

Cicak tidak menjawab. Tapi ekornya bergerak sedikit — mungkin anggukan, mungkin bukan.


Empat belas hari, enam perjalanan, empat surat, tiga loket berbeda, dan dua instansi kemudian — Thomas Fatah akhirnya menyerahkan berkas KPR-nya yang lengkap.

Seminggu setelahnya, bank menolak pengajuannya.

Bukan karena berkas tidak lengkap.

Karena penghasilannya tidak memenuhi syarat minimum.


Thomas menerima surat penolakan itu, membacanya, melipatnya rapi, dan menyimpannya di laci mejanya — di sebelah tiket antrean A-047 yang tidak pernah dipanggil.

Ia menyeduh kopi.

Kemudian tertawa.


Bukan tawa pahit. Bukan tawa sinis. Tapi tawa seseorang yang sudah cukup banyak melewati hal-hal seperti ini hingga ia tahu: ini bukan akhir dari segalanya. Ini hanya satu babak lagi dalam kehidupan yang — mau tidak mau, suka tidak suka — tetap harus dijalani.

Dengan sabar. Dengan humor. Dan kalau bisa, dengan bekal nasi yang cukup.

2.26.2022
Posted by ngatmow

Sejenak bersama MasDi

Hari yang cerah dan matahari memberikan rasa hangat pada kedua mata Thomas yang masih terpejam. Dengan malas, tubuh bulat itu menggelinjang beringsut merubah arah tidurnya menghindari arah datangnya cahaya. Sedetik kemudian mata itu terbelalak kaget begitu sadar bahwa jam dinding sudah menunjukkan waktu yang lumayan mengagetkan, jam sepuluh kurang lima menit.


Pemuda bertubuh (sedikit) bulat banget ini melompat ke samping tempat tidur dan buru buru berlari ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka. Tidak mandi.


" Duh kesiangan lagi .... " gerutunya sambil mengguyur muka dengan air kran yang mengalir lambat, khas perkotaan.


Secepat kilat kolor dan T-shirt buluknya sudah berganti celana jeans hitam dan kemeja yang berwarna sama. Setengah berlari, dia mengambil tas selempang berwarna khaki andalan yang sebenernya cuma berisi dompet nyaris tanpa isi, botol parfum yang isinya cairan pewangi loundry sachetan, sama buku agenda kerja bersampul batik merah berenda. eh .....

_______________


Bret ....bret .... bret .......


Lady Punky mendadak mbrebet parah. Vespa berwarna pink itu hanya mampu berjalan sepuluh meter dari kos, untuk kemudian berhenti total. Keringat dinginpun semakin membanjiri tubuh Thomas. Terbayang wajah pak bos yang berlipat lipat dengan tatapan tajam dan mulut yang penuh busa.... ditambah lagi ancaman potongan gaji akibat keterlambatan itu.


Dengan terpaksa dia mengambil keputusan untuk mendorong si semok itu menuju jalan raya kabupaten yang masih sekitar 500 meter di depannya, sambil berharap bengkel yang akan dilaluinya buka. 


Bengkel yang berada di garasi rumah kontrakan itu memang tidak begitu besar, tidak tepat di pinggir jalan raya (sekitar 200 meter dari pertigaan jalan besar kabupaten), juga buka Senin Kamis alias semaunya yang punya. Padahal kalau pas buka, ramainya minta ampun. Selalu antri dan punya jam operasional yang beda dengan bengkel lain. Selalu tutup ketika ada adzan berkumandang hingga setengah jam berikutnya. Apapun yang terjadi, ada atau tidak ada "pasien" yang sedang operasi.....


Pemilik bengkel itu dikenal  dengan panggilan MasDi, seorang bapak bapak menjelang setengah tua, umur kepala empat, bertubuh tinggi kurus dengan kulit kecoklatan dan rambut cepak. Selalu tersenyum dan terkenal nyentrik tapi suka berbagi ilmu dengan konsumennya terkait masalah motor.


" Assalamu'alaikum ....  "


" Wa'alaikumsalam .... leh..... kenapa lagi mas ndut ? " jawab MasDi sambil tersenyum ramah.


" mbuuh mas..... biasa, aleman .... " jawab Thomas sambil memarkir vespa nya di ruang periksa bengkel yang kebetulan baru saja buka itu.


" oalah.... wes sini langsung tak atasi. Mumpung masih sepi " sahut MasDi sigap.


Thomaspun segera menuju kursi panjang di depan bengkel untuk meluruskan kakinya sambil menghela nafas.


" beberapa hari ini bengkel tutup ya mas ? " tanyanya membuka pembicaraan


" nggak juga mas, saya yang bener bener tutup pas hari Jum'at Sabtu kemarin saja. Sebelumnya tetep buka tapi nggak mesti jamnya. Lha gimana si ? " jawab MasDi singkat


" Nggak apa apa mas, cuma penasaran aja kok buka bengkelnya semaunya gitu mas ? nggak takut ditinggal pasien ? "


" Nganu mas, kalau urusan pasien si nggak tak pikir. Karena kalau ada pasien itu sama juga dengan ada rejeki. Bagi saya yang namanya rejeki itu sumbernya di langit lho, bukan di bumi. Jadi ya sudah ada yang ngatur, nggak perlu ngoyo. Tinggal pasrah dan berdoa saja .... "


" Bukan ngoyo  sih mas, tapi lebih ke rasional saja menurutku "


" hehehe .... malah justru rasional banget mas. "


" maksudnya ?"


" Coba mas pikirkan, dengan buka bengkel sesuai kondisi badan kita, otomatis kesehatan kita terjaga. Kan kita yang tahu sendiri seberapa sehat badan kita, seberapa fit tenaga kita untuk dibawa bekerja, dan dengan berserah pada Sang Pembagi Rejeki pikiran kita jadi nggak terbebani untuk target pendapatan tertentu. Bayangkan kalau kita sampai sakit. Biaya untuk berobatnya berapa ?  itu kalo yang sakit cuma badan, lha kalo yang sakit sampai pikiran kita ? jadi gila ? apa nggak bundas ? kita wong cilik je .... "


" Saya sudah bertahun tahun buka bengkel seperti ini justru malah banyak dapat teman bengkel lain, kalo pas belum atau nggak buka, bengkel bengkel di sepanjang jalan ini otomatis jadi dapat pelanggan, mereka dapat rejeki juga. Dapat senyum dan tambah teman sesama orang bengkel itu juga rejeki lho "


" Nggak pengen kaya orang lain yang bengkelnya lama lama jadi besar dan kaya raya mas ?"


" Lah kalo pengen kaya ya jelas pengen mas, tapi prosesnya yang sederhana sajalah. Biasanya kebanyakan orang semakin kaya hutangnya juga semakin banyak kan ? apa hidupnya bisa bahagia kalo hutangnya banyak ? saya pikir nggak lho "


" Saya nggak pingin kehidupan saya terganggu gara gara hutang kok mas. Gini gini saya masih bisa pulang ke kampung nengok emak, mancing di kali gede, makan sate sama anak anak, dan nabung untuk haji. Ya sedikit demi sedikit tapi insyaalloh targetnya jelas lah ..... hehe ...... "


" ya sering pulang kampung karena disana masih bisa menyapa tetangga, mereka senyumnya juga loss, mancing di sungai sambil menghirup udara yang segarnya masyaalloh, duduk di pinggir sawah yang anginnya asli bukan dari blower, masih banyak suara indahnya kodok, jangkrik yang jauh lebih indah dari suara dentuman sound horeg 


" masnya masih muda, mau kerja keras atau kerja cerdas, itu pilihan masnya. tapi mau apa coba kalo sekarang kerja keras pake ngoyo trus besok pas tua uangnya cuma buat ngobatin penyakit akibat over kerja dimasa muda ? nggak enak lho mas. Banyak contohnya di sekitar kita kok "


" Time is money " 


" iya mas, waktu adalah uang. tapi bagi saya orang yang mengartikan bahwa itu maksudnya menggunakan waktu sebenar benarnya untuk mencari uang adalah keliru. bagi saya ungkapan itu maksudnya adalah lebih bisa menghargai waktu dengan sebaik baiknya, karena waktu tidak akan bisa kembali dan tidak akan pernah ternilai dengan uang. Waktu lebih berharga daripada uang mase .... "


" Saya ngobrol sama sampean gini adalah salah satu cara saya menghargai waktu mas, sambil servis motor, sambil kita silaturahmi berbagi pengalaman hidup. Dan saya yakin sampean akan teringat saya bukan hanya sekedar tukang servis motor saja, tapi juga sebagai seorang teman. "


" Itu juga rejeki lho mas ....... " lanjutnya.


Dan Thomas pun terdiam tidak bisa berkomentar lagi. Di pikirannya semua yang disampaikan MasDi sangat benar dan tidak terbantahkan. Sementara dirinya yang bekerja kantoran justru selalu mengedepankan pekerjaannya yang masih duniawi, tanpa sedikitpun toleransi.


" mas ..... haloo .... malah ngalamun ki lho .... "


" eh iya mas..... maaf. jadi kepikiran ini ..... "


" kepikiran gimana ? maaf ya kalau saya ada perkataan yang salah "


" nggak mas .... malah justru saya yang terimakasih kok. sudah diingatkan ..... "


" lha terus kenapa kepikiran ? "


" nganu mas ....... saya lapar ....... "


7.03.2021
Posted by ngatmow

Naik Gunung Prau (lagi)

Setelah sekian lama pasif dan seakan mendekati pensiun, akhirnya saya kembali lagi memberanikan diri untuk menggendong tas ransel berjalan nanjak beberapa jam dengan menahan dingin khas naik gunung.

Yes ........saya naik gunung gaesss.....

Dan kali ini kembali ke gunung prau lagi.........
Sebab selain saya pikir bahwa naik gunung isi masih ramah sama pendaki uzur, ramah kepada dengkul kaki, juga Gunung Prau memang selalu ngangenin...... Sekali kita naik, perasaan pingin naik ke sini akan seterusnya menghantui jiwa raga dan pikiran.....halah......


Pada pendakian kali ini saya dan teman teman naik lewat jalur yang belum pernah kami lalui. Yaitu jalur pendakian Dwarawati. Dinamakan demikian karena lokasi start awalnya adalah persis di sebelah Candi Dwarawati Dieng. Berdasarkan informasi, kondisi umum jalur ini nggak begitu ramai dilewati temen temen pendaki. Sebab rata rata mereka lebih suka lewat jalur Patak Banteng dan Jalur SMP Dieng yang sudah familiar (meskipun sebenernya rute yang dilewati lebih ekstrim). 

Jalur Dwarawati menurut saya yang berbodi bulat ini ga begitu berat (sebab memang dari awal sudah request dipilihkan alternatif jalur pendakian yang ramah mbah mbah......... hahahaha........) dan secara otomatis akan terasa sangat tidak menantang alias mudah banget buat yang berbodi slim dan ringan. Secara jarak tempuh sih memang cukup lumayan, dari posisi start di sebelah Candi kita akan berjalan nanjak sejauh kurang lebih 2 kilometer dengan kondisi jalan yang banyak "bonus" alias cukup landai dan tidak begitu menguras  tenaga. 

Tapi jangan terlalu percaya pada saya semudah itu kisanak ........ sebab saya sendiri mengalami kondisi 10ss alias 10 steps stop aliasnya lagi setiap sepuluh langkah saya berhenti untuk mengatur nafas ....... hehehehe.....

Menurut info yang beredar luas, waktu tempuh untuk mencapai puncak Prau melalui jalur ini adalah 2-3 jam saja (itu pun sudah dihitung perjalanan orang orang berkelebihan macam saya). sementara untuk jalur pendakian via Patak Banteng jauh lebih cepat namun dengan tingkat kesulitan dan trekking yang lebih berat pula. 

Tapi kedua jalur ini beda puncak lho sodara sodara .......

lho kok ?

Yes...... Gunung Prau punya 2 puncak utama dengan pemandangan yang sama sama menawan dan sulit terlupakan. halah.....
Jalur pendakian via Dieng punya puncak sendiri dengan view ke arah selatan dan barat (sangat bagus untuk memotret sunset), sedangkan Jalur pendakian via Patak Banteng punya puncak dengan view menghadap Timur persis ke arah deretan gunung eksotis seperti Sindoro, Sumbing, Kembang bahkan Merbabu dan Lawu. Spot Sunrise dong....... Yes....betul sekali.......


Bisa dilihat di peta, jarak dari Puncak 1 dan Puncak dua sekitar 1,45 kilometer, dengan trek sangat landai bahkan cenderung datar  dan waktu tempuh yang dibutuhkan pun hanya sekitar 45 - 60 menit. Sebab kita akan berjalan di sebuah padang rumput yang dinamakan Telaga wurung (Telaga Gagal). 

Lokasi ini sangat asik sodara sodara..... bayangin aja, kita berada di sebuah padang rumput yang luas dengan bukit penuh rumput berembun es ga begitu tinggi mengapit di sisi kanan dan kiri...... sunyi, sepi dan syahdu..... tapi juga ngeri ..........apalagi kalau ditambah berimajinasi hihihi............. 

saya saja sampai membayangkan kalau tempat ini digunakan untuk shooting film kolosal dimana perang besar terjadi dan komandan dari kedua pihak hanya memandang pasukan mereka saling bantai dari kedua bukit yang mengapitnya..... amazing pokoknya......

Pas perjalanan turun, setelah Pos 3 dan puncak menara, ada satu tempat yang sangat khas dengan Gunung Prau dan menjadi favorit para pendaki. Yaitu lokasi dimana hutan Cemara dengan akar pohon  muncul di permukaan tanah dan membentuk tekstur sangat menarik karena saling mengikat satu sama lain di permukaan tanah, lengkap dengan lumut khas ketinggiannya. 
(Kalo di jalur ini) tempat itu dinamakan "Akar Cinta"

Kenapa akar cinta?
Menurut Mas Demang Dieng, Aryadi, tempat itu dinamakan akar cinta karena akar akar di lokasi itu saling terjalin satu sama lain dan lokasinya yang menyajikan pemandangan yang sangat indah. Cocok untuk bercinta....... ehhh.........

By The Way,  sesuai dengan rumus para pendaki, waktu tempuh untuk turun adalah 1/3 dari waktu tempuh untuk naik, perjalanan turun lewat jalur ini hanya 1 jam saja sodara sodara.......
Cepet ya ? padahal jalannya pelan pelan dan menyesuaikan dengan kondisi badan. Bulat........ takut jatuh dan menggelinding turun hehehe......

Pengen nyoba kan ? Sok atuh..... kapan mau naik ke sini ?
Tapi mohon sabar ya ..... nunggu pandeminya bubar..... hehehe......







6.21.2020
Posted by ngatmow

The Physician, film bagus tapi ..............

Sudah sejak lama Timur Tengah menjadi sasaran subjek yang menarik untuk diceritakan, banyak syair–syair maupun lukisan–lukisan tentang kawasan tersebut lahir dari seniman Barat. Semenjak munculnya media perfilman di kalangan Amerika dan Eropa, Timur Tengah semakin terekspos dan eksotisme daerah itu tersebar ke seluruh dunia. Pada bagian ini peneliti merasa penting untuk menyajikan beberapa contoh film-film yang mengandung unsur orientalisme. 

Di wilayah Timur Tengah kita bisa dapatkan Film Aladdin (1992), sebuah film kartun produksi Disney Film yang mengkisahkan percintaan antara pemuda miskin (Aladdin) dengan putri raja (Jasmine). Penggambaran Timur Tengah sebagai daerah yang irrasional terlihat manakala perjuangan Aladdin dalam mendapatkan cinta Jasmine dibantu dengan sosok jin. Pengenalan singkat tentang Timur Tengah digambarkan dengan pemandangan gurun, unta–unta dan penyembur api yang menghibur beberapa orang di pinggir jalan serta pertunjukkan ular kobra yang menari dengan seruling. Sementara keadaan sosial di daerah ini digambarkan sebagai kekerasan dan konflik adalah hal yang biasa. Pedang merupakan simbol yang melekat dengan Timur Tengah. Sosok yang kejam ditampilkan dengan orang kulit berwarna, mental pedagang Arab yang serakah dan penguasa/raja/sultan diwakilkan dengan sosok yang gendut, kekanak-kanakan, dan naif.

Bahkan boleh dipercaya atau tidak, Karya sinematografi barat tentang seorang tokoh di Timur Tengah selalu merupakan tafsiran alias pemahaman tanpa kajian mendalam saja. Sebab terkadang ceritanya tak melulu sealur dengan buku-buku yang dianggap otoritatif tentang tokoh tersebut. Sebagai contoh adalah gambaran tentang seorang ilmuwan muslim abad 11, Ibnu Sina (Avicenna),  dalam film The Physician ( produksi tahun 2013), yang setidaknya merefleksikan tafsir atas kehidupan sang tabib dari Isfahan, serta konteks dimana ia hidup. Dan yang pasti, banyak sekuel yang memang menunjukkan tidak akuratnya sejarah dalam film semi historic ini.

Film The Physician merupakan film berjenis petualangan/drama/sejarah yang dirilis pada 25 Desember 2013. Film ini berasal dari Jerman yang diadaptasi dari novel bestseller karya Noah Gordon dengan judul Der Medicus (1999). Situs betafilm mencatat bahwa novel tersebut laku hingga 21 juta kopi diseluruh dunia (The Physician, n.d.). Novel tersebut berhasil menarik minat masyarakat Eropa dan selalu habis terjual terutama di Jerman dan Spanyol dan dinominasikan sebagai "Ten Most Loved Books of All Time" dalam Madrid Book Fair (Noah Gordon awards and honors, n.d.)

Disutradarai oleh Philipp Stölzl, seorang berkebangsaan Jerman. Film berbahasa Inggris yang berdurasi 150 menit ini mendapatkan pendapatan besar dengan hasil perjualan box office mencapai 57,284,237 juta Dollar, serta menyabet Gambar 6 Poster film The Physician (Sumber: imdb.com) 39 penghargaan Bogey Award dari jumlah penonton yang mampu menarik 1 juta pengunjung dalam waktu 10 hari. Film ini juga mendapatkan 5 nominasi emas dalam German Film Award 2014 sebagai sinematografi terbaik, desain produksi terbaik, desain kostum terbaik, tata rias terbaik, dan tata suara terbaik. 

Produksi film The Physician berlangsung selama empat bulan antara Juni 2012 hingga September 2012 dan menghabiskan biaya hingga 36 juta Dollar. Lokasi produksi dilakukan di Maroko dan Jerman serta menggunakan studio MMC Studios, Cologne di North Rhine-Westphalia yang berbasis di Jerman untuk memberi sentuhan kemegahan kota Isfahan dan landscape Timur Tengah dengan setting abad ke-11. Bercerita ketika Eropa masih mengalami zaman kegelapan (dark ages), belum ada ahli medis, sementara para pengobat abad ke-11 pada saat itu disebut sebagai tukang cukur (barber), mereka mempromosikan diri mereka dapat menangani kelainan yang ada dipermukaan seperti mengobati kutil, mencabut gigi, reposisi tulang, amputasi, bekam dengan lintah dan menjadikan kencing Kuda sebagai tonik. 

Disamping itu hiduplah Robert Cole (Tom Payne) yang sudah lama akrab dengan kemiskinan karena ditinggal mati oleh ayahnya, sementara ibunya mengidap penyakit serius pada perut (Thypus) dan kemudian meninggal dunia pada saat ia masih kecil karena tidak memperoleh pertolongan yang layak. Menyaksikan itu, Robert Cole memutuskan untuk mencari penyebab & cara menyembuhkan penyakit tersebut serta bertekad untuk mencegah kematian. Ia kemudian memohon kepada seorang tukang cukur (Stellan SkarsgÃ¥rd) untuk ikut berkeliling bersama 40 pedatinya berkelana dari kota ke kota membantunya menjajakan obat. Rob pun diasuh olehnya dan menjadi asisten dalam melakukan segala tindakan pengobatan didalam kamar pedati. Namun pekerjaan sebagai barber tersebut ditentang oleh Gereja karena dituduh menggunakan ilmu hitam. Ajaran Gereja menilai bahwa hanya dengan kuasa Tuhan penyakit dapat disembuhkan, walaupun pihak Gereja tidak mampu memberikan solusi dan pengobatan. 

Ketika Rob tumbuh dewasa, penglihatan ayah angkatnya mengalami gangguan. Ia kemudian mengantarkan sang barber tersebut untuk melakukan operasi katarak kepada para tabib Yahudi. Robert pun merasa takjub melihat kecanggihan alat operasi yang digunakan dan mencari informasi berasal dari mana pengetahuan ilmu medis itu. Sejak dini Robert memang menunjukkan minatnya yang tinggi terhadap dunia pengobatan. Tabib Yahudi itu kemudian menyarankan ia untuk pergi ke suatu daerah yang amat jauh dari London, yaitu Isfahan. 

Dalam film ini kita bisa melihat bagaimana peradaban Timur Tengah tergambar dalam dialog berikut :
 
Tabib : “tabib terbaik sedunia mengajarkanku disana, Ibnu Sina, tak seorang pun di dunia yang sebanding dengan kebijaksanaannya, ia dapat menyembuhkan segala macam penyakit”. 
Rob : “Berapa lama untuk sampai kesana?”. 
Tabib : “Lebih dari setahun. Kau harus pergi ke pantai Selatan Inggris, menyebrangi selat melalui Prancis dan naik kapal berlayar mengelilingi pantai Barat Afrika, kemudian sampai ke Mesir. Disana.. kau akan dibunuh”. 
Rob : “Kenapa?”. 
Tabib : “Permulaan dunia Muslim. Arabia dan Persia. Orang Kristen dilarang untuk pergi kesana. Mereka hanya mentolerir orang Yahudi. Maaf, kau percaya pada Tuhan yang salah”.

Menyadari dokter terbaik bernama Ibnu Sina berada dibelahan dunia lain dan penuh risiko, ia tetap bertekad pergi kesana dan menganggap inilah satusatunya cara untuk mempelajari ilmu medis. Sesampainya di Mesir Robert Cole melakukan sunat secara mandiri agar bisa bergabung dan diterima komunitas Yahudi, kemudian menukar namanya menjadi Jesse bin Benjamin. 

Dalam perjalanan menuju Isfahan bersama dengan rombongan iringan unta, Robert Cole bertemu dengan Rebecca (Emma Rigby), seorang wanita Yahudi yang menarik hatinya. Namun mereka menghadapi badai gurun yang dahsyat hingga mereka terpisah dan sebagian besar diantaranya mati terkubur pasir. 

Saat Rob tiba di Ishafan, Persia. Ia terkesima melihat penataan kota yang amat maju, menara-menaranya menjulang tinggi, Arsitektur yang begitu megah dengan dinding-dinding gedung berhiaskan kaligrafi yang indah. Ishafan digambarkan bermandikan cahaya, bertabur kembang api dan aktivitas kota yang disesaki oleh perdagangan dan perniagaan. Saat itu pula Ia bertemu iring-iringan khalifah Shah (Olivier Martinez) melintas bersama tentaranya. khalifah digambarkan sosok yang gagah, pemberani, petarung buas di medan perang, otoriter terhadap kedudukannya namun amat menghargai toleransi kebebasan beragama dan menjunjung ilmu pengetahuan. 

Dengan penampilan lusuh dan tidak membawa barang berharga, Rob Cole sempat ditolak secara kasar oleh pihak Madrasah, Davout Hosein (Fahri Ogun) untuk berguru kepada Ibnu Sina hingga ia tersungkur dan tidak sadarkan diri ditengah kerumunan warga Isfahan. Penolakan tersebut cenderung rasis karena ungkapan kasar yang diberikan ketua Madrasah kepada Robert Cole mengatakan bahwa ia tidak mau menerima seorang Yahudi yang bau, miskin dan penipu. Hal tersebut seolah menampilkan bahwa ketika Muslim berkuasa memiliki sikap yang bengis. 

Dengan nasib baik yang dimilikinya, Robert Cole ditolong oleh Ibnu Sina dan diobati luka–lukanya. Ia kemudian diterima untuk belajar di madrasah tanpa syarat dan memiliki dua orang sahabat, seorang Yahudi bernama Mirdin (Michael Marcus), dan seorang Muslim pemalas bernama Karim (Elyas M‘barek). Ada satu adegan dimana saya sempat berpikir agak keras dengan segala keterbatasan otak. yaitu adegan dimana Rob menanyakan apa yang digunakan oleh Ibnu Sina untuk mengobatinya.
“Dengan salep getah Poppy [opium/papaver somniferum],” kata Ibnu Sina. 

But wait...... jaman itu disana sudah ada opium ???  emmm.........


Dengan kepolosan dan rasa keingintahuannya yang sangat tinggi itulah Robert Cole kemudian berkembang menjadi murid teladan Ibnu Sina yang cepat tanggap bersemangat dalam belajar dibanding murid yang lain. Selain ilmu pengobatan, ia juga mempelajari Filsafat dan Astronomi. Kepribadian Ibnu Sina yang bijak dan selalu berpikiran optimis diceritakan dengan bagaimana ia berpesan kepada para mahasiswanya untuk selalu memperlakukan pasien dengan baik. 
Sebagai informasi saja, di Madrasah milik Ibnu Sina terdapat perpustakaan yang menghimpun warisan kekayaan ilmu kedokteran dari Yunani kuno. Fakultas kedokteran tersebut diisi oleh beragam pelajar dari mancanegara, ras maupun agama. Ruang pembelajaran juga terintegrasi dengan ruang perawatan pasien sebagaimana model rumah sakit modern. Fasilitas lainnya yaitu terdapat gudang penyimpanan obat dan alat medis, hingga pendingin untuk membuat es. Film ini menggambarkan secara jujur bahwa bahasa pengantar ilmiah di dunia pengetahuan pada saat itu menggunakan bahasa Arab. Terlihat dari kitab–kitab dan gulungan yang dipelajari oleh murid–murid Ibnu Sina menggunakan bahasa Arab sebagai lingua franca.

Banyak pelajaran moral yang dipelajari Rob dari Ibnu Sina, Ibnu Sina tak hanya mengajarkan soal teknis pengobatan dan kedokteran. Lebih dari itu, ia juga membekali murid-muridnya tentang etika penyembuhan. Kata Ibnu Sina, “untuk mengobati suatu penyakit, perlakukan dengan baik orang yang menderita.” Oleh sebab itulah pada saat setiap akan memulai pengobatan terhadap pasien-pasiennya, Ibnu Sina selalu mengatakan, 

“namaku Ibnu Sina… Dengan izinmu, aku akan merawatmu.”

Kisah film ini juga dibumbui perseteruan antara suku bani Seljuk yang hidup nomaden dan liar dipadang gurun. Mereka bersekutu dengan para Mullah atau sekelompok Islam fanatik “yang kaku” dalam memahami agama untuk melawan Kekhilafahan Shah yang dianggap terlalu liberal. Pemimpin Bani Seljuk tersebut mengirim “bom biologis” berupa penderita penyakit pes (pada waktu itu diceritakan disebut sebagai black death)  ke kota Isfahan sebagai balasan atas kematian puteranya yang dipenggal oleh Shah. Wabah tersebut menyebabkan kegemparan dan kematian bagi kota Ishafan. Ibnu Sina meminta evakuasi seluruh penduduk, namun Shah menolaknya. 

Ibnu Sina memutuskan bersama mahasiswanya bereksperimen mencari pengobatan terhadap wabah yang terjadi meski resiko yang dihadapi mereka adalah kematian. Mereka disibukkan merawat banyaknya pasien yang tak kunjung henti. Seluruh bagian kota dipenuhi penyakit dan banyak warga mengisolir diri dengan menembok pintu rumahnya atau pergi meninggalkan kota Ishafan.  

Kalau dipikir lagi, ini mirip dengan kita yang sedang berjuang melawan Covid19 lho....... #dirumahsaja hehehe................

Adegan akhir melawan wabah tersebut, kerja kerasnya menemukan jawaban bahwa penularan wabah dapat diputus dengan membasmi vektor penyakit yakni tikus. 

Selain bumbu politik, film ini juga diselingi tarikan antara dogma agama dan ilmu pengetahuan. Ini tersaji misalnya dalam kasus otopsi mayat. Diantara pasien Ibnu Sina ada seorang penganut Zoroaster bernama Qasim yang kebetulan dirawat Rob. 
Sekedar informasi, Filosofi agama Zoroaster berbeda dengan agama Samawi (Yahudi, Nasrani dan Islam) tentang kebangkitan. Qasim berwasiat pada Rob apabila ia mati, ia meminta tubuhnya diletakkan di atas menara agar bisa dimakan burung pemakan bangkai. Dengan demikian jiwanya terbebas. 

“Ketika aku pergi, bawa tubuhku ke meneara dan biarkan dimakan burung… Penganut Zoroaster meninggalkan tubuh mereka ke burung bangkai. Mereka membersihkan jiwa kita dari materi tetap,”
 
Kesempatan emas itu tak disia-siakan Robert Cole, segera ia membawa jenazah Qasim dan membelahnya secara diam–diam di gudang penyimpanan obat untuk mempelajari organ dalam yang ada di dada dan rongga perut. Rob melukis organ-organ itu sebagaimana gambar ilustrasi anatomi manusia sekarang ini.  

Rupanya, apa yang dilakukan oleh Jesse diketahui Davout yang sedari awal memang tidak suka terhadap Jesse termasuk Ibnu Sina. Keduanya ditangkap dengan tuduhan melakukan pencurian mayat sebagai obyek penelitian, Ibnu Sina juga terseret ke dalam penjara dan keduanya dijatuhi hukuman mati. Dikisahkan pada era tersebut bahwa perilaku membedah tubuh manusia adalah pelanggaran tingkat tinggi dalam agama. Dalam masa penahanan, Ibnu Sina dan Robert Cole berdiskusi tentang apa yang sebenarnya ada didalam rongga tubuh manusia. Robert Cole kemudian menceritakan dan bahkan mengajarkan Ibnu Sina tentang pencernaan dan sirkulasi darah. 

Disaat yang sama Shah mengalami sakit perut kronis ketika dinasti Kekhilafahan yang ia pimpin dikepung dalam perang oleh para Mullah didalam kotanya dan Bani Seljuk dari luar. Untuk mengembalikan kondisinya, ia menggagalkan eksekusi mati yang dibuat para Mullah kepada Robert Cole beserta Ibnu Sina dan membawanya ke istana untuk melakukan operasi pengangkatan usus buntu dari dalam perutnya. Robert Cole dibantu Ibnu Sina beserta Mirdin berhasil melakukan operasi pertama kali dalam sejarah. 

Film kemudian ditutup dengan kekalahan Khalifah Shah melawan para Mullah yang bersekutu dengan Bani Seljuk, seluruh rakyat Isfahan mengungsi dan seluruh isi perpustakaan milik Ibnu Sina hancur terbakar karena perang. Pada akhir adegan Ibnu Sina mengalami putus asa melihat kehancuran tersebut dan mengakhiri hidupnya dengan minum racun. Sebelum kematiannya ia mewariskan kitab terpenting dalam ilmu medis (mungkin kitab itulah cikal bakal Buku The Cannon Of Medicine  yang kemudian menjadi buku kedokteran pertama dunia) kepada murid kesayangannya Robert Cole untuk dipelajari, koreksi kesalahannya, dan sebarluaskan pengetahuan tersebut ke dunia ketika ia bawa pulang ke London.

The End

---------------------------------------------------------------------



Sedikit membahas film yang sebenernya sangat menarik ini, ada dua sikap yang bisa diambil. 
Pertama, apologetik. Kedua, kritis

Apologetik disini  dalam artian mencoba untuk bertahan bahwa perlu koreksi total karena tidak sesuai dengan “sejarah resmi,” sementara yang kritis dimaksudkan mengambil moral cerita yang dihadirkan sembari mencari rujukan lain sebagai opini alternatif.

oke mari kita bahas ............


Ibnu Sina atau Abu ‘Ali al-Husain ibn ‘Abd-Allah ibn Hasan ibn ‘Ali ibn Sina, lahir pada 23 Agustus 980 atau Safar, 370 H di sebuah wilayah dekat Bukhara yang disebut Kharmaithan atau Afshana. Kini, wilayah tersebut masuk dalam administrasi Negara Uzbekistan. Hari lahirnya diperingati sebagai Hari Kedokteran di Iran. Ayah Ibnu Sina, seorang pimpinan lokal di Afshana tidak terlampau jelas asalnya Arab, Turki atau Persia. Ibunya, Setareh, adalah orang Persia.

Pembentukan keilmuan Ibnu Sina dimulai ketika keluarganya pindah ke Bukhara. Ia belajar tak hanya tentang agama, tapi juga filsafat, aritmetika dan geometri. Ali Abdullah Nateli, seorang yang sangat memahami filsafat, suatu hari datang ke Bukhara. Ayah Ibnu Sina mengajaknya ke rumah mereka dan meminta Nateli mengajari Ibnu Sina.

Bersama Natelli, Ibnu Sina belajar logika dasar untuk membaca Eisagoge karyanya Porphyry, Euclid, dan Almagest-nya Ptolemeus. Selain itu, karya Plato dan Aristoteles juga ia lahap. Pikiran-pikiran Peripatetik dan Stoik dalam tulisan Ibnu Sina banyak berasal dari sumber ini. Dari sini, Ibnu Sina mulai merambah ilmu kedokteran. Kehidupan Ibnu Sina di Bukhara berlangsung hingga 999. Ia kemudian meninggalkan Bukhara menuju Gorganj dan tinggal disana hingga 1012. Dari Gorganj ia pindah ke Jorjan (1013), Ray (1015), Hamadan (1024) dan Isfahan (1037). Di Isfahan inilah Ibnu Sina bekerja dan kerap mendapat pujian dari Ad-Daula. Dalam perjalanan ke Hamadan, Ibnu Sina meninggal dan dimakamkan disana pada Juni atau Juli tahun 1037 dalam usia 58 tahun.

Biografi ini sekaligus membedakannya dengan cerita dalam The Physician. Di film itu, Ibnu Sina digambarkan meninggal di madrasahnya dengan cara meminum racun setelah kekuasaan Seljuk menguasai Persia. Cerita tentang posisi Ibnu Sina dalam pemerintahan Ad-Daulah dari Dinasti Ali Buyeh juga agak sedikit berbeda dengan yang tersaji di buku sejarah. Dalam film digambarkan Ibnu Sina dan istana itu agak sedikit berjarak, tapi dalam buku sejarah, Ibnu Sina adalah bagian integral dari istana.

Nah lho..........

Oke lanjut ...........

Saya mencoba untuk tidak bersikap apologetik dan mencari “kuasa pengetahuan” dalam film ini. Meski harus diakui, media film banyak digunakan untuk menunjukan superioritas sebuah kelompok atas golongan lainnya. 

Terlepas dari akurasi penggambaran cerita yang tak sebangun dengan narasi sejarahnya, ada beberapa hal ingin saya amini dari The Physician. 

Pertama, film ini dengan cukup terbuka menunjukkan bahwa peradaban Islam mengalami zaman keemasannya serta seorang Ibnu Sina yang berkontribusi besar dalam dunia kedokteran dunia. Disamping itu film ini tidak terjebak dalam bias barat yang selalu menganggap bahwa dunia timur sebagai bangsa yang tenggelam dalam kegelapan, kebodohan, keterbelakangan dan secara jujur justru menceritakan bahwa dunia baratlah yang pada saat itu sedang mengalami masa suram.

“The Arabs contributed a high sense of mission; the Persians their culture and sense of history; the Christian Syriacs their linguistic versatility; the Harranians their Hellenistic heritage and the Indians their ancient lore.”

Kedua, kejayaan peradaban Islam tak lepas dari keterbukaan dalam menerima produk kebudayaan lain. Bacaan Ibnu Sina yang kuat terhadap karya pemikir Yunani, menjadi salah satu faktor pendorong lahirnya era emas peradaban Islam. Itu diperkuat dengan harmoni yang muncul diantara pemeluk agama yang berbeda. Pemikiran berkembang pesat. Karena pikiran cemerlang itulah peradaban menjadi maju. Iran, meminjam istilahnya Axworthy (2008), menjadi “empire of the mind.

Ketiga, perselingkuhan antara agama dan politik kerap menjatuhkan wibawa kelompok agama itu sendiri. Di bagian akhir, ada adegan dimana pemimpin Mullah bersimpuh di hadapan tentara Seljuk sebagai bukti penerimaan mereka terhadap pemimpin baru. Itu sekaligus menggambarkan betapa klaim keagamaan yang digunakan untuk maksud politik malah menggiring munculnya despotisme baru. Dan jujur saja, bukankah itu juga sedang terjadi sekarang ini ?

Ah entahlah.....
yang jelas, secara sinematografi film ini menarik namun dengan isi cerita di dalamnya yang perlu dicerna berkali kali lagi.  


*dari berbagai sumber
6.01.2020
Posted by ngatmow

Arsip

Copyright 2008 ZISBOX- Metrominimalist | Template Diutak atik Ngatmow Prawierow