Denda yang Lebih Mahal dari Pajaknya
Pajak kendaraan Thomas Fatah: Rp 87.000.
Ia terlambat dua hari membayar — karena sistem online-nya error, dan kantor Samsat-nya... sudah kita tahu ceritanya.
Dendanya: Rp 215.000.
"Pak, ini dendanya lebih mahal dari pajaknya."
"Iya, Mas. Dua hari telat, bunga-nya numpuk."
"Bunga dua hari itu seratus dua puluh delapan ribu?"
"Ada komponen administrasinya juga, Mas."
"Administrasi apa?"
Petugas mulai menjelaskan. Ada denda keterlambatan. Ada biaya administrasi keterlambatan. Ada biaya pemrosesan denda keterlambatan. Dan ada — ini yang paling mengesankan — biaya penerbitan surat keterangan bahwa denda sudah dibayar.
"Biaya surat keterangan denda itu buat apa, Pak?"
"Buat bukti bahwa dendanya sudah lunas, Mas."
"Tapi kalau pajaknya sudah lunas, kan ada STNK-nya sebagai bukti?"
"Iya, tapi tetap perlu surat keterangan dendanya juga."
"Untuk apa?"
Petugas berhenti sebentar. Ia tampak benar-benar memikirkan pertanyaan itu — mungkin untuk pertama kalinya.
"Prosedurnya begitu, Mas."
Thomas membayar. Total: Rp 215.000. Untuk kendaraan yang pajaknya cuma Rp 87.000. Untuk keterlambatan dua hari. Dua hari yang dihabiskan bukan untuk berfoya-foya, melainkan untuk menunggu sistem online pulih dan kantor tidak tutup lebih awal.
Di parkiran, Thomas duduk sebentar di atas motornya yang sudah lunas pajaknya — bersama dendanya, bersama biaya administrasi dendanya, bersama biaya surat keterangan bahwa dendanya sudah dibayar.
Motor itu tidak terlihat lebih baik dari kemarin. Tidak lebih kinclong. Tidak lebih nyaman dikendarai.
Tapi setidaknya, sekarang resmi.
Surat yang Membutuhkan Surat untuk Meminta Surat
Ini adalah puncak dari segala puncak. Everest-nya birokrasi. Kisah yang Thomas Fatah ceritakan berulang-ulang di warung kopi, di kantin kantor, di mana saja ada orang yang mau mendengar — bukan dengan marah, tapi dengan tawa yang sudah matang, tawa orang yang sudah berdamai dengan realita.
Ceritanya bermula sederhana: Thomas perlu Surat Keterangan Penghasilan untuk melengkapi berkas KPR rumah.
Ia datang ke kelurahan.
"Minta surat keterangan penghasilan, Pak."
"Ada surat pengantar dari RT?"
Thomas balik ke RT. Minta surat pengantar. Pak Ketua RT bilang: "Ada, tapi harus ada dulu surat permohonan tertulis dari kamu ke RT."
Thomas menulis surat permohonan ke RT. Pak Ketua RT menerimanya, menandatanganinya, memberi stempel RT yang gambarnya sedikit miring.
Balik ke kelurahan. Surat pengantar diserahkan.
"Oke. Sekarang minta surat keterangan penghasilannya perlu dilampiri slip gaji atau bukti penghasilan."
"Saya tidak punya slip gaji, Pak. Saya wiraswasta."
"Kalau wiraswasta, perlu surat keterangan usaha."
"Dari mana?"
"Dari kelurahan."
Thomas menatap petugas kelurahan di depannya.
"Pak... saya sekarang di kelurahan. Minta surat keterangan penghasilan. Tapi untuk bikin surat keterangan penghasilan, saya perlu surat keterangan usaha. Dari kelurahan. Ini kelurahan yang sama?"
"Iya."
"Jadi saya perlu surat dari sini... untuk minta surat dari sini?"
"Beda loketnya, Mas. Surat keterangan usaha di loket dua. Ini loket satu."
Thomas berpindah ke loket dua. Minta surat keterangan usaha.
"Ada surat pengantar dari RT?"
Thomas mengeluarkan surat pengantar RT yang tadi. Sudah ada. Aman.
"Ini untuk surat keterangan penghasilan, Pak. Bisa untuk keterangan usaha juga?"
Petugas loket dua membaca surat itu. Mengerutkan dahi.
"Ini tertulisnya 'pengantar permohonan surat keterangan penghasilan', Mas. Kalau untuk keterangan usaha, suratnya harus spesifik menyebut keterangan usaha."
Thomas kembali ke RT. Pak Ketua RT sudah tidak ada di rumah — ada kondangan. Istrinya bilang Pak Ketua baru pulang malam.
Thomas pulang. Menunggu malam. Malam itu mendatangi Pak Ketua RT yang masih pakai baju batik kondangan. Minta surat pengantar baru yang menyebut keterangan usaha.
Pak Ketua RT menandatanganinya sambil melepas jas.
Keesokan harinya, Thomas ke kelurahan lagi. Loket dua. Surat keterangan usaha terbit.
Balik ke loket satu. Serahkan surat keterangan usaha untuk melengkapi permohonan surat keterangan penghasilan.
"Oke, Mas. Besok bisa diambil."
Thomas mengambil napas dalam. "Jadi bisa, Pak?"
"Bisa. Tapi nanti keterangan penghasilannya perlu dilegalisir dulu di kecamatan sebelum bisa dilampirkan ke berkas KPR."
Thomas hening selama delapan detik penuh.
"Di kecamatan... perlu apa lagi, Pak?"
Petugas itu membuka buku panduannya. Membacanya. Kemudian menutupnya.
"Surat pengantar dari kelurahan."
Thomas duduk di bangku tunggu loket. Menatap langit-langit. Ada satu cicak di sudut langit-langit yang menatap balik.
Mereka berdua diam cukup lama.
"Kamu juga bingung, kan?" tanya Thomas ke cicak itu.
Cicak tidak menjawab. Tapi ekornya bergerak sedikit — mungkin anggukan, mungkin bukan.
Empat belas hari, enam perjalanan, empat surat, tiga loket berbeda, dan dua instansi kemudian — Thomas Fatah akhirnya menyerahkan berkas KPR-nya yang lengkap.
Seminggu setelahnya, bank menolak pengajuannya.
Bukan karena berkas tidak lengkap.
Karena penghasilannya tidak memenuhi syarat minimum.
Thomas menerima surat penolakan itu, membacanya, melipatnya rapi, dan menyimpannya di laci mejanya — di sebelah tiket antrean A-047 yang tidak pernah dipanggil.
Ia menyeduh kopi.
Kemudian tertawa.
Bukan tawa pahit. Bukan tawa sinis. Tapi tawa seseorang yang sudah cukup banyak melewati hal-hal seperti ini hingga ia tahu: ini bukan akhir dari segalanya. Ini hanya satu babak lagi dalam kehidupan yang — mau tidak mau, suka tidak suka — tetap harus dijalani.
Dengan sabar. Dengan humor. Dan kalau bisa, dengan bekal nasi yang cukup.
Sejenak bersama MasDi
Hari yang cerah dan matahari memberikan rasa hangat pada kedua mata Thomas yang masih terpejam. Dengan malas, tubuh bulat itu menggelinjang beringsut merubah arah tidurnya menghindari arah datangnya cahaya. Sedetik kemudian mata itu terbelalak kaget begitu sadar bahwa jam dinding sudah menunjukkan waktu yang lumayan mengagetkan, jam sepuluh kurang lima menit.
Pemuda bertubuh (sedikit) bulat banget ini melompat ke samping tempat tidur dan buru buru berlari ke kamar mandi untuk gosok gigi dan cuci muka. Tidak mandi.
" Duh kesiangan lagi .... " gerutunya sambil mengguyur muka dengan air kran yang mengalir lambat, khas perkotaan.
Secepat kilat kolor dan T-shirt buluknya sudah berganti celana jeans hitam dan kemeja yang berwarna sama. Setengah berlari, dia mengambil tas selempang berwarna khaki andalan yang sebenernya cuma berisi dompet nyaris tanpa isi, botol parfum yang isinya cairan pewangi loundry sachetan, sama buku agenda kerja bersampul batik merah berenda. eh .....
_______________
Bret ....bret .... bret .......
Lady Punky mendadak mbrebet parah. Vespa berwarna pink itu hanya mampu berjalan sepuluh meter dari kos, untuk kemudian berhenti total. Keringat dinginpun semakin membanjiri tubuh Thomas. Terbayang wajah pak bos yang berlipat lipat dengan tatapan tajam dan mulut yang penuh busa.... ditambah lagi ancaman potongan gaji akibat keterlambatan itu.
Bengkel yang berada di garasi rumah kontrakan itu memang tidak begitu besar, tidak tepat di pinggir jalan raya (sekitar 200 meter dari pertigaan jalan besar kabupaten), juga buka Senin Kamis alias semaunya yang punya. Padahal kalau pas buka, ramainya minta ampun. Selalu antri dan punya jam operasional yang beda dengan bengkel lain. Selalu tutup ketika ada adzan berkumandang hingga setengah jam berikutnya. Apapun yang terjadi, ada atau tidak ada "pasien" yang sedang operasi.....
Pemilik bengkel itu dikenal dengan panggilan MasDi, seorang bapak bapak menjelang setengah tua, umur kepala empat, bertubuh tinggi kurus dengan kulit kecoklatan dan rambut cepak. Selalu tersenyum dan terkenal nyentrik tapi suka berbagi ilmu dengan konsumennya terkait masalah motor.
" Assalamu'alaikum .... "
" Wa'alaikumsalam .... leh..... kenapa lagi mas ndut ? " jawab MasDi sambil tersenyum ramah.
" mbuuh mas..... biasa, aleman .... " jawab Thomas sambil memarkir vespa nya di ruang periksa bengkel yang kebetulan baru saja buka itu.
" oalah.... wes sini langsung tak atasi. Mumpung masih sepi " sahut MasDi sigap.
Thomaspun segera menuju kursi panjang di depan bengkel untuk meluruskan kakinya sambil menghela nafas.
" beberapa hari ini bengkel tutup ya mas ? " tanyanya membuka pembicaraan
" nggak juga mas, saya yang bener bener tutup pas hari Jum'at Sabtu kemarin saja. Sebelumnya tetep buka tapi nggak mesti jamnya. Lha gimana si ? " jawab MasDi singkat
" Nggak apa apa mas, cuma penasaran aja kok buka bengkelnya semaunya gitu mas ? nggak takut ditinggal pasien ? "
" Nganu mas, kalau urusan pasien si nggak tak pikir. Karena kalau ada pasien itu sama juga dengan ada rejeki. Bagi saya yang namanya rejeki itu sumbernya di langit lho, bukan di bumi. Jadi ya sudah ada yang ngatur, nggak perlu ngoyo. Tinggal pasrah dan berdoa saja .... "
" Bukan ngoyo sih mas, tapi lebih ke rasional saja menurutku "
" hehehe .... malah justru rasional banget mas. "
" maksudnya ?"
" Coba mas pikirkan, dengan buka bengkel sesuai kondisi badan kita, otomatis kesehatan kita terjaga. Kan kita yang tahu sendiri seberapa sehat badan kita, seberapa fit tenaga kita untuk dibawa bekerja, dan dengan berserah pada Sang Pembagi Rejeki pikiran kita jadi nggak terbebani untuk target pendapatan tertentu. Bayangkan kalau kita sampai sakit. Biaya untuk berobatnya berapa ? itu kalo yang sakit cuma badan, lha kalo yang sakit sampai pikiran kita ? jadi gila ? apa nggak bundas ? kita wong cilik je .... "
" Saya sudah bertahun tahun buka bengkel seperti ini justru malah banyak dapat teman bengkel lain, kalo pas belum atau nggak buka, bengkel bengkel di sepanjang jalan ini otomatis jadi dapat pelanggan, mereka dapat rejeki juga. Dapat senyum dan tambah teman sesama orang bengkel itu juga rejeki lho "
" Nggak pengen kaya orang lain yang bengkelnya lama lama jadi besar dan kaya raya mas ?"
" Lah kalo pengen kaya ya jelas pengen mas, tapi prosesnya yang sederhana sajalah. Biasanya kebanyakan orang semakin kaya hutangnya juga semakin banyak kan ? apa hidupnya bisa bahagia kalo hutangnya banyak ? saya pikir nggak lho "
" Saya nggak pingin kehidupan saya terganggu gara gara hutang kok mas. Gini gini saya masih bisa pulang ke kampung nengok emak, mancing di kali gede, makan sate sama anak anak, dan nabung untuk haji. Ya sedikit demi sedikit tapi insyaalloh targetnya jelas lah ..... hehe ...... "
" ya sering pulang kampung karena disana masih bisa menyapa tetangga, mereka senyumnya juga loss, mancing di sungai sambil menghirup udara yang segarnya masyaalloh, duduk di pinggir sawah yang anginnya asli bukan dari blower, masih banyak suara indahnya kodok, jangkrik yang jauh lebih indah dari suara dentuman sound horeg
" masnya masih muda, mau kerja keras atau kerja cerdas, itu pilihan masnya. tapi mau apa coba kalo sekarang kerja keras pake ngoyo trus besok pas tua uangnya cuma buat ngobatin penyakit akibat over kerja dimasa muda ? nggak enak lho mas. Banyak contohnya di sekitar kita kok "
" Time is money "
" iya mas, waktu adalah uang. tapi bagi saya orang yang mengartikan bahwa itu maksudnya menggunakan waktu sebenar benarnya untuk mencari uang adalah keliru. bagi saya ungkapan itu maksudnya adalah lebih bisa menghargai waktu dengan sebaik baiknya, karena waktu tidak akan bisa kembali dan tidak akan pernah ternilai dengan uang. Waktu lebih berharga daripada uang mase .... "
" Saya ngobrol sama sampean gini adalah salah satu cara saya menghargai waktu mas, sambil servis motor, sambil kita silaturahmi berbagi pengalaman hidup. Dan saya yakin sampean akan teringat saya bukan hanya sekedar tukang servis motor saja, tapi juga sebagai seorang teman. "
" Itu juga rejeki lho mas ....... " lanjutnya.
Dan Thomas pun terdiam tidak bisa berkomentar lagi. Di pikirannya semua yang disampaikan MasDi sangat benar dan tidak terbantahkan. Sementara dirinya yang bekerja kantoran justru selalu mengedepankan pekerjaannya yang masih duniawi, tanpa sedikitpun toleransi.
" mas ..... haloo .... malah ngalamun ki lho .... "
" eh iya mas..... maaf. jadi kepikiran ini ..... "
" kepikiran gimana ? maaf ya kalau saya ada perkataan yang salah "
" nggak mas .... malah justru saya yang terimakasih kok. sudah diingatkan ..... "
" lha terus kenapa kepikiran ? "
" nganu mas ....... saya lapar ....... "
Naik Gunung Prau (lagi)
Pada pendakian kali ini saya dan teman teman naik lewat jalur yang belum pernah kami lalui. Yaitu jalur pendakian Dwarawati. Dinamakan demikian karena lokasi start awalnya adalah persis di sebelah Candi Dwarawati Dieng. Berdasarkan informasi, kondisi umum jalur ini nggak begitu ramai dilewati temen temen pendaki. Sebab rata rata mereka lebih suka lewat jalur Patak Banteng dan Jalur SMP Dieng yang sudah familiar (meskipun sebenernya rute yang dilewati lebih ekstrim).











